I offer you the following 10 steps to awaken your financial genius.
1. Find a Reason Greater than Reality: The Power of Spirit
Kalau setiap orang ditanya, apa kamu ingin menjadi kaya dan bebas finansial? Hampir semua jawabannya pasti iya. Tapi pada kenyataannya, jalan menuju sana butuh waktu yang panjang dan akan sangat banyak bukit yang harus didaki. It’s okay. It’s not easy, but it’s not impossible.
Dalam bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad, Robert T. Kyosaki menceritakan kalau pemikiran ‘Keinginan’ dan ‘Ketidakinginan’ adalah kombinasi yang terbersit kenapa seseorang ingin menjadi kaya. Bingung? Mari kita bahas!
Saya ingin mengontrol waktu dan hidup saya. Saya ingin uang bekerja untuk saya (money for work for us, we don’t work for money).
Kita tentunya tidak ingin bekerja sampai tua seperti hal nya orang tua pada umumnya waktunya habis untuk bekerja sehingga sangat sedikit waktu yang ia habiskan untuk bermain bersama anak - anaknya dan ia ingin bebas finansial di usia 40. Mimpi itu ia mulai wujudkan dengan mempelajari banyak hal dari usia 4 tahun.
Pertanyaanya adalah apa keinginan dan ke-tidak inginan kita?
If you don’t have a strong reason, there is no sense reading further. It will sound like too much work. Without strong reason or purpose, anything in life is hard
2. Make Daily Choices: The Power of Choice
Pilihan yang kita lakukan terhadap uang, waktu dan pikiran itu sendiri. Manfaatkan waktu untuk investasi leher ke atas atau pendidikan. Sejak pandemi banyak orang - orang investasi di saham instead of belajar dulu analisa perusahaan banyak orang memilih jalan ninja FOMO (Fears of missing out) ikut beli saham yang lagi rame.
Masing-masing dari kita pasti mengenal orang-orang yang berpendidikan tinggi, atau percaya bahwa mereka pintar namun tidak semua memiliki pola fikir yang sama beberapa enggan menerima ide dari orang lain. Orang yang benar - benar cerdas akan mudah menerima ide - ide baru dan belajar dari orang lain. Mendengarkan lebih penting ketimbang banyak bicara, seperti hal nya Tuhan memberikan kita dua telinga dan satu mulut. Nyatanya banyak orang pintar tapi tidak cerdas dalam mengelola ucapan, sulit menerima ide baru dan membaca peluang.
3. Choose Friends Carefully: The Power of Association
Ada dua tipe orang didunia ini: (1) orang kaya dan (2) orang miskin. Hal ini tidak dilihat hanya dari seberapa banyak uang yang mereka punya. Meskipun tidak semua, tapi kebanyakan orang ‘miskin’ enggan membicarakan masalah uang dan investasi instead of mereka belajar proses mengapa seseorang menjadi kaya. Ini tentang mindset. Dalam bukunya disebutkan kalau mereka datang menanyakan dua hal. Apa itu? (1) Pinjaman dan (2) Pekerjaan. Alasan kita juga harus memilih teman yang ‘kaya’ karena uang berasal dari informasi.
4. Master a Formula and Then Learn a New One: The Power of Learning Quickly
Sebagai contoh, seorang koki yang memasak selalu mengikuti resep padahal hal tersebut sudah diluar kepalanya, sama halnya dengan orang pada umumnya sekolah kemudian bekerja ‘that is formula’ atau bekerja untuk uang.
Makes money works for us. Pelajari skill baru dengan menjadikannya side hustle (sampingan).
Be the master of money, that skill is priceless finding faster formulas-recipes. Working hard for money is an old formula.
5. Pay Yourself First: The Power of Self-Discipline
Jika kamu tidak bisa mengontrol diri sendiri, jangan pernah berharap menjadi kaya.
Ada tiga keterampilan manajemen terpenting yang diperlukan dalam hidup:
Agar berhasil membayar diri sendiri terlebih dahulu, ingatlah hal-hal berikut:
Jangan berhutang melebihi penghasilan kita. Jaga agar pengeluaran kita tetap rendah. Bangun aset dulu. Kemudian membeli rumah besar atau mobil bagus.
Ketika kita kekurangan, jangan gunakan tabungan dan investasi tapi gunakan kekurangan tersebut agar mendorong kita untuk lebih berfikir bagaimana caranya menghasilkan lebih banyak uang.
The rich know that savings are only used to create more money, not to pay bills.
6. Pay Your Brokers Well: The Power of Good Advice
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa salah satu skill management yang penting adalah management people. Kebanyakan orang hanya manage orang dibawahnya seperti halnya bos yang memikirkan cara bagaimana manage staff-nya. Namun kita seringkali lupa untuk manage orang yang secara keilmuan berada di atas kita. Kenapa? Karena saat ini kita ada di era informasi, information is priceless.
A good mentor should provide you with information as well as take the time to educate you.
7. Be an Indian Giver: The Power of Getting Something for Nothing
Ketika pemukim Eropa pertama datang ke Amerika, mereka terkejut dengan praktik budaya yang dimiliki beberapa orang Indian Amerika disana. Misalnya, jika seorang pendatang kedinginan, orang Indian akan memberi orang itu selimut. Mengira itu sebagai hadiah, pendatang sering tersinggung ketika orang India memintanya kembali. Orang-orang Indian itu juga marah ketika mereka menyadari bahwa para pendatang tidak mau mengembalikannya. Dari situlah istilah ‘Indian giver' berasal, kesalahpahaman budaya yang sederhana.
Di dunia bisnis, menjadi Indian giver sangat penting untuk mengembangkan aset kita. Pertanyaan pertama seorang investor pasti: 'Seberapa cepat saya mendapatkan uang saya kembali?' Itulah sebabnya ROI (Return on Investment), atau laba atas investasi, sangat penting.
Ray kroc, seorang pengusaha yang membeli McDonald's Corporation, bukan Karena dia suka hamburgers tapi karena dia melihat peluang bisnis real easte dr franchise MCD.
So, wise investors must look at more than retun on investment , its the assets you get for free once you get your Money back.
8. Use Assets to Buy Luxuries: The Power of Focus
Seringkali kita fokus untuk meminjam uang untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan daripada berfokus pada menghasilkan uang. Yang satu lebih mudah dalam jangka pendek, tetapi lebih sulit dalam jangka panjang.
Ini adalah kebiasaan buruk kita sebagai individu. Perlu diingat jalan yang mudah sering kali menjadi sulit, dan jalan yang sulit sering kali menjadi mudah. Semakin dini kita dapat melatih diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai untuk mengontrol uang, semakin baik.
Money is a powerful force. Sayangnya, banyak orang yang terjebak dalam hal tersebut. Jika kecerdasan finansial kita rendah, uang yang akan menguasai kita dan uang akan menjadi lebih pintar dari kita. Jika uang lebih pintar dari kita, kita akan bekerja untuk uang sepanjang hidup.
9. The Need for Heroes: The Power of Myth
Memiliki pahlawan adalah salah satu cara paling ampuh yang kita pelajari. Saat kita kecil seringkali kita memiliki idola superhero, tapi ketika dewasa, kita sering kehilangan pahlawan kita merasa minder ketika ada di circle yang lebih keren alih - alih menjadikan seseorang tersebut mentor.
Ketika dewasa hero Robert adalah Warren Buffett, dan ia membaca tentang sudut pandangnya terhadap pasar modal dan bagaimana dia memilih saham serta Donald Trump tentang bagaimana dia bernegosiasi dan membuat kesepakatan.
Ketika ia berada di pasar modal “saya sedang menegosiasikan secara tidak sadar bertindak dengan keberanian Trump”. Atau ketika menganalisis sebuah tren, ia melihatnya seolah-olah Warren Buffet yang melakukannya. Pahlawan membuat segalanya terlihat mudah dan membuat kita menjadi terinspirasi.
10. Teach and You shall receive: the power of giving
“If you want something, you first need to give”
Setiap kali kita merasa kekurangan atau membutuhkan sesuatu, berikan apa yang kita inginkan terlebih dahulu dan itu akan kembali.
Giving to receive in those instance, instead of giving to give.