i think im stressed

Product Placement

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.

Janaina Medeiros
Keni
No title available
AnasAbdin
d e v o n
will byers stan first human second
Alisa U Zemlji Chuda

shark vs the universe
art blog(derogatory)

No title available

No title available

JVL

titsay
wallacepolsom
styofa doing anything

Love Begins
No title available

seen from Germany
seen from Malaysia

seen from Switzerland

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Peru

seen from United States

seen from Italy

seen from Vietnam

seen from United States

seen from Italy

seen from South Korea
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Italy

seen from United States

seen from Canada
seen from South Korea
@jendelasunyi
i think im stressed
bayangkan
bayangkan sebuah pernikahan
yang masing-masingnya tidak perlu khawatir yang lainnya tidak setia. karena kuat agamanya, kokoh komitmennya.
bayangkan sebuah pernikahan
yang jarak separuh bumi pun tidak akan membuat jauh apalagi terpisah. karena rindunya diwujudkan dalam bentuk menjaga. karena hatinya sudah selalu bisa ditata.
bayangkan sebuah pernikahan
yang keduanya tidak perlu khawatir akan hari yang belum datang. karena kesadaran bahwa semuanya adalah titipan. karena keyakinan bahwa rezeki selalu tepat takaran. karena keimanan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.
bayangkan sebuah pernikahan
yang pasangannya tidak perlu khawatir menjadi tua, diuji kesehatannya, menjadi lupa, atau tidak lagi elok rupa. karena cintanya jauh lebih dalam dari yang terlihat, jauh lebih besar dari yang memikat.
bayangkan sebuah pernikahan
yang orang-orangnya hanya khawatir akan perpisahan. khawatir bilamana kehidupan yang selanjutnya tidak mempertemukan mereka. khawatir bilamana bekal mereka belum cukup. sehingga mereka pun berupaya bersama, mencukupkan semua perbekalan.
pernikahan itu bisa saja adalah pernikahan kita.
i don't pay attention to the world ending. it has ended for me many times and began again in the morning.
― Nayyirah Waheed, Salt
Jenuh banget hari ini hampir seharian
fall in love with small, beautiful things– with sunrises on foggy mornings, warm drinks on cold days, hot soup for a sore throat, cat and dog sightings, long hugs, your favorite songs playing over public speakers, days marked as special on the calendar, compliments from strangers, getting a new shirt you look good in, with your own laughter
gorgeous gorgeous girls are focusing on themselves, trying to build better habits and preserve their boundaries
Repot banget jadi cewe
Untuk bisa tenang dan mengistirahatkan diri, maka belajarlah untuk mempersingkat segalanya. Entah mempersingkat kata-kata, perasaan, dan terkadang hubungan dengan beberapa orang.
Tidak semuanya harus kamu telan mentah-mentah, beberapa harus ada yang kamu abaikan dan biarkan saja. Berikan waktu untuk raga dan pikiran agar tenang, supaya bisa memilah mana yang harus diprioritaskan dan mana yang bisa dikerjakan kapan-kapan.
Dewasa memang tidak mudah, ada banyak hal dan kejadian yang membuat penuh otak dan hati. Tidak apa-apa, lakukan dengan ikhlas dan penuh pengharapan semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan dan kebaikan.
@jndmmsyhd
Jatuh cinta itu menyakitkan.
Hello mei!
After long ago gak posting di tumblr. Banyak banget cerita yang harusnya aku bagikan disini. Sepertinya ketertarikan terhadap menulis sudah mulai meredup. Pengen konsisten lagi, hanya saja pasti sulit. Tapi ngga ada salahnya sih mulai kembali.
Let's start again!
Mendewasakan Hati
Langit akan tetap biru meski hari dan hatimu hitam gelap berselimut duka, sebab tidak semua manusia Allah takdirkan dengan kebaikan setiap harinya. Matahari juga akan selalu terbit setiap paginya guna memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki keadaan dan meneruskan perjalanan, memahamkanmu bahwa tidak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan.
Sesuatu yang pergi ia akan segera kembali jika memang tertulis untukmu, meski orang lain bersikeras untuk mengambil dan merebutnya, sama halnya dengan rezeki dan apa yang kamu sedang perjuangkan saat ini. Maka tenanglah, lakukan saja tugasmu dengan sebaik mungkin, soal hasil dan jawaban dari apa yang kamu kerjakan dan minta biar Allah yang mengurusnya dengan sebaik-baik skenario.
Akhir-akhir ini ada diantaramu yang sedang pilu dan gelap harinya sebab kehilangan bagian dari keluarga atau hatinya, ada pula yang sedang berbunga hari-harinya tersebab telah bertemu dengan separuh hatinya, atau telah kembalinya bagian dari keluarga yang sudah lama pergi. Dunia ini penuh dengan pergantian, antara kelahiran dan kematian, antara yang datang untuk sekedar singgah dan yang pergi karena memang tidak bisa lagi berjalan bersampingan.
Saat kamu sudah mengetahui bagaimana dunia ini hanyalah permainan dan pergantian saja, seharusnya jatuhmu saat ini tidaklah terus-menerus untuk diratapi dan semakin mengurung diri. Dan bahagia yang datang saat ini tidaklah perlu kamu pamerkan dan banggakan pada orang lain, sebab ia pun hanya sementara, tidak selamanya.
Mari melatih hati untuk menyikapi sebuah kepemilikan dan kepergian, mari mengulang kembali ilmu tentang menghargai keputusan, ilmu tentang melepaskan yang sudah waktunya pergi. Tidak mudah memang, tapi kamu bisa. Sudah waktunya untukmu dewasa bukan? :’)
@jndmmsyhd
Terimakasih untuk semua tulisan yang selalu menenangkan.
Ingin hilang, untuk healing. Sejenak saja.
Bisakah penerimaan hati kita seluas langit? Agar nantinya bila kita bertemu dengan suatu hal yang tidak kita sukai, kita dapat menempatkannya dengan lebih lapang. Bila nanti kita bertemu dengan suatu hal yang kita sukai, kita dapat lebih mensyukurinya dengan lebih tenang.
Bisakah pikiran kita sejernih embun pagi? Agar nantinya pilihan yang kita ambil adalah murni dari hati, bukan dari kontaminasi. Agar nantinya jalan hidup yang akan kita jalani lebih manusiawi, tidak terlalu menyiksa diri dengan target capaian duniawi, melainkan juga untuk bekal setelah wafat nanti.
Bisakah kata yang kita ucap selembut tetes air? Agar nantinya setiap kata dapat lebih bermakna, agar nantinya setiap orang yang mendengar tak ada yang tersakiti hatinya.
Bisakah diri kita berkata apa adanya, bukan ada apanya. Setidaknya jujur pada diri sendiri untuk menjadi versi terbaik dari apa yang kita yakini.
Bisakah?
El Isbat | Bogor, 9 Februari 2020
“Kuliah capek, mau nikah aja.”
“Kerja capek, mau nikah aja.”
“Nikah capek, mau nikah lagi gitu?”
— Taufik Aulia
“Ayah, ummi, baru ku mengerti. Mengapa dulu kau terkadang marah sepulang kerja. Ternyata bekerja itu lelah. Baru kusadari lelahmu saat ini.”
— Homesick :’(
Dulu sebelum aku mengerti posisi ayahku, terkadang dia baru sampe rumah udah marah-marah ga jelas dan ngegas.
Tapi sekarang, sudah 3 tahun berjalan aku bisa merasakan semuanya. Beberapa hari yang lalu sewaktu pulang. Pas nyampe rumah, masuk kamar dan nangis.
Kita tidak bisa menahan diri untuk selalu bersemangat setiap hari. Untuk ceria setiap hari. Ada waktunya dimana hari-hari sangat terasa melelahkan :)
Tumblr Bikin Nyaman Karena ....
1. Karena tidak ada konsep waktu pada kontennya. Buat saya ini ada sisi positifnya, sih, yaitu bikin saya enggak merasa fear of missing out (FOMO). Enggak merasa ketinggalan karena baru baca tulisan yang padahal udah dipos 14 jam yang lalu—seolah 14 jam itu waktu yang lama banget. Sampai sekarang, tulisan saya dari lima tahun yang lalu masih aja ada yang nge-like atau nge-reblog. Wkwkwkwk.
2. Jenis kontennya bukan konten yang muncul berdasarkan tren semata. Ini beda kayak Twitter yang tiap hari tren obrolannya berubah-ubah. Atau Instagram yang kalau ada filter baru, tantangan yang ngetren, atau fitur baru, semua langsung nyobain. Facebook juga sama, kayaknya. Intinya, kontennya seiring dengan isu atau fenomena yang lagi ngetren di dunia nyata. Dan, menurut saya, itu bikin cepet bosan (dan capek). Ya, bayangin aja kalau lagi rame soal nikahan Atta-Aurel, semua ngomongin. Prinsip abundance of information. Sebuah informasi kalau terlalu banyak diunjukin malah bikin yang liat ngerasa jengah. Kalau Tumblr, menurut pengalamanku isinya ya begini-begini aja. Ya, random aja. Mungkin dipengaruhi sama akun yang saya ikuti juga, ya. Buatku itulah yang bikin Tumblr jadi timeless. Enggak bikin cepat bosan.
3. Adem. Sejauh ini (sejak 2010), saya belum pernah lihat konten yang isinya ngajak ribut, spall-spill aib orang, atau komentar netizen yang akhlakless. Enggak tahu apa memang begitu atau perasaanku saja. Baca tulisan-tulisan di sini berasa lagi duduk-duduk di tengah perkebunan teh sambil minum teh kotak.
4. There's a boundary. Baca tulisan-tulisan di sini kayak nyimak buku diari. Tapi, saya hanya tahu ceritanya saja, saya enggak tahu orangnya. Jadi tetep kayak ada batas, tiap orang punya alam semestanya sendiri-sendiri. Dan, saya rasa kita sama-sama menghargai batas itu. Enggak berani masuk terlalu jauh ke semesta lain, kecuali sekadar lewat untuk say hello. Enggak pengin sok-sok ngerespons biar edgy, atau ngebantah pakai argumen enggak setuju biar beda. Gara-gara ini kali, ya, anak Tumblr enggak demen ribut.
5. Ini Tumblr banget. Tumblr itu enak buat ngomongin sesuatu yang deep. Apa karena di sini banyak filsuf? Hehehe. Yang saya rasakan, di Tumblr ada space pribadi yang luas buat para pengguna, engga sumuk. Beda dengan media lain yang padat merayap, bikin capek mikir dalem-dalem.
Eh, lagian, Tumblr emang bukan media sosial, sih, ya, melainkan hybrid antara blog dan media sosial. Jadi, maaf kalau perbandingan dariku ini tidak apple-to-apple. Hehe.
Btw, kalau menurutmu gimana? Ada yang mau berbagi?
Renungan Pribadi Soal Takwa
Disclaimer: ini bukan tulisan edukasi tentang konsep takwa. Ini sepenuhnya refleksi pribadi saya. Tidak disarankan untuk menjadikannya referensi. Mohon diproses dengan pikiran sendiri, tidak ditelan bulat-bulat. Jika tergelitik, silakan lakukan penelitian dan perenungan sendiri.
* * *
Pasti kita udah sering denger terminologi “takwa”.
Kalau ditanya apa itu takwa, kebanyakan orang akan menjawab: “Menaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.”
Saya ngga pernah puas dengan definisi itu. Maaf ya, izinkan saya jujur secara brutal, definisi itu normatif dan ngga inspiring. Ngga menggugah selera untuk bersemangat mendapatkannya. (Pahami bahwa saya bukan bilang takwa itu ngga menarik, tapi pemaknaan/penafsiran kita atas konsep takwa yang belum memuaskan).
Iya, menurut saya, kalau sesuatu itu penting menurut sunnatullah (atau hukum alam, versi bahasa universalnya), maka secara alamiah pasti kita akan tertarik ke arah sana. Maka, saya curiga, jangan-jangan ada definisi yang lebih dalam, lebih menggugah, lebih membuka kesadaran daripada yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Misalnya, siapa sih orang waras, berakal yang dalam hidupnya ngga pernah bertanya “Kenapa aku ada?”, “Untuk apa aku ada?”, “Apa yang penciptaku inginkan dengan menciptakan aku ke alam ini?”. Saya percaya ini pertanyaan yang universal, yang kalaupun ngga diajarkan di sekolah, secara alamiah kita akan mempertanyakan ini, cepat atau lambat.
Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Mereka akan mendorong kita mencari Tuhan, memahami diri kita, mencari petunjuk dari Sang Pencipta–yang semua jawabannya sudah dipersiapkan oleh Allah untuk kita temukan. Karena itu, Allah sudah tanamkan stimulusnya berupa rasa penasaran yang instingtif. Kita tertarik untuk mengenali pencipta kita secara alamiah.
Nah, takwa itu disebutkan di berbagai ayat Al-Quran, menjadi tujuan dari berbagai perintah–yang salah satunya puasa di bulan Ramadhan, maka pastinya penting. Kalau penting, pastinya insting alamiah kita akan bereaksi secara positif (tergugah, terinspirasi) jika kita memahaminya dengan cara yang seharusnya.
Temuan Saya Akan Makna Takwa
Singkat cerita, saya menemukan definisi takwa yang memuaskan bagi hati saya. Saya menemukannya dalam tafsir Al-Quran “The Message of the Quran” karya Muhammad Asad. Definisinya:
Kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini.
Atau sederhananya, takwa adalah “kesadaran akan hadirnya Allah”.
Buat saya, definisi ini lebih memuaskan daripada yang selama ini saya terima. Coba kita tempatkan kedua definisi takwa dalam konteks perintah puasa Ramadhan.
Dalam definisi takwa pertama, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam definisi takwa kedua, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar kita selalu sadar akan kehadiran Allah.
Kita tempatkan juga kedua definisi takwa itu dalam konteks ayat permulaan Al-Baqarah.
Dalam definisi pertama, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Dalam definisi kedua, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang sadar akan kehadiran Allah. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Gimana?
Apa lebih bisa dipahami? Apa lebih membuka kesadaran? Apa lebih menggugah? Kalau buat saya, iya banget.
Contoh Implementasi Pemaknaan Takwa
Ketika berpuasa, kita bisa aja minum atau ngemil di siang hari, selama ngga ada manusia yang liat. Tapi yang menahan diri kita apa? Kesadaran akan hadirnya Allah, yang mungkin ngga begitu kita ingat kalau kita ngga puasa.
Ketika berbuka, kita seneng banget tuh, kita berdoa sebelum berbuka, “Ya Allah, terimalah puasaku dan segala amal ibadahku hari ini”. Lagi-lagi, kita distimulasi untuk menghadirkan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan ini disaksikan oleh Allah.
Dari situ, sebenarnya kita bisa lihat bahwa menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (khususnya shaum Ramadhan) adalah stimulan untuk membangun kesadaran akan kehadiran Allah.
Dengan syarat, ketaatan dalam perintah dan larangan-Nya dilakukan dengan benar ya: kalau shalat khusyu’, kalau puasa ikhlas (mindful, aware, niat dari dalam hati), kalau sedekah bukan untuk ngebuang recehan.
Sebaliknya, kesadaran akan kehadiran Allah juga akan memperkuat kemampuan seseorang untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (”Oke, mau menghadap Allah nih, masa aku shalat pake baju bekas bobo?”). Jadi, saya pikir ini seperti continuous feedback loop.
Tips Mengasah Kesadaran Akan Kehadiran Allah
Oke, meskipun ini perenungan pribadi, karena ini dipublikasikan maka saya tetap harus bertanggung jawab menutupnya dengan baik.
“Mengasah kesadaran akan kehadiran Allah” adalah closing yang berat, tapi paling engga saya bisa bagikan beberapa usaha saya untuk melatihnya.
Pertama, bangun mental model hubungan antara kita dan Allah yang lebih personal. Alih-alih berpikir bahwa kita cuma satu makhluk yang ngga signifikan dan mungkin ngga Allah pedulikan karena Dia “sibuk” dengan alam semesta dan manusia lain yang istimewa, ingat bahwa Allah juga Maha Dekat, Maha Tahu, Maha Mendengar, Maha Menyayangi, Maha Memperhatikan sehingga kamu bisa berkomunikasi secara personal dengan Allah.
Dia tidak seperti manusia yang kalau banyak kerjaan pusing dan skip, Dia menunggu kamu untuk datang kepada-Nya. Berkomunikasi, berterima kasih, meminta maaf, berharap, menangis.
Ingat juga bahwa Dia available setiap waktu, ngga cuma di waktu shalat–misalnya. Lagi kerja, lagi ngasuh anak, lagi beberes rumah; lagi senang, lagi marah, lagi sedih; kamu bisa berkomunikasi dengan Allah tentang hal seremeh apapun.
Kedua, pahami bacaan dan doa-doa dalam ibadah. Iya, misalnya bacaan shalat, coba dipahami. Caranya jangan cuma baca artinya secara keseluruhan, tapi pelajari kata per kata.
“Rabbi”–wahai Tuhanku, “ighfirli”–ampuni dosaku, “warhamni”–sayangi aku, “wajburni”–cukupilah aku, “warfa’ni”–tinggikan derajatku, “warzuqni”–berilah aku rezeki, “wahdini”–berilah aku petunjuk, “wa’afini”–sehatkan aku, “wa’fu’anni”–maafkanlah aku.
Bisa pelajari juga akar katanya, misal “ighfirli” dari kata “ghafara”, yang artinya “mengampuni”, asal maknanya “menutup”. Wah ini bisa didalami lebih jauh lagi, silakan cari sendiri ya.
Sedikit belajar Bahasa Arab, biar setiap kita mengucapkan doa dalam shalat, hati kita tahu betul kita sedang berkomunikasi apa dengan Allah. Biar setiap beristighfar, bertasbih, bertahmid, hati kita benar-benar mean it.
Ketiga, sering-sering mikirin what this life is all about. Bayangin setelah membaca ini kamu terkena serangan jantung lalu meninggal, kamu ngerasa siap apa engga? Kalau engga, kenapa? Karena ngga ada amal yang bisa dibanggakan? Kalau gitu itu PR kamu, segera bikin amal yang bisa kamu banggakan saat dihisab nanti.
Atau karena banyak dosa? PR kamu adalah taubat + mengubur dosa-dosa dengan amal baik yang banyak.
Kalau ingat bahwa kita belum siap dihitung amal dan dosanya di hadapan Allah, kita jadi bisa melihat apakah karir, bisnis, investasi yang kita upayakan itu adalah sarana mempersiapkan diri atau menjadi distraksi dari apa yang benar-benar penting.
Coba bikin daftar yang harus kamu siapkan agar jika suatu hari kamu terbaring di rumah sakit, sadar ga lama lagi kamu akan mati, hati kamu ngerasa tenang dan siap menghadap Allah, seperti yang dideskripsikan di Al-Fajr:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”
Misalnya, jika profil kamu adalah seorang ayah dan suami:
1. Sedekah rutin untuk anak yatim (misalnya ini amal andalan kamu) 2. Istri dan anak yang siap ditinggalkan secara mental dan bertekad untuk menyusul saya di surga (melanjutkan berbagai amal sholeh sepeninggal kamu) 3. Rumah untuk anak dan istri biar mereka punya tempat bernaung 4. Passive income untuk menafkahi keluarga meski saya ngga ada, biar mereka ngga susah dan menyusahkan orang lain (3 dan 4 sekilas materialistis, tapi tujuannya bernilai amal sholeh)
Itu daftar simplistik dan contoh aja.
Poinnya adalah sering-sering melatih diri kita mengingat apa yang paling esensial dalam hidup (yaitu siap ketika sudah saatnya kita menghadap Allah) dan mengkalibrasi terus menerus kesibukan kita supaya selalu dalam kerangka membuat Allah ridha sama kita.
So, mari kita membangun, mengasah, dan menjaga kesadaran kita akan ke-Maha-Hadiran Allah.
Wallahu’alam.