Ini soal aku, yang berkali-kali hancur berantakan lalu kembali utuh.
aku ceritakan kembali pada masa dimana aku selalu menaruh orang lain menjadi prioritas utama ketimbang diriku. berkali-kali aku membiarkan orang lain melangkahi bahagiaku dan aku berkali-kali juga mengatakan 'nggak papa, bahagia mereka itu bahagiaku juga.' dengan naifnya, aku mengharap bahwa mereka yang kumuliakan begitu hebatnya, akan melakukan hal yang sama denganku.
aku menyadari bahwa aku terlalu naif ketika satu masa dimana aku baru tahu; mereka yang kuutamakan justru menertawakanku dibelakang. seakan aku adalah badut dan boneka mereka yang bisa mereka mainkan dikala bosan. kecewa? nggak, aku marah. aku yang selalu berusaha membahagiakan mereka, kenapa begini balasannya?
hingga akhirnya aku sadar, set a goal for my life isn't a sin. dulu aku ngerasa kalau misal aku mengutamakan diriku sendiri dulu tuh bearti aku egois. padahal nyatanya nggak begitu. aku belajar, berusaha menjadi egois untuk kebaikan diri sendiri.
langkah awal yang kulakukan adalah meninggalkan tempat dimana aku nggak dihargai sama sekali sebagai manusia. awalnya aku takut, bagaimana orang menilaiku. bahkan aku takut, mereka membenciku karena aku meninggalkan mereka.
tapi seiring berjalannya waktu, akupun sadar. mau bagaimanapun juga, orang akan selalu melihat diriku dengan cara dan wujud yang mereka percayai. jadi, aku berusaha untuk berubah bukan untuk kehidupan sosial, tapi untuk kebaikan diriku sendiri.
aku sekarang nggak mau memenuhi ekspektasi dunia. aku cuma mau memenuhi ekspektasi diriku; aku harus lebih baik daripada sebelumnya. hanya itu, tidak kurang dan nggak lebih.
karena pada intinya, duniaku akan berputar diporos yang kubuat sendiri.