Sebelumnya, mohon maaf apabila ada yang merasa zonk karena judul tulisan ini.
Judul tersebut merupakan janji saya terkhusus pada diri saya sendiri bahwa suatu saat nanti saya akan menulis tentang perjalanan saya mengarungi negeri yang katanya cantik ini. Tentu dalam keyakinan saya, saya percaya bahwa negeri yang saya huni memang cantik. Tulisan yang akan datang bisa jadi berupa travel-book atau travel-blog atau mungkin wadah tulisan yang tren di masa yang akan datang dengan judul yang sudah saya rencanakan, “INDONESIA, KAMU CANTIK!”
Terinspirasi dari salah satu teman saya, seseorang yang bertekad tinggi, menyebut dirinya solo-backpacker low-budget-traveler telah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan membawa pulang rasa syukur yang tiada tara kepada Sang Pencipta keindahan. Hmmm, hidup penuh dengan kesenangan yang bermodalkan melawan rasa takut, maybe? Saya pun berinisiatif untuk menyebut diri saya muslimah-backpacker low-budget-traveler finding-the-heaven. Namun, saat ini saya mempunyai kendala untuk merealisasikan hal tersebut. Mungkin tidak untuk saat ini. Saya berjanji, di kemudian hari, saya akan menerbitkan tulisan yang berjudul seperti judul tulisan ini. Syukur-syukur dalam penulisan tersebut saya tidak sendiri hehehe. Tentunya, kesenangan tidak akan berarti jika hanya dirasakan sendiri bukan? Saat menulis perjanjian ini, saya berandai-andai suatu hari nanti saya mempunyai partner traveling yang senantiasa mengabaikan momen dan kecantikan Indonesia untuk mempercantik tulisan saya tentunya. Hmm, photographer and writer kombinasi yang epic bukan? Hahahaha.
Tulisan ini ditulis dengan penuh rasa syukur karena menjadi warga di negeri yang cantik.
Sahabat, sudah tiba saatnya kita berpisah pandang. Jangan pernah ada keraguan untuk melangkah menuju kebaikan ya, Kawan! mungkin kita bisa jeda sejenak membicarakan celotehan yang tiada berarti. Kita akan menjadi orang sibuk di perantauan masing-masing, maka yang perlu kita jaga adalah rasa percaya. Percaya bahwa hadir atau tidak hadir, kita tetap sahabat.
Oh iya, satu pesanku untuk kalian ... tolong jaga kesehatan ya! dan jaga dia
Kalau kalian sehat, aku tak perlu cemas mengkhawatirkan kalian.
Jangan pernah sedih menghadapi perpisahan. Kapanpun, perpisahan pasti akan datang. Bahkan terkadang tanpa salam. :)
Rasanya, baru kemarin kita dipertemukan dalam satu naungan atap Ganesha. Sekarang kita suah dilepas, untuk berjalan jauh. Hei, ingat, masih banyak orang baik di luar sana yang belum kita kenal. Jangan lelah, Kawan! :)
Sekalipun orang macam Hitler yang katanya terlampau kejam pun juga berperasaan. Hanya saja mungkin ia sembunyikan perasaan itu.
Disampaikan atau tidak, yang namanya perasaan ya tetap perasaan. Akan selalu ada selama kita menyandang titel manusia.
Jangan salahkan orang yang hanya diam. Mungkin ia menunggu waktu yang tepat untuk mengistimewakan perasaannya.
Jangan pula salahkan orang yang menggebu-gebu. Mungkin perasaannya sudah tak bisa lagi dibendung karena minimnya waktu.
Setiap perasaan, terselip rasa takut disepelekan, diabaikan, dan dianggap angin lalu.
Artinya tetap sama. Perasaan.
Hanya saja, ada beberapa kata yang tak pantas dilontarkan dengan perasaan. Jangan pernah menyepelekan perasaan, apalagi menghinanya. Jangan pernah! Selagi kau masih menganggap dirimu sendiri berperasaan, tolong jangan sepelekan perasaan orang lain.
Tugas manusia adalah memanusiakan manusia.
“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan” –Pramoedya Ananta Toer
Hingga terik mentari menyengat pesona biru samudera, kita di sini sedang berbisik pada angin. Angin, dengan bahagianya berhembus amat kencang seperti tiada beban. Sebenarnya apa yang dia kejar? Haruskah secepat itu? Angin tak menjawab kami, ia berlalu begitu saja. Tanpa senyum, tanpa salam.
Aku menikmati sore ini, manakala angin mengacak-acak rambut ikalmu yang tadinya tersisir rapih, kau susah payah berusaha menghalaunya. Aku menertawai tingkah konyol pria di depanku yang masih sibuk mengamankan rambutnya dari angin. Namun, tetap saja, angin punya kemampuan sendiri untuk membuat pria ini kewalahan. “Sudahlah. Biarkan rambutmu menari-nari bersama angin. Biarkan ia terbebas dari jeratan yang kau pasang”. Kau pun tersenyum dan membiarkan angin berlalu melewati celah-celah rambutmu yang halus, kali ini dengan senyum.
“Ini adalah waktumu untuk bercerita” kataku pelan, di depanmu. Kau pun tersenyum, seraya mengedarkan pandang. Memikirkan prolog ceritamu.
“Aku ingin bercerita tentang Angin”
Kau tahu? Angin pada dasarnya punya misi dan beban hidup yang cukup berat. Namun, keberadaannya selalu tak terlihat oleh mata. Kamu tahu kan, angin tidak pernah sendirian, mereka selalu berhembus bersama kawanannya, menciptakan suasana hangat. Kehangatan yang tercipta memosisikan mereka ke derajat yang lebih tinggi. Sangat tinggi nun jauh di sana. Pertemuan dengan angin-angin lain membuat mereka asyik bercengkerama. Semakin hangat. Perlahan mereka saling percaya untuk membagi tugas dan beban. Mereka merangkai beban yang sudah mereka bawa dari berbagai ujung bumi menjadi satu kesatuan karya. Kau lihat yang di ujung sana? Yang menyelimuti sinar mentari. Itu adalah karyanya yang diberi nama Awan. Kamu percaya? Dalam tubuh Awan tersimpan berbagai cerita Bumi yang dibawa oleh Angin. Angin berkelana mengelilingi Bumi dan menyaksikan jutaan kisah menarik untuk ia bawa. Di langit, ia merangkai kisah-kisah itu dalam tubuh Awan. Mungkin, kisah kita juga tersimpan di sana. Suatu saat Awan akan mengembalikan kisah-kisah itu kepada empunya agar dikenang. Mengembalikan tetes demi tetes kisah dalam bentuk Hujan.
Selalu seperti biasanya, kau akhiri ceritamu dengan senyum.
Seketika gerimis turun membasahi rambutmu yang acak-acakan itu. Sontak, matamu berbinar melihat tetes-tetes air Hujan.
Aku suka binar matamu.
“Ceritaku sudah usai, tapi kisah ini belum. Besok giliranmu bercerita tentang Hujan. Janji?” Bisikmu pelan.
Siang ini, hariku mengagumi Pantai Indrayanti, Yogyakarta. Pantai yang menjamu pemandangan indah beserta pasir putih beraroma khas pantai Gunung Kidul. Aku yakin akan banyak rindu yang terpatahkan di sini. Di pantai yang indah ini. Lepas dari gemuruh ombak yang sangat lirih, aku asyik dengan kamera dan tawa-tawa riang sahabatku di baliknya. Sepintas aku mengedarkan pandang bersama kameraku, menangkap focus pada seorang ibu yang memakai topi pantai berwarna merah muda. Topi yang banyak kujumpai di toko-toko kecil sepanjang jalan masuk pantai. Toko-toko yang kujelajahi untuk mencari topi barista. Aneh, aku mencari topi barista di pantai. Alhasil memang tiada hasil, yang kujumpai hanya topi pantai yang beragam macam dan unik. Topi yang cukup menggoda untuk kuadopsi. Namun, aku tersadarkan kembali, yang kucari adalah topi barista. Bukan topi pantai.
Aku masih terkesima dengan ibu yang memakai topi pantai itu. Tampak cantik dan menarik perhatianku. Kulihat, Ibu itu membawa cukup banyak pernak-pernik yang ditopang oleh tampah kecil. Rasa penasaran menuntunku mendekatinya. Luar biasa, ternyata ia menjual karya-karya unik dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Namun, berasal dari satu bahan, yakni hiasan laut. Sangat indah dan menarik. Ingin rasanya aku memulai pembicaraan. Namun aku ragu bagaimana memulainya. Ia adalah penjual souvenir, sewajarnya aku memulai percakapan dengan menanyakan harga. Namun, sudah terbesit di pikiranku bahwa harga pernak-pernik itu cukup mahal. Sedang kantong yang kubawa sudah kuambisikan untuk mengadopsi topi barista yang entah ada di mana. Aku hanya ingin menyampaikan apresiasiku pada karya seni itu, terlebih jika aku mampu membelinya akan kubeli. Namun, lagi-lagi aku ragu akan menyakiti hatinya jika hanya bertanya harga tanpa membeli. Hampir lima menit aku berjalan mengikutinya tanpa terlihat mencurigakan. Sembari mencari kalimat yang tepat atau berharap ada orang lain yang menanyakan harga terlebih dahulu. Tiba-tiba Aku ingat seseorang yang membuatku memustuskan untuk mengurungkan niat mencari topi barista dan memilih membeli pernak-pernik itu. Dan saat itu percakapan dimulai …
“Mohon maaf, Bu, itu gantungan kunci?”
“iya” jawabnya sambil tersenyum dan semakin terlihat jelas wajahnya setelah sedari tadi tertutup topi pantai yang cukup melindunginya dari terik. Wajahnya cukup lelah. Namun, penuh harap. Dan senyum.
“Berapaan ya, Bu, gantungan kuncinya?”
“sepuluh ribu dapat lima, Dek”
Seketika aku tercengang. Sepuluh ribu dibagi lima sama dengan dua ribu. Harga dua ribu? Aku masih tidak percaya. Bahkan aku hendak menggunakan kalkulator untuk membuktikan perhitunganku itu. Namun, kuurungkan.
Bagaimana mungkin? Karya seni yang membutuhkan sentuhan kreativitas dan kerumitan itu hanya dihargai dua ribu rupiah? Apakah ibu itu mendapat keuntungan dari penjualannya itu? Pertanyaan yang melampaui batasku sebagai seorang pembeli. Tanpa pikir panjang, kumulai transaksi jual beli ini, dan kuakhiri dengan perbincangan kecil.
Di akhir perbincangan, kuketahui bahwa ibu itu sendiri yang merangkai dan menyulap kerang-kerang, dan pasir putih Pantai Indrayanti menjadi karya seni yang cukup menggoda. Dan pelajaran seni hari ini, “karya seni tak perlu ditukar dengan mata uang. Lebih dari itu, karya seni tidak akan pernah sepadan dengan nilai mata uang apapun” kuartikan transaksi ini tidak pernah ada. Yang ada adalah aku bersedekah semampuku, dan ibu itu menghadiahkanku pernak-pernik indah itu.
Seandainya semua orang di dunia ini berkarya, mungkin tidak akan ada lagi ‘kemiskinan’.
Tiba-tiba aku rindu dengan ponsel lamaku. Oh, di mana sekarang? Kenapa memilih pergi dariku?
Optimus, apakah kamu masih menyimpan chats celotehanku bersama dia? Saat jiwaku menggebu-gebu menembus batas kuning itu. Dan ternyata dilarang. Dia selalu ada. Dan kamu adalah yang paling berjasa untuk mewujudkan kalau dia ada.
Optimus, makasih ya udah menemaniku berjuang. Semoga kau masih menyimpan foto-foto bukti perjuanganku.
Dan bagi pemilikmu berikutnya, semoga dia tahu kalau kamu bukan ponsel biasa. kamu ponsel istimewa.
Kamu masih ingat kan saat aku ajak kamu jalan-jalan ke Magelang, Wonosobo, Jogja, Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung, dan terakhir ke Bogor.
Kamu hilang di Bogor. Sampai sekarang pun aku belum bisa berdamai dengan Bogor.
Titip celotehan hangat ya untuk yang sedang menjadi warga ibukota
Hei kau yang pelit karya! Lebih baik kau diam saja! Tak usah berbelit-belit merangkai kata untuk kau pamerkan di dunia maya. Toh, pada akhirnya kau marah apabila tulisanmu itu dicontek orang lain. Lantas, mengapa kau posting di dunia maya? Apakah kau tak tahu kalau bukan hanya kamu penghuni dunia maya? Setiap kau posting karyamu itu ke dunia maya, mau tak mau kau harus berjanji bahwa kau telah menyerahkan karyamu ini untuk dikonsumsi jutaan umat. Tak pandang bulu orang-orang yang menikmati karyamu ini. Kapan pun orang bisa singgah tuk membaca karyamu. Bahkan ada yang mengagumi karyamu, lalu ia membagikannya untuk dinikmati teman-temannya pula. Kau marah dengan hal seperti itu? Kau tak terima karena ia tidak mencantumkan namamu sebagai penulis aslinya? Hei, kau seperti tak pernah hidup di dunia maya saja.
Ternyata begini rasanya tidak nafsu makan
Ternyata begini rasanya tidak betah menonton film
Ternyata begini rasanya tidak fokus membaca buku
Ternyata begini rasanya tidak ingin bertemu orang
Aku berteman dengan mereka sejak aku mengenal kata ‘teman’.
Yang pakai batik namanya Dhianya. Kalau di lingkungan rumah dipanggil Nyanya. Adiknya manggil dia Mbanyak. Aku lebih suka manggil Nyu. Dulu kalau diplesetin jadi Penyak Penyuk. Dia mah paling kecil tapi cetar kaya cabe rawit. Dulu si Nyu suka nitip surat cinta ke aku buat ‘seseorang’nya. Itu dulu, sih, sekarang udah beda orang. wkwk. Cabe rawitnya udah gede sekarang yaaa. Makin cantik, makin dewasa, awet-awetin ya sama si dia wkwk. Sukses ya studi di kru penerbangannya!
Yang nasionalismenya tinggi pakai baju garis-garis merah putih itu namanya Elsa. Dia dulu kalau main upacara-upacaraan jadi pembinanya. Pada takut sama dia wkwkwk. Nggak galak sih, tapi takut aja. Rumahnya paling sering buat markas ngumpul. Nggak tahu kenapa kalau main apa pun dia hokinya gede. Paling makmur lah pokoknya. Sekarang udah berhasil menggeluti bisnis onlineshopnya. Makin cantik, makin bohay dan ... Makin sukses ya!
Dulu kalau berangkat sekolah, aku selalu disamperin mereka. Wajib berangkat bareng lah bertiga. Kalau gak ada satu, pasti lah anak itu gak masuk sekolah atau lagi ngambek wkwk. Dan pastilah ada aja orang lain yang nanyain. Berasa ngegeng banget ya, kita? haha padahal cuma faktor satu RT RW. Tapi emang benar, sih, lingkungan yang akan membentukmu. Bukan hanya karakter dan jati diri, tapi ada kisah yang terukir di sana. Kisah yang akan membuatmu tertawa dan terisak saat beberapa tahun kemudian kau mengingatnya. Apalagi membicarakannya bersama mereka yang ada di kisah itu.
Pertemuan kali ini disuguhi obrolan topik masa lalu. Yang entah bagaimana memicu hormonku untuk bebas tertawa dan bertingkah sesuka hati.
Karena membicarakan masa lalu tidak selalu membuat risau dan stres.