Mari kita (perbaiki) shalat (kita)
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Ada alasan mengapa perintah shalat Allah turunkan saat Rasulullah dihadapkan pada selaksa ujian yang begitu memilukan, hingga dalam catatan sejarah tahun itu dinamakan tahun kesedihan (’amul huzni).
Diantaranya, agar manusia tahu bahwa shalat adalah penentram jiwa kala kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, kebingungan, kehilangan, kesendirian, kepahitan, ketakberdayaan dan segala yang menyesakkan jiwa, Allah datangkan sebagai ujian.
Sesungguhnya ketenangan hati manusia Allah karuniakan lewat dzikirnya. Sebagaimana firman-Nya;
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS.13:28).
Dan shalat adalah dzikir yang paling utama.
“Sungguh, Aku ini Allah, Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.”(QS.20:14).
Saat dihadapkan pada ujian nan berat, carilah ketenangan lewat shalat. Mungkin solusi tak langsung didapati. Tapi dengan shalat, Allah karuniakan ketenangan hati. Kala hati tak lagi gusar, insyaAllah mudah temukan jalan keluar.
Karena shalat adalah pelipur lara. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda; “dan telah dijadikan pelipur hatiku (kebahagiaanku) pada shalat.” (HR. An-Nasai [7/61] no. 3939, 3940, Ahmad [3/128] no. 14069. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah [3/98 dan 4/424]).
Dan sebagaimana pula yang Beliau teladankan kepada kita, ummatnya; seba’da peristiwa isra’ mi’raj yang begitu dahsyat, tiap kali ada masalah, shalat adalah hal pertama yang dilakukan Rasulullah.
Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Bila kedatangan masalah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad dalam al–Musnad [5/388] dan Abu Dawud [2/35]. Dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud).
Saat engkau bingung dari mana engkau harus memperbaiki hidupmu, mulailah dengan memperbaiki shalatmu. Shalatlah, sebagaimana Shalatnya Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 6008).
Lalu bagaimana cara memperbaiki shalat?
Petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam hadits al-Musii’ fii shalatihi (orang yang jelek dalam shalatnya), yang diriwayatkan Rifa’ah bin Rafi’; “…Jika engkau ingin shalat (dengan sempurna), berwudhulah dan sempurnakan wudhumu….” (HR. An Nasa’i, no.1052. dishahihkan Al Albani).
Ternyata jika kita ingin memperbaiki shalat, kita harus mengawalinya dengan terlebih dahulu menyempurnakan wudhu.
Ada rahasia besar dibalik wudhu yang sempurna. Hati kan bergetar jika benar melakukannya. Janganlah wudhu sekedar wudhu. Tapi berwudhulah dengan ilmu. Pelajari kadar penggunaan airnya, pelajari apa saja yang wajib dibasuh dan apa saja yang membasuhnya termasuk sunnah. karena tidaklah ditetapkan begitu saja oleh Allah kecuali di dalamnya tersimpan mutiara-mutiara hikmah.
contoh sederhananya, do’a sesudah wudhu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ajarkan pada kita itu redaksinya indah sekali jika benar-benar ditadabburi. Di mana di dalamnya kita meminta pada Allah:
(…اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ…)
“Ya Allah jadikan hamba termasuk hamba-hamba-Mu yang bertaubat dan jadikanlah hamba termasuk hamba-hamba-Mu yang mensucikan diri”
Setelah wudhu kita sempurnakan, lalu kita panjatkan do’a itu dengan tulus dan ikhlas, perhatikan bagaimana cara Allah membalas:
(إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ…)
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”(QS.2:222).
Indah bukan? baru di tahap persiapan menuju shalat, Allah sudah menyambut kita dengan sambutan yang begitu hangat.
Maka, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Jangan pernah merasa diri sudah tak layak untuk bertaubat. Betapapun telah banyak berbuat maksiat. Karena sesungguhnya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya tak terbatas dan ampunan Allah itu amatlah luas.
Katakanlah : “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.39:53)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS.3:133).
Mari kita (perbaiki) shalat (kita). Mari perbaharui kualitasnya. Awali dari hal-hal kecil saja dulu, sesederhana memulainya dengan (belajar) menyempurnakan wudhu.