Berpikir positif itu penting, kita semua tahu. Hidup tuh emang lebih enteng kalau kita coba lihat sisi baik dari segala hal. Tapi, jangan sampai kita too blind sama kenyataan, karena positif yang berlebihan bisa bikin kita jadi naif. Bahkan, kalau dibiarkan, jatuhnya malah jadi toxic positivity.
Kita semua pasti pernah denger, “Udah, jangan nangis, pasti ada hikmahnya,” atau “Jangan sedih, masih banyak yang lebih susah dari kita.” Niatan kalimat itu baik, tapi sadar gak sih, sometimes kalimat itu bikin kita gak bisa ngeluarin emosi yang sebenarnya? Padahal, manusiawi banget kalau kita kecewa, sedih, atau marah. Dan kalau terus-terusan disuruh “berpikir positif” tanpa acknowledge perasaan kita, lama-lama kayak nyuruh kita buat bypass emosi. Gak sehat banget.
Positive thinking itu kayak vitamin, kita butuh, tapi dosisnya harus pas. Kalau kita terus-menerus denial sama realita atau masalah, justru kita gak akan belajar apa-apa. Instead of grow, kita malah stuck dalam ilusi “everything is fine,” padahal deep down, we’re not okay. Kadang, life sucks, dan itu gak apa-apa. Yang penting adalah gimana kita face it, bukan lari dari itu.
Jadi gimana dong? Ya, stay real. Acknowledge dulu perasaan kita, baru pelan-pelan cari sisi positifnya. Misalnya, kalau gagal, rasain dulu kecewanya, sit with it, baru pikir, “Oke, apa yang bisa aku pelajari dari ini?” Bukan malah pura-pura senyum sambil bilang, “Ah, gak apa-apa kok,” padahal hati sakit. Karena apa? Being honest sama diri sendiri adalah langkah pertama buat benar-benar healing.