Salah satu kunci sukses sebuah organisasi mampu bertahan adalah kemampuan beradaptasinya yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Barangsiapa yang gagal mengelola perubahan, maka stakeholder, terutama customer-nya, akan berpindah ke lain hati. Kemampuan membaca perubahan ini harus dimiliki oleh setiap pemimpin organisasi, baik di sektor publik, privat, maupun sektor ketiga. Organisasi mahasiswa (Ormawa) juga demikian.
Ormawa sebagai salah satu pilar dalam aktivitas kemahasiswaan merupakan wadah pelayanan, pengabdian, penyaluran minat dan bakat, serta pembelajaran untuk mendidik diri sendiri. Perubahan yang ada di lingkungan sekitar ormawa juga harus disikapi secara seksama oleh para pengurusnya, terutama oleh para pemimpinnya. Jika tak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, bukan tidak mungkin eksistensinya akan dipertanyakan oleh sesama mahasiswa.
Salah satu adaptasi yang harus dilakukan oleh ormawa pada hari ini adalah terkait dengan objek ormawa itu sendiri, mahasiswa.Mahasiswa hari ini, dipandang oleh beberapa teman penulis, cenderung semakin beriorientasi pada hal-hal yang bersifat akademik. Fenomenanya kurang lebih seperti ini.
Penulis yang merupakan lulusan SMA pada tahun 2013 sekaligus memasuki dunia kampus pada tahun 2013, angkatan 2013, baru mengetahui pada kelas 12 bahwa seluruh nilai rapornya di SMA, sejak kelas 10 hingga kelas 12, akan dijadikan kriteria penilaian dalam seleksi jalur undangan atau SNMPTN Undangan. Semua siswa berhak untuk mengikuti jalur undangan ini. Bagi beberapa siswa, hal ini jelas-jelas merupakan pemberitahuan yang sangat terlambat karena pada waktu kelas 10 dan 11, mereka bersantai ria menikmati indahnya masa-masa SMA.
Sebelum angkatan 2013, yang berhak memasuki seleksi jalur undangan hanyalah sebagian dari siswa terbaik, ada yang 75%,50%,atau 25% terbaik, tergantung kualitas sekolah tersebut. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya, hanya sebagian kecil saja yang diperbolehkan untuk bersaing di seleksi jalur undangan, dahulu disebut dengan jalur PMDK.
Namun sejak angkatan 2014 hingga hari ini, setiap siswa SMA yang duduk di kelas 10 sudah mengetahui bahwa dirinya dapat mengikuti jalur undangan dengan acuan nilai pelajarannya selama duduk di bangku SMA. Tentu semua siswa menginginkan tiket emas jalur undangan tersebut karena bertarung melalui jalur ujian tulis,seperti SBMPTN atau ujian mandiri, adalah jalur penuh risiko. Untuk mendapatkan tiket emas tersebut bukan hal yang mudah, diperlukan kerja keras untuk mendapatkannya. Oleh karena itu, sejak kelas 10, semua siswa sudah berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai terbaik di rapornya untuk kemudian berharap mendapatkan jalur undangan.
Nilai terbaik hanya bisa didapatkan dengan belajar yang keras pula. Untuk itu, siswa menggunakan berbagai cara agar mendapatkan nilai terbaik itu. Adik dari teman penulis yang saat ini masih duduk di kelas 11 sudah diikutkan les privat di rumahnya demi menggenjot nilainya, sesuatu yang tidak penulis temukan di sekitar penulis ketika masih duduk di kelas 11. Akibatnya kebiasaan selama 3 tahun di SMA itu terbawa ketika mereka sudah lulus SMA dan duduk di bangku perkuliahan. Kebiasaan belajar keras tersebut membuat mahasiswa ini memiliki orientasi kepada akademik yang jauh lebih tinggi dibandingkan angkatan-angkatan sebelumnya.
Hal ini, di satu sisi, menurut penulis merupakan hal yang bagus karena mahasiswa sebagai insan akademis memiliki tugas untuk mendapatkan dan memberikan yang terbaik dari dan untuk pengalaman akademiknya. Namun di sisi lain, ormawa, terutama yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan penunjang akademik, harus mampu merespon hal ini dengan perubahan kebijakan di organisasinya masing-masing.
Ormawa harus mampu melihat ini sebagai peluang yang harus diambil sekaligus tantangan yang harus dijawab. Bagi ormawa yang bergerak di bidang keilmuan, tentu hal ini harus diakomodasi kepentingannya, terutama yang berkaitan juga dengan karier pascakampus. Bagi ormawa yang bergerak di bidang sosial-politik, hal ini merupakan potensi, misalnya, dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kajian yang dikeluarkan sekaligus mendapatkan orang-orang terbaik di bidang keilmuannya masing-masing. Bagi ormawa yang bergerak di bidang seni dan olahraga, bisa membuat wadahnya untuk tempat berkreasi lebih jauh sekaligus melepas penat dari kegiatan akademiknya mahasiswa.
Kira-kira seperti itu gambaran ormawa masa depan yang ada di pikiran penulis dan beberapa teman penulis, bisa jadi salah dan sangat mungkin benar. Pada akhirnya, perubahan akan terus terjadi dan kualitas kepemimpinan dari tiap pengurus ormawa menjadi kunci dalam eksistensi ormawa bagi seluruh pemangku kepentingannya
Tulisan ini dimuat di selasar.com pada Selasa, 11 Oktober 2016 dan dapat dilihat pada tautan berikut https://www.selasar.com/budaya/ormawa-masa-depan