Days of Griefing
Dunia ada diantara dua garis lurus berdampingan: paus. Ya, the world was on pause.
Gimana rasanya griefing tapi nggak ada manusia yang tahu seberapa dalam duka atau rasa sakit yang kamu alami?
Setelah beberapa waktu, tiba tiba tadi pagi di perjalanan ke kantor aku kepikiran sesuatu:
Sedih itu nggak ada lelahnya, karena memang bukan kata kerja.
Sedih itu ada di udara, sama seperti bahagia mungkin. Sedih nggak memerlukan otot untuk dikerjakan, sedih cuma perubahan suasana hati dan itu normal, kita nggak perlu push diri sendiri dengan bilang, "yuk happy plis yuukk"
Sesekali, beri izin untuk 'doing nothing', instead of pushing our self to be happy, yang akhirnya hanya akan jadi denial dari proses griefing itu sendiri.
Bicara tentang Griefing, tentu yang teringat adalah Nabi Yaqub, ayahanda dari Nabi Yusuf, yang menangis begitu lamanya sampai matanya memutih. Its human, right? Gak usah bilang "I'm okay, let the game begin again.. Don't bother my condition.. "
Hey..
Part pertama dari Griefing adalah Denial. Iya, memang denial. Ketika sesuatu itu begitu berartinya, dan tiba tiba menghilang, kamu akan menolak lalu mempertanyakan, "iiihh Whyy" Gitu.
Setelah Denial, kamu akan menyalahkan diri sendiri atas musibah itu.
Emang sih sebenernya dalam agama sebaiknya cukup ucap innalillahi, lalu lanjutkan hidup. Tapi gimana hidup berjalan selanjutnya, gak ada yang bisa jamin akan tetap terasa sama.
"Coba aja aku dulu lebih hati hati, coba aja dulu aku lebih baik.. Dll" Adalah penyesalan yang sebaiknya sih nggak dilakuin, tapi kita secara naluriah akan auto menyalahkan diri sendiri. Part gaenaknya adalah, fase ini harus dilalui.
Untuk kemudian kita paham, bahwa
1. Hal ini benar benar terjadi, bukan mimpi, bukan prank, tapi memang takdirnya begini, cukup sampai disini usianya, masanya, jatahnya.
2. Ini semua bukan salahmu, seperti kata Kunto Aji. sesuatu yang memang seharusnya terjadi, akan terjadi, dan sesuatu yang kamu paksakan untuk terjadi, jika memang belum waktunya, tidak akan terjadi.
3. Terima kenyataannya, sesedih apapun banyak momen terlintas, kenyataannya yang sudah selesai, yang sudah pergi, yang sudah tiada, tidak bisa terus membuatmu berhenti.
4. Live with it. Hidup dengan kenyataan bahwa ada satu rumpang dalam cerita menyenangkan yang akan kamu kenang. Ada sesuatu yang tidak lagi ada (?), ada seseorang yang pernah begitu berarti tapi kini dia tidak lagi bisa hadir. Mungkin kamu sewaktu waktu akan berterima kasih, Terima kasih karena pernah singgah di hidup saya dan memberi banyak arti. Mungkin kamu akan mengutuk, mengapa begitu cepat kamu pergi tanpa sempat kita lakukan hal hal bersejarah. Mungkin kamu akan mengenangnya dalam duka, kasihan, karena mimpi mimpinya belum sepenuhnya ia penuhi, atau karena kamu sampai kapanpun tidak akan lagi bisa membantunya mewujudkan yang ia inginkan.
Grieving has really take my joy.. My money.. My life.. My sense of humor.. My willingness to do so many things..
And I'm still sad, after several of months. I'm not okay with this, I'm struggling everyday.. Telling my self that I need to live the day, for everyone I love, for half of my dream (cause another one has been taken away).
Tapi tetap bersyukur, apapun yang sudah berlalu, ternyata membuat hati kita semakin lembut.
Dan menyadari, bahwa yang menjaga kita, tidak pernah lupa memberikan kita kekuatan menjalani hari hari yang berat.
Days of griefing, seperti nabi Yaqub, saya rasa tidak ada waktu pasti kapan duka akan membaik atau bahkan pergi seutuhnya, mungkin tidak akan. Tapi hari hari tetap layak dijalani dengan rumpang di sana dan sini.














