Terminal Kedua Setelah Menikah
Hal pertama yg saya rasa dalam terminal ini adalah saya harus melepaskan kembali lapisan2 keegoisan. Setelah menikah dan belajar untuk berbagi apapun milik kita, perjalanan setelahnya akan mengupas lebih dalam lagi dinding2 hati, menyentuh relung yg belum terjamah utk memekakan saluran pendengaran "suara hati". Kamu tidak akan berbagi apapun karna sepenuhnya lah yg akan kamu berikan untuknya, jiwa-raga, hidup-matimu.
Kamu belum lagi dapat melihatnya namun kerelaan berkorban sudah terlihat besar dalam upayamu menjaga tiap harinya. Dalam rasa mual dan ketidakinginan makan, kamu tetap akan berusaha sedikit demi sedikit memasukkan asupan nutrisi, perlahan demi perlahan membuang baper dan berusaha makan dengan logika bukan dengan perasaan. Karna kamu sadar tdk boleh egois, ada dia yg lebih membutuhkan nutrisi lebih dari dirimu membutuhkannya. Kamu akan menjaga perasaanmu untuk bahagia sepanjang hari, untuk tidak mudah marah dan tidak terlalu lelah. Ya, tdk susah untuk merayakan kebahagiaan sepanjang hari jika membayangkan kelak kamu akan bertemu dengannya, bermain dan membercandainya. Semua lelah dan payah akan tumpah berganti cinta yang tak terhingga.
Perjalanan ini memilih perempuan yg telah siap menanggalkan rasa egoisnya, tak lagi bergelut dengan ke"AKU"annya. Pantas saja utk menikah tdk hanya butuh teori2 dan perasaan SIAP, lebih dari itu perlu kelapangan hati utk berpasrah, bersabar, dan tdk terlena bangga diri atas apa yg telah dicapai. Karna menikah hanya terminal pertama, setelahnya akan ada perjalanan selanjutnya. Perjalanan dalam rangka ibadah yg tiada henti2nya. Perjalanan yg akan mengantarkanmu pada arti kebahagiaan yg kamu cari selama ini, Selamat menemukan teman yang NYAMAN untuk menjalaninya (karna yg selalu baik dimatamu belum tentu akan selalu nyaman).
Palangkaraya, 071117








