diriku

oozey mess
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Monterey Bay Aquarium

Discoholic 🪩
macklin celebrini has autism
Xuebing Du
Doug Jones

Origami Around

titsay
$LAYYYTER
Sade Olutola
almost home

if i look back, i am lost
Jules of Nature
No title available
Today's Document
Game of Thrones Daily
Keni
I'd rather be in outer space 🛸
todays bird

seen from United States

seen from T1
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States

seen from Brazil
seen from South Africa

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@kenrico112
diriku
"Bagaimana bisa waktu perlahan-lahan membunuhku, membunuh dan mematahkanku dari dalam. Merenggut bahagiaku dan menyeretku dalam gelapnya kehidupan"
Lebaran kali ini, sangat berbeda
Seolah kehilangan magisnya, momen lebaran kali ini hanya soal datang dan pergi begitu saja. Luka masih ada, luka masih terasa sakitnya. Ditutupi senyum tipis yang mengartikan ketabahan seolah tidak terjadi apa-apa.
Hangatnya mentari pagi sleman mengingatkanku bahwa pagi hari ini adalah hari di mana aku harus menepati janji merayakan raya idul fitri di tanah perantauanku sebelum kembali ke tanah kelaharanku dimana balon udara selalu diterbangkan sebagai tradisi raya lebaran.
Janji yang bukan sembarang janji, namun sumpah serapah. Sumpah serapah yang terjadi dan tercipta dari akumulasi rasa sakit akan penghinaan yang bertahun-tahun aku rasakan. Puncak dan pangkal dari bagaimana keluargaku direndahkan dan dikacaukan oleh mereka-mereka yang merasa lebih tinggi dari langit.
Aku menepati janji itu. Aku tidak mau direndahkan dan diinjak-injak lagi. Sudah cukup.
Aku kembali hanya kepada mereka yang pantas menerimaku.
Aku bersiap dengan meminum segelas susu dingin dicampur agar-agar berprisa kelapa dengan kukis coklat pemberian kantor. Menikmati semangkuk opor ayam yang kumasak dari semalam bersama kentang, tomat, dan wortel. Kukemas barang-barangku sebelum pergi.
Di sepanjang perjalanan, aku terus bergumam. Terus menerus mengulang apa yang aku gumamkan. Aku punya alasan, bahwa raya tahun lalu adalah raya dimana terakhir kalinya aku mendapatkan penghinaan. Keptusanku, tekadku sudah bulat.
aku hanya menghormati orang yang pantas dihormati.
aku hanya menghargai orang yang pantas dihargai.
Selamat hari raya idul fitri 1447H.
Tentang membuat banyak orang suka dengan kita.
Dan sialnya, ini seperti permainan dalam kehidupan. Orang-orang berlomba tentang "bagaimana caranya agar aku disukai banyak orang?". Kemudian mereka melakukan berbagai cara, bahkan dengan taktik keji dan busuk sekalipun.
Pertanyaanku adalah, tidak kah itu melelahkan ? Mencari pengakuan yang sebenarnya semu dan tidak berarti. Obsesi akan pengakuan sekalipun itu bisa menghancurkan orang lain, namun tak pernah sadar dampaknya terhadap diri sendiri.
Hampir 27 tahun aku hidup, aku pernah mencicipi rasanya ingin dibanggakan. Aku pernah mendapatkannya, namun kemudian kulepas karena itu semua tidak ada artinya lagi. Ini normal.
Normal dan valid. Kesadaranku saat ini adalah ;
Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang.
Aku pun berhenti membuktikan, aku berhenti menilai, aku berhenti mengejar, aku berhenti mendekat, dan kemudian aku menjauh. Aku Tidak mau ada banyak penjelasan, karena pada akhirnya orang-orang yang "suka berbicara" akan terus bertindak selayaknya hakim dengan teori-teori dan asumsi liar yang mereka ciptakan. Menjadi penafsir kebenaran untuk memenuhi ego mereka.
2025 adalah tahun Pelajaran paling berharga.
Hampir 3 tahun yang lalu, di moment yang sama.. adalah perjalanan dari stasiun pasar senen menuju stasiun tugu. Lagu ini diputar.
Dulu diputarnya lagu ini adalah kenangan tahun 2022 dimana aku nekat melawan dan menantang diri sendiri untuk membawa tubuh ini ke jakarta seorang diri untuk pertama kalinya. Membawa perasan sedih, takut, namun tetap diiringi rasa percaya diri bahwa aku layak untuk bahagia. Mencoba jujur pada diri sendiri, dari stasiun lempuyangan ke stasiun jatinegara. Kemudian kembali dengan stasiun pasar senen ke stasiun lempuyangan.
Keadaan dan peristiwa sudah berbeda. Kini, saat ini, aku membawa lagu ini sebagai iringan perjalanan. Perjalanan kembali pulang sebagai seseorang dengan sisa-sisa tenaga yang sudah ia kerahkan setelah dihantam badai kemarin sore.
Arah masih ada. Jalan pulang masih ingat. Tapi dengan luka yang perlahan sembuh dengan banyaknya waktu yang termakan.
Selamat Ulang Tahun
-26
Dek, aku adalah diri kamu di masa depan. Umurnya baru aja 26 tahun loh. Alhamdulillah ya. Aku cuma mau ngomong sesuatu buat kamu.
(2001) Mungkin saat ini umur kamu masih 1 tahun setengah, belum lancar bicara. Masih senang-senang nya masa kanak-kanak ya dek ya. Dimanja mama dan keluarga meskipun mungkin mama lagi kerja jadi TKW di Singapore, Malaysia. Tapi tau engga 24-25 tahun lagi kamu bakal jadi orang hebat yang tangguh.
Di depan sana udah banyak masalah dan badai hidup yang sudah menunggu dan siap menghantam kamu dengan keras. Akan ada orang yang datang dan pergi. Akan ada banyak kejadian menyakitkan dan melukai perasaan kamu. Itu lebih sakit daripada dicubit mama lho dek. Hehehe. Aku menyebutnya pendewasaan. Tapi jangan takut dan sedih ya, karena selamat kamu berhasil bertahan melewatinya sampai tulisan ini aku ketik.
Aku tau kamu anak yang hebat dan akan selamanya begitu. Untuk saat ini kita belum sukses dan kaya raya dek. Tapi aku percaya suatu hari, entah kapan, besok atau nanti kita akan mencapainya. Sabar ya.
Allah selalu bersamamu.
Banyak sekali proses dan kejadian yang membentuk diriku menjadi pribadi seperti sekarang ini. Itu semua tidak tiba-tiba dan bukan tanpa sebab.
Perubahan kepribadian
Dan kita menjalani kehidupan ini tentunya dengan harapan baik dan selalu mengupayakan bagaimana agar itu bisa terwujud.
Namun pada akhirnya tuhan punya rencana lain.
Bahkan di tengah kekacauan seperti sekarang ini pun, aku tidak pernah berhenti untuk merasah marah dan selalu mengutuk tindakan jahat dan keji orang-orang munafik yang mengaku melakukan yang terbaik demi negara ini.
ini tidak baik-baik saja.
Pantai dan Laut yang menyembuhkan luka secara perlahan.
Sesederhana menikmati ikan cakalang bakar dengan sekantor es jeruk di tepian pantai sambil menyaksikan senja bertaut deburan ombak.
Diriku yang rapuh akan kecemasan yang merenggut bahagia nya jiwaku di masa-masa berat ini, perlahan disembuhkan dengan sepercik hal kecil. Hal kecil yang sederhana namun kutemui makna di baliknya. Bahwa hidup itu indah.
Aku Berkelana dengan memikul beban hidup yang menyerupai kenyataan-kenyataan pahit, kenyataan yang memaksaku untuk bisa kutelan. Seperti kenyataan itu adalah bentuk dari obat yang sangat pahit untuk derita sakit yang harus disembuhkan.
Tidak ada yang pernah meminta seperti ini, Tuhan seperti memberiku pelajaran hidup dimana ia memperjelas bagaimana aku harus merasakan ketakutan dan ketidakamanan atas peristiwa buruk yang terjadi sudah-sudah. Mungkin, sehingga aku tumbuh meskipun harus melewati luka dan jalanan yang terjal.
Sambil menikmati ikan cakalang bakar dan meneguk es jeruk yang begitu segar, deburan ombak dan senja yang perlahan tenggelam, menghilang.
Semesta seakan berbisik padaku bahwa masih ada hari esok. Harapan itu masih ada, tenang.
Dan bahkan.. aku sudah di titik dimana aku merasa bahwa tuhan sedang menghukumku dengan peristiwa peristiwa buruk. Namun seketika aku menelaah kembali, ini bukanlah hukuman melainkan peringatan. Peringatan agar aku tidak melampaui batas yang akibatnya adalah menghancurkan diri sendiri.
Ini peringatan paling keras.
Sungguh baru kali ini aku menghadapi kenyataan bahwa orang-orang di sekitarku tidak sebaik yang aku bayangkan. Sisi gelap masing-masing dari mereka mulai ditampakkan. Memberikan arti bahwa manusia selalu berubah-ubah.
Sepahit inikah ?
Tampaknya kita semua harus belajar menerima duka dan memang harus begitu tangguh menghadapinya. Ihklas dan mampu.
Selamat jalan Mbah kakung.
Seperti yang sudah kuduga, bedanya begitu terasa, dan itu adalah kesedihan bercampur kebingungan. Namun orang-orang tetap berusaha untuk tabah dan tangguh.
Lebaran 2025
ternyata menghadapi hari setelah hari kemarin yang buruk itu tidak mudah ya..
butuh ketangguhan dalam berpikir.
dan sepertinya... hari ini dan seterusnya akan berbeda dari hari-hari yang kulewati sebelumnya..
after i heard and know it