Manusia Penuh Daftar
Manusia memang terlahir dari daftar-daftar yang dia buat sendiri. Baris demi baris daftar dibuatnya demi ego yang tak pernah mati. Mereka membuat daftar rencana-rencana yang datang dari euforia sekelilingnya. Agar tak dianggap tertinggal oleh sekelilingnya, dia pun akhirnya mengikuti. Sayangnya, jika memang tak didasari dalam hati semuanya akan terasa hambar, hanya basa-basi.
Mengutip salah satu pertantanyaan dalam wawancara Sussane Beyer dan Lothar Gorris dengan Umberto Eco;
Mengapa kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk melengkapi hal-hal yang secara realistis tak bisa diselesaikan?
Kita punya batas, yang begitu mematahkan hati, batas yang memalukan: kematian. Itulah sebabnya kita suka semua hal yang kita anggap tak berbatas, dan karenanya, tak berakhir. Itu adalah pelarian dari pikiran tentang kematian. Kita suka daftar-daftar karena kita takut mati.
Kita tetap membuat daftar-daftar tersebut walaupun kita sendiri tahu bahwa tak semua yang kita tuliskan itu akan bisa diselesaikan. Bisa jadi ini hanyalah semacam egoisme pribadi. Sebuah perasaan untuk membuktikan bahwa diri kita tak kalah dengan yang lain. Meskipun pada kenyataannya, kita melakukan hal tersebut bukan sebagai pembuktian terhadap orang lain. Tapi lebih kepada pembuktian terhadap diri kita sendiri, terhadap realitas yang ada di pikiran kita.
Memang susah hidup di tengah era masa kini yang penuh dengan tuntutan eksistensi yang tiada henti. Eksistensi yang kini bukan lagi tentang kita, kami, kamu, kalian, tapi lebih tentang aku. Ke-aku-an yang porsinya semakin tinggi kini rasanya telah menjadi suatu hal wajib bagi setiap pribadi. Pencapaian demi pencapaian yang sebelumnya memang direncanakan atau tidak, selalu terasa kurang ketika mensyukuri tak lagi menjadi hal yang penting. Karena yang kini dirasakan bukanlah sebuah kepuasan tentang sebuah pencapaian, tapi lebih kepada kepuasan ketika bisa melampaui pencapaian orang lain.
Hingga akhirnya, batas-batas eksploitasi ke-aku-an yang kini ditampilkan menjadi tak terbendung. Dengan dalih sebagai bentuk ekspresi, segala cara dilakukan tanpa pernah mempertanyakan. Padahal segala sesuatu bisa dikatakan mempunyai makna karena adanya batasan-batasan yang ada di sekelilingnya. Kamar misalnya, bisa disebut kamar karena ada batasan berupa dinding-dinding di sekelilingnya. Seseorang dikatakan sebagai mahasiswa karena ada batasan berupa ketentuan-ketentuan untuk menghadiri kelas dan semacamnya. Batas itu menjadi penting. Ketahui batasanmu, tanyakan kepada dirimu sendiri. Seperti kata Cak Nun, “Barangsiapa ingin menjawab tantangan kehidupan, dia harus bisa menemukan pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan. Barangsiapa tidak bisa bertanya, dia tidak akan juga bisa menjawab”.
Sebagai penutup dari tulisan yang sepertinya tidak terarah ini, mungkin semuanya bisa diawali dari membuat daftar pertanyaan-pertanyaan yang relevan terhadap diri kita sendiri. Baru setelahnya kita bisa membuat daftar-daftar rencana tentang apa yang kita impikan, lalu kemudian merealisasikannya. Perlahan. Semoga bukan hanya euforia sesaat. Tapi sebuah upaya agar membuat kita lebih bermanfaat.
____ Bandung, 180218 @dimazfakhr
Sumber: http://kunci.or.id/articles/umberto-eco-kita-menyukai-daftar-karena-kita-tidak-mau-mati/










