Kembali bertanya pada diri ini, seberapa jauh kamu telah melangkah? dan seberapa jauh waktu menorehkan jarak masa lalu.
Telah lama sejak kutinggalkan dermaga yang hangat untuk kutukar sepi. Terulang kembali kehangatan masa-masa menepi disana. Hembusan anginnya sungguh menyegarkan, sinar mataharinya begitu hangat dan menenangkan pikiran. Terlebih ketika matahari tenggelam menjadi panorama yang elok untuk disaksikan bersama dan menjadi akhir senja menuju gelapnya malam.
Saat ini aku sedang berlayar dilautan sendiri dengan kapalku menuju pulau yang kuharap mampu melontarkan angan-anganku menuju langit, bersanding dengan bintang-bintang. Keraguanku muncul, apakah aku mampu mengarahkan kapalku yang sedang menerjang lautan ini dengan selamat? Terlebih lagi aku adalah seorang nahkoda tak berawak.
Tak akan terduga bagaimana lautan akan bertindak terhadap apa yang melewati diatasnya. Saat tertentu kau akan dapat sejaring ikan di atas kapalmu atau tersapu ombak hingga patah tiang kapalmu. Mungkin lebih mengerikan ketika kau yang berada di atas lautan hanya terhuyung-huyung ombak tanpa tau, lautanmu itu sedang menerjang daratan. Sungguh dinamika lautan membawa praduga yang wajar membuatku takut. Iya, aku takut.
keyakinan untuk mampu mengarungi sendiri terdengar angkuh. Melihat apa yang ditawarkan lautan ketika melewatinya mau tak mau menurunkan ke egoisan dan mencoba mengakui kelemahan diri.
Satu kalimat sarat harapan yang mendasari rencana-rencana besar pengubah haluan.
Tiba saatnya ketika badai benar-benar menempur kapalku hingga merebahkan diri sejenak menjadi harapan sederhana yang begitu besar. Angin kencang meniup badan kapalku hingga ingin terbalik ditelan gelombang, air laut dimuntahkan lautan membasahi geladak dan haluan, dan lambung kapal sedikit tergores oleh tajamnya karang. Disaat yang sama, aku pun harus mengendalikan kemudi, agar kapalku tidak terbelah di tengah lautan. Aku mencoba mencari bantuan dan terus berdoa “tuhan tolong selamatkan diriku, selalu”. Ini adalah badai pertama terbesarku selama memulai perjalanan memutar bumi, menakutkan.
Hingga fajar menyingsing, badai perlahan melemahkan serdadu-serdadunya kembali ke angkasa.
itu adalah sebuah kalimat yang sontak mencuat dalam diriku. Bukan sebuah perasaan takut melainkan rasa senang yang menyebar menguasai pikiran. Sebuah pembuktian dugaan awal yang berwujud momok menakutkan justru menjadi sebuah pembelajaran yang patut untuk dikenang dan dibanggakan.
'A smooth sea never made a skilled sailor.' -- Franklin D. Roosevelt.