ah, kamu kembali? senang rasanya! tapi, apa kali ini kamu akan pergi, lagi? aku mohon, jangan dengan mudah kamu datang padaku dengan penuh harapan, lalu kemudian kamu dengan mudah pergi dengan sejuta kenangan! karena, itu sakit!
—@kucingmungil
YOU ARE THE REASON

blake kathryn

No title available
Xuebing Du

Discoholic đŸª©

PR's Tumblrdome
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JVL

Kaledo Art

roma★
Lint Roller? I Barely Know Her

izzy's playlists!
No title available
$LAYYYTER
RMH
Keni
hello vonnie
Mike Driver

Love Begins

pixel skylines

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Ireland
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from TĂ¼rkiye
seen from United States
seen from South Korea
seen from Argentina

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@kucingmungil
ah, kamu kembali? senang rasanya! tapi, apa kali ini kamu akan pergi, lagi? aku mohon, jangan dengan mudah kamu datang padaku dengan penuh harapan, lalu kemudian kamu dengan mudah pergi dengan sejuta kenangan! karena, itu sakit!
—@kucingmungil
duduklah, rehat dulu sebentar. jangan terlalu keras mengejar ambisimu. ada kalanya, kamu harus memikirkan dirimu juga. tubuh dan pikiranmu, butuh untuk diistirahatkan.
memangnya, apa yang akan kamu lakukan jika ambisimu sudah tercapai?
—@kucingmungil
"Kenapa jadi orang kok susah untuk di dekati? Apa kamu punya kriteria tertentu dengan orang-orang yg ingin mendekatimu?"
"Nggak. Aku sama sekali tidak punya kriteria apapun. Bukankah, mereka yang menjauhi aku? Kamu tau, aku sudah berusaha seramah dan sebaik mungkin sama mereka. Tapi, manusia pasti tidak akan mau menerima kaktus kan? Dan lebih memilih mawar? Ya, seperti itulah aku kira-kira. Manusia mana yang lebih memilih kaktus dibandingkan mawar?"
"Aku nggak paham maksud kamu.."
"Kamu pasti akan mengerti jika kamu jadi aku. Tapi jangan, aku lebih senang ketika semua ini hanya aku saja yang merasakan."
—@kucingmungil
seperti apa dia? apa dia orang yang baik dimatamu? ah, bukannya yang baik itu, yang membosankan?
—@kucingmungil
"Ada apa?"
"Sebenarnya, aku sudah lama ingin bertanya padamu. Tentang suatu hal."
Dia tersenyum. "Pasti, tentang kulitku yang berbeda, ya?"
Aku mengangguk perlahan dan menunduk setelahnya. Takut rasanya jika dia merasa tersinggung karena pertanyaanku.
"Albino."
Aku mengangkat kepalaku. "Albino?"
Ia tersenyum, lagi. "Iya Syana. Aku mengidap penyakit Albino. Kalau kamu tidak tahu apa itu, semacam kelainan genetik yang buat aku jadi semacem kekurangan pigmen."
"Oh."
"Kenapa, aneh ya? Kamu takut denganku?"
"Enggak. Aku tidak takut sama sekali. Kamu bukan penjahat, jadi untuk apa aku takut?"
Dia tertawa renyah mendengar ucapanku. "Kalau aku orang jahat, bagaimana?"
"Kalau gitu, aku nggak akan deket-deket lagi sama kamu!"
"Dan, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Syana."
—@kucingmungil
akan ada saat dimana kamu akan merasakan, yang awalnya selalu kamu, menjadi bukan kamu lagi.
—@kucingmungil
nyatanya, kamu selalu memfokuskan dirimu pada persimpangan itu. dan tidak pernah memfokuskan dirimu pada apa yang berada di hadapanmu. ah ya, kau tau? akulah yang berada di hadapanmu. sangat tepat berada di hadapanmu.
—@kucingmungil
Dan, seandainya hati ini telah disembuhkan kembali. Aku berharap agar kelak Tuhan tidak menjatuhkannya pada yang mahir mematahkannya.
—@kucingmungil
sadar dong! kamu hanya diberikan harapan olehnya. jadi jangan bermimpi terlalu jauh. nanti yang ada, kamu hanya mendapatkan rasa sakit.
—@kucingmungil
sebenarnya saat ini, kita sedang apa? menyelesaikan masalah? atau malah mengulur waktu untuk berpisah?
—@kucingmungil
namanya Nidi, usianya sekitar lima puluh tahunan, tinggal di daerah bantaran sungai. sejak kecil beliau sudah hidup di sana, besar dan tumbuh dewasa di sana. banyak sekali hal yang sudah beliau lalui. dari yang manis, hingga yang pahit. Nidi tidak pernah sedih ketika berjumpa dengan saya, senyuman ramah selalu menghiasi wajahnya yang mulai menua. bahkan, ketika saya pertama kali bertemu dengannya, saya sudah merasakan kehangatan yang dipancarkan oleh dirinya. ada jiwa Ayah yang penyayang dalam diri beliau.
Ah ya! sesuatu yang menarik dalam diri Pak Nidi adalah, dia merupakan salah satu aktivis lingkungan di lingkungannya secara sukarela. ia sama sekali tidak dibayar sedikitpun, ia melakukan itu dengan ikhlas. katanya, saat musim hujan, daerahnya sering terendam banjir. oleh karena itu, dia ingin mengurangi banjir tersebut sehingga tidak ada lagi yang merasa dirugikan. menanam pohon bambu menjadi salah satu cara yang beliau lakukan. Pak Nidi begitu sederhana, dia hanya ingin daerah tempat ia dibesarkan rapih dan bersih. bahkan, karena niat dari Pak Nidi menanam pohon bambu. sekarang, daerah yang dijadikan Pak Nidi menanam, menjadi tempat wisata.
suatu kehormatan bisa kenal dengan Bapak walaupun hanya dalam beberapa hari. semoga saya bisa bertemu Bapak kembali dilain waktu ya, pak?
@kucingmungil
Salatiga.
Kota kecil, yang terletak di Jawa Tengah.
Kota kecil, yang membawa kenangan dari saya kecil.
Kamu memang tidak seindah Yogyakarta.
Tidak semodern Kota Solo.
Tapi percayalah, saya merindukanmu, sangat.
Entah apa yang membuat saya merindukanmu begitu dalam.
Kamu tidak memiliki banyak tempat wisata seperti kota-kota di Jawa Tengah pada umumnya.
Kamu memiliki kualitas sinyal yang buruk.
Kamu memiliki suasana yang mencekam di malam hari tiba, padahal malam hari adalah waktu yang saya sukai.
Tapi, tetap saya merindukanmu.
Ingin sekali bisa menetap di sana untuk waktu yang lama, tanpa memikirkan hal-hal di tempat saya berada sekarang.
Memelukmu hingga rasa rindu ini terobati.
Tapi memang untuk saat ini belum saatnya, sayang.
Mungkin, suatu saat nanti semesta akan mengizinkan saya untuk menetap lebih lama di sana.
Tunggu saya, ya?
—@kucingmungil
Foto ini saya ambil ketika saya mendapat tugas di rumah belajar salah satu kampung terpencil, tepatnya di Bekasi. Sejujurnya, saya sangat tidak suka dengan anak kecil, mendengar teriakan mereka serasa mendengar knalpot motor yang kalau kita ingin berbicara harus menunggu motor itu lewat terlebih dahulu. Iya, seberisik itu. Jadi awalnya saya tidak terlalu antusias dengan mereka.
Tibalah saya di rumah belajar tersebut, rumah belajar yang hanya menggunakan pos ronda yang kotor dan reot untuk belajar. Oh ya, saya mendapat informasi bahwa anak-anak yang belajar di rumah belajar itu mulai dari SD sampai SMP, loh. Hanya saja untuk SMP belajar di tempat yang berbeda. Untuk pengajarnya mereka dari bermacam-macam, ada tempat les, sampai dengan mahasiswa. Yang saya suka dari rumah belajar ini, anaknya antusias, ketika si pengajar menanyakan siapa yang ingin mengerjakan soal di papan tulis, hampir semuanya mengangkat tangan mereka.
"Saya! Saya! Saya!" Ucap mereka antusias dan sambil berteriak sampai sang pengajar kebingungan.
Jelas, saya dan rekan saya tertawa melihatnya. Mereka bagaikan anak kecil yang ingin diberikan hadiah saat ulangtahun.
Saya jadi berandai-andai, bagaimana jika saya mengajar di sana. Pasti seru! Sayang, saya tidak pandai dalam mengajar anak-anak. Saya melihat kebahagiaan jelas terpancar dari wajah anak-anak di rumah belajar itu. Oh ya, menurut si pendiri rumah belajar, rata-rata mereka semua yang belajar di sana berasal dari keluarga yang kurang mampu untuk menyekolahkan anak mereka.
Hm, tidak apa-apa. Ilmu bisa didapatkan dimana saja, bahkan walaupun hanya dari pos reot yang berada di pinggir kali?
Natal, 2017
Seketika teringat kembali saat natal 2017 saat itu. Tapi, mari saya perjelas terlebih dahulu kalau saya seorang muslim. Dan, mari saya ceritakan sedikit. Kebetulan saya mendapat tugas dari media tempat saya bekerja untuk meliput suasana natal di beberapa gereja. Jujur, ini pertama kali bagi saya meliput Natal. Saya takut mereka tidak menerima kami. Saya takut, mereka akan merespon kami dengan tidak suka.
Tapi, ternyata dugaan saya salah. Mereka, sangat ramah sekali pada saya. Ketika saya mewawancarai mereka, mereka menatap mata saya dengan tatapan ramah. Sekali mereka tersenyum dan meminta tolong untuk difotokan pada saya (kebetulan saya membawa kamera) bahkan mereka menawari saya untuk makan siang bersama. Ah, begitu banyak cinta di sana. Senang rasanya saya bertemu orang-orang seperti mereka. Tidak ada diskriminasi, tidak ada tatapan curiga. Dan seketika saya berharap, saya akan bertemu dengan orang-orang seperti itu lagi, kelak.
Skripsi.
Bukan sesuatu hal yang baru, bahkan cenderung harus dikerjakan bagi para manusia pengejar gelar. Tapi, apakah ketika gelar itu sudah didapatkan, lalu kita akan tau, kemana kita akan pergi selanjutnya?