Mari Belajar Lagi, Belajar Terus.
dari #Perbaikan (2 Mei, 2014)
Saya yakin benar ini sudah wilayah Allah yang bekerja. Bagaimana bisa aplikasi 35 ribu rupiah yang saya keluarkan untuk print out formulir dan biaya kirim surat pos akan digantikan dengan program yang dibayai penuh Pemerintah Jepang kira-kira hampir senilai 25 juta rupiah per kepalanya.
Saya yakin benar ini sudah wilayah Allah yang bekerja. Bagaimana tidak dari 886 aplikasi, UGM yang menempati peringkat 2 dengan 132 aplikasi terbanyak dan dari tahap seleksi pun dipilih menurut keterwakilan universitas. Alhamdulillah saya diberi kesempatan bersama 8 orang lain untuk ikut program ini.
Here we go. Japan International Cooperation Center – Kementrian Riset dan Tekonologi JENESYS 2.0 Science and Technology (Urban Engineering and City Planning Programme)
Tulisan ini saya buat bukan untuk menunjukan begitu superioritas-nya Jepang. Sambil menunjukan hal yang biner, seperti Jepang maju Indonesia tidak, Jepang maju Indonesia tidak. Sekali lagi bukan. Kalau pembaca mengira seperti itu, jangan baca tulisan sampai selesai.
Saya ingin memberikan insight kondisi negara lain dan menunjukan bahwa ada jalan yang kita bisa ditempuh untuk maju dan yakinlah, mereka tidak terlalu jauh diatas.
Seperti yang kita ketahui 1945, Jepang kalah total di perang dunia ke-2 ditandai dengan hancur leburnya kota-kota mereka, yang tentu pusat ekonomi dan pendidikan, oleh bom-bom atom. Yang ada di buku sejarah mungkin hanya Hiroshima dan Nagasaki, namun sebenarnya Tokyo dan kota besar lainnya juga rata dengan tanah. Tidak samai 20 tahun, 1964 Jepang sudah kembali, diresmikannya kereta cepat shinkansen dan dihelatnya olimpiade musim panas seperti jadi pembuktian, pembuktian bahwa kebangkitan itu bisa didapat, seburuk apapun kondisi jatuhnya.
Perjalanan ini coba saya hikmahi bukan sekedar beruntung mendapat momen sakura bermekaran, atau kegirangan menaiki kereta shinkansen, ataupun berpoto dengan patung shibuya yang melegenda. Yah kita bisa anggap itu bonus perjalanan ini. Tapi yang utama jauh lebih dari itu.
Melihat keteraturan negara, taatnya masyarakat pada peraturan, dan rasa aman. Secara substantif, inilah darussalam, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang ideal bagi manusia. Pertanyaan pertama yang muncul bagaimana mereka menciptakan kondisi ini? Yang terkadang didahuli pertanyaan, mengapa mereka bisa? Dan kita belum mencapai level tersebut? Yang secara adil di nalar kita bahwa ini bukan hal yang sulit diwujudkan bukan? Semua pasti sepakat, iya ini bisa ditempuh. Yakin.
Peradaban besar tentu dimulai dengan adab, tentu adab-adab yang baik dan positif.
Bagi saya negara yang kaya dan besar bukan semata dilihat dari angka-angka statistik pendapatan per kapita, kekuatan ekonomi, GDP, dan sebagainya. Bangsa yang kaya dan besar adalah bangsa yang kaya akan nilai (value) kehidupan yang hidup secara nyata di masyakarat, yang bisa dibuktikan dengan karakter maju masyarakatnya. Karakter maju bagi saya gambarkan seolah semua manusia di negara tersebut terpelajar dan terdidik, bukan pendidikan formal saja maksudnya disini. Pendidikan moral, sopan santun, dan nilai poin utama dalam besarnya peradaban. Karena tentu hasil dari pendidikan adalah terdidik dan hasil dari pelajaran adalah terpelajar, bukan sekedar nilai (score) semata atau bahkan skill menghapal rumus pelajaran di sekolah.
Mengutip buku The Power of Habits karya Charles D. “Hati-hati terhadap pikiran, karena akan menjadi ucapan. Hati-hati terhadap ucapan, karena akan menjadi aksi. Hati-hati terhadap aksi, karena akan menjadi perilaku atau kebiasaan. Hati-hati terhadap perilaku atau kebiasaan, karena akan menjadi karakter. Jelas sudah tahapan menuju peradaban hebat tersebut, Mereka bisa besar karena mau dan disiplin. Sederhana bukan? Haha, kita hanya bisa iri sekarang.
"Seorang terpelajar mestilah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”
(Pramoedya Ananta Toer).
Ya, Bangsa yang kaya dan besar adalah bangsa yang kaya akan nilai (value) kehidupan yang hidup secara nyata di masyakarat. Salah satu output dari karakter tersebut adalah adanya kebijakan dan kebijaksanaan. Kemampuan mengatur aspek kehidupan, termasuk salah satu unsur utamanya adalah memelihara lingkungan, mengatur rumah tinggal atau desa dengan baik. Atau zaman sekarang disebut mempunyai skill urban planning yang tinggi. Dan karena itulah kami hadir di negara matahari terbit ini, untuk belajar tata kelola kota yang humanis dan berkelanjutan.
Secara kongkrit materi tata kota kami diberi kesempatan untuk kuliah di Tohoku Institute of Technology di kota Sendai Prefektur Miyagi, yang berisi sharing penilitian mahasiswa dan dosen lokal terkait kajian komparasi rekonstruksi wilayah pasca bencana, bebeapa materi tata ruang kota, dan sistem limbah terintegrasi skala kota. Dan beberapa kunjungan laboratorium yang lebih dekat pada studi teknik sipil seperti laboratorium tsunami, aplikasi teknologi oildumper dan isolator karet untuk bangunan tahan gempa. Kalau bisa dilihat kualitas riset mahasiswa dan dosen dalam negeri bersaing dengan riset-riset ini, tapi satu hal yang menjadi ciri khas riset-riset di Jepang adalah sederhana dan aplikatif, mudah untuk diimplementasikan.
Materi kuliah urban planning area kota Kitakata, Prefektur Fukushima dari pemerintah setempat terkait rencana induk tata kota, penerapan peraturan zonasi termasuk peruntukan lahan, kebijakan lansekap kota termasuk penanaman kabel listrik dan komunikasi, teknologi pencair salju, dan penyiapan sarana jalan raya.
Dari materi urban planning area kota Kitakata, ada satu spesial yang saya dapatkan. Yaituland readjusment (konsolidasi lahan) berbasis kontribusi, ya berbasis kontribusi. Mungkin sejenis waqaf. Saat mendengar materi ini, saya hanya bisa tertawa.. Sungguh.
Selama ini fenomena yang saya dapati ketika dipublikasikan rencana pembangunan misalnya jalan raya dan rencana tersebut membutuhkan pengadaan (pembebasan) lahan maka akan bermunculan warga spekulan-spekulan tanah (tentu ini tidak menggambarkan orang Indonesia seluruhnya, hanya sebagian hanya sebagian), yang mana langsung menaikan harga tanah setinggi langit, aji mumpung terhadap perencanaan. Dan sering kali tingginya harga, membuat lama proses negosiasi bahkan urungnya perencanaan dilaksanaan. Dari ini kita harus belajar, bagaimana masyarakat bisa kooperatif untuk mendukung perencanaan. Tapi bagaimana? Ini poin pentingnya, selain kepatuhan terhadap peraturan ada alasan logis lain yang bisa memecahkan masalah ini. Alasan tersebut adalah dengan bertambahnya fasilitas di sekitar lahan (jalan, akses, listrik, komunikasi, dll) maka tanah / lahan sebagai asset akan meningkat walaupun luas tanah berkurang.” Hal sederhana ini mungkin yang harus sebarluaskan ke masyarakat kita.
Kesempatan juga diberikan untuk bisa homestay bersama keluarga Jepang, diinapkan bersama keluarga petani Jepang juga memberikan sudut pandang baru terhadap negara ini. Kalau bisa dilihat tidak ada kesenjangan ekonomi yang berarti antara warga kota dan desa, sungguh. Petani disana kaya raya, hasil bercerita dengan keluarga Igarashi adalah hasil panen dari pertanian langsung dijual ke pasar, tanpa melalui tengkulak, tengkulak setan desa ujar D.N. Aidit di laporannya Kaum Tani Mengganyang Setan-setan Desa, 1964. Petani disini berdikari, tidak tergantung pada sistem dan permainan harga dari tengkulak.
Konsep seperti ini pertama saya dengar dari konsep DesaMart yang dibawa Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Central for Social Economic Study) Universitas Gadjah Mada. Konsep ini benar-benar sudah terimplemetasikan dengan baik disini. Petani petani punya akses terhadap pasar dan punya kemampuan untuk meningkatkan nilai dari produk pertanian denga teknologi yang sudah menjamah sangat baik keluarga petani. Hal yang kedua coba saya kaji lebih dalam, sunguh teknologi benar-benar membersamai masyarakat petani, keluarga Igarashi sendiri mempunyai satu ruangan berisi mesin-mesin dan alat untuk mempermudah kerja menggarap lahan dan peningkatan hasil produk pertanian. Dan semua produk lokal!
Pertanyaannya mengapa mereka sekarang sudah berapa di level tersebut?
Jawabannya saya dapat di workshop pemaparan hasil program di hari terakhir. Ini soal sudut pandang dan prinsip. Hal tersebut dimulai dengan filosofi Monozukuri. Monozukuri menjelaskan semangat mencipta dan memproduksi produk-produk unggul, serta kemampuan terus menyempurnakan proses dan sistem produksinya. Monozukuri ini menjadi cikal bakal kemajuan teknologi (circle of monozukuri). Semangat mencipta ini yang hasilnya kami lihat,bagaimana pemuda-pemuda berlomba-lomba mencipta teknologi spesifik dan detail untuk mempermudah kehidupan. Teknologi masuk ke kehidupan masyarakat termasuk masyarakat petani. Kita harus banyak belajar. Belajar lagi, belajar terus.
Ah, tulisan ini memang terlalu sederhana untuk membagi seluruh ilmu yang didapat dari program ini. Masih banyak hal yang belum dituliskan. Saya yakin program ini jangka panjang, paling tidak sejak dini mempertemukan mahasiswa dengan studi urban dan regional planning untuk sama-sama belajar, membentuk frame pembangunan yang baik dan saling membangun komunikasi sejak dini.
Seperti kata Pak Anies Baswedan, kemajuan bangsa ini adalah bisa ditempuh dengan iuran seluruh masyarakatnya. Mari kita beri iuran kita, menjadi seorang ahli urban planner yang berkualitas, ahli perencanaan wilayah yang belajar dari kesalahan - kesalahan, menjadi ahli policy development yang bijak. Kita tunggu 20-30 tahun mendatang. Berbarengan kita sambut 100 tahun kemerdekaan. Momen itu saya impikan sebagai saat dimana seluruh tata kelola ruang di Indonesia sudah pada kondisi yang ideal.