Sajak Untuk Kamu yang Tidak Bisa Tidur di Malam Hari.
dengan pena, yang tintanya darahku
ditulisnya puisi membabi-buta
tentang kehidupannya, cintanya, juga kematianku. ia terdiam,
terpaku menatap kehampaan.
ditelan kesunyian jiwanya.
apa yang salah dengan hidupku?
hingga mengacaukan cintanya.
apa yang salah dengan cintanya?
hingga tak menenangkan kematianku.
didatangi seorang pertapa agung.
yang berdoa sepanjang hidup.
bertanya; apa yang terjadi dengannya?
sang pertapa menjawab dengan pertanyaan kembali "untuk apa kau hidup? "
ia pulang dengan kebingungan yang gunung aku tahu jawabannya;
di tengah danau, di atas perahu,
dengan sinar bulan sempurna.
aku juga mengerti kebingungannya,
kini, aku hanyalah makhluk
yang tidak bisa pulang dengan damai.
apa yang harus dilakukannya?
diambilnya pena itu, ditulisnya lagi sebuah puisi. tetapi, belum selesai puisi itu,
tertulis dua baris puisi.
"aku tidak bisa lagi menulis,
kata-kataku ikut terkubur di makammu".
didatanginya lagi pertapa agung itu. kepalanya adalah kota yang pernah aku singgahi dengan penuh kemacetan. sebelum lengang. menjadi ketiadaan.
bagian mana dari diriku yang tidak mencintainya?
sang pertapa agung itu menjawab dengan pertanyaan kembali. seperti dulu.
dan bagian mana dari dirimu yang mencintai-Nya?
Gowa, 02:27. Kamis, 20 Juli 2020.