Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB dan aku masih terduduk lemas di depan teras rumah memikirkan hal bodoh yang telah kamu lakukan kemarin malam. Memikirkannya membuat dadaku sesak. Aku menghela nafas pun masih terasa berat. Malam seperti menimpaku dengan pikiran yang kian kacau balau. Gejolak yang aku rasakan pun kian bergemuruh, perasaan mulai beradu dengan akal pikiran, saling menghantam satu sama lain seperti para gerombolan anak Sekolah Menengah Kejuruan yang sedang tawuran. Sesuatu terjadi, sesuatu yang tidak aku inginkan itu pun akhirnya terjadi. Komitmen yang kita bangun pun mulai menjadi layaknya bangunan yang tidak memiliki pondasi, seketika komitmen itu runtuh perlahan saat kamu mulai mengenal dunia barumu, bersama teman-teman yang baru saja kamu kenal dan bisa membuatmu merasa nyaman berada di dalamnya. Katamu disana lah tempatmu berada, aku hanya bisa tersenyum ketika kamu menceritakan mengenai mereka. Melihat kebahagiaan terpancar dari rona wajahmu yang berseri-seri membuatku turut bersuka ria. Disana lah kamu bertemu dengan dia, pria yang membuat duniamu menjadi lebih baru, sesuatu yang tidak pernah kamu dapatkan saat bersamaku.
Jujur, aku tidak menduga bahwa alasan saat itu kamu memutuskan hubungan kita adalah perihal orang ketiga. Saat itu kamu datang kepadaku dengan mata berkaca-kaca, meminta ruang untuk sendiri. “Ada apa memangnya, kok tiba-tiba saja”kataku, kamu menimpali “kayanya aku lagi di fase bosan”. Kamu berkata bahwa selama ini, saat bosan melanda, kamu masih bisa untuk mencoba kembali pada trek yang sama sekali lagi, namun di hari itu kamu benar-benar tidak bisa lagi, kamu meyakinkanku dengan sungguh dan aku mempercayainya. Namun waktu itu kamu ragu untuk mengakhiri hubungan ini dikarenakan kamu kasihan dengan kondisiku yang ditinggal oleh banyak orang ketika aku memilih untuk bersamamu, jadi kamu lebih memilih untuk meminta ruang sendiri dibandingkan langsung memutuskanku saat itu juga. Kamu kasihan terhadapku memikirkan bagaimana cara aku mencari makan di tanah perantauan sebab satu-satunya kendaraan yang aku miliki di sini telah raib diambil maling saat aku percayakan kepada orang lain untuk dititipkan dikarenakan saat itu aku sedang berada di kampung halaman. Namun saat itu juga aku meyakinkan kepadamu bahwa aku pasti bisa melewati semuanya dan aku juga tidak ingin kehadiranmu hanya sebatas rasa kasihan terhadap kondisiku, tidak sedikit pun aku menginginkan dikasihani oleh orang yang kucintai, lebih baik pergi daripada bertahan atas dasar rasa kasihan itu, aku meyakinkanmu dengan sungguh-sungguh. Akhirnya kamu pun bersedia untuk memutuskan hubungan ini disertai derai air mata yang kamu sendiri tidak tahu mengapa sebabnya. Jujur saja saat itu aku melepasmu dengan ikhlas dan tanpa penyesalan, seperti ada perasaan lega yang bersemayam dan akhirnya pun aku bisa menghubungi teman-temanku kembali setelah lama tidak saling berkirim kabar. Aku dalam proses mencari diriku kembali yang telah lama hilang.
Dua hari semenjak hari kamu memutuskan hubungan kita, kamu datang dengan wajah sembab akibat menangis seharian. Kamu bercerita bahwa kamu menyesal telah memutuskan hubungan ini. Kamu memintaku untuk kembali ke kehidupanmu, memintaku kembali untuk menjadi kekasihmu sekali lagi. Aku tidak lantas mengiyakannya, aku tahan dan menyuruhmu untuk menunggu satu bulan lamanya. Tidak sampai satu bulan, tiga hari setelah hari itu aku memutuskan untuk memulai lagi hubungan ini. Sampai saat hari itu aku masih tidak tahu menahu perihal orang ketiga. Tanggal 9 november, hari dimana kamu melakukan kebodohanmu, perlahan semuanya mulai terungkap karena kejadian itu. Malam itu, sebelum kamu menengguk sendiri anggur yang kamu beli, aku berfirasat tidak enak. Aku menghubungimu dengan mengatakan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja saat itu, tidak tahu sebab pastinya tapi aku benar-benar tidak baik-baik saja malam itu. Kamu pun membalas dengan menyuruhku tidak boleh berpikiran aneh-aneh, dan kamu menambahkan bahwa kamu barusan berkelahi dengan ibumu terkait entahlah apapun perihalnya. Lalu aku sedikit tidak enakkan mendengar perkelahianmu dengan ibumu tersebut, aku hanya membalas “iya tidurlah, aku mau tidur” dengan dibarengi panggilan via whatsapp darimu yang enggan aku angkat. Beberapa menit kemudian aku pun melakukan panggilan whatsapp karena firasatku semakin tidak enak, kamu mengangkatnya dan tetap saja percakapan kita hanya dilandaskan pada ego, bukan hati. Selepas dari obrolan tersebut kamu minta maaf, kamu tidak bisa menceritakan permasalahanmu dan aku tidak tahu menahu atas kesedihanmu malam itu.
Aku pikir bukan aku yang sedang tidak baik-baik saja, namun ternyata kamulah yang sedang tidak baik-baik saja malam itu. Kamu meneguk anggurmu dengan berharap kamu bisa melupakan pria yang mencoba masuk ke kehidupanmu itu. Kamu berusaha untuk kembali lagi kepadaku dengan meminum anggurmu perlahan demi perlahan, kamu beraharap anggur dapat menghilangkan rasa pedihmu. Memiliki perasaan kepada dua pria membuatmu berdiri di antara pilihan berat, kamu bergumam “Selemah inikah perasaanku ke kekasihku, mengapa?” pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab walaupun anggur telah menghangatkan tubuhmu. Malam itu, kamu dengan lepas bercerita ke pria itu bahwa kamu sedang teler dengan sebotol anggur di hadapanmu sedangkan aku sibuk memantau status online-mu saja. “Kamu jangan seperti ini”ungkapmu. “kenapa?”tukasku, “ga tega”katamu. Aku hanya memantau sampai dari jam setengah 2 malam sampai jam 3 saja, selebihnya aku coba untuk menenangkan diriku sendiri sembari mencoba tertidur. Selama aku tertidur, ternyata pria itu yang berhasil membuatmu berhenti meneguk anggur yang ada di hadapanmu, pria itu menjadi tempatmu untuk membagikan kesedihan yang kamu alami, dan pria itu yang berhasil membuatmu merasa tenang malam itu. Aku? Tertidur pulas dan dilupakan.
Siangnya kamu datang dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi malam. Wajahmu sangat tegang dan nafasku terasa berhenti sesaat sesudah kamu berkata bahwa semalam suntuk kamu meminum anggur merah demi meredakan kesedihanmu. “Sudah kuduga kamu akan melakukannya lagi”ucapku, “nampaknya kamu memang tidak pernah menyesalinya sedikit pun”tambahku. Ingatkah kamu bahwa tanggal 30 oktober kita pernah bertengkar hebat saat kamu bercerita mengenai anggur yang kamu teguk ketika kamu sedang berkemah bersama teman-teman barumu. Kamu meneguk anggur merah karena diperintahkan teman-temanmu saat itu, “cobalah ini, seteguk dua teguk, biar hangat”kata mereka dan kamu pun menurutinya. Aku tidak terima, sangat tidak terima atas perlakuan teman-temanmu tersebut, namun kamu masih saja membela mereka dengan dalih mereka semua minum, tidak enak jika tidak ikut, demi menghormati mereka semua, katamu saat itu. “Apakah kamu menikmatinya?” tanyaku, “iya, bikin hangat”, ungkapmu dengan nada yang terdengar sumbang. Saat itu aku hanya ingin kamu menyesalinya dan tidak mencoba untuk mengulanginya lagi. Namun naas, ternyata penyesalan itu tidak pernah datang dan ternyata kamu mengulanginya lagi tadi malam. “Yasudah, mau diapakan lagi, sudah terjadi”kataku. Aku pun mencoba untuk menenangkan diri sesaat sesudah cerita mengenai anggur merahmu usai. Aku melihat ponselmu dan bertanya, “yang mana orangnya? Yang paling dekat sama kamu saat ini?”tanyaku, “ini namanya Jali, eh kadang dipanggil Nawir juga”ungkapmu. Saat itu aku melihat bahwa nama kontak pria tersebut sangat berbeda dari pria-pria lain yang masih tergabung dalam aliansi perserikatan teman-teman barumu itu. “Oh iya, itu kan username whatsapp-nya, jadi aku ikutin username itu buat namain kontak dia”sergapmu. “Kamu suka dia ya?” tanyaku. “Gak suka sih, cuman kaya kagum aja”, jawabmu. Saat itu dan detik itu juga aku masih percaya saja bahwa hubungan di antara kalian hanya sebatas hubungan seseorang yang baru kenal satu sama lain, tidak kurang tidak lebih dan aku menutup hari itu dengan pertanyaan yang makin menjadi-jadi, “ada apa yang sebenarnya terjadi, mengapa aku tidak tahu-menahu tentang ini?”tanyaku pada diri sendiri.
Keesokan harinya, aku masih saja berpikir mengenai hubungan pertemananmu dengan circle barumu tersebut. Lalu aku mengajakmu untuk ke cafe biasa yang sering kita kunjungi, tempat dimana kita kencan pertama dulu. “Nanti kita ngopi ya di Amstirdam”, kataku. Kamu mengiyakan dan kita pun pergi ke sana dengan seribu pertanyaan yang menyergapku perlahan. Setelah sampai di Amstirdam, seperti biasanya, kita selalu memesan kopi sejuk dan duduk di bawah teriknya air conditioner dalam ruangan cafe tersebut disambut dengan harumnya biji-biji kopi yang telah di-roasting dan siap dipasarkan ke seluruh Indonesia. “Atas nama Rido”kata salah satu barista cafe tersebut. Aku mengambil pesanan kemudian kita duduk dengan khidmat dengan kopi sejuk yang mencoba menghangatkan pembicaraan. “Jadi sudah sampai dimana hubunganmu dengan Nawir?”tanyaku. “Tidak sejauh yang kamu bayangkan”, jawabmu. “Aku boleh lihat chat-nya tidak?”tanyaku. Kamu pun perlahan gugup dan dengan perlahan menyerahkan ponselmu tersebut. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan betapa terkejutnya aku saat melihat isi percakapan kamu dengan pria tersebut. “Lah, ini mah lebih dari kagum. Ini mah dua orang yang saling menyukai satu sama lain” tukasku.
Kamu hanya mengangguk terdiam setelah aku dapati isi pesan dari dia yang semakin menunjukkan bahwa kalian menyukai satu sama lain, lalu aku melihat ke arahmu sekali lagi dengan meyakinkan diri bahwa semuanya hanya tipu daya dan hal yang aku dapati hanya senyummu yang kian layu. Kebenaran telah terungkap, tidak ada permainan tipu daya kali ini semua hanya kebenaran yang bertumpu pada fakta bahwa komitmen yang dihadirkan sejak awal kita berikrar satu sama lain hanyalah janji-janji semu. Kata-kata yang keluar dari mulutmu setelah kebenaran terungkap pun hanya membuat aku semakin membeku. Fokusmu semakin terpecah setelah sahabatmu menelepon dan bercerita tentang masalahnya. Aku juga tidak dapat berkata-kata lagi, semua kecemasanku berujung pada pembenaran bahwa ekspektasiku terhadapmu telah terlampau cukup tinggi dan itu semua hancur karena kisah pengkhianatan ini.
Kamu meyakinkan bahwa kisah kalian telah usai. Usai? Aku semakin terpojokkan saat mengetahui hal tersebut. Aku semakin merasa bahwa aku hanyalah penghalang semata saat mendengar kalimat tersebut. “Jadi, kalau tidak ada aku. Semua perasaan kalian berdua akan bersatu?” gusarku. Pada hari itu, pada malam yang dingin, sangat dingin, kudapati diriku mengigil kedinginan. Malam itu berlalu dengan sendu yang tak berarah. Kudapati diriku terdiam di altar kost, memikirkan semua kegilaan yang telah terjadi. Namun demikian, malam berlalu dengan ego yang terendam dengan sempurna. Kita kembali dalam keadaan baik-baik saja, ingatku.
Tanggal 11 November, saat kamu masih terlelap di jam 6 pagi, aku membuka lagi isi pesan di tanggal 9 November tersebut. Hal yang aku dapatkan hanya rasa sakit saat mengingat-ingat kembali kejadian di hari itu. Kamu lebih memilih untuk mencurahkan perasaanmu ke pria lain yang baru saja kamu kenal itu. Kamu lebih terbuka saat bersamanya dan menutupi kejadian tersebut terhadapku. Sakit sekali rasanya sampai aku tidak sengaja mengirimi pria itu pesan di media sosial Instagram. Sebuah sapaan “assalamualaikum, mohon maaf apa benar ini (nama pria tersebut)?”, sengaja aku tulis dengan sopan karena aku hanya niat untuk bertanya beberapa pertanyaan, mencoba mencari penjelasan yang tidak pernah kamu berikan. Niat yang baik tersebut terhalang oleh luapnya emosimu saat aku mengabarimu telah mengirimi pria tersebut sebuah pesan. “Kamu kaya anak SD” ungkapmu, aku membela diri mengatakan bahwa aku hanya ingin tahu kebenarannya, aku ingin tahu dari segala sisi apa yang telah terjadi dan aku yakin bahwa aku berhak atas hal tersebut. Kamu lalu marah, emosimu meluap-luap, kamu memakiku via voice note dengan perkataan kasar yang tidak ingin aku dengar. Lalu kamu berkata bahwa semuanya sudah berakhir, kamu semakin menyalahkan dirimu atas perlakuanku yang dengan semena-menanya bertanya ke pria tersebut. Lalu kamu mencoba melakukan voice called, hanya tangisan yang aku dengar saat itu, belum ada penjelasan sedikit pun, kekecewaanmu terhadapku yang telah mengirimi pria itu direct message, aku menjelaskan bahwa pesan tersebut sudah aku tarik dan jawaban atas pria tersebut tidak pernah aku dapatkan sampai detik ini. Setengah jam setelah aku angkat telepon mu, kamu bertanya kembali “jadi kamu putusin aku? Jadi kamu ninggalin aku?”, aku jawab dengan anggukkan saja karena dari awal kamu yang berkata jika semuanya sudah berakhir, berakhirlah sudah kisah ini, aku hanya mengiyakan dan tersenyum tipis, “semuanya telah berakhir” kataku dalam lirih yang tidak dapat kau dengar adanya.
Kini aku tahu seperti apa rasanya sebuah pengkhianatan. Aku mengutuk diriku sendiri atas kesalahan yang kamu buat itu. Salahku kah jika kamu tidak bisa dapat sesuatu yang kamu inginkan pada diriku? Salahku kah apabila kamu membuka hatimu untuk orang lain ketika masih memiliki status hubungan saat denganku? Pertanyaan bodoh seperti ini selalu mengelilingi pikiranku. Bodoh karena aku terkesan menghukum diriku sendiri atas apa yang telah kamu perbuat. Tapi demi apapun itu, orang yang berselingkuh harus tetap disalahkan, perselingkuhan dengan alasan apapun tidak pantas untuk dibenarkan. Pengkhianatan itu keji rupanya, tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun. Sekali pun ada yang bilang bahwa “laki-laki selingkuh karena nafsunya, sedangkan perempuan selingkuh karena tidak bahagia dengan pasangannya”. Pernyataan yang bodoh, sejak kapan perselingkuhan bisa diberi pembenaran? Toh pada akhirnya jika kamu selingkuh itu artinya kamu tidak bersyukur terhadap pasanganmu sendiri. Terima saja jika pada akhirnya kamu akan ditinggalkan oleh seseorang yang tulus padamu. Pada akhirnya setiap orang berhak untuk memilih dan bahagia, jika kamu mencari yang sempurna, maka kamu akan kehilangan yang terbaik. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab bukan. Ikhlaskan kepergianku, akan aku doakan kebahagianmu karena walaupun berakhir dengan luka, setidaknya kita pernah bahagia.
ditulis di Malang, 05 Januari 2021