TIBA SURAT DARI WAKTU YANG BELUM TIBA.
Kepada yang terkasih, Bhumi.
Ini ditulis di Jakarta, sayangku. Tahun berapa? Ah, mereka kan hanya perihal angkaยน, sama seperti umur yang sedang kamu rayakan. Tetapi, ini tanggal sembilan Agustus. Sungguhlah sebuah hari dimana kita harus bersukacita.
Gerangan, mengapa? Sebab, kamu lahir. Telah datang seorang putra yang rupawan wajahnya dan baik perangainya. Pun, orang-orang suci tetap tidak ramai-ramai berdoa, melantunkan pujaan, atau membakar sesembahanใ ก sebab, kamu memang bukan nabi (ini kenyataan!).
Ucapku biar saja orang-orang suci, abu dupa, atau nyanyi surga. Toh, di hari ini, kita tetap bisa bersuka ria atas kelahiranmu dengan membakar dua buah lilin. Untuk nanti kita tiup sebelum padam oleh kipas yang tergantung reyot.
Sebelum itu, jangan lupa mengucap doa. Di atas kue yang besarnya bahkan tidak setelapak tanganku, ada ucapan dalam Bahasa Inggris. Tetapi, kamu bisa berdoa dengan bahasa apa saja. Saranku jangan Bahasa Belanda, nanti kita dituduh devide et impera.
Ah, siapa memangnya yang mau kita adu domba? Kurang kerjaan. Utamanya kamu, sudah terlalu banyak beradu dengan nasib pun! Di umur segini, luka dan dukamu tidak lagi dapat kita hitung dengan jemari.
Sayangku, biar patah dan pincang, kamu tetap melawan hidup yang kerap lancang. Bhumi, kekasihku nomor satu di dunia ini, kamu telah berpegangan demikian kuatnya. Sekarang, berpegang saja padaku dan biar dunia tenggalam sendiri dalam bengisnya.
Bhumi, aku pernah mengajarkan kamu berterima kasih dalam Bahasa Jerman (mau kusuruh baca Nietzsche, awalnya). Bilang apa, Bhumi? Jangan, tapi jangan katakan padaku. Coba katakan kepada dirimu yang telah dua puluh sekian tahun berjuang.
Bhumi, untung kamu sampai disini. Kalau tersesat naik angkutan umum nomor 122 padahal seharusnya 121, kita selalu bisa putar balik. Demi Tuhan, jika di masa lalu kamu tersesat dan hilang, aku harus naik yang nomor berapa? Biar menang judiku dengan Tuhan.
Tetapi, kamu sampai. Kamu sampai disini. Di atas sofa kontrakan kita yang sudah butut, aku dapat melihat mulutmu terkatup, damai kelopak matamu mengatup. Apa yang kamu pinta kepada Tuhan yang sering kita lupa? Apapun itu, yang baik-baik, aku aminkan.
Sebelum kita potong kue, coba buka hadiahmu. Apa isinya? Bhumi, ini jelas bukan buku baru. Lihat, ada lipatan di beberapa pojokan, ada guratan di sampul depan. Tetapi sumpah, coba dengar filosofi yang sudah aku pikirkan.
Ini kumpulan cerpen. Lihatlah tanggal yang aku bubuhi dengan pulpen. _Galang Lara, tiga puluh April_. Kamu ingat tanggal itu? Kamu ingat sampulnya yang jelek sebab tidak jelas merah atau merah jambu?
Bidadari Yang Mengembara oleh A.S. Laksana. Kumpulan cerpen itulah yang aku antrikan di sebelahmu, kemudian menarik perhatianmu juga sebab Ia tidak jadi dapat potongan harga.
Bhumi, buku inilah saksi jumpa mata pertama kita.
Coba buka cerpen kedua, Burung di Langit dan Sekaleng Lem, kamu tentu ingat aku bercerita dengan mata berbinar-binar tentang muatan koran mingguan itu. Kamu saksama mendengarkan, _kamu menyisihkan waktu untuk membaca_.













