Tak biasa. Di hari sabtu pagi ini, WA Group sekolah sudah riuh.
Ternyata, semua anggota group sedang ramai membicarakan postingan salah satu rekan guru. Yang mana, beliau mendapatkan chat pribadi dari seorang wali murid, mengenai keberatannya mendampingi anak belajar sedang beliau masih harus bekerja dan mengurus rumah tangga.
Chat tersebut, juga menyebutkan bahwa sang guru hanya memakan gaji buta, karena tidak melaksanakan proses pembelajaran sebagaimana mestinya.
Waaah.. Riuh, grup sekolah kami.
Marah, tersinggung, sakit hati namun tetap mencoba memaklumi. Karena tak semua orang mampu menjadi guru.
Guru guru di sekolah kami sudah melakukan berbagai cara dan metode pembelajaran selama pandemi ini. Saya tahu betul mengenai ini.
Dulu, awal pandemi sekolah menggunakan aplikasi zoom, google meet atau google classroom seperti yang dianjurkan oleh dinas pendidikan di kota kami. Guru guru yang awam dengan teknologi seperti ini pun ketimpungan. Karena tidak semua guru melek akan teknologi.
Namun, banyak wali murid yang keberatan dengan metode ini. Sama seperti guru, tak semua wali murid melek teknologi, terlebih sekolah negeri yang notabene siswa berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah.
Sekolah mencari alternatif lain untuk pembelajaran di masa pandemi ini.
Mulai dari memaksimalkan WA Group sebagai sarana pembelajaran dengan mengirimkan video ataupun link video pembelajaran yang diambil dari youtube, hingga pemanfaatan Google Form atau Quiziz sebagai sarana pengambilan nilai. Atau sekedar mengirimkan foto berisikan soal untuk dikerjakan anak dirumah.
Lagi, guru guru pun mulai belajar menggunakan teknologi baru ini. Mengeluh, ya. Kami tentu mengeluh. Karena hal baru ini, lebih banyak waktu yang tersita. Lebih banyak belajar, menilai pekerjaan siswa hingga menerima telpon diluar jam dinas untuk menjawab pertanyaan dari wali murid.
Belum, guru guru yang mendadak menjadi youtuber untuk memberikan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin di capai. Menyiapkan materi, shoot video hingga editing video pun dilakukannya sendiri.
Dan lagi, tak sedikit orang tua murid yang keberatan dengan metode seperti ini.
Hingga kini pun, sekolah melakukan home visit kerumah siswa, dengan mengelompokkan 4 siswa yang rumahnya berdekatan kedalam 1 kelompok. Pembelajaran selama home visit pun tetap kami lakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Anak anak yang saling merindu pun, kami himbau untuk tidak saling berdekatan, tetap menggunakan masker dan face shield, hingga tiap guru dibekali thermogun dan hand sanitizer tiap melakukan kunjungan.
Cara ini pun (nekat) kami tempuh guna memenuhi kewajiban kami dan memberikan hak siswa.
Namun, sekali lagi, tak sedikit wali murid yang tidak setuju dengan cara yang kami terapkan.
Lalu, cara apa lagi yang harus kami tempuh?
Pagi ini, Sabtu 1 Agustus 2020
Rumah.














