Kalau memang mau lari, pastikan kamu mendekat ke tujuan. Bukan menjauh.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

⁂
dirt enthusiast

Love Begins
KIROKAZE

PR's Tumblrdome

Origami Around
taylor price
YOU ARE THE REASON
Three Goblin Art

shark vs the universe
Misplaced Lens Cap
cherry valley forever
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available
No title available
art blog(derogatory)
tumblr dot com
trying on a metaphor
Monterey Bay Aquarium
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Thailand

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Finland

seen from Malaysia
seen from Bangladesh
seen from United States
@kelanaloka
Kalau memang mau lari, pastikan kamu mendekat ke tujuan. Bukan menjauh.
Stay Away
Orang kalau udah nggak suka, udah males sama kita, udah nggak mau, buat nolak tuh alasannya udah kayak hotman paris belain kliennya: banyak bener macem alasannya, bahkan alasan buat 5 tahun kedepan juga udah dia siapin.
Aku pernah merasa tidak nyaman dengan seseorang sampai level 'gak mood kalau ada dia' sampai level 'menghindar', malas berurusan dengan dia. Dan orang itu cukup sering datang, berusaha komunikasi denganku, cukup sering mengajak pergi, datang ke event, juga ngajak jalan. Tapi ya namanya aku tidak nyaman alhasil selalu menghindar, selalu menolak ajakannya, selalu cari alasan supaya tak lagi berinteraksi dengannya, selalu cuek dengan tindakannya padaku. Satu yg masih belum bisa aku lakukan, blok kontak dan akun medsosnya. Demi etika pertemanan.
Kalau karma itu memang ada atau bolehlah kita perhalus dengan peribahasa apa yang kau tanam itu yang kau tuai, aku mungkin sedang menuai apa yg aku tanam sebelumnya. Aku merasa sedang dijauhi temanku, aku seperti berada di posisi 'si annoying' yg dulu pernah aku jauhi. Aku tidak tahu apa salahku sampai pelan-pelan temanku itu seperti jaga jarak denganku. Mungkin aku memang salah, mungkin juga tidak, hanya dia saja yg sudah tak suka. Dari yg dulunya nyaris tiada hari tanpanya, yg begitu excitednya mengobrol denganku, menjadi sebegitu 'kelihatan' malasnya dia untuk sekedar membalas chatku. Dari yg dulunya meluangkan waktu, mencari tanggal untuk bisa pergi denganku, menjadi beribu alasan untuk tidak bertemu, menolak, pokoknya menghindariku.
Aku harusnya peka dengan perubahan sikapnya itu, harusnya 'tahu diri'. Tapi ooo tidak semudah itu, aku memilih menjadi bebal. Aku tetap menghubunginya, mencoba tetap berinteraksi, mengajaknya jalan, mengiriminya hadiah. Tak tahu malu dan tak tahu diri.
'Kita tidak bisa mengendalikan orang lain. Yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri.' Bukankah memang begitu hukum interaksi manusia yg digembar gemborkan pegiat kesehatan mental?
Begitu pula dia, aku tidak bisa mencegahnya untuk tidak menyukaiku, pun dia tidak bisa mengendalikan bagaimana perlakuanku padanya. Dan aku memutuskan untuk nggak mengendalikan diriku untuk urusan ini.
Tiap kali kuhubungi, dia membalas sekenanya. Tiap kali kutawari, bermacam cara dia menolak. Tiap kali kuajak, berbagai alasan dia berikan. Aku? Pernah sempat goyah, tapi pada akhirnya berkobar kembali semangatku untuk mengganggunya. Semakin dia menghindar, semakin aku dekati. Beribu alasan dia lontarkan untuk menghentikanku, berjuta cara juga aku lakukan untuk tetap berjalan terus. Berjalan mengganggunya.
Lihat saja nanti siapa yg tidak tahan.
Ya paling-paling aku yang akhirnya berhenti. Bukan dia yg melunak.
Lebaran di Status
Sembari istirahat dari menerima tamu mbah yg banyak banget pada lebaran hari pertama ini, izinkan aku menuliskan keresahan perihal idulfitri yg sejujurnya menelisikku 2 tahun terakhir.
Jaman sekarang, kita dibuat mudah untuk berinteraksi tanpa bertemu langsung, lewat media sosial. Whatsapp, instagram, telegram, X, tiktok, maupun media sosial lain mempermudah kita untuk berbincang dengan siapapun, dimanapun, kapanpun. Seperti ketika momen lebaran begini. Kita bisa saling bermaaf-maafan, bertukar ucapan, saling mendoakan hanya cukup lewat ketikan di ponsel. Tak perlu berjumpa langsung.
Jadi, apa yg membuatku resah? ucapan2 idulfitri yg berseliweran di media sosial. Iya. 2 tahun belakangan ini rasanya semakin sedikit pesan/ucapan selamat hari raya yg kuterima secara personal, atau bahasa populernya japri/chat pribadi/private chat. Padahal kalau dipikir2, tidak banyak yg berubah dari interaksiku dengan orang2 sekitarku, justru kurasakan jaringanku bertambah, meski hanya sedikit. Yg lebih banyak kulihat adalah ucapan selamat hari raya di grup chat dan di status/story medsos macam instagram dan whatsapp.
Bukan, bukannya aku merasa sbg pusat dunia sehingga orang2 harus mengucapiku selamat hari raya satu per satu secara pribadi kepadaku. Hanya saja aku masih bertanya2 kenapa trennya jadi seperti ini ya? Ucapan selamat hari raya, permohonan maaf, doa2 baik berseliweran di grup2 chat juga di status2/story medsos. Di grup chat misalnya, semua anggotanya mengirimkan ucapan selamat hari raya dan meminta maaf, tentu saja ditujukan ke semua anggota grup. Aku yakin pesan2 spt itu tidak mendapat respon semacam 'sama2' untuk permintaan maaf atau 'aamiin' untuk ucapan berisi doa, tapi yg kita temukan adalah ucapan2 serupa yg dikirimkan oleh anggota yg lain. Pernahkah kita memikirkan 'Apa semua orang di grup chat membaca pesan kita dan menerima maaf kita? Apakah semua orang yg ingin kita berikan selamat hari raya melihat status/story kita?'
Untukku yg mungkin oldschool, yg menganggap 'minta maaf' lebih afdol jika dilakukan secara personal antar pribadi, ucapan2 selamat idulfitri yg beredar di grup chat maupun hanya di status/story saja rasanya kurang greget, nggak dapet esensinya. Personally, salahku ke tiap orang beda2, aku ingin benar2 memanfaatkan momen idulfitri untuk membersihkan diriku, dengan meminta maaf pada orang2 yg selama ini berinteraksi denganku dengan sebenar2nya maaf, setulus2nya maaf. Berharap orang tersebut akan ikhlas pula membukakan pintu maafnya untukku. Maaf yg tidak hanya sekedar rangkaian kata2 mutiara maupun doa2 baik yg terselip dalam ucapannya.
Maka dari itu, aku masih lebih memilih mengirim ucapan selamat hari raya lewat chat pribadi kepada orang2 dalam kontak ponselku, menyebut namanya secara personal dalam chat, meski isi pesan yg kukirimkan sama antara satu dan yg lainnya. Aku akan merasa bahagia ketika orang yg kukirimi pesan tsb membalasnya dengan menyebut namaku juga, merespon pesanku secara personal dengan ketikannya sendiri, bukan mengirimi template ucapan. Hangat sekali rasanya.
Tanpa bermaksud menyinggung siapapun lewat ungkapan kegelisahanku di atas, izinkan aku mengucapkan
Selamat Lebaran, semoga maaf diterima, salah dilupakan, dosa diampunkan.
Balada Perasaan
Di umur 30+ lajang begini, aku merasa tidak perlu lagi romantisasi kisah asmaraku. Tapi susah untuk aku yang hobi sambat di medsos. Nyatanya aku punya second account instagram untuk menulis kegalauan kisah romansaku. Macam anak muda saja.
Kadang aku merasa berlebihan. Aku jatuh cinta seperti ketika usiaku belia dulu. Ternyata perasaan jatuh cinta seperti itu tak mengenal usia. Tapi aku sering menyangkalnya. Aku capek.
Sampai suatu ketika aku mencoba mengobrol dengan seorang kawan lamaku. Kubilang aku sedang jatuh cinta, pada seseorang yg berstatus teman. Kawanku itu lanjut menginterogasiku. Kuceritakan pula ketakutanku. Setidaknya 5 tahun belakangan ini, kalau aku jatuh cinta, aku justru ketakutan. Takut ditinggalkan, takut dighosting, takut dijauhi, takut dianya ilfeel, takut dia kecewa, takut perasaan tidak terbalas, bertepuk sebelah tangan. Intinya jatuh cinta justru membuatku takut.
Begitu pula kali ini. Hubunganku baik sekali dengan temanku itu. Tapi aku takut aku akan menghancurkannya kalau dia tahu aku suka padanya tapi dia tidak. Aku tak siap kehilangannya.
Kuceritakan keresahanku pada kawanku. Aku bingung. Meminta saran padanya. Kawanku ini tidak saling kenal dengan temanku, yang aku suka. Sebenarnya setelah kupikir-pikir, aku hanya penasaran dengan bagaimana perasaannya padaku, mengingat sikapnya yang kurasa sudah meresahkan hatiku. Tapi lagi-lagi aku menyangkal, ah pasti hanya perasaan sepihak saja, biar aku pendam saja lalu menjauh. Daripada tahu tapi nanti akhirnya jadi asing. Begitu pikirku saat itu.
Mengetahui rencanaku, kawanku itu menasihatiku.
Begini K, kalau pada akhirnya kamu mau ngelepasin dia, akhirnya dia ternyata gak suka sama kamu, better kamu jangan diem-diem terus pergi. Kalau memang kamu gak berani ngungkapin, paling gak coba tunjukkin aja. Jangan ngejauh diem-diem. Ntar kamu mati penasaran.
Coba aja tunjukkin, deketin terus, keep in touch terus. Tunjukkin kalo kamu ada rasa, kasih kode kek, terang-terangan juga boleh. Kalau dia nyaman-nyaman aja kamu perlakuin gitu, dia nggak menjauh, go for it. Bisa jadi dia juga punya rasa yang sama kan?
Kalau ternyata sebaliknya. Yaudah, berarti memang kamu kudu berhenti. Seperti yang kamu rencanain di awal, kamu menjauh. Seenggaknya kamu bisa nyimpulin perasaannya ke kamu kayak gimana. Baru deh, ngejauh dengan tenang.
Karna mau kamu ngejauh diem-diem, atau dengan ngungkapin dan nunjukkin perasaan kamu ke dia, kalau dia nggak ada rasa, ujungnya bakal sama, K. Kalian bakal awkward juga, bakal asing juga, gak bisa kayak sekarang ini.
Begitu nasihat kawanku waktu itu. Dan kuiyakan saja kata-katanya. Lalu, bolehlah disebut bodoh atau bagaimana. Aku melakukannya, menuruti nasihat kawanku. Aku memang tidak bilang kalau aku menyukainya. Tapi aku tunjukkan banyak hal yang kalau orang lain lihat pasti akan langsung tahu kenapa aku melakukannya.
Sekali, dua kali, masih tidak masalah. Tapi memang tak lama sebelum itu, ada yang berubah dari dia. Aku mulai khawatir. Tapi tetap kutunjukkan hal-hal bodoh, juga hal tak tahu diri lainnya.
Lalu pada suatu hari di awal tahun kemarin, sampailah aku pada masa yang sudah kuduga akan terjadi. Benar. Dia, yang kusuka, memintaku berhenti. Dia tidak lagi nyaman denganku, dia tidak lagi membutuhkanku, dia tidak lagi peduli denganku, dia memang tidak menyukaiku sebagai perempuan.
Baik. Waktunya aku berhenti. Berhenti bertindak bodoh. Berhenti beredar di sekitarnya, berhenti muncul dalam kesehariannya. Berhenti membuatnya tidak nyaman.
Tapi perasaanku belum berhenti.
Ini instagramku kok gabisa kesambung ke tumblr lagi?
Adu Nasib
Untuk apa nasib diadu? Untuk apa nasib dibanding-bandingkan? Diadu atau tidak pun, nasib kita akan menemui takdirnya masing-masing. Kita akan sebut itu nasib baik jika kita dapati nasib sesuai dengan yang kita mau, dan akan mengutuk nasib buruk jika kita temui nasib ini tak sejalan dengan keinginan bahkan yang benar-benar kita hindari. Begitu kan?
Sering sekali, di masa-masa ini, kita temui jika ada orang yang membagikan kisah tentang nasibnya maka akan ada manusia-manusia yang bukannya mendengar dengan seksama, justru tiba-tiba jadi merasa tersaingi dan tak mau kalah membagikan kisahnya. Jika nasib buruk yang diceritakan, akan selalu ada yang mengatakan "Aku lebih buruk". Seakan-akan tak boleh ada orang yang nasibnya lebih buruk darinya.
Sayangnya, ketika ada nasib baik yang dibagikan. Jarang sekali kulihat ada orang berani mengadu nasib baiknya. Alih-alih ikut membagikan nasib baik yang lebih baik, banyak orang yang justru nampak iri, seakan-akan dirinya tak pernah dihampiri nasib baik. Celetukan macam "Enak ya jadi kamu" nampaknya lebih sering terdengar ketimbang "Aku lebih enak".
Kita tidak pernah tahu apa maksud dibalik adu nasib (buruk) yang sering kita jumpai belakangan ini apakah memang bermaksud mengadu nasibnya ataukah sebagai pengingat bahwa akan selalu ada yang lebih buruk nasibnya dari kita sehingga kita diminta bersyukur.
Pun juga tidak adanya orang yang mengadu nasib (baiknya) adalah teguran bahwa kita tak perlu menyombongkan kebaikan dan kesenangan yang kita dapatkan atau justru kurangnya rasa syukur sehingga tak pernah kita rasakan nasib baik yang hadir dalam hidup kita?
#likaliku
Rindu adalah tikam, kala pertemuan hanya angan.
Semoga saja, pada perjalanan takdir yang kita jalani ini ada kebaikan diujung jalannya. Semoga, pada apa yang kita doakan ini, ada ijabah terbaik atas penantian selama ini. Wahai hati, menunduk dan tenanglah.
In the end, I have no one to fall in love with anymore. Even it's myself.
Like a lyric of a song~
"... the truth is I can't have you, truth hurts... "
melewatkan banyak kesempatan bertemu orang baik hanya karena menunggu seseorang yang pada akhirnya tetap tidak menengok ke arahmu juga..
Sampai kapan?
Mungkin sampai kiamat.
Setidaknya kiamat kecil. Bagiku.
Ketika ternyata semua harus berhenti sampai di sini. Itu kiamatku.
Tiba
"Let me know when you arrive..."
Jariku mengetiknya dengan gemulai. Tinggal kugeser jariku ke tanda panah yang berada di sisi kanan layar ponselku agar barisan kata tersebut terkirim pada yang kutuju.
Sayangnya, tak semudah itu pikiranku mengizinkan jariku bergerak. Ada yang berperang dalam benak. Kirim, jangan?.
Kuhapus rentetan huruf tersebut dalam beberapa detik. Kupandangi ponsel.
Kuketik lagi kata-kata tersebut. Jariku menegang. Aku memelototi kata-kata yang tertulis.
Kursor berkedip. Aku bingung. Ada yang berdebat di pikiranku.
"Kirim saja, tidak ada salahnya." Ada suatu suara.
"Untuk apa? Berlebihan. Hapus." Suara lain melawan.
"Yakin? Nanti dia bingung loh." Datang lagi suara lainnya.
"Coba saja, siapa tahu berhasil." Semakin ramai.
"Kamu siapa? Beraninya berkirim pesan semacam itu." Semakin ribut suaranya.
Sebenarnya aku tak perlu-perlu amat mengatakannya. Asalkan esok hari, lusa, atau pekan depan aku masih menerima pesannya, itu sudah cukup mengabarkan bahwa dia sampai di tujuan dengan selamat.
Kuhapus deretan kata yang kutulis dengan tangan bergetar barusan. Kuletakkan ponsel sembari merapal doa untuk keselamatannya.
Dia selamat.
Hatiku belum.
#ceracaumalam
Kalau aku menceritakan semuanya yang sebenar-benarnya pada mereka, mungkin mereka akan berusaha menyelamatkanku. Mereka tak sampai hati membodoh-bodohkan aku. Meski aku tahu aku memang bodoh telah menaruh rasa padamu seperti ini.
Hitungan bulan tak cukup lagi dengan jari tangan dan kaki. Benar. Sudah selama itu perasaanku menjadi tak karuan padamu. Entah sudah berapa kali kubilang 'sudah' pada diriku, kukatakan 'berhenti' pada hatiku. Nyatanya aku masih tak cukup dengan itu. Aku masih tak mau menyudahi, hatiku tak mau berhenti.
Aku kembali lagi dan lagi, padamu.
Tiap aku menghadapi hari yang berat, rasanya aku ingin menemuimu, menghambur padamu, meluapkan kekesalanku. Padahal, jangankan mendengarkan luapan emosiku, aku sekarat di bangsal pun sepertinya kamu hanya berucap 'lekas sembuh' demi kesopanan seorang teman.
Tiap aku berbahagia, rasanya kamu orang pertama yang ingin kukabari perihal kebahagiaanku. Tapi, apa urusanmu? Lagi-lagi, sebagai kawan yang menjaga etikanya, pasti kamu hanya akan mengucapi 'selamat ya, kamu keren' tanpa ada keingintahuan bagaimana aku bisa sekeren itu dan bagaimana selanjutnya.
Kalau mereka tahu yang sebenar-benarnya, mereka akan memintaku berhenti atau mengungkapkan semuanya padamu. Tapi tentu saja aku masih melanjutnya kesia-siaan ini dan sudah pasti aku tak seberani itu untuk mengungkapkannya, aku tidak mau mematahkan hatiku dengan sengaja. Pun aku juga tidak ingin kehilanganmu.
Kalau mereka tahu yang sebenarnya, mereka akan bilang kamu jahat. Tapi tidak, kamu tidak jahat, karna kamu tidak tahu. Kamu tidak tahu aku menyukaimu, kan?
Kalau ada yang mengatakan orang jahat terlahir dari orang baik yang disakiti, boleh dong kalau kita bilang: orang malas terlahir dari orang yang giat bekerja yang dimanfaatkan.
Wkwkwk
Memiliki rasa lain padamu ternyata tak semengerikan yang kupikir sebelumnya. Awalnya aku takut, seperti yang sudah-sudah, aku takut ini hanya perasaan sepihakku saja. Aku takut Kamu tak punya perasaan itu, padahal aku mengharapkannya. Aku takut akan kehilanganmu jika kamu sampai tahu bahwa aku menaruh rasa lalu kamu meninggalkanku. Aku takut aku tak cukup kuat jika akhirnya aku melihatmu dengan yang lain sedangkan aku masih menginginkanmu. Ya, aku mau jatuh hati tapi aku tak mau merasakan patahnya jika terjatuh. Padahal, bukankah itu konsekuensi yang relatif akan terjadi jika sesuatu jatuh?
Tapi, aku tidak menyangka, menaruh hati padamu bisa semenyenangkan ini. Menceritakanmu pada orang-orang yang kupercaya bisa memberiku energi lain. Menceritakan hal-hal yang kusukai tentangmu membuatku senang menjalani hari. Memikirkanmu menciptakan harapan-harapan baru untukku melanjutkan hidup. Menceritakanmu itu melegakan, sekalipun cerita yang tersampaikan sebenarnya menyedihkan. Cerita tentang kamu yang mendiamkanku, kamu yang tak lagi mencariku, kamu yang menghindariku. Cerita tentang kemungkinan-kemungkinan pahit yang akan kuderita jika sampai perasaan ini hanya sepihak. Cerita tentang seberapa besar kehilanganku jika nanti kamu pergi menjauhiku.
Ternyata, sudah sejauh ini aku menaruh rasa padamu. Sudah sekuat ini untukku jatuh hati tanpa ada yang menarikku bangkit.
#likalikuloka
Kerja kerja kerja tipes.
Nggak, nggak takut, tipes mah sakitnya kasat mata.
Aku lebih khawatir,
Kerja kerja kerja depresi.
Bukannya disuruh ke psikiater, yang ada malah dirukyah gue.
Bahkan dalam sujudku, berterusterang pada Tuhanku pun aku malu.