Tidak berambisi jadi yang terdepan juga tidak apa-apa. Ingin menjadi yang biasa-biasa pun juga boleh-boleh saja. Kamu tak harus besar, kamu hanya perlu tetap hidup.

❣ Chile in a Photography ❣
Keni

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Three Goblin Art

Product Placement
art blog(derogatory)
noise dept.
styofa doing anything
trying on a metaphor

@theartofmadeline
todays bird

tannertan36

祝日 / Permanent Vacation
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
Misplaced Lens Cap
Show & Tell

★
Stranger Things

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Canada
seen from France

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from France
seen from United States

seen from Netherlands
seen from China

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from South Korea
@katatitta
Tidak berambisi jadi yang terdepan juga tidak apa-apa. Ingin menjadi yang biasa-biasa pun juga boleh-boleh saja. Kamu tak harus besar, kamu hanya perlu tetap hidup.
Aku
"Jika hidup hanya sekedar bertahan hidup, babi hutan juga hidup"
"Jika kerja hanya sekedar kerja, kera juga kerja"
Lalu, aku?
Mungkin saat ini akulah babi hutan itu, hidup hanya sekedar bertahan hidup!
Mungkin saat ini akulah kera itu, kerja hanya sekedar kerja!
Walau begitu, aku tak ingin pulang dengan tangan kosong.
inginku, pulang yang dirayakan
New 💡 https://www.instagram.com/p/B08DWYUhvkohKItpmenczWdlW_RfX2aksxYEFA0/?igshid=asj4iba219du
Stratovolcano (active) 2958 Meters Above Sea Level The second highest place in West Java. I.. Low before allaah (at Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]) https://www.instagram.com/p/B0IpMSLh1W5_M9iJhrN9KLmwPRG4swTKxfO72s0/?igshid=h9ixnbb7195a
Bismillaah,
Alhamdulillah, beberapa minggu ini saya dipaksa semesta belajar lagi tentang, "Mengarungi Bahtera Rumah Tangga".
Salah satu sahabat yang sekaligus menjadi guru saya pernah berkata "menikah itu tentang ilmu" kakak yang juga sekaligus guru saya pun pernah berkata hampir sama seperti itu. Lalu, kata2 itu membuat mindset saya menjadi "menikah itu adalah belajar setiap hari". Loh kok belajar? Bagi saya menikah bukan hanya tentang kesiapan akad dan resepsi saja. Tapi tentang bagaimana saya akan hidup bersama orang yang tidak sebanyak ibu mengenal saya, tidak sebanyak bapak mengenal saya, juga tidak sebanyak keluarga mengenal saya. Tentang bagaimana saya akan hidup bersama orang asing, yang nantinya akan menjadi orang yang lebih banyak dari ibu, bapak, dan keluarga mengenal saya.
Saya tidak pernah khawatir akan kapan tepatnya waktu dan sosok itu datang. Keyakinan saya, sepenuhnya dari hidup adalah takdir allaah yang sedang saya perjuangkan. Apapun itu!
Banyak orang terlalu khawatir dengan usia. Ketika usia seorang perempuan sudah berada di angka 25, dan ia belum menikah maka itu akan menjadi "musibah" bagi ia, ibu, bapak, dan keluarganya.
Lalu saya heran, mengapa usia seperti menjadi patokan untuk seseorang sudah siap menikah? Bagaimana jika ilmunya belum cukup? Bagaimana jika ia tidak tau visi dan misi dari menikah itu apa? Bagaimana jika tujuan menikahnya salah?
Prinsip saya, menikah bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi tentang siapa yang paling siap ilmunya.
Dan senjaku tidak lagi tentangmu
Teruntuk Dia yang Kusebut Luka
Sudah hampir satu tahun berlalu sejak hari itu, aku gak ingin bilang kalau waktu cepat sekali berlalu, bukan itu .. karena bagiku, satu tahun terakhir ini rasanya waktu bergulir lebih lama dari biasanya.
Aku sebenarnya gak ingat tanggal pastinya, aku cuma ingat waktu itu oktober, pertama kali kamu tersenyum di depan mataku, iya .. ini bulan yang sama saat kita pertama kali bertemu satu tahun yang lalu.
Aku sendiri juga gak tau harus menyebutnya apa, apa harus ku bilang ini bagian dari kenangan manis yang samar-samar masih tersisa padahal nyatanya aku terluka parah ? atau aku harus berkata ini cerita pahit yang menghantui hingga aku gak tau caranya melupakan tapi aku bahagia karenanya ? Aku masih gak tau harus menyebutnya apa.
Hari ini kupu-kupu hitam di jendela rumah mengingatkanku padamu, aku juga gak tau kenapa harus kupu-kupu hitam. Mungkin itu ibarat simbol luka, iya .. luka yang masih coba ku obati hingga hari ini.
Tapi aku sudah terbiasa disini, sendirian. Lebih tepatnya aku sudah bisa membiasakan diri, aku juga sudah belajar banyak caranya merelakan, dan aku juga tau bagaimana caranya mengikhlaskan. Aku sudah belajar banyak setelah mengenalmu. Luka ternyata memang mengajarkan banyak hal, meski nyatanya dia belum benar-benar sembuh.
Aku pernah membuat janji pada diriku sendiri, kalau aku gak akan memulai kisah baru sebelum aku bisa ikhlas. Sebelum merelakanmu jadi semudah hari ini, Itu dulu .. waktu cinta masih gak mau pergi. Itu dulu .. Sekarang kita kan sudah gak pernah ketemu, kalau bisa kita gak usah ketemu. Aku rasa itu jauh lebih baik. Perasaanku berantakan pun sebenarnya karena aku bodoh menaruhnya terlalu dalam pada yang gak tau caranya menggunakan hati.
Dan aku belum pernah membuka pintu lagi setelah kepergianmu, aku belum bisa. Bukan gak pernah mencoba, mungkin masih belum waktunya. Aku belum siap menerima tamu, karena aku takut, kalau aku sudah memintanya untuk tinggal dan memberikan kunci, dia pergi, seperti kamu.
Entahlah, rasanya memulai belum pernah seberat ini sebelumnya, sebelum kita pernah saling mengenal.
Mungkin gak ada hal yang lebih menyakitkan ketimbang harus menghitung mundur dari hanya sedikit waktu yang tersisa sebelum aku benar-benar kehilangan kamu. Dulu itu yang menurutku paling menyakitiku. Tapi setelah semuanya berakhir, ternyata lebih menyakitkan ketika aku harus memaksa diriku untuk terbiasa dengan ketiadaan ini.
Tapi pada akhirnya aku bisa, aku bisa membiasakan diri, aku bisa melupakan bahwa dulu kamu pernah ada. Aku bisa untuk tidak lagi mengingat bahwa yang pernah sangat kucintai punya cinta lain yang membuatnya tak bisa mencintaiku.
Oh yaa, sekarang aku sudah gak pernah lagi beli pulpy orange, karena diminuman itu ada kenangan bersamamu yang harus dilupakan.
*teruntuk dia yang kusebut luka
ter-daeeeeeeebak !
Memang susah, membiasakan untuk tidak mengupload, memfollow akun, memberikan like/komen, meng-kepo-i, atau memposting apa pun ke media sosial. Lebih sulit lagi untuk menonaktifkan atau menghapus aplikasi sosial media yang terlanjur kita punyai, kita hidupi, kita candui, dan bahkan kita budakkan diri sendiri lewatnya.
Tapi bisa kok. Pelan-pelan. Yuk, sama-sama. Karena di zaman ini, justru hati lebih terasa hampa ketika terlalu banyak mainan sosmed.
betul sekali !
… adalah seseorang yang seringkali lupa mendoakan dirinya sendiri hanya karena terlalu sibuk mendoakan anaknya.
Ibu. (via fzrmly)
Dabest 😍
Memori
Got this from fiersabesari.webs.com/journal dan pertama kali baca ini tengah malam saat diluar hujan. Tahu yang dirasa, kan?
Kau ingat pertama kali kita bertemu? Matamu bertemu mataku, tanganmu menjabat tanganku, senyummu menyapa jantungku, kau menjajah pikiranku.
Kau ingat pertama kali kita saling mengikat? Dua orang yg terasing dari dunia. Kau bilang kita berdua harus mendefinisi ulang kata “cinta”. Kau ingat pertama kali kita merencanakan masa depan? Hidup tak pernah semanis itu. Masa depan adalah bingkai, dan fotomu yg ada di dalamnya.
Kau ingat saat aku menyakiti hatimu? Aku merasa jadi orang terbodoh sedunia. Betapa “kesempatan” adalah hal paling mahal, dan kau beri itu.
Kau ingat saat kau menyakiti hatiku? Mungkin kau khilaf, mungkin kita kurang berdialog, mungkin, mungkin dan mungkin yang lain. Entahlah. Kau ingat jalan pulang? Sehancur apapun hatiku,tak pernah kubiarkan pintu tertutup.
Mereka bilang ini “kebodohan”, aku bilang ini “keyakinan”. Kau ingat mengapa hari ini kita bisa jadi dua orang asing yg hampir tak pernah saling menyapa? Aku tidak ingat alasannya.Kau pergi tiba-tiba. Kau ingat menitipkan doa pada Tuhan untukku malam ini? Mungkin kau tidak ingat, tapi tak pernah seharipun aku lupa.
Kau tak perlu ingat aku, tak perlu ingat merindukanku, tak perlu ingat mendoakanku. Kau hanya perlu ingat untuk bahagia. Itu saja cukup. Aku mengingatmu seperti dulu, tak pernah sedikitpun berubah :)
Dan hari ini kita bertemu, apa kau ingat ?
30 Januari 2018
Aku tidak tau apa yang akan aku tuliskan sekarang, hanya saja aku yakin nanti aku akan ingat hal apa yang ada di tanggal tersebut
Teruntuk dirimu
Kadang yang harus kamu utamakan itu bukan seberapa pentingnya dirimu untuk orang lain , tapi seberapa pentingnya orang lain untuk dirimu . Kamu tidak sendiri dimuka bumi ini bahkan tidak bisa sendiri . Walaupun kamu merasa tidak punya siapapun setidaknya kamu punya dirimu sendiri .
Salam sayang dari dirimu .
Aku seperti melihat diriku 15 tahun yang lalu, bermain dengan benda bisu tapi bagiku itu menyenangkan tidak membuatku sakit hati juga tidak membuatku menyakiti hati . Berada dalam imajinasiku sendiri itu sangat seru aku bisa menjadi apa saja yang aku mau dan tidak perlu persetujuan siapapun, itu asik bukan ? Menyenangkan . THE INTROVERT
What are you feeling?
Nothing.
MEMISKINKAN DIRI
”Padahal parkir cuman bentar doang, tapi harus bayar seribu. huft”
“Bu, kurangin dong bu harganya, disana lebih murah loh bu.”
—
Setiap manusia, tanpa disadari, dia hidup dengan harta yang berkecukupan. Bukan saja berkecukupan, tapi banyak juga yang diberi kelebihan harta. Tidak hanya untuk sekedar makan, kita juga bisa membeli handphone, kendaraan, pulsa, pakaian, barang-barang apapun yang mungkin bisa memuaskan hawa nafsu kita. Ya, sesungguhnya, manusia itu kaya.
Tapi seringkali, kita ini bertingkah, seolah kita ini tidak punya uang sama sekali.
—
Pernahkah kita menggerutu hanya karena harus bayar parkir 1000 rupiah karena kita parkir di sebuah minimarket?
Pernahkah kita menawar habis-habisan seorang pedagang agar mau menurunkan harganya serendah mungkin?
Pernahkah kita merasa kesal karena ada pengemis yang meminta ketika kita sedang makan?
Ya, tidak dipungkiri, kita pernah mengalami ini semua.
—
Pernahkah kita berfikir sejenak. Mengapa ketika kita mengeluarkan uang 5 ribu, 10 ribu, atau bahkan 20 ribu untuk jajan, kita tidak pernah menggerutu? Tapi ketika berurusan dengan rezeki orang lain, uang 1000 saja kita bela mati-matian.
Kita tidak ikhlas tukang parkir mendapat 1000 rupiah, anehnya kita ikhlas jika harus bayar puluhan ribu untuk parkir di mall. Kita tidak ikhlas ketika pedagang itu tidak mau menurunkan harga, anehnya kita tidak pernah menawar dan ikhlas mengeluarkan uang untuk barang-barang mahal di tempat belanja ternama.
Hati-hati, bisa jadi kita ini adalah orang kaya yang sedang memiskinkan dirinya.
—
Bayangkan,
1000 rupiah bagi kita, hilang pun tak seberapa. Tapi bagi tukang parkir, itu adalah uang yang bisa dia belikan makan untuk hari itu.
2000 rupiah bagi kita, hilang pun mungkin tak terasa. Tapi bagi seorang pedagang di pasar, itu bisa menjadi 4 potong tahu yang bisa dimakan untuk anak-anaknya malam hari nanti.
Beberapa ribu yang kita bela mati-matian, toh tidak akan jadi apa-apa ketika berada di saku kita. Tapi akan menjadi hal yang sangat berharga, bila masuk dalam kantong mereka.
Tidak seberapa bagi kita, tapi berarti bagi mereka.
Sudahi menawarnya, sudahi mengeraskan hatinya. Jika ada beberapa ribu yang harus kita keluarkan lebih, anggap saja sedekah. Maka kita akan meninggalkannya dengan tenang.
Bukankah kita ini orang kaya? Lalu, kenapa kita memiskinkan diri? Jangan-jangan, kita ini tidak sedang miskin harta, kita ini sedang miskin hati.
Jika kita masih sering memiskinkan diri, hati-hati, itu tandanya kita sedang menjadi orang yang tidak ikhlas melihat orang lain mendapat rezeki dengan mudah. Dan bukankah itu perilaku orang-orang yang iri dan dengki?
Wallahu’alam bishawwab
MEMISKINKAN DIRI Bandung, 16 Februari 2017
"Jangan-jangan kita ini miskin hati" يا الله
Perihal seseorang yang drastis berubah, seringkali bukan karena benar berubah sekarang, namun… dia baru menunjukkan keasliannya sekarang. Karena semua orang jelas bebas menilai. Namun tetap diri sendiri yang memutuskan, apa yang hendak diperlihatkan pada semua orang
Tia Setiawati (via karenapuisiituindah)
Lelaki sejati pasti punya hati bukan? Sepertinya anda tak cukup lelaki yang pantas untuk ditangisi . Lalu apa?
Tanpamu tak membuat kami mati.