Kamu Butuh Didengar, atau Dibantu Mencari Solusi?
Tulisan ini adalah respons dari sesuatu yang kubaca kemarin—tentang bagaimana secara psikologi manusia punya kebutuhan dasar untuk merasa dipahami, bukan langsung diperbaiki (diberi solusi).
Aku setuju dengan poin itu.
Tapi... aku juga punya “tapi” yang menyertainya setelah membaca keseluruhan teks yang kubaca itu. Terlebih saat orang-orang yang langsung mengaktifkan mode problem solving seolah semua emosi harus dibereskan secepat mungkin, mulai dipermasalahkan habis-habisan.
Bagaimana pun, memahami (emotional validation) orang lain is not that simple hadir sesuai maunya orang lain.
“Tapi”-ku bermuara pada dua hal:
Pertama.
"Tapi, bagaimana kalau perasaannya keliru?"
Teori bilang kita harus memvalidasi bahwa perasaan seseorang itu masuk akal. Tapi, bagaimana kalau lawan bicaramu merasa marah atau tersinggung karena sesuatu yang sebenarnya adalah kesalahpahamannya sendiri?
Karena setahuku—kalau kita balik ke konsepnya—emotional validation itu tujuannya bikin seseorang merasa dipahami, bukan dibenarkan dalam segala hal termasuk perasaannya. Sehingga akan ada juga risiko cara kita memvalidasi nantinya memperkuat pola yang salah karena kita keliru antara membuatnya merasa dipahami dengan sembarangan dibenarkan padahal itu bukan perasaan yang sepatutnya dibenarkan. Makanya di praktik psikologi pun, validasi biasanya bukan tujuan akhir, cuma pintu masuk ke tahap lainnya.
Kedua.
"Tapi, apakah membiarkan seseorang larut dalam emosi itu benar-benar peduli?"
Ada pandangan bahwa curhat tanpa arah (venting) justru bisa memperkuat emosi negatif, bukan menyembuhkannya. Dan sebagian besar dari kita mungkin tipe orang yang percaya bahwa cara terbaik menyayangi seseorang adalah dengan membantunya keluar dari lubang, bukan duduk bersama di dalam lubang itu.
Aku merasa teks seperti yang kubaca sebelumnya terasa terlalu memusatkan perhatian pada si pembicara, dan hampir menghapus peran si pendengar.
Seolah-olah pendengar hanyalah alat validasi yang tidak boleh punya pikiran sendiri. Padahal, pendengar juga manusia. Punya insting, punya batas, punya cara bereaksi.
Emotional validation bukanlah skill dasar dan umum yang semua orang wajib punya.
Menyuruh semua orang bisa melakukannya dengan baik, sama seperti menyarankan semua orang untuk jago main piano klasik. Atau lebih sederhana, seperti kita sedang memasarkan barang mewah sebagai kebutuhan pokok.
Itu melawan hardware otak manusia pada umumnya. Karena secara evolusi, otak manusia didesain untuk bertahan hidup. Ada masalah, ya beresin.
Kalau kamu melihat temanmu jatuh ke sumur, instingmu adalah cari tali (solusi), bukan duduk di pinggir sumur sambil bilang, "Pasti rasanya gelap dan dingin ya di bawah sana?" (validasi).
Kalau rumah temanmu kebakaran, kamu nggak akan bilang, "Aku paham perasaanmu pasti takut banget ya." (validasi). Kamu bakal teriak, "Keluar dari situ sekarang!" (solusi)
Memang ini masalah yang berbeda dari soalan fisik meski cukup untuk menggambarkan insting dasar kita. Tapi mari kita coba buatkan dalam analogi psikologisnya:
Kalau temanmu terus-terusan tenggelam dalam overthinking, instingmu barangkali bukan cuma duduk di sampingnya sambil berkata, “Pasti capek ya kepikiran terus?” (validasi). Di titik tertentu, kamu akan mencoba menghentikan lingkarannya.
Kamu pasti akan menarik dia keluar dari pikirannya sendiri. “Lo nambahin drama sendiri di kepala lo. Daripada mikir, mending sekarang lo chat aja orangnya. Cek langsung, biar jelas!" (solusi).
Kalau temanmu bertahan di hubungan yang jelas-jelas menyakitkan, kamu nggak akan terus berkata,
“Aku paham kenapa kamu masih bertahan.” (validasi) Kamu mungkin akan mulai berkata, “Ini nggak sehat. Kalau lo terus di situ, lo bakal makin hancur. Putusin aja dia.” (solusi).
Jadi sebenarnya ngasih solusi juga bukan kesalahan. Validasi maupun solusi, dua-duanya nggak salah.
Manusia memang punya kebutuhan kuat untuk merasa dipahami DAHULU sebelum emosinya dibereskan. Kata DAHULU-nya mohon jangan dihilangkan.
Juga, mohon digaris bawahi sekali lagi kalau dipahami TIDAK SAMA dengan dibenarkan.
Kubagikan contoh biar pembaca budiman kebayang:
Temanmu marah besar karena chat-nya dibalas lama.
Dipahami: “Kalau lo lagi butuh respon cepat, wajar sih lo jadi kesel.”
Kamu ngerti emosinya.
Dibenarkan: “Iya, dia keterlaluan banget sih. Nggak respect sama sekali.”
Kamu ikut menghakimi situasinya, padahal belum tentu begitu adanya.
Tapi menyerukan emotional validation seolah itu kewajiban universal dan semua orang harus kuasai adalah hal yang nggak realistis.
Kenapa? Karena nggak semua kita pernah diajarkan cara memvalidasi emosi (emotional validation) di sekolah.
Kita diajarkan matematika, sejarah, dan menghafal. Tapi nggak pernah ada kelas Cara Mendengarkan Tanpa Menghakimi. Enam belas tahun belajar formal, aku baru ketemu pelajaran validasi ini di jenjang kuliah.
Tapi aku mau memahami kalau niat awal teks itu sebenarnya sederhana. Bukan untuk mengubah semua orang menjadi terapis, tapi mengurangi kebiasaan refleks yang bikin komunikasi antar kita semakin rusak.
Mungkin, dari pada menyerukan semua orang jadi validator ulung, solusinya bisa dibuat lebih sederhana aja. Sesederhana belajar mengatur ekspektasi.
Dan soal jadi pendengar yang baik bagi orang sekitar kita, aku ingat sebuah saran dari seorang dosen. Bahwa bahkan dalam ruang yang paling ideal seperti terapi pun, orang tidak diperlakukan sebagai satu pola. Mereka ditanya, kamu butuh didengar, atau dibantu mencari solusi?
Barangkali bisa kita tiru pertanyaan itu saat teman kita datang untuk berbagi kemelutnya.
Tentu ini sangat membantu kita agar tidak meminta mangga di pohon jeruk, lalu kecewa karena tidak mendapatkannya.
Pun kalau kamu bukan seseorang yang punya skill validasi emosi orang lain, lebih baik kamu jujur saja kalau kamu "nggak jago dengerin" daripada maksain diri. Ingatlah kalau mendengarkan tanpa memberi solusi itu butuh energi mental yang besar.
Niatku menulis ini bukan untuk membuat kita apatis. Aku percaya kita punya kapasitas memahami urgensi. Urgensi yang kumaksud adalah momen di mana kita mampu menilai bahwa tidak semua situasi bisa kita ukur dengan kapasitas kita semata. Ada kalanya kebutuhan orang lain untuk didengar memang lebih mendesak.