Maju mundur mau menulis ini.. Namun rasanya mengganjal jika tidak diutarakan. Akan kusampaikan tulisan dariku, sosok yang pernah begitu tersilaukan dengan pencapaian yang rekan-rekan lain tunjukkan. Sekaligus sebagai pengingat bagi diri sendiri ketika nanti dibaca ulang.
Menyoal suatu kegagalan pun tentang suatu hal yang masih belum diberikan. Kalian pasti sudah pernah mengalaminya. Begitu sulit mengatur pikir ketika kamu gagal lalu melihat sebuah keberhasilan yang sengaja dinampakkan.
Begitu sulit mengatur rasa ketika gagal di saat kebanyakan temanmu bisa berhasil dan terlihat effortlessly.
Hmmm.. Waktu itu ku usap kacamataku berkali-kali, agar tak sekeruh itu cara pandangku, kutanamkan dalam diri bahwa pasti ada doa-doa keluarga serta amal baik yang mereka sembunyikan.
Dari sana aku kembali belajar dan diingatkan tentang tiga hal.
Pertama, perihal berhasil ataupun gagal adalah takdir yang bahkan sudah tertulis jauh sebelum aku memutuskan mulai berjuang.
Lantas mengapa aku tetap harus berjuang? Karena aku yakin bahwa Alloh ingin melihat segigih apa aku berikhtiar dan sesiap apa aku menerima satu per satu amanah yang harus dijalankan.
Bukankah dulu Ibunda Siti Hajar saja harus berlari 7x bolak-balik Safa-Marwah mencari air meski pada akhirnya justru Alloh munculkan mata air zam-zam itu dekat dengan bayinya, Nabi Ismail.
Apakah masih kurang role model untuk berjuang tanpa terlalu memikirkan hasil?
Innamal a'malu binniyat.. Sembari meluruskan kembali niat atas apa yang sedang aku perjuangkan, mengatur strategi juga menjadi kunci
"Have you, push to your limit, Khusna?"
Adalah sebuah kalimat yang ku tulis besar di tempat yang mudah aku lihat.
Sampai satu persatu... the hard work paid off!
Ya, even if it’s meant to be, we still have to work at it to make it work.
Walau segala sesuatu telah ditakdirkan untuk kita, tetap juga kita perlu berusaha untuk menjemputnya.
Apakah tulisan ini ditulis setelah berhasil meraih sebuah pencapaian? Ya.
Apakah pencapaian besar? Tidak juga.
Sebatas ketetapan-Nya yang nyata. Satu persatu takdir mulai menghampiri.
Semoga tulisan ini juga tidak membuat siapapun yang membaca menjadi tersilaukan, alih-alih ber-euforia, justru aku sedang mempersiapkan diri untuk menerima tantangan, kewajiban, serta ujian yang akan kujumpai selanjutnya. Yang tentu tidak selalu mudah.
Ini adalah sebuah episode hidup yang aku syukuri.
Meskipun aku tetap merasa ini bukanlah suatu pencapaian yang outstanding namun aku juga tidak mengatakan bahwa aku sekadar bejo.
"Berjuang, Berjuang, dan Berjuang sampai saat nanti Alloh meghendaki kita berpulang" :)
Sebab hanya yang berjuang yang sampai di tujuan. Tujuan yang berbeda, waktu yang berbeda, jalur yang berbeda antara satu dan lainya.
Bentuk berjuangnya juga berbeda-beda.
Ada yang berjuang melalui belajarnya, ada yang berjuang melalui ibadah sunnahnya, ada yang berjuang melalui shodaqohnya, ada yang berjuang melalui kuantitas dzikirnya, ada yang berjuang melalui kepayahan dalam mencari nafkah bagi keluarga, ada pula yang berjuang melalui baktinya kepada orang tua.
Semua itu bentuk ikhtiar yang mengiringi doa. Tidak ada pencapaian karena bejo. Semua perilaku, ada kalkulasinya.
Pilih jalur dan cara berjuangmu.
Things don’t happen on their own. We need to put effort.
Tawakkal bukan berserah tanpa usaha.
Yang kedua, aku juga belajar serta diingatkan bahwa tidak semua pencapaian pantas untuk disiarkan.
Hati-hati menampakkan kebahagiaaan.
Dan yang ketiga, dari kegagalan dan perjuanganku meluruskan niat serta mengusaha, aku menjadi sering kembali memeriksa, kepada siapa sejatinya aku menghamba.
Selalu berusaha mengingat bahwa segala yang ada di alam ini adalah milik Alloh ﷻ. Apapun yang terjadi atas izin dan kehendak-Nya. Keterjaminan hidup hanyalah dari-Nya. Bukan dari karier maupun cinta dari makhluk-Nya.
Semoga Alloh mampukan hamba-hamba-Nya yang gigih dalam berikhtiar, yang lisan dan hatinya tak kenal lelah melangitkan doa serta pinta, hingga dirasa pantas untuk diberikan satu demi satu amanah di atas pundaknya. Amanah yang baik untuk dunia dan akhiratnya.
Kulon Progo, 01 April 2022
(Sebagai pengingat agar merasa terlalu sayang jika hendak mengeluhkan apa yang selama ini disemogakan)