"gue suka Prabowo, karena dia dulunya TNI. gue gasuka Jokowi karena dia berasal dari rakyat biasa."
"sadarkah kamu kalau Soeharto juga berasal dari rakyat sebelum ia menjadi tentara? bahkan jauh sebelum itu dia adalah anak desa dan anak dari seorang petani kecil? sadar pulakah kamu bahwa Soekarno, Habibie, Gusdur, SBY, dan presiden-presiden sebelumnya adalah berasal dari elemen yang sama? bahkan aku, kamu sendiri juga adalah rakyat Indonesia?"
dear sahabat pengamat politik
salah satu kelemahan masyarakat akan politik saat ini bukanlah pemahaman siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi jauh sebelum itu, yaitu mengerti apa yang benar dan apa yang tidak benar.
mayoritas sahabat kita yang sekarang alhamdulillah mau melek politik, memiliki pencernaan informasi yang luarbiasa cepatnya. tetapi sayang, informasi yang dicerna ditelan bulat-bulat, sehingga mereka dibodohi oleh politik media yang mengarahkan mereka kemana saja mereka mau.
kelemahan terbesar rakyat dalam memahami politik adalah memandang perspektif atau sudut pandang sebagai fakta.
ini celaka wahai sahabat, celaka sekali. sudut pandang yang harusnya kalian gunakan untuk menemukan fakta ternyata malah justru menciptakan fakta baru akibat kalian memakan sudut pandang itu mentah-mentah. bukan menggunakannya untuk menemukan kebenaran akan fakta yang sebenar-benarnya.
dalam islam, bahkan Al-Quran telah menyebutkan kata tabayyun. berasal dari kata tabayyana-yatabayyanu-tabayyunan. yang berarti verifikasi, mencari kebenaran akan sebuah fakta yang terjadi. Allah, Tuhan kita sudah merumuskan perspektif sebagai sarana untuk mencari kebenaran akan suatu hal. Allah memerintahkan kepada kita semua untuk jangan menelan mentah-mentah suatu berita tanpa kalian memverifikasi kesahihan berita itu terlebih dahulu. luar biasa.
kembali ke tanah air. alhamdulillah sekarang, sudah ditetapkan bahwa Joko Widodo-Jusuf Kalla, adalah Presiden yang memenangkan Pilpres 2014 ini.
reaksi tentu bermacam-macam, sebagian ada yang berteriak "curang!" "manipulasi!" dan sebagainya, dan sebagainya. bahkan, kubu Prabowo-Hatta dengan tiba-tiba saja langsung menarik diri ketika mengetahui jumlah persentase suaranya kalah enam persen dari pasangan Jokowi-JK.
ketika saya tahu hal ini, saya cuman bisa bilang astagfirullah dan menghela nafas panjang. mengapa dan ada apa dengan bangsa ini? mengapa begitu mudahnya kebencian timbul diantara kita, rakyat Indonesia, hanya karena hasil rekapitulasi suara?
let's be honest. tim prabowo-hatta menemukan kecurangan dengan bukti 21 juta suara mereka menghilang. kemudian persentase suara mereka seluruhnya adalah 48,65 persen (benarkan saya jika salah), kurang lebih seperti itu.
lalu dengan kecurangan seperti itu, entah mengapa secara tiba-tiba, Prabowo menarik diri dari pencalonan Pilpres? Assalamualaikum Pak Prabowo, Bapak sehat? atau Bapak baru sadar yang membodohi Bapak itu adalah tim sukses Bapak?
namun nasi sudah menjadi bubur. Prabowo mundur, Jokowi-JK sah menjadi presiden. namun yang menyedihkan adalah perang mulut tidak pernah berhenti dari kedua kubu, atau dari mulut-mulut yang hina yang berniat merusak persatuan Indonesia ini.
yang saya herankan, mengapa begitu mudahnya Prabowo menarik diri atas sebuah fakta ini? 21 juta suara hilang, oke. tapi itu adalah dari tim sukses mereka sendiri. tapi mengapa menarik diri? saya berani bilang "Pak, Bapak lebih gentle, negarawan, tokoh masyarakat apabila Bapak teruskan perjuangan Bapak tanpa harus menarik mundur dari pencapresan yang tidak akan mengubah apapun hasil rekapitulasi suara pak. percaya sama saya, kalau toh memang Bapak dicurangi, Bapak masih bisa mengadukan kepada Badan Hukum. nah sekarang Bapak menarik diri, tetapi suara rakyat untuk Bapak tetap terhitung 48,65 persen dan itu SAH pak, SAH. mereka masih percaya kepada Bapak tetapi Bapak terlanjur menarik diri, seandainya Bapak ke MK pun, pertanyaan pertama MK adalah "apakah saudara mencalonkan diri sebagai presiden?" jika Bapak jawab "benar, tapi saya menarik diri dari pencalonan presiden itu." maka dengan mudah MK akan menjawab "sidang saya anggap selesai, sidang saya tutup." ketuk palu dan pasti kawanan Bapak marah-marah dan ribut seisi MK. kenapa, karena MK pasti menganggap Bapak bercanda, dan pengaduan Bapak tidak berhak diproses karena Bapak sudah terlanjur mundur dari pencalonan.
perspektif yang salah bermain dalam mundurnya Prabowo. dia merasa ditipu, dicurangi, dikadalin oleh sebuah sumber yang mengatakan bahwa suara mereka digelapkan. baik, itu kata mereka, tetapi apa kata penyelenggara Pemilihan Umum? sudahkah mereka menemukan kecurangan ditengah mereka dengan sepenuh hati, mati-matian agar suara rakyat tidak dinodai oleh kepentingan sepihak? belum mereka selesai rekap suara, timses Prabowo menuduh curang? ini yang salah sahabat, tidak seharusnya kalian menuduh secepat itu. boleh saja kalian menuduh tetapi tuduhlah ketika proses rekapitulasi telah selesai dan rapat evaluasi KPU dilaksanakan. baru kalian boleh bersuara.
"Pak, Bapak sudah melewati pengalaman bersama bangsa ini sekian tahun lamanya, dan Bapak pasti tahu berurusan dengan hukum negara ini. Bapak saya yakin negarawan dan akan bijaksana dalam bertindak. Jika memang benar pemunduran Bapak adalah yang terbaik bagi Bapak, kami tidak bisa menahannya dan kami akan melihat bagaimana Bapak berjuang disana."
saya cuman tidak mau, pada masa yang akan datang Prabowo menjadi sebuah citra kebencian dan dendam yang akan selalu diingat masyarakat. saya paham Prabowo adalah pejuang yang cinta akan tanah air Indonesia, hanya saja, mungkin kecintaannya untuk menjadi pemimpin bangsa ini melebihi segalanya sehingga Ia mungkin dinaifkan oleh panggilan suci itu.
dan untuk Jokowi, selamat pak, anda mendapatkan kepercayaan rakyat untuk memimpin mereka, dan bangsa ini. bawalah kami kearah yang kau tuju, ke masa depan yang kau rancang, ke pemerintahan yang kau rencanakan, ke pembangunan yang signifikan, ke kreatifitas yang tanpa batas. bawa kami ke puncak dunia, pak dan kami siap membantu anda.
namun ternyata permasalahan kita tidak berhenti sampai di situ saja. ada saja diantara dari kita yang tidak dewasa dalam menerima kemenangan Jokowi. adalah yang berkata "dia tidak layak jadi Presiden, dia hanya boneka Bu Mega, ada kepentingan politk bermain di belakang sosoknya." dan segala macam, dan lain sebagainya.
rasanya, saya perlu meluruskan lidah-lidah sinting dan sudut pandang bodoh itu dengan mengutip sebuah Ayat Al-Quran, Surat Ali Imran ayat 26. Allah berfirman ;
"Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau Muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Allah berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Ia kehendaki, dan Allah cabut kekuasaan dari siapa pun yang Ia kehendaki. Allahu Akbar, sahabat-sahabat sekalian. Allahu Akbar. jauh sebelum kalian beradu lidah dengan kalimat berbisa dan saling menusuk akal sehat menjadi keruh daripada pandangan kalian tentang kekuasaan dan politik, Allah Tuhan pencipta alam ini telah merumuskan jauh sebelum kalian lahir, bagaimana sudut pandang yang baik dalam memahami kekuasaan dan politik. sadarlah sahabat, bahwa Allah-lah yang memiliki hak perogatif dalam memberikan amanah kepada manusia agar dia menjadi pemimpin bagi manusia yang lainnya di Bumi-Nya ini.
Allah muliakan siapa pun yang Ia kehendaki dan Allah hinakan siapa pun yang Ia kehendaki. sudah cukupkah kalian menganggap diri kalian orang yang paling berhak mengatakan "dia lebih berhak menjadi pemimpin!" padahal di sisi lain Tuhan yang menciptakan kalian lebih memiliki kuasa mutlak dalam menentukan pemimpin diantara kita?
pada sistem demokrasi, kita memilih pemimpin sesuai dengan suara hati kita. kita memilih mereka sesuai dengan elektabilitas mereka yang Insya Allah memang siap memimpin tanah air tercinta ini. namun perlu digaris bawahi, kita tidak boleh memaksakan pemimpin yang kita kehendaki hanya karena kita melihatnya komplit dari sudut pandang kita. bangun sob, ada 253, 60 juta jiwa rakyat di seluruh Indonesia dan ini berarti ada 253,60 juta sudut pandang rakyat dalam memilih pemimpin! apakah kita dengan nikmatnya membulatkan jumlah ratusan juta itu dengan sebuah sudut pandang bahwa sudut pandang kalianlah yang paling benar? begitu?
saya tidak mau kita bermusuhan karena ego, dan merasa bahwa kita lebih pantas mengatakan hal yang tidak seharusnya memecah-belah kita. lihatlah kita saat ini sahabat, kita terpecah menjadi belahan-belahan hanya karena kita menganggap kubu ini lebih baik daripada kubu yang lainnya. hanya karena kita merasa kita harus tanpa memahami apa yang tidak. inikah yang kita harapkan dari nikmatnya berdemokrasi? memecah belah satu sama lain demi kepentingan kita sendiri?
sahabat, baik yang sedang mengamati atau memahami atas apa yang terjadi. saya pesan kepada kalian, jangan pernah jadikan sudut pandang seseorang sebagai suatu fakta. kalian adalah kalian sendiri, dan kalian punya pandangan kalian masing-masing tentang fenomena politik saat ini.
be wise to spell yourself in politics, unless you willing to be nothing in this world.