Tujuan Pendidikan adalah Untuk Memperhalus Perasaan
Memasuki tahun terakhir di kampus, perbincangan mengenai masa depan dan karir merupakan topik andalan untuk membuka basa-basi sembari menunggu pembimbing skripsi, atau sepulang kelas yang isinya adik-adik tingkat. Tidak jarang mahasiswa-mahasiswa ini didera dilema.
Di satu sisi, kami dihadapkan pada pasar kerja yang semakin tinggi persaingannya. Semangat kami tersulut mendengar gaji fresh graduate di firma hukum papan atas. Menjadi corporate lawyer, berpartisipasi dalam meningkatkan perputaran ekonomi Indonesia tentu merupakan suatu kontribusi untuk Indonesia. Namun baru saja disuguhkan Sexy Killers yang menceritakan betapa kejamnya para kapitalis yang matanya dibutakan uang.
Di sisi lain, kami ingin memenuhi panggilan nurani yang mendorong kami untuk masuk Fakultas Hukum, yang hari ini terdengar klise: menegakkan keadilan. Idealisme, yang menurut Tan Malaka adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda, memanggil. Tentu saja, menegakkan keadilan bukan tidak mungkin dilakukan di firma hukum elit yang mengurusi perusahaan tambang. Tapi tentu saja juga, para pelaku bisnis kapitalis itu sudah punya dua keuatan yang membuat keadilan seolah tidak perlu ditegakkan lagi untuk mereka, yakni uang dan kekuasaan. Hukum sudah tumpul di hadapannya.
Sebaliknya, hukum tajam menyiksa rakyat kecil.
Memaksa kami merenung, apa maksud Tri Dharma Perguruan Tinggi meletakkan Pengabdian Kepada Masyarakat sebagai pesan terakhirnya?
Bersyukurlah mahasiswa-mahasiswa yang didera dilema. Ketamakan belum menguasai dirinya sehingga enggan melihat realita bangsa dengan separah-parahnya ketimpangan. Kepedulian masih bersemayam di jiwanya sehingga panggilan penuh harap dari rakyat miskin ibu kota, maupun balita malang tak tersentuh pendidikan di perbatasan sana, masih punya ruang untuk dipertimbangkan.
Semangatnya ada untuk memberi dampak, memperkenalkan “harapan” akan masa depan bagi mereka. Kepedulian itu disalurkan melalui berbagai macam cara. Mulai dari berdonasi, menjadi pengacara kaum yang termarjinalkan, mengabdikan diri untuk pendidikan, dan lain sebagainya.
Kembali mengutip Tan Malaka, tujuan pendidikan selain untuk mempertajam kecerdasan dan memperkukuh kemauan, adalah juga untuk memperhalus perasaan.
Saya percaya apabila tujuan yang terakhir itu tercapai, maka Tri Dharma Pengabian Kepada Masyarakat akan sendirinya terlaksana. Apalagi sebagai mahasiswa dari kampus yang memiliki sumber dana dari negara, kontribusi bagi
Indonesia sangatlah mutlak menjadi tanggung jawab moral setiap lulusannya.
Konstribusi selalu saya maknai sebagai berbagi dan menebar kebermanfaatan. Salah satu cara kontribusi terbaik yang dapat menimbulkan kebahagiaan membuncah dari rasa cinta yang justru menjadi berlipat ganda ketika dibagi, adalah dengan mengajar. Kebahagiaan ini saya temukan pertama kali di balik komplek perumahan Karang Pola, Pasar Minggu. Sebuah pemukiman pemulung yang anak-anaknya tidak kenal lantai keramik, melainkan tumpukan sampah yang memadat dan sendirinya rata, kemudian dialasi tikar plastik atau karpet tipis bekas. Program kerja Rohani Islam SMA yang membawa saya kepada rutinitas mengajar mereka. Kemudian hari saya mengisi hari-hari kuliah saya dengan kegiatan mengajar, mulai dari mengajar privat bertarif, mengajar SBMPTN secara sukarela, sampai mengajar di sebuah desa binaan BEM fakultas.
Kecintaan saya pada mengajar membuat saya menaruh perhatian pada pendidikan Indonesia, dengan realita ketimpangan dimana-mana.
“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.”
Anies Baswedan, Indonesia Mengajar
Hal itu pula yang membuat saya mengidamkan kesempatan mengajar di daerah yang jauh dari kota, sebagaimana ditawarkan oleh Gerakan UI Mengajar. Saya mencoba setiap kesempatan yang mereka buka. Hingga akhirnya saya diterima menjadi pengajar Gerakan UI Mengajar (GUIM) pada tahun 2018, untuk mengabdi di Temanggung pada Januari 2019. 25 hari di Desa Kwarakan sungguh memberikan arti tersendiri tentang hidup, kebahagiaan, dan pendidikan. Masa mengabdi itu menginspirasi saya untuk terus mengabdi dan berkontribusi di dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak.
Bagi saya, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menularkan semangat untuk mengejar mimpi, memperkenalkan dunia yang menawarkan berjuta warna pelangi bernama harapan.
Semua jenuh dan letih terbayar dengan keluguan mereka yang begitu giat mencari ilmu. Hal yang mungkin tidak didapatkan di kota. Dimana pendidikan tidak dilandasi keinginan menuntut ilmu, tapi karena wajib sekolah.
Ketimpangan pendidikan yang telah saya lihat dengan mata kepala sendiri, mengukuhkan keinginan saya untuk terus dapat mengabdi bagi negeri, khususnya anak-anak harapan bangsa. Saya bermimpi suatu hari dapat mendirikan sekolah berkualitas, yang mengedepankan pendidikan karakter
dan menjunjung metode aktif-eksploratif yang memberi ruang bebas bagi anak untuk berkarya, dan berkreasi sesuai dengan potensi dan bakatnya, untuk Indonesia.
Misi saya adalah untuk menciptakan lebih banyak kebermanfaatan melalui setiap anak yang terdidik dari sekolah tersebut. Saya percaya, pribadi yang baik dan berkualitas dimulai dari pendidikan dasarnya, tentunya dengan kolaborasi yang baik dengan orang tua dan lingkungan keluarga. Integrasi antara ilmu, iman, dan amal haruslah ditanamkan sejak dini. Sehingga anak tidak menuntut ilmu untuk tujuan lain selain memperkuat iman dan memperbesar amal yang bisa ia berikan kepada sesama manusia.
Ditulis untuk memenuhi persyaratan suatu kegiatan volunteering.