Dunia menilai jubahmu, bukan dirimu — karena mereka tak sanggup menatap yang telanjang dari makna.
seen from Türkiye
seen from China
seen from China
seen from Philippines
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Puerto Rico
seen from Russia
seen from Belarus
seen from Lithuania
seen from Singapore
seen from United States
seen from China

seen from Brazil

seen from Canada
seen from Lithuania

seen from Germany
seen from China
seen from Canada
seen from Brazil
Dunia menilai jubahmu, bukan dirimu — karena mereka tak sanggup menatap yang telanjang dari makna.
Selamat pagi Dunia.
Sembari melihat pemandangan mereka yang tengah rehat dan menikmati beberapa bungkus jajanan 500 perak dan 2 bungkus snack Twistko.
Hidup amat menyenangkan, mari nikmati ☕
Lesson Learned : Air Bersih ditangan Masyarakat Langsung
Tantangan dalam Penyediaan Air Minum/Bersih berbasis Masyarakat
*disclaimer : tulisan ini semata-mata berdasarkan pengamatan dan opini pribadi, bukan mewakili instansi tertentu maupun berdasarkan studi yang komprehensif dan tanpa bias.
Dalam pemenuhan akses air minum/bersih masyarakat, ada berbagai cara yang dapat diaplikasikan. Ada yang melalui PDAM atau pemerintah daerah dengan jaringan perpipaan, ada yang menggunakan sumur/sumber pribadi masing-masing. Namun, bagaimana jika sumber terlalu jauh, terlalu mahal jika dimanfaatkan secara perseorangan, dan belum ada jaringan PDAM?
Salah satu solusinya adalah penyediaan air minum/bersih berbasis masyarakat. Solusi ini dapat diibaratkan seperti “PDAM Mini skala desa atau bahkan lebih kecil”. Dimana sama seperti sistem terpusat lainnya, sumber air yang dinilai cukup jauh atau tidak memungkinkan diambil masyarakat secara langsung, dikumpulkan terlebih dahulu baik untuk diolah dahulu maupun langsung didistribusikan ke rumah masyarakat melalui pipa-pipa secara langsung. Sistem ini dikelola dan diawasi oleh masyarakat langsung. Masyarakat yang ditunjuk sebagai pengelola, bertugas untuk memastikan seluruh bagian dari sistem ini dapat berjalan dengan baik. Solusi ini dapat membantu masyarakat yang tidak dapat mengambil air sendiri dan tidak memiliki sumber air.
Namun…
Tentunya, usaha tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi. Baik pada saat baru akan memulai kegiatan maupun setelah terbangunnya sistem ini. Berikut, sebagian tantangan yang dihadapi penyediaan air minum/bersih berbasis masyarakat berdasarkan hasil pengamatan saya pribadi.
Kualitas Sumber Air
Penyediaan air minum/bersih berbasis masyarakat umumnya dilakukan di kawasan perdesaan. Wilayah perdesaan sendiri biasanya memiliki kualitas sumber air yang lebih bagus dari perkotaan. Namun, bukan berarti semua sumber air perdesaan dapat digunakan secara langsung. Ada berbagai penyebab yang mengakibatkan kondisi ini:
Kondisi Alam
Bukan karena manusia, namun karena memang adanya seperti itu.
Wilayah perdesaan yang berada di pegunungan kapur, umumnya harus menghadapi air baku dengan kesadahan tinggi (hard water). Masyarakat yang tinggal di hilir sungai juga harus menghadapi air sungai yang sangat keruh karena banyaknya material yang “dibawa” aliran air dari hulu hingga hilir. Sedangkan, air gambut juga sulit untuk diolah karena kondisi air yang sangat asam (pH rendah).
Karena Manusia
Populasi yang lebih rendah memang memperkecil kemungkinan terjadinya pencemaran, namun bukan berati tidak ada manusia kan?
Terkadang, karena wilayah perdesaan berdekatan dengan lokasi tambang atau industri, membuat sumber air tercemar dengan limbah kimia dan logam berat berbahaya. Bukan hanya industri besar, industri kecil-kecilan milik masyarakat juga dapat merusak sumber air, apalagi jika jumlahnya sangat banyak. Sayangnya, kondisi-kondisi ini seringkali kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
Belum Memadainya Akses Jalan
Kawasan terpencil jauh dari pusat permukiman dan komersil dengan akses jalan yang belum memadai, tentunya akan menghambat proses pembangunan maupun pengoperasian sistem penyediaan air minum. Mulai dari sulitnya membawa bahan bangunan yang tidak tersedia dimana disebabkan karena terbatasnya akses jalan maupun wilayah yang tidak dapat dijangkau dengan kendaraan darat. Tantangan ini tidak hanya terjadi saat pembangunan saja, membawa material dan bahan kimia untuk keperluan pengoperasian dan pemeliharaan juga dapat terhambat. Belum lagi jika calon lokasi belum memiliki akses jalan sama sekali (selain jalan setapak), oleh karena itu dibutuhkan usaha gotong royong oleh masyarakat untuk membuka jalan ke calon lokasi agar memudahkan kendaraan yang akan membantu proses pembangunan dan pengoperasian.
Terbatasnya Akses Listrik
Akses jalan yang sulit umumnya selaras dengan keterbatasan listrik. Dimana wilayah yang belum terjangkau jalan memperbesar kemungkinan wilayah tersebut belum mendapatkan akses listrik. Meskipun wilayah permukiman yang akan dilayani sudah mendapatkan listrik, belum tentu jaringan listrik tersebut sudah dapat menjangkau sumber air dimana biasanya membutuhkan listrik untuk pompa air. Altenatif solar panel yang belum dapat memenuhi kebutuhan listrik dan biaya bahan bakar yang mahal untuk generator, menuntut PLN melalui permintaan masyarakat untuk mengembangkan jaringan mereka hingga bagian terpencil dimana sumber air berada.
Selain itu, meskipun jaringan sudah ada, apakah daya yang tersedia cukup? mengingat pompa dan mesin dalam penyediaan air minum/bersih membutuhkan daya yang besar dan tidak boleh mengganggu listrik masyarakat.
Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM)
Penyediaan air minum bukanlah sesuatu yang dapat disepelekan. Dalam pengelolaannya dibutuhkan sumber daya manusia dengan latar belakang tertentu atau pengalaman yang selaras untuk memastikan perencanaan, pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan dapat berjalan dengan baik secara optimal. Sayangnya, sumber daya tersebut sangatlah terbatas dan bahkan tidak ada di wilayah terpencil.
Dibutuhkan dukungan pemerintah atau NGO melalui fasilitator untuk menciptakan pengelola yang mumpuni dari masyarakat sendiri. Proses pembentukan mindset dan peningkatan kemampuan teknis dan non teknis ini membutuhkan waktu yang panjang dan usaha yang keras oleh fasilitator. Selain dukungan fasilitator, juga dibutuhkan kolaborasi dari pihak swasta sebagai penyedia jasa dan barang pada sebagian tahap kegiatan penyediaan air minum/bersih ini. Pihak swasta perlu mensosialisasikan dan mendampingi masyarakat terkait petunjuk operasional dan pemeliharaan produk mereka yang akan digunakan oleh masyarakat secara komprehensif dan menyeluruh.
Keterbatasan SDM ini juga dapat mengakibatkan belum adanya pengamanan dan pengawasan air minum dari sumber hingga masyarakat untuk memastikan kualitas air yang didistribusikan.
Tarif yang Tidak Berkelanjutan
Seringkali, tarif atau iuran dari masyarakat merupakan satu-satunya pemasukan untuk mengelola sistem ini. Tarif yang terlalu mahal dapat menyulitkan masyarakat, membuat mereka tidak mau tersambung sistem ini, atau masyarakat menunggak/tidak mau membayar. Namun, tarif yang terlalu murah juga dapat menyulitkan pengelola untuk dapat mengembangkan sistem mereka, memelihara bangunan yang ada, bahkan terkadang pengelola tidak dapat mengoperasikan sistem secara optimal dan acapkali tidak melakukan prosedur yang seharusnya dilakukan (penambahan bahan kimia, penggantian media, dan lain-lain) karena keterbatasan dana. Dibutuhkan sosialiasi dan musyawarah secara intensif dengan pengelola dan stakeholder wilayah untuk memastikan tarif yang ada dapat memastikan keberlanjutan sistem, didukung dengan peraturan yang mengikat.
Tumpang Tindih Pelayanan
Sebelumnya, saya mengungkapkan bahwa penyediaan air minum/bersih berbasis masyarakat umumnya melayani wilayah yang belum dapat dilayani PDAM. Namun kenyataannya, sistem ini juga dapat muncul diwilayah yang akan dilayani PDAM (dekat dengan jaringan perpipaan PDAM) dan bahkan dapat muncul di wilayah yang sudah dilayani PDAM. Fenomena ini dapat terjadi karena berbagai hal, salah satunya adalah kualitas pelayanan PDAM yang kurang baik (air tidak mengalir dan/atau air kotor), biaya pemasangan yang relatif mahal, dan iuran PDAM yang lebih mahal dari tarif yang ditawarkan fasilitator program penyediaan air minum/bersih berbasis masyarakat.
Dalam penanganan permasalahan ini, dibutuhkan pemerintah daerah sebagai mediator (antara PDAM dan pihak inisiator program) dan regulator melalui rencana induk untuk membagi wilayah mana yang dilayani PDAM dan sistem ini.
Konflik Kepentingan
Biasanya, masyarakat mau menerima dan bekerja sama dalam kegiatan seperti ini. Namun, pada sebagian kecil wilayah, ada golongan tertentu yang menolak kegiatan ini karena dapat mengancam usaha mereka. Disisi lain, ada golongan tertentu yang hendak memanfaatkan kegiatan ini untuk keuntungan pribadi dengan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Hal ini tentu sangatlah membahayakan, karena dapat mengurangi kualitas, menghambat, atau bahkan mengakibatkan tidak terlaksananya pembangunan penyediaan air minum/bersih berbasis masyarakat.
Epilog
Seperti yang saya ucapkan sebelumnya, penyediaan air minum bukanlah sesuatu yang dapat disepelekan. Dibutuhkan peran serta semua stakeholder seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah setempat, tokoh masyarakat, industri sekitar/swasta, dan masyarakat keseluruhan agar memastikan semua tantangan yang sedang dan akan dihadapi dapat dilalui dengan baik sehingga masyarakat dapat mendapatkan haknya.
Menjadi Diri Sendiri
Ada sebuah konsep populer tentang berpenampilan dan berperilaku yang belakangan membuatku pusing memikirkannya. Sebuah gagasan yang disebut "menjadi diri sendiri."— tepatnya, aku sendiri bingung akan memulai dari mana.
Ketika aku merasa lebih nyaman mengenakan pakaian feminim (baca: baju cewek) orang-orang kemudian akan berkata. "Kamu cowok, harus pakai pakaian cowok." Oke, karena dalam pemikiranku pakaian cowok itu identik dengan maskulinitas, kemudian aku turutin dan di hari berikutnya berpenampilan ala band cadas favoritku. Kemudian ada komentar lagi, "Mukamu polos, ngapain pake pakaian serem begitu?" Setelah itu aku pakai kaos biasa, dan seperti alur cerita mudah ditebak—ada lagi yang berkomentar, "Mukamu kok kayak cewek?" Malah kadang ada yang bilang, "Kamu lebih pantes pakai pakaian feminim."
Ini sering terjadi sejak usiaku 15 tahun, bahkan hingga sekarang.
Jadi, ada dua hal kebingunganku.
Pertama: sebenarnya siapa yang lebih tahu tentang diri kita?
Kedua: terlebih lagi, sebenarnya definisi "diri" dalam frasa "menjadi diri sendiri" itu apa?
Ga ada yang menjamin bahwa duduk di kursi senayan lebih membahagiakan dari duduk di kursi teras rumah setelah pulang dari kebun.
GORΞNGΛN, ΞNΛXXX, NICH!!?? Future-future begini emang enaxnye nongkrong di ujung gang sambil ngganyem cirenxxx elextrix sama baxwan elextronixxx, cing!
Surat Kecil untuk Kebesaran
Teruntuk masyarakat negeri ini yang kuharap selalu sehat dan semakin cerdas.
Gue bingung deh sama masyarakat 'zaman now' yang makin kesini mulutnya makin elastis, dan jarinya makin ramping buat sinis.
Komen di berbagai media yang sifatnya sekedar nyinyir, menebar kebencian, dan gak ada rangka memberikan saran baik serta membangun.
Dear people,
Kalian hanya bisa memberikan komentar pedas ke pejabat-pejabat tinggi. Terus memberikan kata-kata kasar. Apa gak ada yang lebih bermanfaat lagi?
Walau sedikit do'a aja. Kalau perlu yang banyak.
Kenapa kita gak kerja sama aja dengan pemerintah yaitu dengan memperbaiki diri kita menjadi masyarakat berbudi dan berakhlak.
Buat kalian yang suka nyinyirin mereka yang melakukan kesalahan, apa kalian udah lebih baik dari mereka?
Cobalah berpikiran terbuka dan objektif. Letakan dirimu seolah sebagai mereka yang dikelilingi harta dan kewajiban. Berbagai beban lalu diimingi cara instan.
Itu memang pilihan mereka menjadi politikus dan terjun di kursi kepemimpinan.
Gue bukannya mau mewajari, sama sekali enggak.
Gue tau mereka salah, tapi cuma nyinyir apa menyelesaikan persoalan?
Mereka yang menjadi petinggi nyatanya orang cerdas. Mereka tau konsekuensinya, walau akhirnya mereka tetap melanjutkan itu.
Disini bisa dilihat, kalau yang diperlukan sesungguhnya itu kejujuran, yang menjadi bagian dari akhlak.
Orang-orang yang cerdas dan berakhlak gak mungkin punya hobi nyerang dan nyinyir via sosmed.
Teruntuknya masyarakat Indonesia, yang hobinya komenin dan marah-marah untuk para pemimpin di negara ini.
Nyatanya masalah di Indonesia udah kronis.
Kalau kerjanya kalian menuntut sama mereka, gak akan ada cukupnya.
Buat kamu yang merasa kinerja presiden, para gubernur dan wakilnya dan pemimpin lainnha gak menunjukkan apa-apa.
Ekhem. Memang kamu yakin bisa menggantikan?
Dua orang memperbaiki jutaan manusia serta memaksimalkan sarana dan prasarana, hahahaha.
Tapi yang berusaha diberi pelayan terbaik masih teka dan gak puas. Yaudah, Lo gak bakal merasa puas kalau bergantung dari orang lain. Lo yg tau diri Lo sendiri, bahagiakan diri Lo ajalah.
Gimana negara kita mau maju kalau masyarakat masih ngandelin pemerintah.
Mereka bukan babu woy.
Lo yang hidup buat diri Lo sendiri.
Hidup tuh simpel.
Jangan jahat kalau gak mau dijahatin.
Jangan nyinyir kalau gak mau dinyinyirin.
Jangan teka kalau gak mau disleding.
#begojangandipelihara
Ingat, kemajuan Indonesia yanh dilihat dari masyarakatnya gak akan berubah kalau masyarakat gak bisa merubah diri.
Cuma diri kita yang bisa memperbaiki diri sendiri.
So, stoplah buat nuntut. Buktiin kalau Lo bisa ngasih yang terbaik untuk dapat yang terbaik.
Termasuk, jangan buang sampah seenak dewek kalau gak mau banjir. Jangan serobot jalanan kalau mau teratur.
Gue cuma menyampaikan apa yang gue pikirkan atas negara ini, khususnya ibukota. Gue menerima kalau pemikiran kalian lain. Gue nerima kalau ada yang perlu diperbaiki jika gue salah, tapi sorry, Gue gak nerima debat.
Perdebatan hanya berisi orang-orang yang merasa paling benar dan mencari-cari pembenaran.
Gue Nisa, siswi akuntansi yang tengah menimba ilmu di sebuah perusahaan BUMN, dan bertempat tinggal di sebuah tempat yang mana kemacetan sudah menjadi kewajaran.
Jkt, 09 Feb 2018
TITIK NOL. Bila ada sebuah #travelbook yang berhasil 'menyihir' saya, maka ialah Titik Nol. Sebuah #safarnama alias kisah perjalanan luar biasa dari seorang #AgustinusWibowo. Namun Anda jangan salah sangka, Titik Nol bukan tentang #travelguide atau kumpulan tips 'how to survive' atau buku panduan perjalanan lainnya. Lebih dari itu, Titik Nol bukan berbicara destinasi semata. Melainkan tentang memaknai sebuah #perjalanan. Maka ketika mendengar bahwa naskah #buku ini telah mengalami dua puluh kali lebih penulisan ulang, sungguhlah kegigihan dan kerja keras #penulis dan editor patut diapresiasi tinggi. Menegaskan betapa seriusnya Titik Nol ini digarap. Perjalanan Titik Nol dimulai saat ia menembus #Tibet secara ilegal, berlanjut ke #Nepal, #India, #Pakistan, #Kashmir dan #Afghanistan. Memaknai perjalanan lebih dari sekadar memuaskan ego. Salah satu kelebihan Titik Nol, penulis bukanlah #turis yang datang dan mengambil foto lalu pergi. Ia melebur di dalamnya, mengenal negeri, bercengkrama dengan #masyarakat dan #budaya, memahami dan merasakan emosi sosial disana. Lalu menyelami beragam pemaknaan. Gaya bahasa penulis begitu luwes dan terbuka di #TitikNol ini. Sesekali lucu dan menggelitik. Sesekali menampilkan amarah, kekesalan dan kekecewaan. Di lain waktu mampu menghadirkan duka dan kesedihan. Kita pembaca dibuat merasa penuh dengan berbagai pergolakan dan merasakan langsung emosi perjalanan tersebut. Keseruan, mendebarkan, dan pembelajaran kebijaksanaan. . ”Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan itu bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa bats. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.” . #ulasbuku #reviewbuku #booktagram #read (at Mentawai Island)