Acara TV Berkonten Dewasa Menjadi Tontonan Anak-anak
Di jaman sekarang kehadiran televisi bukan lagi menjadi kebutuhan tersier ataupun sekunder melainkan menjadi kebutuhan primer. Televisi sebagai teknologi komunikasi, sekarang bukan saja menyajikan informasi ataupun berita semata, banyak acara-acara hiburan yang ditampilkan untuk menarik perhatian penonton televisi itu sendiri. Acara-acara hiburan yang ditampilkan pun terbagi sesuai umur, seperti hiburan untuk anak-anak, hiburan untuk remaja, dan hiburan untuk dewasa. Jadwal penayangan pun akan menyesuaikan, biasanya tayangan untuk anak-anak akan tayang jam-jam pagi sampai siang hari sedangkan orang dewasa tayang pada jam malam.Anak-anak cenderung suka berlama-lama untuk menonton televisi, sebenernya itu sangat berbahaya untuk anak-anak itu sendiri.
Menurut kajian Yayasan Kesejahteraan Anak, rata-rata anak sekolah dasar menonton televisi antara 30-35 jam per minggu, artinya perhari mereka menonton televisi selama 4-5 jam. Menonton televisi lebih dari tiga jam setiap harinya untuk anak-anak bisa mempengaruhi kemampuan kognitif anak, emosi, dan sosialnya. Anak-anak menjadi malas belajar dan cenderung lebih suka terpaku di depan televisi. Selain itu anak yang suka berlama-lama di televisi juga menjadi malas bergaul dengan orang lain.Sekarang ini televisi menjadi orang tua kedua bagi anak-anak. Banyak orang tua yang meninggalkan anaknya sendiri di depan televisi. Itulah yang membuat anak begitu akrab dengan televisi daripada dunia luar. Namun, berbagai penelitian dan berbagai fakta menyebutkan, “meletakan” anak-anak, apalagi dalam usia dini, sangat berbahaya, baik secara fisik dan psikis (Wirodono, 2006: 141). Anak-anak dalam usia berkembang memiliki sifat imitasi atau suka meniru. Imitasi merupakan prafigurasi sensori-motor dari representasi dan frase transisional antara level sensori–motor dan level perilaku yang secara tepat disebut representatif [1].
Mereka cenderung meniru yang dilihatnya terutama apa yang dilihatnya dari televisi. Tayangan positif yang ditonton oleh anak akan mendorong anak tersebut untuk berlaku positif juga, sebaliknya jika tayangan televisi itu cenderung memiliki muatan yang negatif untuk anak maka anak yang menonton pun akan berlaku negatif atau tidak baik juga, sesuai dengan apa yang ditontonnya.Menjadi masalah adalah ketika acara televisi yang berkonten dewasa menjadi tontonan anak-anak. Tayangan televisi dewasa yang banyak dibumbui dengan kekerasan sangat tidak baik ditonton oleh anak kecil. Karena sifat anak kecil yang suka menirulah itu bisa menjadi berbahaya. Contonya adalah tayangan televisi Smackdown yang dulu ada di Lativi, sudah banyak anak-anak yang menjadi korban dari tayangan tersebut. Mereka meniru adegan-adegan yang ada di Smackdown, salah satu anak yang menjadi korban adalah M Affandi Rosdi (11) siswa kelas 5 SD Gelangan 6, Kecamatan Magelang Utara, tangan kanannya retak akibat meniru adegan dalam Smackdown.
Selain kebiasaan menonton televisi pada anak, jam tayang televisi pun seharusnya juga harus dikritisi. Sekarang banyak tayangan televisi yang berkonten dewasa tayang pada jam-jam dimana anak masih menonton televisi, seperti sore hari. Sebagai contohya adalah tayangan fesbuker yang ada di Antv. Tayangan fesbuker sangat tidak baik ditonton anak-anak, karena banyak adegan-adegan yang tidak sopan atau kekerasan seperti memukul, bicara kasar dan saling menghina antar pemain. Akan berbahaya jika acara fesbuker ditonton oleh anak-anak lalu mereka meniru adegan yang ada di acara tersebut. Selain acara fesbuker, sinetron pun menjadi perhatian khusus. Kebiasaan ibu-ibu menonton sinetron di televisi harus diperhatikan. Banyak ibu-ibu yang menonton sinetron bersama keluarganya tak terkecuali bersama anaknya. Biasanya saat menonton sinetron kebanyakan ibu-ibu tak memperdulikan sekitarnya. Mereka juga cenderung tak memperdulikan bahaya dari sinetron yang ditontonya tersebut terhadap anak-anaknya. Padahal dalam sinetron juga banyak adegan yang tidak pantas ditonton oleh anak kecil, seperti kekerasan, baik verbal ataupun non verbal.
Rating menjadi tujuan utama sebuah acara, karena jika ratingnya bagus, acara tersebut akan kedatangan banyak iklan yang menjadi sumber pendapatan utama dari televisi. Sinetron dibuat beratus-ratus episode, meskipun dengan alur yang berulang. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan pemerintah seharusnya mengawasi ini. Pemerintah juga harus memberikan peringatan terhadap pembuat sinetron untuk tidak membuat sinetron secara berlebihan seperti adanya adegan kekerasan, karena masih banyaknya anak-anak yang kut menonton sinetron tanpa diberikan pengetahuan terlebih dahulu oleh para orang tuanya tentang baik buruknya adegan di sinetron yang mereka tonton. Sebenarnya masih banyak acara lain yang perlu mendapat sorotan.
Perlu diperhatikan adalah peran orang tua, karena peran orang tua sangat berpengaruh bagi perilaku anak. Alangkah baiknya jika orang tua membatasi jam menonton pada anaknya. Orang tua juga harus menjelaskan kepada anaknya tentang hal-hal apa saja yang boleh ditiru dan apa saja yang seharusnya tidak ditiru oleh anaknya. Membatasi jam menonton bisa menjadi pilihan daripada melarang anak menonton televisi, karena semakin dilarang anak akan merasa semakin penasaran dengan televisi. Orang tua harus mendampingi anaknya saat menonton televisi, mereka seharusnya memberikan pengetahuan kepada anak-anaknya tentang bagaimana tontonan yang baik dan berkualitas dan bagaimana tontonan yang tidak baik yang seharusnya tidak ditonton. Orang tua juga tidak seharusnya begitu saja meninggalkan anaknya sendiri saat menonton televisi. Alangkah baiknya para orang tua mendampingi dan mengawasi anaknya saat sedang menonton televisi.Sebagai salah satu tauladan, orang tua juga mesti mencontohkan kepada anaknya bagaimana menonton televisi yang baik. Yaitu dengan memilih tayangan yang lebih mempriotaskan pendidikan daripada hiburan saat mereka sedang menonton dengan anaknya. Sikap egois orang tua juga harus dihilangkan, jangan sampai karena acara tersebut adalah acara favorit sehingga anaklah yang menjadi mengalah, dan malah jadi ikutan menonton acara tersebut. Kalau acara tersebut baik juga untuk anak itu tidak masalah, tapi jika acara favoritnya tersebut tidak baik bagi anak itu akan menjadi berbahaya.Lebih baik lagi adalah membangun komunikasi yang intensif dengan anak, agar terjalin keakraban antara orang tua dan anaknya. Jika anak sudah merasa nyaman dengan kehadiran orang tua disampingnya maka si anak pun tidak lagi tergantungi dengan hadirnya tayangan apa saja yang ada di televisi. Anak akan menjadi pribadi yang lebih baik dengan hadirnya orang tua daripada hadirnya televisi. Anak yang tidak bergantung dengan tayangan televisi akan menjadikan mereka pribadi yang lebih cerdas, baik itu akademis ataupun sosialnya.
[1] Jean Piaget, Barbel Inhalder, terj. Miftahul Jannah. The Psychology of the Child (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Wirodono, Sunardian. 2006. Matikan TV-Mu!. Yogyakarta: Resist Book Piaget, Jean dan Inhelder, Barbel. 2010. Psikologi Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Solahuddin. 2006.
Bahaya, Anak Kecil Yang Menonton TV Lebih Dari 3 Jam. 2013. http://www.vemale.com/relationship/ibu-bayi-dan-balita/30531-bahaya-anak-kecil-yang-menonton-tv-lebih-dari-3-jam.html. Diakses pada 12 November 2013 pukul 22.12 WIB
Anak-anak Cenderung Meniru Adegan di Televisi. 2012. http://health.kompas.com/read/2012/05/28/22490165/Anak-anak.Cenderung.Meniru.Adegan.di.Televisi. Diakses pada 12 November 2013 pukul 22.18 WIB
Lagi, Ada Satu Anak Korban Smackdown. http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0611/29/dar21.html. Diakses pada 13 November 2013 pukul 22.30 WIB
Ni Luh Sophia Pandan Sari D. 2012. http://manajemenfeb-undiksha.blogspot.com/2012/11/jangan-sekadar-kejar-rating-cerita-dan.html. Diakses pada 13 November 2013 pukul 22.47 WIB