📝 #fivepanelstory Chapter 2 Beberapa tahun lalu, saya terpikir tentang satu tempat. Saya pernah kesana secara kebetulan. Saya tidak berencana untuk kesana tapi, entah kenapa, suasananya seakan menarik saya untuk pergi menyusurinya. Saya memanggilnya "The Heritage City, Surakarta". Saya menyusuri kota dengan jalan kaki, malam hari & seorang diri. Saya harus menunggu jadwal kereta api yang saya naiki untuk meninggalkan Surakarta pada tengah malam. Jadi, saya putuskan untuk mulai berjalan & menikmati indahnya malam Surakarta di sepanjang jalan. Saya tidak pernah membayangkan jika menyusuri kota pada malam hari begitu menyenangkan. Saya merasa seperti orang asing di tempat yang asing. Tapi tempat asing yang menakjubkan. Tata kotanya cukup bagus & yang paling saya suka adalah adanya jalur kereta api di kota. Tapi, sayangnya saya tidak bisa melihat kereta apinya meski hanya sekali. Disana juga terdapat banyak bangunan & beberapa diantaranya memiliki karakteristik tersendiri. Itu adalah unsur tradisional jawa & saya cukup mengapresiasinya. Di era globalisasi, masih ada kota yang tetap menjaga kebudayaan mereka melalui arsitekturnya. Bicara soal arsitektur, saya cukup tertarik dengan tempat yang satu ini. Pertama kali saya sempat berpikir kalau itu Keraton Surakarta, tapi saya salah. Itu adalah Masjid Agung Surakarta. Konon usianya sudah ratusan tahun sejak berdiri. Disebelahnya juga ada Pasar Klewer & alun-alun. Itu membuktikan kalau Islam sudah ada dan berkembang cukup lama disana. Saya pikir disitu merupakan pusat pemerintahan islam kala itu. Dan tetap saja, masjidnya berdiri kokoh juga pasar & alun-alunnya masih beroperasi dengan baik. Waktu terus berjalan dan tidak terasa sudah cukup lama saya berjalan menyusuri kota. Artinya saya harus kembali ke stasiun. Saya sudah melihat banyak tempat yang indah, sudah bertemu orang-orang uang ramah & juga belajar banyak dari semua pengalaman itu. Rasanya seperti Surakarta menarik saya untuk menyusuri kota dalam beberapa arti. Setelah saya sadari, saya sangat bersyukur karena Allah tidak pernah membuat perjalanan saya tidak berarti. Credits oleh: khibranbagas (at Surakarta)











