"Cheers... for surviving another year."
Another trip around the sun.
Still learning. Still exploring. Still grateful.
Cheers to life. 🍾🌊
Xuebing Du
KIROKAZE

Andulka
Fai_Ryy
🩵 avery cochrane 🩵

No title available
untitled
NASA
🪼
official daine visual archive

titsay

tannertan36
The Bowery Presents
Sade Olutola

pixel skylines
No title available
Interview Vampire Daily
RMH
taylor price
No title available

seen from Portugal

seen from Türkiye

seen from Russia
seen from Vietnam

seen from United States
seen from Paraguay
seen from Singapore
seen from United States
seen from France

seen from United Kingdom
seen from Colombia

seen from Maldives
seen from Türkiye
seen from Qatar
seen from Colombia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
@iwnst-the-sinner
"Cheers... for surviving another year."
Another trip around the sun.
Still learning. Still exploring. Still grateful.
Cheers to life. 🍾🌊
Back then, the world felt so vast, just from the pages of comics.
Trigan took me to futuristic civilizations.
Storm taught me about courage and adventure.
Tanguy & Laverdure made the sky feel close.
Arad and Maya took my imagination exploring alien planets.
Deni the Fish-Man made the sea feel mysterious.
Roel Dijkstra introduced me to the spirit of competition and friendship.
Asterix taught me that cleverness is sometimes stronger than power.
And Si Buta Dari Gua Hantu… taught me that even in darkness, a person can still walk with heart and courage.
And without me realizing it…
all those stories helped shape the way I see life today.
Maybe that's why to this day I still love old music, quiet journeys, films, deep conversations, and people who have stories.
Because part of me still lives in a time when the world wasn't yet filled with the internet and algorithms, when imagination worked harder than technology—yet was brimming with curiosity and wonder.
Those comics weren't just childhood entertainment.
They are small archives of dreams, courage, loneliness, adventure, and hope.
And today I realize…
that 5-year-old kid who used to read all of them with shining eyes… turns out, he never really left.
This
Yes, I survived.
But I did not remain the same.
Pain changed my language.
Betrayal changed my trust.
Silence changed my faith.
And loss changed the way I love.
I did survive—
but not as the person I used to be.
I became someone quieter,
harder to fool,
and much closer to myself.
"Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai… tapi aku tetap berdiri."
-Nyanyian Jiwa, Swami
Gue datang dari perjalanan yang nggak mudah—
pernah memberi terlalu banyak,
pernah ditinggalkan saat jatuh,
dan pernah dianggap nggak cukup.
Bukan karena gw kuat sejak awal,
tapi karena hidup memaksa gw belajar berdiri setiap kali jatuh.
Dan hari ini, gw nggak lagi berdiri untuk siapa pun— tapi untuk diri gw sendiri.
Don't be afraid of death. Be afraid of living without ever understanding who you are.
*****
Jangan takut mati. Takutlah hidup tanpa pernah memahami siapa dirimu.
-The Spirit Carries On, Dream Theater
Shalat disebut sebagai tiang agama — fondasi yang seharusnya menopang integritas moral dan kesadaran spiritual manusia. Namun nilai sebuah tiang tidak ditentukan oleh seberapa sering ia didirikan, melainkan oleh apa yang benar-benar ia topang. Ketika shalat tidak tercermin dalam kejujuran, empati, dan keadilan terhadap sesama, maka ritual itu kehilangan substansi etiknya. Dalam situasi demikian, yang tampak bukanlah kemuliaan ibadah, melainkan paradoks kesalehan: praktik yang secara simbolik meninggikan agama, tetapi secara nyata justru mempermalukan tiang itu sendiri.
-|iwnst
Radio di car stereo malam ini memutar lagu lama, It's Over - Vertical Horizon, dan tiba-tiba waktu seperti melambat.
Bukan lagunya yang membuatku diam.
Tapi kenangan yang dulu pernah hidup di dalamnya.
Lucunya, sekarang rasanya tidak sakit.
Tidak marah.
Tidak juga ingin kembali.
Hanya seperti menonton adegan lama dari hidupku sendiri —
dan menyadari bahwa tokoh di dalamnya sudah bukan aku lagi.
Mungkin begini rasanya sembuh:
saat masa lalu lewat di depan mata,
dan hatimu tetap tenang di tempatnya.
|iwnst
"Some people, they tease one another Take pride in themselves Keeping the other one down Some people, they hurt one another They love to see Hurt in the other one's eyes Some people are born for each other They love to walk Holding the other one's hand They always understand Some people, they use one another So aimlessly Not like lovers do Some people, they long for each other They love to talk Holding the other one's hand They always understand." Lagu ini bercerita tentang keragaman cara manusia menjalani hidup: Ada orang yang mengejar kekuasaan, uang, atau ketenaran Ada yang hidup sederhana tapi damai Ada yang terlihat berhasil tapi kosong Ada yang nggak punya apa-apa tapi hatinya utuh Setiap orang punya jalan hidup sendiri, dan kita nggak bisa mengukur makna hidup orang lain dengan standar kita. Lagu ini juga nyindir halus: ambisi yang berlebihan, hidup yang cuma ngejar validasi, lupa bahwa bahagia itu soal cukup, bukan lebih. “Some people never learn…” Cliff Richard
Gw bukan Muslim yang taat, bahkan cenderung sekuler. Tapi setidaknya gw masih bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Gw nggak rajin shalat, tapi gw juga nggak mau mempermalukan shalat.
Karena dalam Islam, shalat itu disebut sebagai tiang agama—dan ajarannya jelas: shalat seharusnya menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Tapi realitas di sekitar kita sering berkata lain. Di negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia, korupsi tetap merajalela, ketamakan tetap jadi gaya hidup, dan sebagian elite agama justru sibuk menumpuk harta ketimbang membersihkan nurani umatnya.
Di titik ini, kritik gw bukan pada shalatnya—tapi pada kemunafikannya.
Shalat yang berhenti di sajadah, tapi tak pernah sampai ke etika.
Doa yang lantang di masjid, tapi sunyi di ruang kekuasaan.
Dan kalau pun neraka itu ada tingkatannya:
mungkin gw nggak ada di paling bawah.
Karena menurut Islam, lapisan terdalam itu untuk orang munafik:
mereka yang rajin shalat, tapi tetap korupsi;
mereka yang rajin sujud, tapi tetap merampas hak orang lain. 😆
Kalau pilihan cuma dua:
tidak sempurna beribadah tapi jujur,
atau tampak saleh tapi rakus—
gw pilih jujur meski belum saleh.
Karena pada akhirnya,
Tuhan mungkin lebih muak pada kemunafikan
daripada pada ketidaksempurnaan manusia yang masih mau berpikir jujur.
iwnst, a sinner
Semakin tinggi bendera religiusitas dikibarkan, semakin sering kita menemukan ironi yang tersembunyi di baliknya. Banyak negara yang dikenal “paling beragama” justru dihantui korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan. Indonesia mengaku religius—azan terdengar di setiap sudut kota, simbol-simbol suci dimana-mana—tetapi kasus korupsi merajalela, bahkan dana haji dan pengadaan kitab suci pun pernah jadi bancakan. Masyarakat bungkam, lebih sibuk mengadili orang yang makan babi ketimbang mengutuk mereka yang merampok dana publik.
Di Amerika Selatan, gereja penuh setiap minggu dan prosesi keagamaan berjalan khidmat, namun di sisi lain kartel narkoba tumbuh seperti negara dalam negara, lebih berdaulat dari hukum. Kekejaman terjadi di tanah yang dipenuhi salib.
Contoh-contoh ini menunjukkan satu hal:
Religius bukan selalu berarti religiusitas.
Simbol dan ritual tidak otomatis melahirkan kejujuran, apalagi kemanusiaan.
Negara bisa bangga atas doa yang menggema di langit,
tapi ukuran sejati ada pada apa yang terjadi di tanah:
apakah rakyatnya aman, apakah hartanya dijaga,
apakah keadilan benar-benar hidup?
Karena agama seharusnya membuat manusia jujur,
bukan sekadar tampak suci.
-ceukaing
Kita sebenarnya tidak perlu hafal Al-Fatihah, Doa Bapa Kami, atau Amidah untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Hati nurani bekerja bahkan sebelum doa pertama diajarkan.
Indonesia adalah negara dengan umat Muslim terbesar di dunia.
Namun ironisnya, juga akrab dengan berita korupsi, pengkhianatan, dan ketamakan.
Banyak yang tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu,
tapi dengan ringan meninggalkan kejujuran.
Banyak yang rajin menunduk di hadapan Tuhan,
namun berdiri pongah di hadapan sesama.
Lidahnya basah oleh doa,
tapi tangannya kering dari rasa malu.
Agama seharusnya menajamkan moral,
bukan menjadi tameng bagi kelicikan.
Ritual tanpa integritas hanyalah gerakan kosong—
indah dari luar, rapuh di dalam.
Mungkin yang kita butuhkan bukan doa yang lebih panjang,
melainkan hati yang lebih bersih.
Bukan suara yang lebih keras memanggil nama Tuhan,
tetapi keberanian untuk tidak menyakiti manusia.
Karena pada akhirnya,
Tuhan tidak diukur dari seberapa sering nama-Nya disebut,
melainkan dari seberapa jarang kita mengkhianati nilai yang Dia titipkan.
Be a girl with a mind. A woman with attitude. And a lady with class.
Itu pesan gue di tahun 2022, saat dia berangkat ke Australia dengan beasiswa yang dia perjuangkan sendiri.
Umur 9 dia kehilangan satu sosok yang mestinya ada di sisinya, ibunya.
Sejak itu, gue belajar jadi bukan hanya ayah — tapi juga ibu, sahabat, pelindung, dan tempat dia pulang.
Ada satu momen yang nggak pernah gue lupa sebagai single father. Saat dia dapat haid pertamanya. Gue? Bingung. Panik dalam diam. Di rumah cuma kami berdua. Dia menatap gue dengan mata setengah takut, setengah bingung juga. Gue cuma tahu satu hal: gue harus ada di sana untuk dia. Gue ke minimarket. Jalan cepat, tapi di kepala penuh tanda tanya. Di rak itu...deretan pembalut. Gue pikir ya semua sama. Gue ambil. Bayar. Pulang.
Ternyata… salah. Ternyata pembalut ada ukuran, ada tipe. Dan malam itu gue belajar pelajaran yang sangat berharga: Jadi ayah itu bukan soal tahu semua hal. Tapi soal mau belajar, mau hadir, mau mencoba sebaik mungkin. Sejak malam itu, gue janji: apapun yang dia butuhkan dalam hidupnya, gue akan belajar — biar dia nggak merasa sendiri.
Hari ini, tahun ketiga dia kuliah di Sydney, Australia. Usiannya 21.
Gue tahu perjalanan dia masih panjang.
Tapi tiap langkah yang dia ambil, tiap nilai yang dia kejar, tiap senyum yang dia bagi ke dunia — buat gue itu kemenangan kecil yang besar.
Sebagai ayah, ia nggak pernah benar-benar lepas dari rasa khawatir.
Tapi ia belajar percaya.
Dan ia belajar satu hal: cinta yang tulus akan selalu jadi pelindung, bahkan dari ribuan kilometer.
Nak… dimanapun kamu berada, kamu akan selalu ada di hati ayah.
Always.
"You’ll Be in My Heart." 🎵
Lagu ini populer di Belanda sekitar tahun 1929-1930.
Penyanyi: awalnya oleh Willy Derby, tapi banyak versi — salah satunya yang lo dengerin oleh Wieke van Dort (versi rekaman lebih modern).
Lagu ini terinspirasi dari kemajuan teknologi waktu itu: pembukaan jalur radio-telefon langsung antara Belanda dan Hindia Belanda (Indonesia), lewat stasiun radio besar di Bandung yang diresmikan tahun 1929.
“Hallo Bandoeng” adalah sapaan khas yang dilakukan saat memulai sambungan radio: orang Belanda yang menelepon keluarga di Hindia biasanya memulai dengan “Hallo Bandoeng!”
Liriknya mengisahkan seorang ibu di Belanda yang sudah lama ditinggal anaknya yang merantau ke Hindia Belanda (Indonesia), mungkin sebagai pekerja kolonial atau pegawai.
Suatu hari, dia dapat kesempatan langka untuk mendengar suara anaknya lewat radio-telefon.
Momen itu penuh haru dan kerinduan, karena ibu tersebut sudah lama gak dengar kabar sang anak.
→ Ada adegan tangis haru, sebutan "Hallo Bandoeng", dan pengakuan rasa rindu serta cinta dari ibu ke anak.
Buat Belanda saat itu, Bandung dikenal sebagai "Parijs van Java" — kota modern, pusat teknik & budaya Eropa di Pulau Jawa.
Maka saat kata “Hallo Bandoeng” diucapkan, itu seperti meneguhkan Bandung sebagai bagian dari dunia kolonial yang "diatur" dari jauh.
Buat aing yang lahir dan besar di Bandung, mungkin ini bikin rasa campur aduk: kota aing dulu dijadikan alat lambang kolonialisme, tapi kini sudah jadi bagian dari identitas nasional yang merdeka.
#bandung #parijsvanjava #myhometown❤️
SURAT UNTUK DUNIA
(dan doa di akhir)
Kepada Dunia yang sedang terluka,
Gw menulismu dari sebuah ruang sunyi—bukan karena gw nggak peduli, justru karena gw terlalu peduli sampai sering kali nggak tahu harus gimana. Gw bukan siapa²: bukan pemimpin, bukan bagian dari lingkaran kekuasaan, bukan suara yang bergema di TV atau podium. Gw hanya seorang manusia biasa yang pernah merasa dicurangi, disakiti, dan ditinggalkan. Tapi anehnya, gw masih ingin kamu sembuh.
Dunia, kenapa kamu sering membuat perbedaan warna kulit dan ras menjadi batas kasih?
Kenapa kamu biarkan agama menjadi alasan untuk saling menuding?
Kenapa kamu tempatkan kekuasaan di tangan mereka yang memanipulasi, dan membungkam yang jujur?
Gw nggak ingin banyak—gw hanya ingin anak² bisa tidur tanpa suara ledakan.
Gw ingin perempuan nggak takut berjalan pulang sendirian.
Gw ingin orang tua bisa merawat keluarga tanpa harus korupsi.
Gw ingin manusia saling percaya, bukan saling curiga.
Gw tahu, harapan ini mungkin terdengar naif, tapi...
Kalau lagu "Heal the World" bisa membuat dada gw sesak dan mata gw panas, itu karena jiwa gw belum mati. Dan aku percaya masih banyak jiwa² seperti itu. Kita mungkin sunyi, tapi kita nyata.
Dan ini doa gw:
"Ya Tuhan, yang nggak tergantung nama atau bentuk, pulihkan bumi ini dari luka² yang dibuat oleh ketamakan dan kebencian. Tanamkan belas kasih bahkan di hati yang paling keras. Lindungi anak² yang belum bisa memilih. Peluk mereka yang kehilangan harapan. Jadikan kami bagian kecil dari penyembuh, bukan perusak. Ajarkan kami mencintai bukan karena ajaran dan doktrin, tapi karena kesadaran."
Aamiin.
Dengan segala kejujuran,
Seorang manusia yang masih ingin dunia sembuh.
-iwnst
Kalau Dunia Harus Hancur, Jangan Karena Koruptor—Tapi Karena Kita Diam Terlalu Lama
Pernah nggak lo ngerasa muak sampai titik terakhir? Sampai lo bayangin dunia ini dilalap perang nuklir, biar semua busuk yang disembunyikan di balik jas, podcast, dan jabatan itu ikut musnah? Gue pernah. Bahkan kadang masih. Karena dunia ini kadang terlalu kejam buat orang jujur, dan terlalu nyaman buat para pendusta.
Lo tahu, bro, kalau seandainya India (doktrin nuklir: No First Use) dan Pakistan (doktrin nuklir: First Use Under Threat) beneran saling tembak nuklir, uang triliunan hasil korupsi itu nggak akan ada artinya. Proyek² yang dibungkus janji manis “demi rakyat” itu jadi debu. Mereka yang bernafsu pada tender, kursi, dan posisi cuma bisa melihat semuanya menguap. Gue sempat mikir: mungkin itu satu²nya cara agar sistem yang rusak ini berhenti.
Tapi kenyataan pahitnya: yang mati duluan bukan mereka. Bukan para pejabat busuk yang udah siap dengan bunker dan jalur kabur. Yang mati duluan adalah kita. Rakyat. Orang² kecil yang setiap harinya hidup dengan harapan pas²an, tapi tetap percaya kalau dunia ini masih bisa diperbaiki.
Jadi bukan perang yang kita butuhkan. Tapi kebangkitan.
Bukan kehancuran, tapi kesadaran.
Karena kalau dunia ini harus hancur, jangan karena koruptor yang menguasai segalanya—tapi karena kita semua terlalu lama diam.
Diam karena takut.
Diam karena lelah.
Diam karena berpikir “ah, percuma.”
Dan diam karena kita mulai merasa muak, tapi memilih bungkam.
Gue nggak ngajak lo jadi pahlawan. Tapi kalau ada satu hal yang bisa lo lakukan—nulis, ngomong, tolak proyek busuk, ingetin temen atau sodara lo yang udah mulai silau sama kekuasaan—lakuin. Karena ketika kita bicara, ketika kita berani, bahkan sistem yang paling korup pun mulai retak dari dalam.
Buat kaum fatalistik, agama dan Tuhan nggak butuh dibela, seperti kutipan Gus Dur, bela mereka yang diperlakukan nggak adil.
Dan kalau kita gagal juga nanti?
Setidaknya kita mati berdiri, bukan hidup merangkak di bawah kaki mereka yang menertawakan rakyat pakai uang kotor.
“Gue Pernah Ditikam, Tapi Nggak Ingin Jadi Pedang”
Gw tahu, nggak ada luka yang lebih sulit disembuhkan daripada luka yang datang dari orang yang gw cintai dan percaya.
Satu perempuan yang dulu pernah gw panggil istri— pergi bukan hanya membawa dirinya, tapi juga separuh kepercayaan terhadap cinta. Meninggalkan bekas yang bahkan nggak terlihat dari luar, tapi menghantam bagian paling dalam dari diri gw.
Dua sahabat—yang gw pikir keluarga gw sendiri— ternyata cuma sedang memakai gw untuk kepentingannya. Persahabatan mereka bukan pelukan, tapi jebakan. Dan ketika semuanya runtuh, gw dibiarkan berdiri sendiri, disalahpahami.
Enam kolega—yang gw pikir pejuang bisnis seperti gw—memilih jalannya sendiri dengan cara yang nggak jujur. Gw yang menanggung akibatnya,
dicap nggak kompeten, nggak jujur, padahal gw cuma korban yang diam.
Mereka semua datang dari etnis yang sama. Bukan salah etnis itu. Tapi luka ini terlalu banyak, dan gw manusia biasa. Wajar jika mulai menarik garis, wajar jika mulai takut mengulangi.
Tapi hari ini, gw menulis ini bukan untuk mereka.
Bukan untuk minta maaf, bukan untuk membuka luka lagi. Tapi untuk bilang ke diri gw sendiri:
"Gw sudah cukup terluka. Kini gw berhak sembuh.
Gw berhak percaya lagi—dengan bijak. Gw berhak membangun batas, tapi bukan tembok kebencian."
Gw nggak akan lagi menyerahkan hati gw dengan sembarangan. Tapi gw juga tak akan membiarkan trauma menjauhkan gw dari kemungkinan bahwa di luar sana, masih ada orang baik—dari etnis mana pun—yang bisa gw temui, dan mungkin, bisa menyembuhkan pelan-pelan.
Hari ini gw memilih: 'Bukan jadi korban, bukan juga jadi pembenci—tapi penyintas.'
Dan penyintas punya satu kekuatan: 'Ia tahu luka itu nyata, tapi ia juga tahu bahwa hatinya tetap bisa hidup lagi, kalau dia mau.'
Gw bukan korban. Gw penyintas. Dan gw memilih tetap punya hati, meskipun sudah berkali² dirobek oleh yang nggak tahu cara mencintai.
-iwnst
Mei, 2025
Mungkin yang harus aku lakukan—terus bergerak maju meskipun hatiku terasa kosong. Karena di dunia ini, kita hanya punya waktu yang terbatas, dan mungkin waktuku sudah habis untuk menjelaskan segalanya.