Pada kesempatan malam itu, Pinkan bertanya padaku—kira-kira redaksinya begini,
"Menurutmu kenapa seseorang menikah? Apa pandanganmu tentang konsep pernikahan?"
Mendengar pertanyaan itu, aku tertegun sejenak. Barangkali kebanyakan dari kita belum sejauh itu berpikir tentang itu—atau jangan-jangan aku saja hehe. Tapi, pertanyaan dari Pinkan itu membawaku pada perenungan yang cukup khidmat dan menarik untuk dieksplorasi lebih jauh.
Aku menjawab pertanyaan itu dengan penjelasan seperti ini,
"Aku tidak tahu pasti alasan seseorang menikah karena pasti setiap individu bisa punya variasi alasan yang sangat beragam. Sederhananya, mungkin bisa kita kategorikan atas dasar alasan cinta, keinginan untuk hidup bersama, atau sedihnya beberapa ada juga yang karena terpaksa dan alasan lain yang membuat pilu.
Kalau alasan dan pandanganku pribadi tentang konsep itu, aku berpegang pada keinginan untuk bisa memaknai hidup dengan lebih dalam lagi dan bisa menjadi makna bagi hidup pasanganku, kamu itu nantinya."
Pinkan mengikuti penjelasan itu dengan pertanyaan lebih lanjut, maksudnya bagaimana?
Maksudnya menurutku, bisa memaknai hidup dengan lebih dalam lagi adalah aku berkeingingan dan berharap kelak pernikahan itu menjadikanku pribadi yang lebih baik dan berkembang dalam banyak hal karena ada banyak hal yang mesti diusahakan, diperjuangkan, dan ingin dicapai dalam pernikahan. Itu visi pernikahanku. Harapannya, aku menjadi makin ulet dan giat dalam bekerja, semangat dalam menjalani keseharian, dan tidak pantang menyerah dalam memperjuangkan apa-apa yang menjadi cita-cita bersama pasangan.
Lalu, bisa menjadi makna bagi hidup pasanganku adalah aku berkeinginan dan berharap kelak hidup pasanganku juga menjadi lebih positif, banyak berkembang, dan bertumbuh seiring dengan perjalanan pernikahannya denganku. Dia bisa menjadi lebih semangat dalam menjalani hari-hari, lebih giat dalam mengusahakan dan mengupayakan apa-apa yang menjadi mimpi-mimpinya, dan tidak patah semangat ketika menghadapi kesulitan sebab kita memiliki satu sama lain. Sederhananya, aku ingin kita bisa saling menghidupi satu sama lain. Kira-kira begitu."
Pinkan mengangguk-angguk setuju dan mengamini apa yang aku sampaikan. Malam itu, obrolan kami bersambung panjang ke banyak topik terkait.
Memaknai usia hubungan kami yang menginjak tahun ketiga hari ini, aku berharap dan berdoa bahwa kelak perjalanan kami akan bermuara di dermaga itu. Perjalanannya tentu masih panjang, masih banyak persiapan dan bekal yang perlu kami kumpulkan.
Menuju dan menyongsong perjalanan itu, semoga kami senantiasa diberikan kekuatan, kemudahan, kesabaran, keikhlasan, pengertian, kebahagaiaan, dan dijauhkan dari hal-hal kurang menyenangkan ke depannya.
Masih banyak buku yang mau diobrolkan.
Masih banyak film yang mau didiskusikan.
Masih banyak berita-berita yang mau dibedah.
Masih banyak tempat yang mau dikunjungi.
Masih banyak makanan yang mau dicoba.
Masih banyak pengalaman yang perlu dirasakan.
Hihi semangat menyongsong perjalanan bersama ke depan ya, Pinkan!