Man Up
You need to man up coz privilege doesn’t go this way. You need to man up for that privilege.
Privilege doesn’t come from weakness. Do you hear me???
Not today Justin

No title available

PR's Tumblrdome

roma★
Three Goblin Art

❣ Chile in a Photography ❣
EXPECTATIONS

ellievsbear
Monterey Bay Aquarium
No title available
occasionally subtle
No title available
official daine visual archive
hello vonnie
Noah Kahan
macklin celebrini has autism
Lint Roller? I Barely Know Her

Love Begins

@theartofmadeline
Misplaced Lens Cap

seen from Finland
seen from Belarus
seen from United States
seen from Finland
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Israel

seen from Australia

seen from United States
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Cyprus
@iwontsayittwice
Man Up
You need to man up coz privilege doesn’t go this way. You need to man up for that privilege.
Privilege doesn’t come from weakness. Do you hear me???
What Vodka Presented Me Tonight
I wasn’t expected this. Sorry if I had any typos, though. But Vodka tonight decided to give me chance to be all out with all my feelings hidden inside. And so I cried, cried, and cried all out. It’s a non-stop crying since I entered the phase of drunkness. I thought I was gonna be okay while doing Duolingo and stuffs for my business but turns out, it was not. I cried the whole time. Today I was kinda stable though, it sort of gave me surprises of why I would’ve gone out this way. I literally can’t stop crying.
I’ve watch videos of motivational speakers about the will to live and I’ve been crying for the most part of it. I’m still hoping though, that the messages will get though and I realize how this life is worth for me.
One thing about Youtubers that I didn’t found, why are there no motivational videos for trans people??? We have 40+% suicide rates and why no single trans Youtubers ever made such contents to encourage fellow trans people for their lives? We certainly must get on with our lives then why any of you never had any ideas to save us who are trans and suicidal?
It’s so heartbreaking to live such an uncommon live then why no one gives us the push to live for another day towards the beautiful days that will come?
I cried and cried until I can’t cry anymore.
#trans #motivational #suicidal
Pure Evil
They are evil no matter what, and your death won’t contribute anything to their empathy.
If you’re alive, they are gonna bully you. But on your death, they are gonna laugh and celebrate it. Even they are gonna affirm your death as an act of truth, as it was meant to be, it’s the right thing to do.
So are you gonna feed their vicious evil nature?
No One Gives A Shit If We Die
You think that our deaths will make them have at least a little respect for us? No. I saw their comments on YouTube , they will stay bigoted no matter what and push forward to bully us.
This brings me to the conclusion: suicide is not the answer. It would only satisfy those people. Even at our allies' deaths, they will still laugh and cheer about their deaths.
So why give them what they want and satisfy them that we deserve to commit suicide and wipe ourselves as well as be responsible for our own deaths?
Let’s just consider this. “Living well is the best revenge”, said George Herbert.
We Are Our Own Predators
You can't expect that people would behave like human beings. They formed a modern jungle where some of them become vicious animals to other human beings.
So how will they kill you? By pushing you deep into your own spiralling black hole of depression, hoping that you will surrender and hopelessly kill yourself.
Our ancestors fought so hard for their lives fighting those ancient predators, just like today, we have to constantly fight our own people who act like animals trying to kill us. So, should we give up?
Regrets
Pengalaman seseorang yang dia lakukan, mau dibilang itu kesalahan atau dosa sekalipun menurut saya itu jauh lebih mending daripada hidup ga ngelakuin apapun dan hidup dalam penyesalan. Jadi maafkanlah dirimu sendiri atas semua pengalaman kamu itu. Karena setidaknya kamu sudah mencoba.
Ada beberapa hal yang saya juga ga kebayang ngelakuinnya, tapi saya lihat dia punya keberanian buat ngelakuin itu. Even kalau itu nantinya dia sesali atau malah traumatik efeknya, itu jauh lebih baik dari ga pernah mencoba itu. Saya apresiasi keberanian orang-orang yang berani mencoba sesuatu, meskipun itu crossing the line dan dinggap salah. Ya, asal jangan merugikan orang lain dalam prosesnya.
Sekali lagi, maafkan diri sendiri ya. Maafkan dirimu yang seharusnya punya pengalaman ini itu tapi akhirnya memenjarakan diri karena terlalu takut.
Dan buat yang sudah banyak pengalaman sekalipun itu kesalahan, bersyukurlah. Salut buat yang berani bermain-main dengan hidupnya.
Ketakutan vs Keinginan
Misalnya aja ya, gw pengen ke Art 1 Museum tapi takut nanti di sana gimana. Ketemu orang nanti ditanya-tanya. Ya, gw takut orang. Tapi ketakutan inilah yang sebenarnya memunculkan anxiety. Takut dan akhirnya rencana itu ga jadi.
Keinginan itu hal yang membuat kita bergerak dari satu keadaan ke keadaan lain. Sebuah drive yang menjadikan hidup kita dinamis. Sebaliknya ketakutan itu malah hold back dan mengurung kita. Terpenjara pikiran kita sendiri.
Dua hal ini valid. Diterima aja dulu. Kita ga bisa begitu aja menginvalidasi pengalaman dan trauma kita di masa lalu. Gimanapun juga itu yang membentuk kita sekarang ini. Tapi kita pilah lagi dua hal ini, mana yang positif mana yang negatif.
Keinginan dan ketakutan itu ruangnya ada di probabilitas. Bisa jadi benar begitu atau malah sebaliknya. Seringkali apa yang kita takutkan malah ga terjadi kan. Ada banyak hal yang justru datang secara spontan dan mengintervensi. Dan ini terjadi di luar lingkup harapan atau ketakutan kita. Itulah kenyataan.
Keinginan dan ketakutan itu ranahnya di pengondisian pikiran. Kita ambil mana yang baik dan mengeliminasi apa yang tidak perlu dan justru mengganggu. Fokus ke apa yang membuat kita bergerak, bukannya malah mundur dan terpenjara. Fokus ke apa yang bisa kita lakukan, bukan apa yang kita takutkan.
Dan jangan lupa, rayakan kemenangan kecil kita. Dan seperti perinsip Kaizen, 1% improvement itu sangat berarti.
Resilience
"I am alone."
Belajar untuk menjadi cukup bagi diri sendiri, tanpa mengemis kasih sayang dari orang lain. Segimanapun orang kasih semangat ke kita, tetap kita sendiri yang ngerasain semua, tetap kita sendiri yang harus berjuang sendirian.
Belajar untuk self-reparenting dan self-nurturing. Gimana nenangin diri sendiri kalau down. Gimana merayakan kemenangan kecil dan pencapaian besar. Memperjuangkan diri sendiri sampai akhir, bukan orang lain.
Setelah ngelepasin semua dan semua pengalaman ditinggal, I am alone. Saya harus cukup untuk diri saya sendiri. Saya adalah penyempurna hidup saya sendiri, sebelum berbagi segalanya dengan orang lain.
Sekilas Komparasi
Bagusan tulisan gw di sini atau di sana? Kayaknya bagusan di aplikasi anonim ya, karena ada komentar langsung dari user lain mungkin yang bikin gw nulis lebih spontan.
Baru sehari stop aja udah kangen. Nanti deh, kalau situasinya udah lebih baik. Jadi gw bisa sedikit mempertanggungjawabkan keberadaan gw dengan kejujuran.
(Hampir) Semua Bisa Dicari
"Carilah, maka kamu akan mendapat." Matius 7:7
Saya kan sudah bilang "Google everything" dan biasanya akan ketemu yang dicari. Apalagi kalau itu username yang unik. Mudah sekali.
Sebuah kebetulan saya buka laptop malam itu. Saya mencari, menemukan, dan merangkai cocoklogi di kepala saya. Dan akhirnya berpikir bahwa keputusan saya saat itu sudah tepat. Sebuah kebetulan sebenarnya.
Berhenti dan tidak mencoba menghidupkan apa yang mati. Pergi untuk awal yang baru.
Saat Itu Saya Tidak Punya Raga
Selamat tinggal aplikasi anonim. Selamat tinggal kamu. Selamat tinggal dunia maya yang terlalu nyaman. Selamat tinggal kenangan yang terlalu nyata untuk saya yang kehidupannya basically tidak ada.
Ya, di sana kita bisa cerita apa saja, berinteraksi dengan siapa saja. Tanpa identitas dan tetap jaga jarak aman. Kemudian menghilang.
Di sana saya hanya sebatas ide yang melayang-layang. Paling jauh hanya sebatas foto pribadi yang saya kirim ke sana sini, ke orang-orang terpercaya. Pernah juga sampai ke identitas dan kehidupan pribadi, tapi itu satu di antara sejuta. Sudahlah, semoga dia bahagia.
Saat itu saya tidak punya raga, sekarang pun belum. Tidak ada yang bisa dipertanggungjawabkan dari kehadiran saya. Tidak cukup keberanian untuk maju melewati tembok saya sendiri, apalagi melompati tembok kamu. Mereka bilang, wanita butuh kepastian. Dan saya tidak cukup yakin. Ya, saya butuh diyakinkan dan butuh tujuan.
Saya dan kamu itu hampir, tetapi kemudian tidak. Menguap dan kemudian saling sunyi. Seperti postingan di sana yang ditinggal penulisnya.
Semoga kamu bahagia dengan siapapun kamu sekarang. Terima kasih sudah menjaga saya setiap hari, meskipun hanya sebagai teman virtual.
awal
Kali ini saya akan menulis dengan gaya typingan yang beda. Yang ini lebih resmi. Jauh beda dari typingan saya di aplikasi anonim. Entah saya atau gue, ga atau tidak. Dan dengan gaya bahasa yang agak berbeda juga. Salam.