Seperti kita, anak adalah jiwa yang berdenyut dengan ciri khasnya sendiri
Pertama membaca buku ini beberapa bulan yang lalu, saya merasa ini buku yang ringan. Hahahaha, sombongnya. Awalnya karena saya membaca buku ini berbarengan dengan beberapa buku lain yang rasanya lebih susah dipahaminya, tapi buku ini sangat mudah dipahami, membuat saya tercerahkan tanpa perlu pusing apa maksud penulisnya. Wkwkwk
Karena buku ini akan bercerita (baca: membicarakan) tentang kesadaran, tentunya dimulai dengan menceritakan terlebih dahulu kisah yang menggugah kesadaran kita. Pikiran kita, seperti monyet yang senantiasa melompat-lompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Karenanya kita perlu belajar untuk mengendalikan pikiran, tapi mengendalikan pikiran dengan cara kamu harus selalu memikirkan A dan hanya A, kadang tidak langsung berhasil. Kita perlu berusaha memahami terlebih dahulu arah “perginya” pikiran kita dan pola perpindahan pikiran kita dari satu hal ke hal lain. Dengan rutin belajar “melihat/ memperhatikan” pikiran, kita akan belajar bagaimana pola gerakan pikiran kita.
Diawali dengan cerita tentang uang yang dibagi dua sama besar, karena di era modern uang menjadi satu hal yang sangat sentral dalam kehidupan banyak orang. Ungkapan, “Uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang” menjadi tren yang diulang-ulang di sosial media selama beberapa tahun belakangan, dan tentunya ungkapan dari dunia maya itu kemudian berpengaruh pada dunia nyata.
Memilih contoh tentang uang sungguh menyadarkan saya bahwa memang di kehidupan modern ini, meskipun kita merasa kita tidak menghamba uang, pada kenyataannya uang menjadi alat tukar yang tidak terelakkan fungsinya. Tenaga kita dihitung dengan uang, waktu kita pun dihitung dengan uang. Cita-cita manusia pun kini diukur dengan uang. Jadi, ketika Ibu Shefali menggunakan uang sebagai contoh, ini sungguh dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
* * *
Saya suka judul sub bāb pertama, Kita membesarkan sebuah spirit yang berdenyut dengan ciri khasnya sendiri. Anak bukan sekadar anak, tetapi adalah rūh Tuhan, sebagaimana kita semua manusia juga ditiupkan Rūh Ilahi dalam diri kita. Tapi apakah Tuhan berada dalam pusat kesadaran kita? Bahkan kesadaran kita pun seringkali terombang-ambing dalam kegiatan dunia yang tidak putus-putus dan ditambah dengan ego yang tidak juga terpuaskan. Saya juga sangat menyukai pembahasan Ibu Shefali tentang ego yang nanti saya ceritakan juga.
Saya lebih suka menggunakan kata bercerita daripada berbicara, karena bercerita membuat saya merasa lebih bersemangat. Walaupun kenyataannya terkadang kata-kata yang saya gunakan tetap membingungkan. Oke skip.
Membicarakan tentang spirit ini Ibu Shefali menceritakan tentang anak adalah pribadi yang berbeda dengan kita, orang tuanya. Bagaimana pun kita berusaha membuat mereka menjadi kembaran mini kita, anak tetaplah pribadi yang mandiri, ia memiliki jiwanya sendiri, kesukaannya sendiri, dan tentunya kehidupannya sendiri. Ada banyak orang tua yang membuat anaknya menjalankan kehidupan orang tuanya, anaknya menjadi pemenuhan keinginan yang dahulu tidak pernah dirasakan oleh orang tuanya. Dan ini terkadang bukan menyenangkan anak kita, malah meracuni mereka.
Dan kenapa ini bisa terjadi? Karena kita melakukan segala sesuatunya dengan otomatis dan tanpa pikir panjang. Misalnya ketika menghadapi anak menangis, hal otomatis yang kita lakukan adalah mencari cara untuk membuat anak berhenti menangis. Kita tidak terlebih dahulu mencari tahu mengapa anak menangis, tetapi kita malah mencari cara membuatnya berhenti; karena tangisan itu mengganggu, karena kita takut tangisan anak mengganggu orang lain seperti tetangga, atau bahkan (alasan yang mungkin kebanyakan tidak kita sadari adalah) karena tangisan anak mengingatkan kita pada puluhan atau bahkan ratusan tangisan kita di masa kecil yang tidak bertemu dengan jawabannya—yang sama seperti kita sebagai orang tua saat ini, orang tua kita pun terburu-buru mencari cara menghentikan tangisan kita dulu. Kita lupa bahwa tangisan adalah media komunikasi bagi anak, kita lupa bahwa ketika anak menangis ada yang berusaha dia ungkapkan tetapi tidak bisa, belum mampu, tidak paham bagaimana caranya atau apa kata yang tepat, atau dorongan emosinya terlalu kuat hingga ia tidak bisa berkata-kata. Ada banyak sekali alasan menangis, dan tiap kali menangis bisa jadi dengan alasan yang berbeda pula, tetapi kita lupa bahwa kita pernah menjadi anak-anak dan pernah menangis untuk membuat dunia bisa mendengar apa yang kita harapkan.
Saya menggunakan kata lupa untuk menggantikan kata tidak sadar. Dan Ibu Shefali menggunakan kata kesadaran untuk mengingatkan kita. Kita berangkat dari tidak sadar, kita berangkat dari lupa. Melupakan masa kecil kita menjadi jalan keluar terbaik untuk melepaskan kita dari luka-luka masa lalu. Saya pun demikian, melarikan diri dari masa kecil yang tidak menyenangkan dengan melupakannya. Kita lupa karena mungkin kita tidak siap menanggung lukanya yang hadir kembali dalam kehidupan kita.
Ibu Shefali mengingatkan kita bahwa kita sebagai orang tua, sebagai orang dewasa kita kehilangan kompas kehidupan kita. Seperti yang saya bilang tadi, kita tidak lagi menjadikan Tuhan sebagai pusat kesadaran kita. Sehingga kita kehilangan arah, kita terbiasa melakukan sesuatu tanpa menyadarinya, otomatis dan tanpa banyak berpikir. Padahal mungkin kalau kita mau meluangkan sedikit waktu untuk memikirkannya, kita bisa mengambil keputusan yang lebih bijak.
* * *
Narasi I buku The Conscious Parent Chapt 1.










