Tak apa retak sendirian, asal tak menumpang di dinding yang mudah runtuh.
cherry valley forever
ojovivo
EXPECTATIONS
Today's Document
Interview Vampire Daily
Fieri Frames
No title available
h
Show & Tell
No title available

ellievsbear
Fai_Ryy
No title available

izzy's playlists!
I'd rather be in outer space 🛸
$LAYYYTER
macklin celebrini has autism

Origami Around
Noah Kahan
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Germany
seen from Poland
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from T1

seen from Japan
seen from United States

seen from United States
seen from Bulgaria

seen from United States

seen from United States
seen from Pakistan
seen from United States
@iurizqhie
Tak apa retak sendirian, asal tak menumpang di dinding yang mudah runtuh.
Pada akhirnya, kita memang harus selalu menyisakan satu ruang kosong di sudut kepala untuk menampung rasa kecewa—bahkan terhadap mereka yang saat ini paling kita genggam erat. Ini bukanlah bentuk pesimisme yang berlebihan atau ketakutan tak beralasan, melainkan sekadar sabuk pengaman dari sebuah kenyataan mutlak: bahwa manusia bisa berubah dengan teramat mudah.
Sosok yang hari ini menjadi muara dari segala rahasiamu, yang mendengarkan seluruh riuh kisahmu tanpa sisa, bisa jadi kelak menjelma menjadi nama yang paling tak ingin kamu ingat lagi keberadaannya. Kedekatan yang terasa abadi itu bisa menguap begitu saja menjadi sepasang orang asing. Sekali lagi, bukan karena dunia ini sengaja berbuat kejam, melainkan murni karena hati manusia terlalu mudah bergeser arah.
Menyisakan ruang untuk kecewa pada akhirnya adalah bentuk kompromi yang paling jujur dengan keadaan. Bukan untuk membatasi seberapa jauh kita boleh percaya, melainkan agar kelak ketika mereka perlahan menjauh dan menjadi orang asing, kita cukup mengangguk paham. Kita membiarkan mereka berlalu tanpa harus merasa dikhianati, karena kita sudah sadar sejak awal: berubah adalah satu-satunya hal yang paling konsisten dari seorang manusia.
For the soul you trust with your deepest stories today may quietly become the stranger you wish to forget tomorrow; hence, we must always leave a spare room in our hearts for disappointment, simply because people change far too easily.
Jogjakarta. neia.
Manusia kerap berjalan menelusuri rentang usianya layaknya seorang pengelana yang memiliki persediaan waktu tak terbatas. Menghamburkan tenaga demi ambisi yang tak berkesudahan, merawat ekspektasi orang-orang yang tak berniat tinggal, dan bertingkah seolah kita menyimpan seribu cadangan napas di dalam saku.
Sampai di satu titik yang teramat sunyi, realita membenturkan kita pada sebuah kewarasan yang telak. Bukan lewat hantaman tragedi yang riuh, melainkan lewat sebuah kesadaran hening yang menguliti segala ilusi keabadian yang selama ini kita pelihara.
Kita semua pada dasarnya memiliki dua kehidupan. Dan kehidupan yang kedua, baru benar-benar dimulai tepat pada detik ketika kita menyadari bahwa kita hanya memiliki satu.
Titik putar itu mengubah segalanya. Rantai ego perlahan terlepas, membuat kita berhenti memaksa diri menjadi segalanya bagi semua orang, dan mulai merawat langkah yang tersisa dengan jauh lebih utuh. Sebab pada akhirnya, kita terbangun dan memahami bahwa panggung ini tak akan pernah mengulang lakonnya, dan sisa waktu yang ada terlalu berharga untuk dihabiskan demi memuaskan dunia.
For every soul is granted two lives, yet the second truly awakens only in the silent, heavy realization that we are but given one.
Jogjakarta. neia.
aku masih sama, hanya saja lebih tenang, aku tidak berubah, aku hanya berhenti menjadi versi yang mengerti segalanya, yang pergi pergilah, yang salah paham silahkan menilai buruk, biarkan itu urusan mereka, aku tidak marah, hanya memilih tenang, karna damai lebih menyelamatkan dari pada sibuk menjelaskan.
على الرغم من وجود العديد من أشكال الحب في العالم، إلا أنني اخترت هذه المرة أن أحبك مثل نسمة من الريح، صامتة وغير مرئية ولكنها مهدئة.
"walaupun ada banyak bentuk cinta di dunia, namun kali ini aku memilih untuk mencintaimu layaknya hembusan angin, yang hening dan tak terlilhat namun menenangkan"
أوجعُ الجراحِ ما كانَ من يدٍ ظننتَها أمانًا
"Luka yang paling menyakitkan adalah yang datang dari tangan yang kamu kira sebagai tempat aman."
Rindu ini tidak lagi mengetuk, ia mendobrak seluruh isi dadaku tanpa izin, membuat tulang-tulangku menjadi penjara yang mengurung diriku sendiri.
Aku kewalahan, sampai tubuh ini seperti bukan lagi milikku, ia hanya ruang gelap yang terus mengulang namamu tanpa ampun.
Written by Aftansa
Kamu ingin gak menyakiti siapa pun, itu niat yang indah. Tapi jangan sampai dalam prosesnya, kamu justru menyakiti dirimu sendiri terus-menerus. Kamu juga berhak untuk diperlakukan dengan lembut, termasuk oleh dirimu sendiri.
Dialog yang Terlambat;
"Kalau sudah tahu tak sejalan, buat apa dipertahankan? Kalau sudah tahu tak sepemikiran, buat apa menjadi bahan pertimbangan? Kalau sudah tahu tak ada restu, buat apa diteruskan kalau keberkahan itu hilang?"
Dahulu, kata-kataku itu adalah angin yang kau biarkan lewat tanpa sempat menyentuh logika.
Aku berdiri di hadapanmu, merapal mantra tentang "..jalan yang tak seiring, pikiran yang tak seirama, dan restu yang enggan bertamu.." Namun bagimu, saat itu aku hanyalah suara bising di tengah ambisimu yang sedang menyala-nyala.
Malam tadi, kau datang kembali. Bukan dengan kemenangan yang dulu kau agung-agungkan, melainkan dengan raut wajah yang luruh, seperti bangunan tua yang dipaksa tegak tanpa fondasi keberkahan.
"Aku bertahan karena yakin," katamu pelan.
Padahal, keyakinan tanpa restu hanyalah bentuk lain dari keras kepala yang sedang menyamar.
Kini, cerita tentang keteguhanmu berbuah empedu. Tentang pahitnya hari-hari yang kau jalani bersamanya, tanpa perlindungan doa, persis seperti apa yang aku takutkan tiga tahun silam. Ternyata, memaksakan sesuatu yang tak sejalan hanya akan membuat kita sampai pada tujuan yang salah, dengan jiwa yang penuh luka menganga.
Ada rasa sesak yang aneh saat melihatmu sekarang. Ingin rasanya aku berkata, "Sudah kukatakan," namun lidahku kelu. Melihatmu hancur oleh keputusanmu sendiri adalah cara semesta menunjukkan bahwa keberkahan yang hilang tidak pernah bisa digantikan oleh usaha sekeras apa pun.
Kau telah sampai pada titik di mana ingatanmu tentang ucapanku di tahun 2022 bukan lagi sekadar kalimat, melainkan sebuah kebenaran yang datang terlambat.
Kini, aku hanya bisa bilang : "Hidupmu tidak berakhir saat kau menyadari kesalahanmu. Hidupmu baru saja dimulai kembali dengan mata yang jauh lebih terbuka, tapi bukan bersamaku.."
~ buat seseorang yg tadi malam datang
Riuh dikepalamu, orang lain juga memilikinya. Hanya saja ketika berjalan berpapasan tampak biasa saja, tapi sebenarnya mereka sama demikiannya denganmu. Mahir nya manusia tidak kelihatan bahwa sebenarnya mereka saling berantakan.
@menyapamakna1
kopi
aku merasa sudah waktunya menjaga jarak dengan kopi. tentu bukan karena nikmat yang hilang. bagiku, kopi masih rasa yang sama, dengan pahitnya juga manisnya.
mungkin karena belakangan aku merasa terlalu menggantungkan diri pada keberadaan kopi. dalam penatku, pun dalam ceriaku.
bagian yang paling menyedihkannya adalah ketika kopi mulai jadi penyebab luka, juga gemar membuatku terjaga semalaman.
tunggu dulu, apakah benar ini kisah tentang kopi?
"Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya" tuh beneran kejadian di tiap fase hidupku.
Jadi, sekarang aku gamau menyesali setiap pertemuan yang masih ada, yang sudah atau mungkin yang (aku tahu) akan berakhir.
Aku mau menghargai dan merayakan semua perjumpaan sebagai hal berharga dalam perjalanan hidup. Saling jaga selagi masih sama-sama, saling hormati kalau memang sudah beda jalannya.
Because who knows, maybe someday in the future, our paths will cross again(?)
Kamu adalah satu-satunya orang yang akan selalu hidup dengan dirimu setiap hari. Tidak ada liburnya, tidak ada pergantian peran.
Dari pagi yang paling cerah sampai malam yang paling sunyi, kamu akan selalu jadi penghuni tetapnya. Menyaksikan, merasakan, menanggung, dan berharap.
Hanya karena kamu tidak seharusnya hidup sendirian, belum tentu egois jika meletakkan dirimu di urutan pertama.
Kita sering mikir kalau emosi itu harus dikontrol mati-matian. padahal yg lebih sering terjadi itu ditekan, bukan dipahami.
Kelihatannya “tenang”, tapi didalam numpuk.
Ngga meledak sekarang sih, tapi bocor di hal-hal kecil kan?
Emosi yg ngga dikasih ruang itu ternyata ngga hilang, mereka cuma ganti cara untuk muncul.
Kadang juga bukan kita yg terlalu sensitif, kita cuma terlalu lama jadi pura-pura kuat.
Dan sebenrnya ngaku “lagi ngga baik-baik aja” itu jauh lebih sehat daripada terus maksa buat terlihat baik-baik aja.
Written by Aftansa
Begitulah manusia. Pintar menciptakan badai di dalam kepala, lalu mengeluh karena merasa kehujanan.
Mungkin sudah waktunya kita berdamai dengan ketidaktahuan. Mengakui bahwa kita tidak selalu perlu tahu segalanya untuk tetap melangkah. Bahwa cemas tidak pernah benar-benar menyelamatkan apa pun—ia hanya menggerogoti hari ini demi besok yang belum tentu ada.
Dan barangkali, di antara segala keruwetan pikiran itu, yang paling kita butuhkan hanyalah percaya. Bahwa tidak semua yang belum terjadi harus ditakuti. Tidak semua kemungkinan buruk akan menjadi nyata. Dan tidak semua hal harus kita kendalikan untuk tetap baik-baik saja.
:)
Dulu aku sibuk mencari siapa yang akan bertahan. Sekarang, aku lebih sibuk memastikan bahwa diriku tetap berjalan dengan baik. Bukan karena tidak butuh siapa-siapa, tapi karena tidak semua hal harus bergantung pada orang lain.
Aku sakit hati lagi, kali ini bukan sebab perlakuanmu yang baru terjadi. Aku punya pikiran sendiri atas arsip kumpulan sikap dan ucapanmu yang perlahan muncul silih berganti. Aku sudah berusaha menyibukkan diri supaya suara-suara itu berhenti. Tapi nihil. Selalu kutemukan diriku kembali ke tempat semula.