Kampung Adat Rende dan Tradisi simpan Mayat
Kampung adat Rende adalah kampung adat kedua yang saya singgahi selama di Sumba. Dari berbagai bukit-bukit dan padang rumput yang luas terdapat perkumpulan rumah adat yang menjulang tinggi dengan tradisi yang masih alami tanpa harus tergerus oleh modernisasi. Ya, di Sumba dapat dengan mudah kita temui kampung adat yang masih memegang teguh prinsip nenek moyang mereka.
Untuk mencapai desa ini akan menempuh satu jam perjalanan dari pusat kota Waingapu, Sumba Timur. Akan sangat jauh sekali jika kalian memulai perjalanan dari Tambolaka, Sumba Barat Daya. Selama perjalanan akan dimanja dengan padang rumput atau sabana serta adanya pohon Sakura Sumba. Terdapat transportasi umum dari Waingapu menuju Waijelo, tetapi saya tidak menyarankan untuk naik angkutan umum selain menunggu lama dan jalannya sangat pelan juga kita tidak bisa berhenti jika ada pemandangan bagus ditengah perjalanan. So, lebih baik sewa motor Rp100,000/hari di Waingapu.
Saat memasuki desa ini, akan disambut oleh wanita paruh baya yang sehari-hari bertugas mencatat pengunjung yang datang. Setelah mengisi buku tamu jangan lupa siapkan uang secukupnya untuk donasi, berapapun uangnya akan diterima dengan senang hati.
Area pertama yang saya jelahi adalah kuburan batu tua lengkap dengan ukiran khas Sumba diatasnya. Mulai dari ukiran wanita, kuda, kura-kura dan monyet. Kuburan batu di desa ini tidak terlalu banyak dan letaknya pas ditengah-tengah kampung berjejer dengan rapi.
Disekeliling kuburan batu terdapat rumah adat khas seperti kampung adat lainnya yang terbuat kayu dan beratap alang-alang yang sudah dikeringkan. Sebelum mayat dikubur di kuburan batu akan disimpan di dalam rumah terlebih dahulu bias sampai bertahun-tahun. Jika sudah mendapatkan persetujuan baru mayat dipindahkan ke kuburan batu.
Terdapat satu rumah yang berbeda dengan rumah yang lainnya. Rumah ini adalah rumah Raja dari kerajaan Rende yang terakhir. Didepannya terdapat tanduk kerbau yang sangat besar. Umur rumah ini sudah berkisar 200 tahun, sayangnya tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Rumah ini juga digunakan untuk menyimpan mayat sebelum ke dalam kuburan batu. Konon, jika sang Raja meninggal maka anak buah yang sudah menjadi pelayan raja juga harus ikut dikuburkan hidup-hidup. Kepercayaan mereka bahwa pelayan raja tersebut akan tetap melayani raja di alam kubur sana.
Belum lengkap rasanya jika bertandang ke kampung adat tetapi tidak melihat proses pembuatan tenun ikat. Tenun dari Sumba Timur yang paling terkenal karena proses pembuatannya yang sangat lama mulai 6 bulan hingga satu tahun. Mereka menggunakan pewarna alami, seperti akar buah mengkudu untuk warna merah dan diikat dengan sari kemiri dan sari nilam untuk mendapatkan warna biru. Bermotif binatang mulai dari udang, kuda, ular naga hingga buaya. Harganya mulai dari 700 ribu hingga 2 juta rupiah. Lumayan mahal tetapi sebanding dengan proses pembuatannya dan bahan-bahan pembentuknya.
Berikut sepenggal puisi karya Taufik Ismail yang akan membuat saya rindu akan Sumba.
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Dimana matahari membusur api di atas sana
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kudaㅤㅤ
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak berkata, namanya.... ㅤㅤ
ㅤㅤ
S U M B A