Berawal dari sebuah percakapan dengan teman-teman saat menikmati waktu senggang dengan memandangi Gunung Bromo, saat itu kami sedang kuliah lapangan Kebijakan Publik di suatu desa yang terletak di kawasan Gunung Bromo.
Percakapan pun bergulir di antara kami sembari memandangi pemandangan dengan decak kagum yang luar biasa..
Teman 1: “Subhanallah ini bagus banget aku ga percaya dengan yang kulihat!”
Teman 2: “Ini sih benar-benar definisi nikmat tuhanMu yang manakah yg kamu dustakan”
Aku: “Aku ga rela pulang! Bisa ga ya pemandangan ini dibungkus? Kita bawa ke Surabaya aja buat kita nikmati saat stress mengerjakan proposal skripsi..”
Teman 1: “Iya betul juga. Kalo begini sih proposal skripsiku cepat selesai karena inspirasi berdatangan”
Aku: “Tapi sayang miskin sinyal!”
Teman 2: “Ini sih kayak Swiss tau ga”
Lalu aku terbawa pemandangan didepanku ini, wujud kebesaran dan karunia Tuhan yg kuabaikan.. Entah mengapa tetiba mataku berkaca-kaca
Membayangkan Indonesia begitu besar, rasanya aku merasa tidak ada harganya. Tapi saat seperti inilah hati terusik, panggilan jiwa seolah menyambut berbisik padaku "lalu apa yang bisa kau lakukan untuk menjaga semua ini?"
Lalu aku pun menyambung percakapan yang sempat terhenti
“Indonesia itu besar ya! Bayangkan pemandangan ini saja hanya di Jawa lo, bagaimana dengan pulau lainnya? Raja Ampat Papua misalnya, ah pasti sangat indah! Pemandangan itu semua yang kita miliki dan jaga, aset yg demikian besarnya pasti menghasilkan banyak kemaslahatan bila terkelola dengan baik”
Teman 2: “Iya! Kita harus jadi orang besar ya agar kita bisa turut andil mengelola negeri ini dengan baik.”
Teman 2: Kalau kamu jadi PNS mau gak ditempatkan di tempat yg spt ini? Keindahan alamnya luar biasa, tapi akses kemana-mana susah..
Lalu aku ingin menjawab "mau! Kan itu sudah jadi panggilan kita sebagai abdi negara"
Tapi, kutahan jawaban ini kupikir ulang...
Selama ini aku hidup di kota menikmati banyak fasilitas, terus pkl begini Jalan Naik turun bukit, tidak ada sinyal saja mengeluh melulu bawaannya, apalagi di daerah 3T?sanggupkah aku bertahan mengabdi setulus hati? Ah bergurau! Itu kan hanya teorimu saja!
Jawaban yang keluar dari bibirku : ” hmmmm gak tahu hahaha”
Aku pun tenggelam dalam pikiranku sendiri. menyelam jauh ke dalam, mencari makna "abdi negara" bagiku, menggali ulang alasanku keputusanku untuk mengambil jurusan ilmu administrasi negara
aku senang bisa membantu banyak orang! Aku merasa berenergi sekali ketika membantu menyelesaikan masalah mereka. Aku ingin hidupku melayani masyarakat dengan baik, menjaga negeri ini dari tangan jahil.
Seperti pejabat rendah hati, amanah, dengan karya luar biasa dari Bu Risma, Bu Sri Mulyani, Pak Habibie.
Seperti Mbah Sadiman yg melakukan reboisasi hutan wonogiri secara konsisten selama 20 tahun.
Aku ingin mengabdi dengan semangat berkarya luar biasa dan penuh kebermaknaan seperti itu. Terlepas peran menjadi apa, aku sendiri masih mencari, entah jadi PNS atau konsultan publik. Tetap kuupayakan apapun peran yang diambil mengarah pada peran pengabdian dan penyelesaian masalah masyarakat.
Terima kasih PKL!
Jadi begini cara Tuhan menyadarkanku akan karunianya..












