"Naughty Cake Bridal Shower"
Tidak lama ini viral naughty cake bridal showernya Vior, yang mencuri perhatianku adalah bagaimana fenomena semacam itu telah menjamur dan secara sadar ataupun tidak menciptakan sebuah framing berpikir bahwa utamanya menikah adalah soal sex, soal you're mine and im yours.
Menurutku ini bahaya, sekalipun bagian penting dalam rumah tangga, soalan sex seharusnya tetap berada dalam ruang malu yang soalannya mesti dijaga dan tidak dipublikasikan sembarangan sekalipun pada teman terdekat. Ini akan mendidik setiap rumah tangga agar tak mudah menceritakan perkara ranjangnya ke sesiapapun. Jadilah pakaian bagi pasangan.
Adapun pernikahan itu akan kokoh bila pondasi yang mengenakannya adalah tujuan untuk beribadah bersama, untuk menyelamatkan diri dari zina, menjaga Izzah, iffah, marwah dan kemaluan. Pernikahan yang tak punya visi misi berharga akan mudah diterpa spele-spele problematika.
Jika di tempurung kepala yg tergambar tentang maksud pernikahan adalah menjadikan orang lain menjadi milik diri maka pemikiran ini justru akan banyak menyakitkan perasaan sendiri. Kita akan mudah cemburu dan marah bila pasangan menebar benih kemanfaatan ke org lain, mencoba membantu dan ramah pada org lain. Memang ada batas dan jarak dalam kebaikan ke lawan jenis, namun kitapun harus sadar untuk memberi ruang kepada pasangan untuk menjadi bermanfaat bagi sekitarnya.
Rasulullah, dengan keteladannya yang manis adalah seorang lelaki yang dgn kasih dan perhatian menjawab seorang wanita memiliki penyakit kejiwaan yang berkata padanya "Wahai Rasulullah, aku perlu bantuanmu untuk satu hal"
"wahai fulanah, pilih jalan mana pun yang kau ingin kuikuti, dan aku akan menemanimu ke sana"
Kalau kita menjadikan pernikahan sbg akad kepemilikan maka kita akan gampang merasa cemburu dan terkhianati pada hal" kecil yang pasangan kita tak bermaksud ke arah menyelingkuhi hati.
Mau bagaimana pun, pasangan hidup bukanlah milih pribadi. Jangan jadikan pernikahan sbg penjara org lain tak dapat bergerak dan menjadi apa yang dia mau.
Dengan catatan, tiap interaksi ada batasnya, tiap ingin ada aturannya. Kita pun sebagai pasangan harus tau diri dan memikirkan perasaan pasangan, seorang teman hidup yang kita jadikan tubuh sendiri itu.
Khairunnisa Amci; kalian pakaian bagi mereka, mereka pun pakaian bagi kalian