My bodily death shall not be my end; but the failure to apprehend all knowledge.
seen from China

seen from Malaysia
seen from Russia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from Finland
seen from Saudi Arabia

seen from Indonesia
seen from Ireland

seen from Germany
seen from Iraq
seen from China

seen from Czechia
seen from China

seen from Brazil

seen from Sweden
My bodily death shall not be my end; but the failure to apprehend all knowledge.
Wind in a cornfield
Maisfjild yn de wyn
"do it for the gram"
"do it for the vine"
"do it for the tok"
How about do it for yourself?
Do it for the nation!
Do it for magical power!!
Reflect
WIP progress. Note how she is sitting. Very demure, mindful and modest
We will explore 10 intriguing facts about mindfulness, shedding light on its profound impact and the science behind its effectiveness.
We will explore 10 intriguing facts about mindfulness, shedding light on its profound impact and the science behind its effectiveness.
Hack your emotion.
Siapa disini yang masih suka gagal mengelola emosi? It’s okay. Kita sama. Berbicara mengelola emosi, saya jadi teringat sama salah satu materi yang saya dapet di sesi mentorship @perempuangagal. Begini kurang lebih summary-nya.
Emosi - Aksi
Kebanyakan dari kita masih banyak yang berfikir kalau emosi=marah. Padahal sebenarnya jenis emosi itu banyak sekali. Perasaan seperti sedih, jatuh cinta, bahkan lapar termasuk emosi. Sejatinya tidak ada emosi yang baik ataupun buruk. Ini insight baru buat saya. Hidup ini ibarat kita lagi nonton film yang perlu jeda. Buat apa? Buat berfikir sejenak alur dari film tersebut. Kita bisa sebut ini dengan mindfulness dimana kita mengambil jeda, sehingga bisa punya pilihan dalam menentukan respon yang kita ambil.
Contohnya, Karena saya dulu kuliah Bidan, Alih - Alih menjadi tenaga kesehatan atau buka praktek, saya memilih lanjut studi yang mana itu aga ga sejalur sama bidang sebelumnya. Tentu, pilihan ini tidak mudah diterima oleh lingkungan sekitar contohnya.
Stigma saat baru masuk kuliah
A : Kamu ngapain kuliah lagi yu, buang - buang waktu dan duit aja, ngapain kuliah 3 taun lagi. Cape - cape itumah kaya ngulang lagi dari nol, sayang umur loh, perempuan lagi.
B : Perempuan mah mending buka praktek aja dirumah biar suami pulang kerja istri ada dirumah, anak keurus, dan lain sebagainya
Stigma saat kuliah sambil bekerja
D : Tuh liat si Y kuliah sambil kerja, udah kenal uang sibuk banget, kuliahnya ga beres2 sampe sekarang, hati - hati loh.
Sebelum mengenal istilah mindful, saya orang yang sangat take things personally. Easily Triggred dan Reaktif. Saat itu, yang saya lakukan adalah marah dalam diam lalu mulai menjaga jarak, sempat ingin menyerah, bahkan tak sering mempertanyakan kembali. Apakah life path yang saya tempuh ini benar? Ternyata kondisi ini disebut kondisi tanpa midfulness (Stimulus - Reaksi) dan ada pengaruh inner enemy. Apa itu inner enemy ? Next saya akan bahas di postingan berikutnya..
Then, Bagaimana seharusnya kita mengontrol emosi dengan mindful?
Stimulus - Sadari situasi - pilah opsi - pilih aksi - respon
Diantara stimulus dan respon, terdapat sebuah jeda. Di dalam jeda itu, kita punya kekuatan untuk memilih respon. Begitu yang dikatakan Victor Frankl.
Kalau diperhatiin, prosesnya emang panjang banget. Padahal di saat yang sama, proses ini terjadi sangat cepat di otak kita. Emang bisa? Jawabannya sangat bisa, tapi tentu ini perlu dilatih. Semakin kita sering melatih respon kita terhadap stimulus kita, semakin jago kita mengelola emosi. Sama hal nya ketika dulu kita belajar baca, lamaa banget proses dari mengenal huruf sampe bisa baca kalimat “Ini Ibu Budi”. Tanpa disadari sekarang kita udah bisa baca artikel-artikel berat bahkan jurnal.
Pertanyaan yang saya tanyakan ke diri sendiri adalah apa sekarang saya selalu berhasil buat mindfullness? Jawabannya tentu tidak, masih sering banget kelepasan dan nurutin ego ujung - ujungnya nyesel. Tapi tetep, yang penting tetep belajar buat mengelola. Kalau kata Nelson Mandela, Kesuksesan kita dalam kehidupan (pekerjaan, relationship, dll) bergantung pada kemampuan kita untuk merespon secara efektif, bukan bereaksi secara otomatis.
Oktoberfarben. #beautifultrees #herbst #visitbavaria #deinbayern #hike #autumn #bayern #Ostallgäu #allgäu #allgäuliebe #kaufbeuren #nature #beautyofnature #naturephotography #nature_perfection #photography #wanderliebe #photooftheday #travel #mindfull #naturdokument (hier: Kaufbeuren) https://www.instagram.com/p/CGw6vv0ltZb/?igshid=1x2gcgpjnelo1