Tiba-tiba saja sudah 2026. Barusan disadarkan oleh medsos, bahwa ternyata 2016 adalah sepuluh tahun yang lalu. Kesadaran yang membawa angan saya melintas dan mereview tentang perjalanan yang sudah saya lalui selama ini.
Jadi teringat obrolan kemarin lusa dengan seorang teman dekat tentang kegalauan memilih sekolah untuk anak. Mulai dari biaya, kualitas, kurikulum dan program sekolah, hingga antrian indent yang nggak main-main. Duh, siapa sangka teman sekelas yang dulu galaunya tentang mau nongkrong di mana nanti siang sekarang ganti topik menjadi obrolan seserius ini.
Sementara teman yang lain risau tentang kekhawatirannya menjadi lajang di usia kepala tiga lebih sekian ini. Dia bercerita tentang bapak ibuknya yang semakin bertambah tua. Tentang keriput yang mulai tampak di wajah orangtuanya, dan tangan mereka yang mulai lemah dan tak kuat lagi genggamannya. Saat itu saya juga tersentak, membayangkan wajah bapak ibu saya yang juga tak lagi muda.
Menjadi dewasa ternyata "seseru" ini. Ibu-ibu yang menenteng tas belanjaan sembari menggendong bayinya itu sekarang adalah saya. Ibu guru yang berdiri di depan kelas memikul tanggungjawab besar untuk masa depan bangsa ini sekarang adalah saya. Dan ibu-ibu yang rela menjeda sejenak makan demi menceboki anaknya itu sekarang adalah saya.
Menjadi dewasa juga berarti tiba di suatu kesadaran bahwa hidup kadang lebih drama dari drama Korea. Hal-hal yang dulu hanya saya lihat di film ternyata terjadi nyata, bahkan lebih tragis, di sekitar saya. Ketika saya harus menerima kenyataan bahwa salah satu teman dekat saya jaman sekolah dulu menjadi pelakor. Lalu teman yang lain menjadi korban KDRT dan perselingkuhan. Sementara ada juga teman yang sempat depresi karena calon suaminya meninggal. Adapula yang terpaksa menjadi penyanyi dangdut jalanan demi menghidupi anak-anaknya.
Tetapi tak jarang pula yang dulunya Upik Abu sekarang menjadi Cinderella. Yang dulunya biasa saja sekarang menjadi jajaran orang istimewa. Ah, hidup memang sebercanda itu. Hanya saja menyaksikan hal itu terjadi pada orang-orang yang pernah dekat dengan kita memberikan kesan dan pesan yang sangat mengena di hati.
Meresapi dan "membaca" banyak hal tersebut membawa saya ke suatu kesimpulan. Menjadi dewasa itu sepertinya mudah, tapi sulit dijalani. Ada ego yang harus kita lawan. Ada jalan yang harus kita rancang. Ada kekuatan dan iman yang harus kita jadikan pedoman.
Hai diri, jangan tersesat ya. Banyak belajar syukur, banyak belajar sabar, banyak belajar tawakal. Ke depannya jalan masih panjang. Masih banyak doa yang harus dipanjatkan. Masih banyak mimpi yang harus diwujudkan. Masih ada asa yang harus diperjuangkan. Bismillah semoga Allah sehatkan, mampukan, dan mudahkan. Aamiin..