14 Juli 2016 Konferensi Pers Festival Indonesia bersama desainer Ferry Sunarto di Jakarta. #FestivalIndonesiaMoscow2016 #kbrimoskow #FerrySunarto #Indonesia #Jakarta (at Moscow, Russia)
One Nice Bug Per Day
Misplaced Lens Cap

❣ Chile in a Photography ❣

No title available

shark vs the universe
tumblr dot com
trying on a metaphor
almost home

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
TVSTRANGERTHINGS

JVL

Kiana Khansmith

titsay

izzy's playlists!
sheepfilms
Xuebing Du
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
𓃗
Keni
seen from Chile

seen from Canada
seen from United States
seen from Uruguay
seen from Iraq
seen from Malaysia
seen from Jordan
seen from Portugal
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from Brazil
seen from Bangladesh

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Jamaica

seen from Brazil
seen from Canada

seen from Pakistan
@kbrimoskow
14 Juli 2016 Konferensi Pers Festival Indonesia bersama desainer Ferry Sunarto di Jakarta. #FestivalIndonesiaMoscow2016 #kbrimoskow #FerrySunarto #Indonesia #Jakarta (at Moscow, Russia)
Girangnya Mahasiswa Indonesia bertemu Menteri Sofyan Djalil di Kazan
Ajakan makan malam langsung diiyakan oleh Syiki, mahasiswi S1 jurusan Airplane Engineering, di Kazan National Research Technical University, yang diminta untuk mengkoordinasikan keinginan Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, untuk dapat makan malam sambil bertatap muka dengan para mahasiswa Indonesia di Kazan. Saat ditanyakan apakah bisa datang makan malam, semua kawan-kawan mahasiswa Indonesia di Kazan, langsung setuju konfirmasi bisa hadir. Seluruh mahasiswa Indonesia di Kazan yang berjumlah 11 orang tersebut, semuanya hadir full team, tanpa terkecuali. Ditambah ikut hadir juga di antara para mahasiswa yaitu 1 orang pelajar SMA dari Indonesia, yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Kazan.
Kapan lagi bertemu Menteri, mungkin begitu pikir para generasi muda Indonesia, yang memilih Rusia untuk menempuh studi pendidikan tinggi. Rusia merupakan negara yang memiliki keunggulan dalam bidang sains dan teknologi. Sejumlah Universitas di Rusia memiliki reputasi yang cukup terpandang di antara negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS), maupun di dunia.
Kehadiran Menteri Sofyan Djalil di Kazan, adalah dalam rangka menghadiri pertemuan bilateral kedua negara pada tingkat pemerintah dan swasta. Karena itu, ikut juga para pengusaha Indonesia. Kazan dipilih karena merupakan kota yang maju di Rusia, baik dalam bidang industri maupun pendidikan. Kota Kazan merupakan ibukota Tatarsan, wilayah Federasi Rusia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Pertemuan dimaksud, antara lain, Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-10 Indonesia-Rusia dan Business Forum Indonesia-Rusia, yang diselenggarakan pada 9 April 2015 di Kazan, berlangsung sejak pagi hari dan ditutup pada sore hari. Sehingga malamnya, Pak Menteri dapat menjadwalkan berkumpul bersama para mahasiswa Indonesia di Kazan.
Menteri Sofyan Djalil sengaja ingin bertemu dengan para mahasiswa di Kazan, untuk dapat berdialog dengan para mahasiswa dan memberikan pesan-pesan terkait studi di luar negeri. Turut hadir juga dengan Menteri Sofyan Djalil pada pertemuan malam itu yaitu Dubes RI untuk Rusia, Djauhari Oratmangun serta beberapa pengusaha Indonesia, yang ingin juga menanyakan kepada mahasiswa Indonesia mengenai peluang pasar di Kazan dan daerah sekitarnya.
Dua mahasiswa, yaitu Hendro dan Syiki, yang telah nyaris 5 tahun berkuliah di Kazan, bahkan juga ikut aktif membantu para delegasi dan pengusaha dari Indonesia yang datang untuk menghadiri pertemuan di Kazan. Mereka berdua dengan semangat membantu sejak kedatangan hingga kepulangan para delegasi dan pengusaha Indonesia. Kedua mahasiswa ini sama-sama sedang menempuh kuliah S1 di Kazan, namun di kampus yang berbeda. Saat ini Hendro sedang kuliah S1 jurusan Equipment for Oil and Gas di Kazan National Research Technological University. Di Kazan, mahasiswa Indonesia yang kuliah S1 berjumlah 5 orang, sementara S2 berjumlah 6 orang.
Suasana makan malam bersama Menteri Sofyan Djalil terasa akrab dan diselingi senda gurau. Pak Menteri bertanya mengenai situasi kuliah mereka, jurusan yang diambil, dan latar belakang pendidikan para mahasiswa. Pertemuan yang berlangsung dengan santai dan cair ini, memungkinkan para mahasiswa berinteraksi, bertanya serta ngobrol secara langsung dengan Pak Menteri. Berbagai hal dan topik dibicarakan dan didiskusikan oleh para mahasiswa dengan Pak Menteri Sofyan Djalil.
Pada saat makan malam, mereka juga menceritakan rencana akan diadakannya kegiatan Simposium PPI Amerika dan Eropa, yang akan diadakan di Moskow pada bulan Mei 2015, dengan tuan rumah penyelenggara yaitu Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA). Kegiatan Simposium PPI Amerika dan Eropa direncanakan akan mengundang semua mahasiswa Indonesia yang sedang studi di wilayah Amerika dan Eropa, dengan menghadirkan sejumlah pembicara, dan mengambil tema mengenai ASEAN Community 2015.
Dengan adanya kesempatan berharga makan malam bersama pak Menteri, sebelum berpisah para mahasiswa berebut untuk menjepretkan kameranya untuk mengambil gambar bersama pak Menteri. Tak lama Pak Menteri berpamitan mengucapkan salam dan meninggalkan tempat makan yang berlangsung di salah satu restoran di tengah kota Kazan.
Pada kesempatan tersebut, Hendro dan Syiki menyampaikan bahwa mereka berdua siap lanjutkan ke S2 apalagi setelah diberi semangat sama Pak Menteri. Syiki, yang sedang studi S1 teknik pesawat ini malah siap nantinya untuk terus lanjut ke S3 sehingga bisa ‘ngalahin’ Pak Habibie dari segi usia. “Karena kalau lanjut, saya bisa selesai S3 teknik pesawat dalam usia 27 tahun”, ujar Syiki.
Demikian pula Hendro, yang anak medan ini, menunjukkan semangatnya untuk terus melanjutkan kuliahnya untuk mengejar cita-citanya menjadi ahli minyak. Selain itu, karena senangnya bertemu Menteri, Inda Sembiring, pelajar SMA program pertukaran pelajar di Kazan, malahan mohon izin untuk menuliskan pertemuan ini di blognya. “Selamat kembali ke tanah air Pak Menteri, terima kasih kami dikunjungi dan diajak makan dan ngobrol”, ujar salah satu mahasiswa. Sampai jumpa lagi ujar mereka beramai-ramai sambil melambaikan tangan. Para generasi muda Indonesia ini siap kembali untuk bangun Ibu Pertiwi setelah selesai menimba ilmu di Rusia.
Sofyan Djalil dan Denis Manturov bersepakat di Kazan
Suhu Kazan yang masih berkisar nol derajat dengan diselimuti kabut tidak menghambat kehangatan pesahabatan antara Indonesia dan Rusia. Petinggi kedua negara, Menko bidang Perekonomian Indonesia, Sofyan Djalil dan Menteri Perdagangan dan Industri Rusia, Denis Manturov, dengan senyum lepas dan berjabat erat saling menukarkan kesepakatan yang baru saja ditandatangani antara keduanya, dengan diiringi tepuk tangan meriah kedua delegasi.
Di kota Kazan, yang mayoritas penduduknya beragama Islam namun hidup berdampingan secara damai dengan penduduk beragama Othodoks dan agama lainnya, keduanya sepakat untuk memberikan makna ekonomi, yang dapat dinikmati oleh rakyat kedua bangsa dalam mengisi hubungan politik dan persahabatan yang erat antara kedua negara. Mereka sepakat bahwa jarak bukanlah hambatan untuk meningkatkan nilai perdagangan dan investasi antar kedua negara, mengingat bahwa produk kedua negara saling komplementer dan tidak bersaing satu sama lainnya.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada akhir pertemuan bilateral antara Indonesia dan Rusia dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-10 Indonesia-Rusia bidang Perdagangan, Ekonomi, dan Kerjasama Teknis (The Tenth Session of the Indonesian-Russian Joint Comission on Trade, Economic and Technical Cooperation), yang telah berlangsung pada tanggal 9 April 2015 di Kazan, Rusia.
SKB ke-10 Indonesia-Rusia telah berlangsung dengan lancar serta diketuai bersama (co-chairs) oleh Indonesia dan Rusia. Sidang terbagi menjadi dua sesi, yaitu sesi sidang komisi terbatas (tete-a-tete meeting) dan sesi sidang pleno (plenary session). Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Indonesia, Sofyan Djalil. Sementara itu, delegasi Rusia dipimpin oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Denis Manturov.
Target perdagangan Indonesia-Rusia sebesar 5 milyar USD tahun 2015, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Menteri Sofyan Djalil menyampaikan bahwa Indonesia punya Crude Palm Oil (CPO) yang berkualitas dunia, produk perikanan yang berlimpah karena illegal fishing yang sudah diberantas, produk manufaktur dan produk barang konsumsi serta produk pertanian unggulan, seperti kopi, teh, serta sejumlah produk lainnya yang siap masuk pasar Rusia, tentunya dengan standar yang sesuai dengan ketentuan, dan meminta pemerintah Rusia untuk memfasilitasinya. Selain itu, dengan sistem perizinan dan persyaratan investasi yang semakin baik di Indonesia, Menteri Sofyan Djalil mengundang para investor Rusia untuk datang ke Indonesia.
Pembangunan jalan kereta api di Kalimantan Timur, smelter Alumina di Kalimantan Barat, smelter ferronikel di Sulawesi, perakitan truk dan bus angkutan darat, dan kerja sama di sektor maritim, antara lain merupakan sejumlah proyek investasi Rusia yang mendapatkan perhatian pemerintah Indonesia.
Semua kesepakatan ini tertuang dalam dokumen Agreed Minutes of the Tenth Session of the Indonesian-Russian Joint Comission on Trade, Economic, and Technical Cooperation, sebagai hasil dari pertemuan bilateral tahunan Indonesia-Rusia ke-10 (Sidang Komisi Bersama ke-10 Indonesia-Rusia).
Tentunya, sektor pariwisata juga mendapat perhatian penuh dalam pembahasan tersebut. Menteri Sofyan Djailil secara terbuka mengundang Menteri Denis Manturov dan warga Rusia untuk berkunjung ke Indonesia yang akan membebaskan ketentuan visa bagi mereka. Undangan terbuka tersebut disampaikan, baik pada saat pertemuan resmi tertutup (tete-a-tete meeting) maupun terbuka (plenary session). Bahkan telah diputuskan oleh Menteri Sofyan Djalil bahwa pertemuan berikutnya, SKB ke-11 Indonesia-Rusia, akan diselenggarakan di Bali dan mengundang Menteri Denis Manturov dengan para pengusaha dan sebanyak mungkin investor Rusia. Selain menghadiri pertemuan resmi di Bali, sekaligus agar juga dapat berwisata ke Indonesia.
Setelah penandatanganan kesepakatan dokumen Agreed Minutes dilakukan, acara ditutup dengan konferensi pers (press statement) kedua Menteri terkait hasil pertemuan SKB ke-10 Indonesia-Rusia, yang dihadiri sejumlah media lokal dan nasional rusia dimana Menteri Sofyan Djalil dan Menteri Denis Manturov, diwawancarai secara khusus oleh media elektronik dan cetak nasional Rusia.
Setelah pertemuan, kedua Menteri bersama-sama dengan Presiden Tatarstan, serta didampingi Deputi Menko Perekonomian, Rizal Affandi Lukman, Dubes Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun, dan para delegasi lainnya meninjau perusahaan pabrik helikopter Rusia salah satu yang terbesar di dunia, Kazan Helicopter Plant JSC. Dalam kunjungan ke perusahaan Kazan Helicopter Plant, para delegasi melihat berbagai jenis helikopter dan berbagai modifikasi jenis helikopter, yang dapat digunakan untuk sipil dan militer.
Selanjutnya, para delegasi berkunjung ke Eidos Center of Medical Centre, yang dimiliki oleh Kazan Federal University. Eidos Center of Medical Centre, merupakan suatu pusat stimulator kedokteran medis untuk para mahasiswa yang belajar kedokteran dapat melakukan praktek operasi dengan dukungan teknologi yang menarik.
Menteri Sofyan Djalil dan sebagian delegasi Indonesia telah meninggalkan Rusia tanggal 10 April 2015 lalu, sementara sebagian pengusaha dari Indonesia masih melanjutkan pembicaraan dengan para mitranya dari Rusia, baik yang baru ditemui di Kazan, maupun yang telah melakukan komunikasi sebelum pehelatan di Kazan. Terima kasih kazan, yang telah menjamu Indonesia dengan sangat baik.
V�V��
Promosi Indonesia di Krasnoyarsk dan Forum Ekonomi
http://www.kemlu.go.id/moscow/Pages/Embassies.aspx?IDP=385&l=id
Dubes RI Djauhari Oratmangun didampingi Atase Perdagangan KBRI Moskow Heryono Hari Prasetyo berkunjung ke Krasnoyarsk guna memenuhi undangan Wakil PM Rusia A.V. Dvorkovich dan Gubernur Krasnoyarsk Kray V. A. Tolokonsky dalam “12th Krasnoyarsk Economic Forum” , yang diselenggarakan pada tanggal 26 – 28 Februari 2015, bertemakan “Russia and The Asia Pacific Countries: From An Integration Policy to Development Projects.”
Forum dihadiri sekitar 2500 peserta termasuk 250 peserta asing dari hampir 40 negara, antara lain para pejabat pemerintah pusat dan daerah Rusia, pengusaha, perbankan, ahli ekonomi, media massa dan masyarakat umum. Krasnoyarsk kray berjarak 6600 km tenggara Moskow dan memiliki luas 2,3 juta km2 serta penduduk 2,8 juta jiwa. Krasnoyarsk kaya akan sumber daya alam emas, aluminium, migas dan kayu.
Dalam sambutan pembukaan, Wakil PM Rusia Arkady Dvorkovich yang merangkap Ketua Panitia Forum, menjelaskan pentingnya forum ini sebagai wadah pebisnis, pakar, pejabat dan masyarakat luas Rusia dan internasional mendiskusikan proyek-proyek pembangunan bersama di Krasnoyarsk, khususnya dan Rusia, umumnya. Secara khusus Arkady menyinggung kerjasama Rusia dan negara-negara Asia Pasifik dan BRICS yang sangat menjanjikan dan pertumbuhan ekonomi Rusia ke depan.
Sementara itu Gubernur Krasnoyarsk Kray V. A. Tolokonsky menjelaskan kondisi dan potensi Krasnoyarsk seperti PLTA, pertambangan, perkayuan dsb yang potensial dikembangkan bersama investor asing. Gubernur Krasnoyarsk, juga menyebutkankerjasama Rusia dengan RRT, Korea, Jepang, Singapura, Taiwan, India, Brazil, dan Afrika Selatan di bidang investasi, keuangan, iptek dan pendidikan, sangatlah potensial dikerjakan bersama.
Dalam kesempatan penyampaian paparan, Dubes RI Djauhari Oratmangun menyampaikan kemajuan ekonomi Indonesia berkat iklim berusaha yang kondusif bagi investor asing. Dubes Djauhari juga menyinggung komitmen hubungan TTI (trade, tourism and investment) kedua negara yang semakin kuat pasca pertemuan Presiden RI dan Presiden Rusia disela-sela KTT APEC di Beijing tanggal 10 November 2014 yang akan direalisasikan lebih lanjut melalui Sidang Komisi Bersama (SKB) Indonesia – Rusia di Kazan, Rusia, pada tanggal 7-9 April 2014.
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi undangan yang diberikan Pemerintah Provinsi Krasnoyarks dan penyelenggara Forum Ekonomi kepada kami dan sebaliknya kami juga mengundang warga Krasnoyarsk untuk melaksanakan kegiatan ekonomi di Indonesia serta berkunjung dan menikmati 5-S di Indonesia, yakni Sun, Sea, Smile, Sand and Service,” ujar Dubes Djauhari dalam forum tersebut.
Dalam pertemuan dengan Wakil PM Arkady Dwarkovich antara lain dibahas potensi kerjasama antara Indonesia dan Rusia dan rencana Wakil Ketua Pemerintah Rusia untuk berkunjung ke Indonesia dalam rangka misi bisnis pada bulan April 2015.
Dalam pertemuan dengan Gubernur Krasnoyarks dikemukakan mengenai kemungkinan penyalanggaraan Forum Promosi TTI Indonesia di Krasnoyarsk dengan partisipasi perusahaan-perusahaan Indonesia yang berminat untuk kerjasama dengan Rusia yang akan perkenalkan potensi ekonomi Indonesia kepada pelaku bisnis Rusia dan bisa melihat secara langsung peluang kaya ekonomi daerah Krasnoyarsk.
Pada tanggal 28 Ferbruari 2015, Dubes Djauhari juga melakukan kunjungan ke Krasnoyarks Alumunium Smelter, yang merupakan salah satu Smelter terbesar di dunia yang digunakan RusAl sebagai tempat pengujian dan memperkenalkan perkembangan teknologi baru RusAl. Dubes diterima langsung oleh Managing Director dari Krasnoyarks Alumunium Smelter, Leonid Ragozin, untuk melihat langsung proses pengecoran sekaligus memperoleh penjelasan mengenai keunggulan Krasnoyarks Alumunium Smelter. Dalam pertemuan dibahas perkembangan kerjasama RusAl dengan mitranya di Indonesia, yang sudah pernah berkunjung ke pabrik RusAl pada akhir tahun lalu.
Irene Kharisma Sukandar Juarai Turnamen Catur Moscow Open Chess Cup 2015
http://www.kemlu.go.id/moscow/Pages/Embassies.aspx?IDP=384&l=id
Suasana Penghitungan Suara di TPS KBRI Moskow
Indonesia turut andil menghangatkan suasana di Minsk, ibukota Belarus dengan kembali meramaikan Pameran Pariwisata "Othdyk", setelah absen selama dua tahun berturut turut.
Perekonomian Belarus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir yang menyebabkan masyarakatnya semakin antusias untuk melakukan kunjungan wisata ke luar negeri, dan wisatawan Belarus ke Indonesia setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Kedepannya kiranya hal ini dapat diakomodir oleh pihak Indonesia, karena ciri khas masyarakatnya kurang lebih sama dengan masyarakat Rusia. Hal ini diungkapkan oleh Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan merangkap Republik Belarus, Djauhari Oratmangun, di sela sela pembukaan pameran tersebut oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Belarus H.E Mr. Boris Svetlov di gedung BelExpo, Minsk, tanggal 9-12 April 2014.
Masih menurut Djauhari, intensitas kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Belarus terus meningkat, khususnya dalam kerangka investasi dan perdagangan, terlebih sejak kunjungan Presiden Belarus Alexander Lukashenko ke Jakarta pada bulan Februari 2013. Untuk melengkapi kerjasama tersebut, sektor pariwisata dan kebudayaan kiranya dapat digarap secara maksimal, untuk lebih mendekatkan masyarakat Belarus agar secara langsung mengenal Indonesia, baik dari keindahan alam dan budayanya, serta masyarakatnya.
Untuk itu, KBRI Moskow tidak menyianyiakan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam acara pameran pariwisata terbesar di Belarus. Pameran tersebut diikuti oleh 200 peserta dari berbagai perusahaan travel dari Belarus dan Rusia yang menjual berbagai paket tur ke Asia antara lain Tiongkok, Jepang, Thailand, Vietnam dan Indonesia, serta perwakilan negara - negara antara lain Latvia, Polandia, Bulgaria, Turki, Kuba, Rusia, Lithuania, Slovakia, Jerman, Inggris dan negara - negara Skandinavia yang dihadiri oleh 40 000 pengunjung.
Banyak pengunjung pameran sangat antusias untuk menanyakan informasi tentang Indonesia, terutama berbagai destinasi favorit, paket tur, dan pengurusan visa yang saat ini hanya bisa dilakukan di Moskow. Tidak sedikit pengunjung yang belum mengetahui keberadaan Indonesia, sehingga keikutsertaan KBRI Moskow dalam kegiatan kali ini sekaligus mengenalkan Indonesia melalui diskusi dan penjelasan display material yang dipajang di anjungan Indonesia.
Menurut salah satu pengunjung dalam pameran tersebut, Igor Zakharenko mengatakan bahwa dirinya beberapa kali melakukan kunjungan ke Indonesia, khususnya Bali, dan selalu merekomendasikan kepada keluarga, sahabat dan kolega untuk berkunjung ke Indonesia. Hal senada juga dikatakan oleh pengunjung lainnya Elena Nikolaeva yang memuji keindahan alam Indonesia serta keramahtamahan penduduknya, yang menurutnya ternyata sangat mirip dengan masyarakat Belarus.
Namun sejumlah pengunjung juga mengeluhkan tentang penerbangan dari Minsk ke Jakarta yang terbilang cukup mahal serta harus melakukan transit di sejumlah tempat sebelum sampai di Jakarta serta pengurusan visa yang harus dilakukan di Moskow. Untuk itu mereka mengharapkan kiranya dalam waktu dekat pihak Indonesia dapat memberikan kemudahan bagi pemegang paspor Belarus untuk mendapatkan visa on arrival atau membuka perwakilan Republik Indonesia di Minsk.
Peserta Program BSBI Reguler dan Kekhususan 2014 asal Rusia siap menuju Indonesia
Tatiana Andreeva atau akrab disapa Tanya, sudah lama bermimpi bisa berkunjung ke Indonesia, negeri impian yang selalu ada dalam ingatannya. Mahasiswi tahun ketiga di Institut Negeri Hubungan Internasional Moskow (MGIMO) akhirnya meraih mimpinya berkunjung ke Indonesia setelah lolos seleksi Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) tahun 2014 dari Kementerian Luar Negeri RI.
Selain Tanya yang akan mengikuti BSBI Reguler Seni dan Budaya, lolos juga teman kampusnya, Ekaterina Kuznetsova, yang akan mengikuti BSBI Kekhususan untuk mendalami berbagai pengetahuan mengenai Indonesia. Pengetahuan Tanya dan Ekaterina mengenai Indonesia sudah cukup banyak karena di kampus MGIMO mereka mengambil spesialisasi Studi Indonesia. Kemampuan berbahasa Indonesia mereka juga sudah cukup baik, terutama Tanya yang juga sudah menghasilkan beberapa artikel menarik dalam Bahasa Indonesia di situs Russia Beyond The Headlines seksi Indonesia.
Sebelum keberangkatan menuju ke Indonesia, Tatiana dan Ekaterina telah mendapatkan pengarahan dari Duta Besar RI Moskow, Djauhari Oratmangun. Dalam pertemuan di ruang kerja Duta Besar RI tersebut sekaligus juga dilakukan penyematan pin Indonesia kepada keduanya. Pin Indonesia ini biasa diberikan kepada sahabat-sahabat Indonesia di Rusia untuk semakin mendekatkan hubungannya dengan Indonesia.
"Saya berharap kalian memanfaatkan waktu selama 3 bulan di Indonesia untuk menarik sebanyak mungkin pengetahuan dan pengalaman mengenai Indonesia mulai dari bahasa, seni dan budaya, sejarah hinggga kuliner. Pengetahuan dan pengalaman ini diharapkan dapat disebarluaskan nantinya sekembali ke Rusia," ujar Dubes Djauhari .
Tatiana yang sudah lama menyimpan harapan bisa berkunjung ke Indonesia sangat senang mendapatkan kesempatan ini.
"Terimakasih banyak atas kesempatan yang sangat berharga ini. Rasanya kami masih seperti bermimpi ," ungkap Tanya senang.
Ekaterina dan Tatiana akan berada di Indonesia selama 3 bulan dan bersama-sama puluhan generasi muda lain dari berbagai negara akan mengikuti Program BSBI Reguler dan Kekhusan yang merupakan program tahunan Kementerian Luar Negeri RI untuk menyebarluaskan pengetahuan seni dan budaya serta sejarah dan perkembangan terkini mengenai Indonesia.
Alumni Program BSBI ini diharapkan dapat menjadi Indonesianis atau sahabat Indonesia di negara setempat khususnya di kalangan generasi muda yang akan menjadi jembatan penghubung peningkatan kerjasama Indonesia dengan negara peserta. Alumni BSBI dari Rusia misalnya cukup aktif menyebarluaskan pengetahuan mengenai Indonesia dan membagi pengalamannya kepada generasi muda lainnya di Rusia.
Bakorkamla Jajaki Kerjasama dengan Rusia
Delegasi Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) RI yang dipimpin oleh Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar), Laksdya TNI Bambang Suwarto telah melakukan kunjungan kerja ke Federasi Rusia pada tanggal 17-23 Februari 2014.
Kunjungan diadakan dengan tujuan untuk menjajaki peluang kerjasama dan bertukar pengalaman dengan pihak-pihak yang menangani bidang kelautan/perairan di Rusia mengenai pengelolaan early warning system yang dikaitkan dengan penggunaan radar. Kunjungan tersebut juga dilaksanakan guna mendukung upaya peningkatan sumber daya manusia di Bakorkamla.
Dalam kesempatan pertemuan Delegasi Bakorkamla dengan Duta Besar RI Moskow, Djauhari Oratmangun, telah dibahas mengenai arti penting dan posisi strategis aspek kemampuan nasional di bidang keamanan laut dalam menjaga keutuhan NKRI.
Menurut Laksda TNI Bambang Suwarto, Bakorkamla memiliki potensi kerjasama yang dapat dikembangkan dengan pihak Rusia, antara lain dalam melengkapi Regional Coordinating Center (RCC) Bakorkamla terutama di daerah perbatasan dengan Radar Jarak Jauh/Over the Horizon (OTH) yang menjangkau jarak 200 s.d 250 NM.
Sebagai negara yang sama-sama memiliki luas laut dan wilayah perairan yang luas, Indonesia-Rusia memiliki kepentingan serupa terkait isu keamanan dan keselamatan laut. Rusia sebagai negara yang memiliki kemampuan teknologi pendeteksian maju menjadi salah satu mitra yang dapat memenuhi kebutuhan peralatan/ perlengkapan bidang keamanan dan keselamatan laut di Indonesia.
Kunjungan Bapak Yul Edison, Kepala Fungsi Pensosbud KBRI Moskow ke High School of Economy, Moscow, 14 Februari 2014
Russian State Social University (RSSU) Tertarik Jalin Kerjasama dengan Universitas di Indonesia
Kerjasama pendidikan antara Indonesia dan Rusia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai negara dengan tingkat ilmu pengetahun dan teknologi yang tinggi, Rusia adalah mitra kerjasama yang memiliki banyak potensi. Terkait hal tersebut, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia, Djauhari Oratmangun mengunjungi Russian State Social University (RSSU) pada 18 Februari 2014 untuk menjajaki peluang kerjasama dan memberikan kuliah umum.
Sebagai universitas yang didirikan pada tahun 1991, RSSU dapat dikatakan sebagai salah satu universitas terbaru di Rusia. Universitas tersebut didirikan pada tahun dimana Uni Soviet secara resmi berakhir untuk mengisi kebutuhan akan ahli-ahli ilmu sosial.
“Waktu zaman Uni Soviet tidak ada ahli ilmu sosial. Ketika sistem komunis runtuh, universitas ini didirikan untuk mencetak ahli-ahli di berbagai bidang imu tersebut,” demikian dinyatakan Rektor Vasily Zhukov ketika menerima Duta Besar RI.
“Terkait kerjasama, kami sudah memiliki sekitar 50 MoU dengan berbagai universitas mancanegara. Kerjasama kami meliputi pertukaran pelajar dan pengajar serta penelitian bersama,” imbuh Rektor.
Duta Besar Djauhari Oratmangun menyampaikan,”Berbagai universitas di Indonesia sudah menyatakan ketertarikan untuk berkerjasama dengan universitas di Rusia. Saya akan segera menyampaikan tawaran kerjasama ini kepada berbagai universitas di Indonesia. Semoga kontak sudah dapat terjalin sebelum semester ini berakhir”.
Lebih lanjut, Duta Besar menambahkan,”Universitas ini memiliki peran penting karena ilmu sosial sangat penting dalam mempersiapkan orang menghadapi berbagai perubahan global yang begitu cepat. Seperti halnya Rusia, Indonesia juga sempat mengalami perubuhan struktural berskala besar di tahun 1998.”
Selain bertemu dengan rektor, Duta Besar berkesempatan memberikan kuliah umum kepada sekitar 40 orang mahasiswa RSSU. Dalam kuliah tersebut, Duta Besar memaparkan tentang Indonesia serta hubungannya dengan Rusia serta ASEAN. Duta Besar menyampaikan bahwa hubungan diplomatik RI-Rusia belum lama ini melewati usia 64 tahun. Selain itu, Kemitraan Strategis antara kedua negara sudah berumur 10 tahun.
Dalam sesi tanya-jawab, timbul diskusi mengenai antara lain perekonomian, ASEAN dan Pemilu 2014. Menanggapi pertanyaan mengenai keanekaragaman agama di Indonesia, Duta Besar menjawab bahwa di Indonesia terdapat lima agama dengan pemeluk terbanyak. “Walaupun pemeluk agama Islam sekitar 90%, Indonesia bukan negara Islam. Ini menunjukkan bahwa Indonesia dapat dicontoh sebagai negara dimana toleransi antar agama dijamin” tambah Duta Besar.
Meskipun tergolong baru namun RSSU sudah berkembang dengan pesat. Waktu didirikan, universitas ini hanya memiliki 150 mahasiswa dan 2 fakultas. Saat ini, universitas ini sudah memiliki sekitar 150.000 mahasiswa dan 6 fakultas termasuk Hukum, Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Kedokteran Sosial. Selain itu, universitas ini memiliki banyak cabang di seluruh Rusia termasuk di Penza, Saratov, Kursk, Voronezh serta di luar Rusia termasuk di Belarus dan Kyrgyzstan.
TNI AL Tinjau Armada Utara Rusia
Sejak Indonesia dan Rusia menandatangani perjanjian Kemitraan Strategis di tahun 2003, hubungan kerjasama antara kedua negara semakin erat, tidak terkecuali di bidang pertahanan. Indonesia dan Uni Soviet pernah memiliki hubungan yang sangat dekat setelah keduanya mulai menjalin hubungan diplomatik di tahun 1950. Pada waktu itu, Indonesia banyak membeli persenjataan dari Uni Soviet. Berkat dukungan militer tersebut, Angkatan Laut Indonesia menjadi yang kedua terkuat di Asia setelah RRT.
Walau demikian, hubungan erat tersebut tidak berlangsung lama. Akibat perubahan peta politik di Tanah Air, hubungan tersebut sempat membeku dan hanya mulai membaik di awal 2000an ketika RI dan Federasi Rusia sebagai successor state Uni Soviet kembali memperkuat hubungan dengan Indonesia .
Menindaklanjuti kunjungan kerja KASAL RI ke Rusia tahun 2013 dalam upaya penjajakan peningkatan kerjasama pertahanan yang lebih erat antara Indonesia dan Rusia, sebuah delegasi TNI AL yang diketuai Assisten Perencanaan (Asrena) Kasal Laksda TNI Ade Supandi telah mengadakan kunjungan kerja ke Rusia tanggal 9-15 Februari 2014.
Laksda Ade Supandi dan delegasi antara lain berkunjung ke Armada Utara Rusia di Polyarniy, Murmanks, Federasi Rusia pada tanggal 10-12 Februari dan diterima langsung oleh Rear Admiral Oleg Golubev. Dalam kunjungan tersebut, delegasi meninjau kapal selam Kilo Class yang diharapkan akan dapat memperkuat Alutsista TNI AL.
Selain itu delegasi juga berkesempatan melihat berbagai kapal selam baik yang sudah maupun yang belum dimodernisasi. Pihak Rusia menyampaikan harapan agar kapal selam yang di tawarkan kepada kepada pihak Indonesia dapat menjadi bagian dari kekuatan Alutsista TNI khususnya TNI AL nantinya.
Pada kesempatan kunjungan ke Rusia, Asrena KASAL Laksda Ade Supandi dan delegasi juga telah melakukan pertemuan dengan Dubes RI Moskow, Djauhari Oratmangun, guna membicarakan kerjasama Indonesia – Rusia di bidang militer di masa yang akan datang.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia perlu memiliki Angkatan Laut yang kuat. Sebagai negara dengan tingkat penguasaan teknologi yang tinggi, Rusia adalah mitra yang ideal. Selain itu, Rusia tidak menetapkan prakondisi politik apapun untuk penjualan senjata. Hubungan kerjasama militer kedua negara tidak terbatas pada jual-beli persenjataan. Kedua negara juga melakukan latihan bersama mengatasi pembajakan laut.
ASEAN Bowling Competition, Moskow 17 Februari 2014