Semakin hari, semakin terbentuk.
Sebuah anyaman yang terpilih sebagai candu dari nadi kehidupan.
Setiap harinya, senantiasa teranyam rapi ibarat maha karya yang memukau sanubari.
Bukan tanpa halauan yang tak berarti.
Jungkat-jungkit asa dan keluh dalam menyelesaikan alur setiap problema yang datang, tidaklah semudah kisah dalam nirwana.
Aku memaknainya sebagai sebuah upaya.
Upaya yang selalu kau bicarakan-perjuangkan.
Walau zeus berkata kau tiadalah mengerti mengenai arti sebuah jalinan,
Tak sampai dipelupuk mata ini terbesit hasrat menghiraukanmu.
Kilauan senja yang disuguhkan oleh berjuta-juta pandangan dari setiap pasang mata kepadaku,
Kilaunya tak mampu meredam perangai mu.
Cahaya mu terlalu memekikan mata ini.
Membias lalu membekas disela-sela arteri.
Meski ku tahu, ku hanya manusia biasa.
Yang selalu ingin dipahami lebih olehmu dengan pemahaman yang ala kadarnya terhadapmu.
Egois? Tentu saja. Hakikatnya sudah begitu.
Namanya juga manusia. Sebatang kara tak mampu, berkerumun namun tak diperhatikan.
Sadar memang, kau datang disaat luka yang tergores sedang menganga
Hanya perih dan perih yang kurasa
Kau tawarkan oase ditengah gurun kehampaan
Ku mengira bahwa kau yang datang entah dari mana, hanya membawakan seteguk kebahagiaan fatamorgana
Semakin hari semakin terbentuk.
Kau ternyata memang lah tulus mengupayakan.
Mengupayakan apa yang seharusnya terjalin nanti, disuatu masa kedepan
Mengajarkan ikhlas tanpa harus pamrih
Mengajarkan arti saling melengkapi diantara setiap kekurangan
Dan meyakinkan ku untuk membersamai dalam,
Merancang sebuah kisah klasik di suatu masa.
-Selamat hari berteman yang ke-665 hari, partner ku-