Laras, kau pernah bertanya apa yang membuatku meninggalkannya; lelaki berlesung pipi dengan tatapan sendunya. Mari ku jawab malam ini, melalui surat yang entah kapan akan sampai kepadamu atau justru tidak sama sekali.
Laras, aku pernah mencintainya setengah mati sekaligus membencinya hidup-hidup dan sialnya bagian mencintainya adalah terbaik dari semua kisah yang pernah mampir. Aku diajarkan banyak hal melaluinya, termasuk tentang segala kesakitan dan bagaimana aku menyembuhkannya, atau sebenarnya tidak pernah sembuh?
Laras, aku melalui kisah panjang bersamanya. Bukan sekedar hitungan bulan atau seumur anak yang sedang duduk di bangku TK. Lebih dari itu. Jika dihitung setara dengan jumlah jemari yang ada di kedua tanganmu. Aku memahami kelucuan, kecerobahan berikut romantismenya pun dia terhadapku.
Kami pernah memimpikan mahligai rumah tangga dan keluarga cemara yang ingin kami ciptakan di dalamnya. Segala romansa tentang hidup di masa depan dengan anak kecil di dalamnya sudah menjadi menu favorit dalam obrolan.
Ah Laras, dunia memang tidak selamanya berjalan sebagaimana yang kita mau. Kami tidak menginjak anak tangga yang sama. Aku tidak mau menuruni anak tangganya sementara ia pun tak mungkin menaiki tangga berikutnya, saat itu.
Percayalah Laras, segala kemungkinan itu sudah kami tabrak agar bisa melangkah searah. Kami sudah mengusahakannya. Entah aku yang tidak sabar dalam menunggu atau ia yang terlalu lama untuk berani melaju mengambil keputusan di hadapan badai yang besar.
Aku akhirnya menyerah, Laras. Aku mengaku kalah. Energiku sudah tidak bersisa. Aku sudah tidak mampu memperjuangkannya dan kakiku sudah lebih dulu menaiki anak tangga berikutnya. Jelas, kini kami semakin jauh. Jauh, jauh sekali.
Aku meninggalkannya namun ia juga tidak bersikeras berlari menggapaiku. Aku harus apa Laras, selain tetap memilih maju? Bagaimana mungkin ku pilih langkah mundur setelah jauh aku berjalan.
Aku bisa apa, Laras? Aku tidak mungkin melawan garisan tangan, kami hanya bersinggungan untuk saling memberi pembelajaran dan dengan segala luka dan liku aku mencoba ikhlas melepaskannya. Mungkin dengan tidak bersamaku ia akan terbang lebih tinggi bukan sekedar menaiki anak tangga?
Laras, kau tahu, di dunia ini sekalipun ia jatuh cinta lagi ku pastikan cinta itu separuh. Tapi dengan separuh itulah ia akan mencintai dengan penuh. Ia akan memperjuangkan dengan hebat. Ia akan mengusahakan yang terbaik, dan ku tegaskan kau adalah bagian dari separuh itu. Apa lagi yang harus kau khawatirkan?
Purna, 18.28 | 10 November 2024.