seen from Germany

seen from Czechia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from Kenya

seen from United States

seen from South Africa

seen from Czechia
seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
Ibn al-Qayyīm رحمه الله:
"Whatever Allāh has decreed for His believing slave is a blessing even if that is in the form of withholding; it is a favour even if that is in the form of a trial, and the calamity decreed by Him is a fair even if it is painful."
[Madārij al-Sālikīn | 4/215]
Heran Awalnya
Ga ada satupun riwayat dalam quran/sunnah bahwa ketika Allah mencintai hambaNya ia akan dilimpahi dunia. Tapi banyak orang mengejarnya seolah disanalah letak kemuliaannya.
Sementara itu begitu banyak riwayat dalam quran/sunnah mengabarkan bahwa letak kemuliaan itu ada pada takwa. Tapi tak banyak orang berlomba menempuhnya.
Lalu taulah kabarnya bahwa surga itu mahal, dan yang memasukinya amat sedikit, sekalipun Allah murahkan jalan menujunya seperti urusan semudah dzikrullah yang lebih bernilai dari sedekah emas/perak segunung uhud, atau bacaan sehuruf Al-quran bernilai 10 kebaikan namun tak banyak yang mengupayakannya.
Ternyata selama ini bukan karena kehedak dan kemampuan kita bisa bertaqwa. Tapi karena kehendak Allah yang mencintai dan menginginkan surga bagi hambanya maka dijadikannya ia bertaqwa.
Perkara shalat, sedekah, membaca quran itu amat berat bagi sebagian orang yang tidak Allah kehendaki kebaikan padanya sekalipun ia sehat, cerdas dan kaya.
Tapi ringan bagi sebagian lagi sekalipun ia sakit, hartanya sedikit dan buta.
Sebagaimana firman Allah yang mengetahui kecenderungan hati orang munafik sehingga dijadikan terasa berat untuk berjihad :
"Dan sekiranya mereka benar-benar ingin berangkat (berperang), tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka..."(At Taubah: 46)
Contoh lainnya dalam surat Al-Waqiah 77-79 Allah berkata "Alquran itu adalah kitab yang mulia dan terpelihara di Lauh Mahfudz dan tak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan"
Tidak sembarang orang mampu menyentuhnya, dan senantiasa berinteraksi dengannya.Hanya orang - orang pilihan.
Tapi Allah Maha adil sekalipun
"Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki."(An - Nahl: 93)
Itu dengan keadilanNya, karena Allah lebih tau kecendeeungan hamba - hambanya, mana yang sepantasnya menjadi sesat dan menjadi selamat.
Romantis sekali...
Ternyata Allah lebih dulu mencintai hambanya ketimbang hamba yang mencintaiNya. Ternyata Allah lebih tau tentang hamba - hambanya yang layak mendapat cintaNya. Maka beruntunglah yang terpilih, beruntunglah yang dimudahkan untuk melakukan kebaikan.
Hidayah itu mahal, saudaraku. Ia tak untuk ditunggu, namun tak untuk dijemput jua. Ia hanya diberikan kepada yang berhak dan pantas—ia hanya diberikan kepada hati-hati yang mau menerima, yang bersedia membuka pintu, meski angin perubahan kerap membawa dingin yang tak nyaman.
Hidayah itu mahal, saudaraku, bukan karena sulit ditemukan, tapi karena tak semua orang bersedia membayarnya dengan pengorbanan.
Ada yang melihatnya dalam linang air mata seorang ibu di sepertiga malam. Ada yang merasakannya dalam kehilangan yang paling menyesakkan. Ada pula yang baru menyadarinya setelah bertahun-tahun menghindar, sampai lelah sendiri berlari dari hati.
Namun, saudaraku, ada juga yang menampiknya mentah-mentah, sebab ia tahu, menerima hidayah berarti meninggalkan kebiasaan yang telah lama mengakar. Ada yang ragu, takut dirinya tak cukup baik, tak cukup bersih. Padahal, hidayah tak pernah meminta syarat kesempurnaan, ia hanya meminta sebuah langkah kecil—keikhlasan untuk menerima cahaya.
Maka, saudaraku, jangan kau tunggu seperti menunggu hujan di tanah yang retak. Jangan pula kamu buru seakan-akan itu lomba yang harus segera dimenangkan. Sebab ia datang tepat waktu—bukan ketika kau mau, tapi ketika kau benar-benar butuh.
The most precious thing of this world is hidayat, taufique, imaan. Allah has kept these precious things to Himself and gives to only those who ask. He gives money, job, status to even those who don’t ask or don’t turn to Him. But tawfique and imaan is only granted to special people who humble themselves and ask.
You yourself see, don’t you see people who won’t offer prayer even if namaz is happening right in front of them in a mosque? Don’t you see people who live in Makkah, Madinah, near the two great mosques, but don’t offer prayers. Don’t you see super rich people, but they never give charity. Don’t you see people waking up all night, smoking sheesha, and play cards even though they hear azaan of fajr.
Tawfique and imaan are the most precious gifts. It won’t be given unless asked.
Credit: Muhammad Ali (youthclub.pk)
Mari sama - sama menerima dan memaafkan untuk kembali berjalan dan melangkah perlahan,
Karena sesuatu ( rasa sakit, kenangan ) hal itu tidak bisa di lupakan mau sekeras apapun kita berusaha mencoba melupakannya tetap sama saja tidak bisa, kita hanya perlu waktu dan butuh ruang buat menempatkannya pada suatu tempat yang tepat yaitu dengan menerimanya lapang dada dan memaafkan untuk kembali berjalan lalu saling mendoakan yang baik - baik, jalan masih panjang, selalu berusahalah berbuat baik dan berkata baik pada diri sendiri sebab tanpa kita sadari ucapan itu adalah doa. Dan hanya doa lah yang selalu menuntun kita agar tetap berkeyakinan menempuh jalan hidup yang fana ini bahwa kelak kita semua akan pulang pada waktunya setelah itu yang kita bawa pulang dan kita tinggalkan hanyalah amal dan kebaikan selama kita ada di dunia ini.
Bahkan jalan yang kutempuh untuk meninggalkan-Mu, membawaku kembali pada-Mu.