Ditanah kita-pun banyak pekerjaan ,hanya saja enggan mengolah tanah sendiri.

seen from Malaysia
seen from China

seen from Russia
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Poland
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
Ditanah kita-pun banyak pekerjaan ,hanya saja enggan mengolah tanah sendiri.
Ikatan Pemuda Tampan dan Saleh mengucapkan, "Selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan. batin. Taqabbalallahu minna wa minkum." ¢ ¢ #idulfitri #lebaran #hariraya #cairo #egypt #rantau #tanahrantau #youth #cakep #tampan #saleh #pemudahijrah #pemuda #jadibaik #beranihijrah #iedmubarak #ied (di Cairo, Egypt)
Taqoballahuminna mawinkum, Taqoballahu yaa Karim. Kullu aamiin wa antum bikhairin. Barakallahu fii kum. Semoga Allah pertemukan kembali di Ramadhan tahun depan. Aamiin Selamat Idul Fitri 1438 H #idulfitri #1438h #masihdisini #tanahrantau #lebarandikampungorang #belummudik #mudiknyaHplusplus #alhamdulillah (di Bogor, Indonesia)
Saat jauh 2 kata yang sedang menyapa saat ini. 2 kata yang menjadi alasan. 2 kata yang hanya bisa dipendam untuk saat ini.. And finally, I feel homesick. 😭.. #hometown #homesick #tanahrantau #rindu (di Kampung English Pare,Kediri)
Kadang sesuatu yang menjadi "Mudah" untuk orang lain adalah yang "Tersulit" untuk kita. Begitupun sebaliknya. Pada dasarnya kita memiliki dunia masing-masing yang pantas untuk kita kagumi.
Ingin Pulang
Selamat malam untuk burung camar yang mungkin sudah sampai dalam sangkar, ujung-ujung daun yang mungkin sudah menyampaikan pesan keseratusnya pada sang akar, dan juga rindu-rindu yang mungkin masih terbengkalai bagai semak belukar. Untuk sang dewi malam dan juga seluruh pendampingnya, bisakah dengarkan saya malam ini dengan seksama? Ada keluh kesah yang tak dapat saya sampaikan pada sang surya, ada airmata yang tak sempat saya tunjukkan pada awan-awan yang entah berarak menuju kemana. Saya ingin pulang. Sungguh. Benar-benar ingin pulang. Ke pelukan wanita keriput yang tangannya telah mengkerut seiring bumi yang kian menua. Ingin saya bersimpuh di pangkuannya, mengungkapkan betapa rumah yang sempat saya tempati sebelum saya menjadi manusia tidak lagi memberi rasa nyaman yang semestinya. Saya ingin pulang. Sungguh. Benar-benar ingin pulang. Ke kamar yang hanya muat untuk diri saya sendiri, dengan suara-suara komentar tentang sinetron sebagai pemecah sunyi. Suara yang sempat saya kutuk sebagai nada yang paling tak saya sukai, saya merindukan semua itu kini. Saya ingin pulang. Sungguh. Benar-benar ingin pulang. Ke cangkang dimana bisa saya dengar suara bel kereta dengan mudah, tak ada gonggongan-gonggongan yang membuat saya resah, tak ada hingar bingar yang membuat saya jengah. Keberadaan saya disini sungguh membuat lelah, tapi bibir ini sangat kelu untuk sekedar mengungkap dengan kata "tidak betah". Ah, rasanya akan terlalu membosankan jika terus saya keluhkan segala kesah. Wahai dewi malam dan juga para pendampingnya yang setia. Terimakasih telah mendengarkan narasi saya yang mendung, yang sama sekali tidak menyenangkan untuk diubah menjadi senandung. Terimakasih tetap menjadi yang selalu ada buat malam-malam yang sedingin bekunya es, setenang danau di negara 4 musim pada bulan des, yang selalu menjadi ruang bagi saya membiarkan wujud tulus hati itu menetes.
Celoteh Anak Rantau
Lahir dan besar di sebuah pulau indah di bagian tengah Indonesia. Bertempat tinggal di salah satu desa di pulau tersebut. Tertakdir bersekolah selama dua tahun di Desa. Menempuh pendidikan dasar dengan sangat bersahaja, mulus, tak banyak tantangan. Dengan latar belakang orang tua yang keduanya berprofesi sebagai guru sekolah dasar membuat saya digolongkan sebagai anak yang berpendidikan, tentu di tengah anak-anak sekolah dasar lainnya yang kebanyakan orang tuanya lulusan sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas. Dua tahun menempuh pendidikan di sekolah desa menorehkan banyak cerita kesederhanaan. Bersekolah yang cukup dengan berjalan kaki, tas sekolah yang sangat sederhana tapi disekolah sudah tergolong mentereng, seragam yang jauh lebih rapi di banding teman-teman yang lain, uang saku yang cukup 500 rupiah, dan kesemuanya melahirkan kesyukuran karena saya pada saat itu sangat jauh lebih beruntung dari teman-teman lainnya.
Namun memasuki semester genap di tahun kedua, guru kelas saya memberi saran kepada Mamak (pada saat itu guru di sekolah itu juga) untuk memindahkan saya ke sekolah di kota. Karena pencapaian yang saya lakukan di sekolah tak akan mampu di kejar teman-teman sekelas saya pun saya akan sulit berkembang tanpa pesaing seperti saat ini. setelah menimbang-nimbang, kedua orang tua saya pun memutuskan untuk memindahkan sekolah saya ke kota. Dan dimulai dari sanalah babak kehidupan yang baru di mulai.
Saya akhirnya bersekolah di salah stau sekolah dasar favorit di kota tersebut. Anak desa kini pindah ke kota. Terlalu banyak hak yang mengejutkan saya pada saat itu, perbedaan yang cukup timpang, dari hal yang kasat mata misalnya pakaian, buku, tas, sepatu, rambut, kaki, bahkan kulit hingga hal yang tak kasat mata cara berfikir, bicara, berjalan hingga kecerdasan. Semua anak-anak yang saya temui di sekolah baru sangat berbeda. Mamak tak henti-hentinya menasihati saya dari kelas 3 sekolah dasar hingga akhirnya lulus, “nak, jangan melihat keatas terus, ingatlah teman-temanmu yang di Desa, lihat kehidupan mereka yang sederhana, melihat keatas terus membuatmu lelah nak” . Itulah masa rantau yang sama. Akhirnya jejang pendidikan sampai SMA cenderung monoton, dengan teman-teman yang bahkan sama, dari SD hingga SMA kami sekelas. Inilah yang menarik seringkali siswa dari SD favorit akan masuk ke SMP yang favorit pula dan dilanjutkan SMA yang favorit, itulah yang menjadi sebab saya bergaul di lingkungan yang almost homogen.
Dan tibalah masa rantau yang kedua, rantau yang lebih jauh, rantau yang bisa dikatakan lebih nyata. Rantau ke pulau yang berbeda, pulau yang besar dan terkenal dengan peradaban yang cukup maju dibandingkan pulau saya. Banyak ketakutan dan kekhawatiran saya di awal masa merantau. Apakah saya akan mudha beradaptasi? Apakah lingkungan baru dapta menerima saya? Itu pertanyaan yang terus muncul dimasa-masa orientasi kampus. Ini tidak mudah terlebih jeda antara keputusan saya untuk hijrah dan pergi merantau masih terhitung dekat, mampukah saya istiqomah? Tidak mampu istiqomah adalah hal yang paling saya takutkan. Mencari lingkungan terbaik dan teman yang baik menjadi misi pertama di tanah rantau sebelum menjalankan aktivitas-aktivitas mencari ilmu disini. Dimanapun saya berada saya mencoba mencari lingkungan yang baik, karena saya tahu bahwa diri ini masih rapuh, masih belajar, masih butuh support external dari manusia. Dan Alhamdulillah Allah selamatkan saya dari jurang-jurang curam yang ada di sekitar, Allah pertemukan saya dengan orang-orang baik, Alhamdulillah semakin nyata pertolongan Allah dengan wasilah orang-orang baik di sekitar saya.
Tahun demi tahun berlalu, adik-adik dari pulau yang sama dari latar belakang sekolah yang sama pun memasuki tanah rantau yang sama. Melihat mereka yang jauh lebih baik keadaannya di bandingkan saya dahulu membuat gelora semangat dalam hati mencapai titik maksimum. Mereka tak boleh merasakan kebingungan seperti saya dahulu, mereka harus merasa punya keluarga disini, mereka harus segera dapat lingkungan yang baik, itulah tekad saya pada saat itu. Bermula dengan mengajak sebisa saya tanpa strategi yang jelas dan teratur, hingga mulai menyusun strategi dan sistem yang lebih baik, akhirnya kami berkumpul kembali. Berkumpul di tanah rantau, menguatkan kaki-kaki yang gemetar di tanah yang belum kami kenali dengan baik. Semua orang dalam lingkar ini berjuang saling menguatkan, berjuang untuk saling mengingatkan, dengan tekad yang sama, kami ingin adik-adik merasakan hal yang lebih baik. Cukup sederhana mungkin.
Tak hanya saya, ada pejuang lain yang sungguh lebih luar biasa dalam barisan anak rantau ini. seorang saudara seperjuanga, saudara seideologi, beliau bahkan mengutamakan yang lain dibanding dirinya. Saya tak pernah tahu kisahnya, namun melihat matanya yang berkaca-kaca saat bercerita tentang apa yang melatarbelakangi semangat dan usahanya, saya semakin yakin, ialah kakak sesungguhnya. Kakak yang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Kakak yang selalu ada untuk adik-adiknya, dan segenap hal luarbiasa dari beliau. Saya belajar darinya, belajar makna perjuangan.
Sekelumit kisah tanah rantau. Kisah perjuangan. Semua orang berusaha mempertahankan apa yang mereka perjuangkan. Saya, kamu, dan mereka. Semangat saudara-saudaraku.
Masjid Kampus UGM
Selasa, 19 April 2016
Tentang Mas
Perkenalkan, namaku Fia. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Aku punya seorang kakak laki-laki yang usianya 7 tahun lebih tua dariku. Rentang usia kami yang begitu jauh membuat kami benar-benar terlahir sebagai generasi yang berbeda dan aku kira hal ini membuat kami tidak bisa sepenuhnya mengerti satu sama lain. Sebut saja kakak laki-lakiku itu Mas, begitulah aku biasa memanggilnya. Sejak aku kelas 3 SD, Mas telah pergi merantau ke luar kota. Tak banyak waktu bersama yang kami punya, kecuali hari libur. Itu pun lebih banyak kami lalui dengan kebisuan. Ya, kami tak banyak bicara satu sama lain meski kami saudara. Mas adalah sebuah misteri bagiku. Aku sering penasaran dengan apa yang sedang ada dalam pikirannya, bagaimana pergaulannya, bagaimana perasaannya, pokoknya semua tentang Mas membuatku penasaran. Setidaknya hingga saat itu tiba. Saat ketika aku tak sengaja sebuah buku catatan besar, bersampul coklat, yang berisi catatan-catatan Mas selama di perantauan. Catatan itu sendiri berada di antara buku-buku Mas yang begitu banyaknya. Bukan di tempat penyimpanan khusus yang tempatnya tersembunyi. Mungkin Mas tidak menyangka adik perempuannya yang tidak suka baca ini akan iseng melihat-lihat buku koleksinya, atau mungkin memang sengaja Mas taruh di situ agar kelak aku baca? Entahlah...itu masih menjadi sebuah misteri. Aku pun tak kuasa untuk tidak membacanya. Tentu saja karena aku penasaran. Ada banyak cerita di sana, mulai dari yang tidak jelas juntrungannya, yang bahagia, yang sedih, hingga yang mengharukan. Satu yang pasti, setelah membacanya, aku jadi merasa mengenal Mas luar dalam. Ingin sekali rasanya saat Mas pulang nanti, aku bisa berbicara panjang lebar dengannya. Mungkin itu dulu dariku. Di lain kesempatan, aku akan bercerita tentang isi buku catatan Mas. Aku ingin dunia tahu bahwa aku sayang Mas. Aku ingin dunia iri padaku karena memiliki Mas.