Spaces, Walls, and Sanity
Hi.
Setelah sekian lama, akhirnya gue kembali lagi ke sini dalam usaha merekam semua yang terjadi sepanjang yang gue ingat. Quick update since the last post, gue sudah memiliki pekerjaan dan sekarang gue menjalani kegiatan bekerja dari rumah (compulsory work-from-home) dikarenakan merebaknya wabah novel coronavirus atau biasa disebut sebagai COVID-19.
Wabah ini mulai menyebar di awal tahun (Januari 2020) namun sekarang (April 2020) sedang menyebar dengan kecepatan yang lebih tinggi dan cakupan yang lebih luas. Dunia pernah merasakan wabah SARS dan MERS yang pernah menyebar di tahun-tahun sebelumnya, tapi itu terjadi saat gue masih belum cukup bisa memproses realita dan grasp the bigger concept of a pandemic. Saat ini adalah pertama kalinya gue merasakan wabah yang berdampak langsung ke berbagai aspek kehidupan gue sebagai manusia.
To be honest, ngeri juga rasanya. Beberapa minggu lalu saat gue masih ke kantor, gue bener-bener ngeliat yang namanya ketakutan tuh beneran bisa keliatan dari gerak-gerik badan.
Tatapan orang yang pake masker ke orang yang gak pake masker, walau cuma beberapa saat.
Orang-orang yang otomatis menjauh saat ada yang bersin atau batuk.
Orang yang mencuci tangan lebih lama dan menggunakan hand sanitizer juga udah jadi pemandangan lumrah.
Orang yang otomatis menjaga jarak saat berdiri di antrian.
Di satu sisi, adanya pandemi ini memang membuat mayoritas orang lebih sadar akan pentingnya kebersihan dan kesehatan. Pandemi ini juga menyadarkan gue bahwa sebenernya kerja dari rumah itu bisa banget dilakukan sebagian masyarakat (khususnya kaum-kaum dengan privilese khusus yang bukan essential workers in the frontline). Cuma ya tetep aja ngerasanya aneh karena semua terjadi serba mendadak dan gak ada celah buat gue untuk adaptasi.
Menjalani rutinitas work-from-home pada awalnya gue rasa hanya membutuhkan adaptasi di bagian konsentrasi, prokrastinasi, dan fokus. Ternyata salah besar, hehe. Ya gimana ya, mohon maaf, kesalahan newbie dalam hidup, baru hidup 23 tahun masih belum mencicipi semua pengalaman yang ada. Cenderung overestimate kemampuan dan kemungkinan sendiri, hehe. Namanya juga darah muda. Masih (dan rasanya akan selalu) bodoh dan naif.
Tantangan terbesarnya justru ada di aspek yang gak pernah gue kira sebelumnya; gimana menjaga pikiran sendiri buat tetap waras. If I have to put my experience these past two months in an over-simplified story, rasanya kayak hidup di dalam kubus, sempit dan sepetak, tapi tiap hari atau tiap minggu ada aja perabotan dateng buat ngisi kubus tempat gue tinggal. Awalnya normal dan menyenangkan, lama-lama sempit, lama-lama sesak, dan akhirnya akan ada keinginan yang, as cliche as it may sounds, sulit ditahan buat gue untuk keluar rumah.
Gue hidup di dalam rumah, dengan kondisi berkecukupan, tapi pilihan gue sangat terbatas dan tentu saja tidak bisa keluar rumah untuk hal-hal yang biasa gue lakukan. Tanpa mendiskreditkan perjuangan orang-orang yang harus keluar rumah di saat pandemi seperti ini, jujur gue merasa susah banget hidup kayak gini. Susah. Menjaga diri tetap waras sepenuhnya di kondisi ini, itu susah. Dan pernyataan ini dikeluarkan oleh orang yang tergolong anak rumahan akut dan penggemar Netflix garis keras alias tidak suka keluar rumah untuk mencari kesenangan.
Tiap hari rutinitas gue (yang memang sudah membosankan dari sananya) bener-bener kayak lingkaran setan. Maksudnya gak ada ujungnya. Itu-itu lagi, terus tiap hari. Gue jadi mikir, ini kali ya, yang dimaksud dengan ‘mati gaya’ atau ‘bisa mati gara-gara bosen’. Bangun, mandi, sarapan, kerja, makan siang, kerja, matiin laptop, terus tidur. Udah, gitu lagi besoknya. Gue bukan tipe orang yang bisa melewatkan WFH dengan nonton film atau series dengan colong-colong waktu, bukan karena gue rajin, tapi karena gue overly anxious dan panikan. Temen-temen gue liat gue kerja mulu atau ngeluhin kerjaan terus di media sosial karena memang sejauh ini ritme pekerjaan gue ya begitu terus; ada lagi-ada lagi, gak ada stopnya. Kalau kata senior di tempat kerja gue, selama gue kerja di sini, gue gak akan pernah merasa tenang. Ya sebagai disclaimer gue suka pekerjaan gue, cuma kadang workload dan pressure-nya terasa too much to handle (dan gue yakin pasti ini juga dirasain banyak orang sih). Gue nonton series itu cuma Sabtu-Minggu, kalau lagi gak ada yang harus gue kerjain. Not something to be proud of, just giving a little bit of background details regarding my mundane routine.
Bosennya ancur-ancuran. Rutinitas rasanya jadi sesek banget. Kepala sering banget pening pas lagi kerja, saking muaknya sama rutinitas yang ada. Never thought I would say this, tapi gue kangen macet-macetan dan desek-desekan di transportasi umum di perjalanan gue pulang dan pergi ke kantor. Gue kangen kantor, yang masih bisa gue tempati sampai subuh kalau gue lagi lembur gila-gilaan. Serem juga pandemi ini bisa bikin gue kangen suasana kantor dan Jakarta yang, sebenernya, bikin gila juga. Bener-bener bikin gue sadar bahwa mau hidup gue sejelek apapun, sepahit apapun, tanpa harus dibandingin sama hidup orang lain, ya tetep ada yang bisa disyukuri dari hidup itu sendiri. Kufur nikmat kali ya gue sebutannya? Kayak ternyata ada banyak banget hal yang gue pikir akan gue jalani selamanya tanpa perubahan, tapi sebenernya bisa berubah hanya dalam hitungan waktu yang super cepet (bulanan, mingguan, bahkan harian). Bahasa kerennya taken for granted gitu, lah. Mana pernah gue pikir hidup gue di bulan April akan kayak gini. Asli deh, pandemi ini bikin gue memakai otak gue lebih daripada kadar pemakaian otak gue yang biasanya. Ngomong kayak gini akan bikin gue kelihatan seperti anak indie/ edgy/ snob/ sok-sok filosofis tapi pandemi ini bikin gue sangat menyadari bahwa yang namanya hidup itu, ya, ringkih. Life is short, futile, and fragile. You will never know what will happen tomorrow, when will your beloved people leave you for good, and you should never take anything for granted. Kacau.
Gue rasa ini juga sih yang bikin kepala gue makin gak karuan akhir-akhir ini; gue gak bisa pastiin kapan ini semua selesai dan apakah nanti setelah kondisi ini kita akan kembali ke normal yang biasanya. Tapi gue bertanya-tanya lagi, emang normal yang ideal kayak apa sih? Apa iya normal sebelum pandemi memang bisa dikategorikan normal? Aduh ngomong apa sih gue, bingung. Ketauan udah lama gak ngobrol sama orang tatapmuka, kemampuan percakapan menurun drastis. Pernah sih ngobrol, lewat videocall gitu, tapi kepala gue mikirnya semua itu cuma interaksi semu aja. Gak ngobatin kangen sama sekali.
(Posted on December, but already finished writing this incomplete piece way before that.)
















