Bahasa kasih dalam rumah tangga
Ada yang sedang berjuang melayani sepenuhi hati, walaupun mungkin hatinya sudah memipih rasa lelah yang sangat, putus asa yang dipikul begitu sangat, dibalik banyaknya rasa kecewa, mental yang carut marut, dan rasa ingin diterima dan dicintai, namun jarang ia dapatkan sebab seringnya misskomunikasi dan kosongnya tangki cinta karena kurangnya validasi apakah ia dicintai atau tidak, yang menguatkannya hanyalah berusaha yakin bahwa ada kebaikan dalam menjalankan tugas nya sebagai pasangan dan hamba Allah.
Ada juga yang sedang lelah merangkai komunikasi, dibatas ambang kemampuannya dalam menyampaikan kasih dan sayang, lelah juga karena kekurangannya dalam menyampaikan perasaan terkadang banyak yang salah mengartikan. Merasa sudah cukup menjalankan tugas, namun ternyata salah wadah dalam menempatkan nafkah…
Dua hal itu bertemu, dan mereka saling ingin dimengerti…
Namun terkadang ego adalah pembatas untuk bisa menyulam kasih sayang, yang harusnya terajut sempurna tiba-tiba jarum itu salah masuk sehingga merusak pola, yang harusnya mengerti apa isi hati , tapi sebagai salah satu bentuk pertahanan diri satu sama lain akhirnya masing-masing mencari pembelaan, dan apa yang harus nya disampaikan dan diterima satu sama lain tak tersampaikan sesuai tujuan.
Dan satu2nya kunci untuk bisa mendamaikan adalah “diam dan belajar”
Diam untuk mencerna dahulu apa yang sebenarnya sedang ia terima, belajar mendengarkan dan belajar peka terhadap suatu keadaan, dan belajar memahami dan mau menerima.
Sebab “manusia terkadang hanya ingin diterima”
Pentingnya juga belajar bahasa kasih antar pasangan dan berusaha memenuhinya walaupun mungkin tak sesuai dengan bahasa kasih sendiri, karena terkadang bukan tentang pasrah dengan masing2 kekurangan pasangannya, namun berjuang untuk memperbaiki kekurangan tersebut menjadi sebuah kelebihan.
Jika bahasa kasih kita adalah memberi hadiah namun pasanganmu suka dengan kata2 afirmasi positif , maka tidaklah mahal untuk mengibaratkan kata manis itu sebagai sedekah , memberikan setiap sapaan dan pujian yang manis kepada pasangannya setiap saat.
Bisa dimulai dari hal terkecil, Sounding kepada orang2 sekitar bahwa kehadirannya adalah hal yang ia syukuri dan bagian dari takdir Allah lalu baru selipkan doa bahwa semoga keluarga kita menjadi keluarga rabbani, begitulah tentang cara mengasihi dan membangun perasaan bahwa “ia diterima, dan kamulah pasangan/keluarga teraman dalam hidupnya”
Sebab fitrah ketika manusia merasa tak diterima adalah mencari wadah lain yang bisa menerimanya, sungguhlah Allah sebaik-baikNya tempat untuk manusia bersimpuh dan diterima sebagai hambaNya… Semoga wadah lain itu cukuplah Allah subhanahu wata’ala….
Dan tak lupa untuk menundukan pandangan, barangkali apa yang kau keluhkan tentang pasanganmu adalah karena dosa-dosamu seringnya melihat ke arah lain yang lebih indah, sehingga kurangnya mereka kau selalu anggap sebuah bencana…
Semoga kita tidak dijadikan orang orang yang bakhil untuk bisa mengungkapkan kata cinta dan berkata manis terhadap pasangan kita.. dan juga selalu berusaha saling menasehati dengan penuh kelembutan…
Sungguh, Rasulullahu Shalallahu ‘alaihi wasalam adalah contoh yang baik tentang tutur kata dan segala perbuatan Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin….
Madinah 21 Juli 2024 , 01.43