Fill your heart with Imaan #HijrahLovers #CahayaHati #muhasabahdiri #AllahMahaBesar #dakwahislam #loveislam #instadakwah #muslimgram #islamicquotes #IslamThinking #IslamDiaries #stopmaksiat #InsanInsaf #pictmotivasi
Keni

blake kathryn
Misplaced Lens Cap
he wasn't even looking at me and he found me
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
YOU ARE THE REASON
occasionally subtle
d e v o n

Andulka

❣ Chile in a Photography ❣
Monterey Bay Aquarium

ellievsbear
ojovivo
noise dept.
cherry valley forever
official daine visual archive
Lint Roller? I Barely Know Her
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
art blog(derogatory)

pixel skylines

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Italy
seen from Australia
@latakhaf
Fill your heart with Imaan #HijrahLovers #CahayaHati #muhasabahdiri #AllahMahaBesar #dakwahislam #loveislam #instadakwah #muslimgram #islamicquotes #IslamThinking #IslamDiaries #stopmaksiat #InsanInsaf #pictmotivasi
Bismillahirrahmanirrahim Hasrat atau angan-angan kuat anda janganlah sampai melewati kepada selain Allah, karena Allah yang mulia tidak akan terlewati oleh angan-angan. Dzat yang wajib adanya hanyalah satu, Allah SWT. tidak ada tandingan bagi-Nya. Dialah Dzat yang ada dan berdiri sendiri, tanpa ada yang menyertai. dan Dialah Dzat yang ada sejak zaman azali, tidak ada permulaan bagi-Nya. Ketika anda melihat di sekitar terlihat aneka barang, pada hakikatnya itu tidak wujud, karena semua alam diciptakan oleh Allah sesaat saja. Maka kita mengerti bahwa segenap makhluk yang ada tidak mimilki daya dan upaya, semua gerak-geriknya ada dalam kontrol kekuasaan Allah Yang Maha Esa. Jika akal anda sudah tercetak dengan model konsep keyakinan di atas, serta telah menjadi pemahaman yang terpatri dalam lubuk hati. berarti makna tauhid yang terkandung dalam kalimat لاإله إلا الله betul-betul tertancap kuat dalam otak dan hati anda. Dan menyadari bahwa dalam kekuasaan Allah, tidak ada kekuasaan tandingan, dalam kemuliaan Allah tidak ada kemuliaan yang menandingi, dalam kerajaan Allah tidak ada kerajaan yang menandingi dan dalam ketuhanan Allah tidak ada Tuhan yang menandingi. Karena sudah diyakini bahwa setiap sesuatu yang wujud, muncul dari kehendak Allah, bersamaan dengan maunah-Nya dan akan kembali ke hadirat-Nya. Dan telah anda pahami, sesungguhnya Dzat yang wujud dan memiliki segala yang ada hanyalah satu, Allah Dzat Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, jangan sampai angan-angan anda melewati pada selain Dzat Yang Maha Bijaksana, Allah Azza wa Jalla. Jika anda menginginkan rizqi melimpah, maka bersegeralah datang pada Dzat Yang Maha Mengusai Langit dan Bumi serta isinya.! Jika anda berangan-angan ingin sehat, maka bersegeralah datang kepada Dzat yang telah dijadikan pengaduan oleh Nabi Ibrahim.! sebagaimana perkataanya yang ada dalam firman Allah; “dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku” (QS. Al-Syuara : 80) Jika anda mendambakan ketenangan, keberuntungan dan kesentosaan, maka segeralah menghadap pada Dzat yang berfirman; “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (Qs. Al-Nahl : 97) Dan jika anda memiliki kehawatiran dan takut dari gangguan orang dzalim atau musuh, maka mengadulah pada Dzat yang telah berfirman; "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS. Thaha : 46). Maka jangan sekali-kali anda mengadukan segala keinginan dan kebutuhan kepada selain Allah. Karena hal demikian termasuk tidak meng Esakan Allah. Jadi, akidah itu harus terbangun dari dua unsur, lahir dan batin (Hati dan prilaku) tidak boleh sebagian. Hati yakin pada ke Esaan Allah, tetapi perilaku dzahir tak mencerminkan apa yang diyakini, ini salah.! Prilaku dzahir mencerminkan keyakinan pada Allah, tetapi akidah di dalam hatinya rusak, juga salah.! Jadi akidah yg benar harus terbangun dari dua unsur tersebut. Tak boleh ada yang dikurangi sedikitpun. Sebagaimana yang Rasulullah SAW. ajarkan terhadap sahabatnya Abdullah bin Abbas yang terurai dalam hadis berikut; Nabi SAW. bersabda: “aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR Imam Tirmidzi) Begitulah bimbingan Rasulullah SAW. terhadap ummatnya dalam masalah akidah, sangat konprehensif. Jika sudah jelas, angan-angan dan semua tujuan harus ditujukan kepada Allah, maka interaksi selanjutnya yang dilakukan termasuk sebuah tindakan taat. Seperti berusaha untuk mendapatkan rizqi, berobat untuk memperoleh kesehatan belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dst. Sebab-musabab seperti ini termasuk kelakuan taat (menjalankan perintah Allah), dan bagian yang tak terpisahkan dari lingkup garis akidah. Mestinya kita juga mengerti, bahwa antara sebab-sebab material seperti contoh di atas dan sebab-sebab untuk mendapatkan rahmat Allah itu sama. Semisal menjadikan hamba-hamba Allah yang dekat dengan-Nya seperti para Nabi, Sahabat dan Shalihin sebagai perantara untuk meraih rahmat Allah SWT. Karena, sebagaimana Allah menjadikan hujan sebagai sebab munculnya tumbuh-tumbuhan, makanan sebagai sebab rasa kenyang, Obat-obat sebagai sebab sembuhnya penyakit, juga menjadikan derajat Rasulullah SAW. yang tinggi di sisi-Nya, sebagai sebab mendapatkan rahmat dan syafaat. Bukankah Allah berfirman sesungguhnya Rasullah SAW. diutus sebagai rahmat untuk semesta alam, lihat (QS. Al-Anbiya : 107). Sangat jelas, seorang muslim boleh mnjadikan obat sebagai lantara sembuhnya penyakit, minum air agar segar dan berusaha agar mendapat rizqi. Juga boleh menjadikan Rasulullah SAW. sebagai wasilah atau perantara untuk mendatangkan rahmat Allah serta meraih kesuksesan. Langkah semacam ini, termasuk interaksi yang sesuai tatanan ketentuan Allah yang memang dianjurkan untuk dilaksanakan. Maka sangat heran, jika ada seseorang yang mendapati pasien penderita penyakit yang mengadu kepada dokter, “Dok tolong sembuhkan penyakit saya”. Dia tidak menggubris dan tidak memprotes perkataan itu sama sekali, padahal permohonan semacam itu dapat merusak pada akidah. Namun, jika ia mendapati seorang yang menghadap kapada Allah seraya berkata; “Ya Allah aku bertawasul kepadamu dengan berkah derajat Nabi-Mu, Muhammad SAW. agar Engkau menyembuhkan penyakit yang kami derita”. Dia bertindak mengkafirkan dan memusyrikkan terhadap orang yang berdoa seperti ini, bahkan kadang ia menyuruhnya bersyahadat. So, apa bedanya antara kausalitas semu yang Allah tempatkan dalam obat sebagai penyembuh dan derajat Nabi SAW. yang dibuat tawassul untuk berbagai kebutuhan? Lebih heran lagi, adalah kelompok yang membedakan antara hidupnya Nabi dan wafatnya. Mereka meyakini, bahwa tawassul kepada Nabi SAW. disyariatkan hanya pada waktu hidup beliau, tidak setelah wafatnya. Kelompok seperti ini mengartikan bahwa tawasul kepada Nabi SAW. akan berhasil hanya melalui kekuatan fisik beliau saja. namun setelah beliau wafat, hilang sudah kekuatan itu. Sehingga jika masih bertawasul kepadanya, maka tak ada faidah. Tentu, keyakinan semacam ini keliru, karena menganggap Nabi SAW. memiliki kekuatan intrinsik yang dapat merealisasikan keinginan seseorang. Bahkan dia terlibat dalam kesyirikan yang menghawatirkan, karena kekuatan secara hakiki hanyalah satu, kekuatan Allah SWT. Yang Maha Raja. Menjadi maklum, tawassul yang disyariatkan adalah bertawassul dengan derajat Nabi SAW. yang dimuliakan oleh Allah untuk memperoleh ampunan dan syafaat-Nya. tanpa menganggap bahwa Nabi SAW. yang memberikan segalanya, akan tetapi berkeyakinan semua muncul dari Allah SWT. yang terwujud karena berkahnya. Semoga iman kita tambah kuat dan tidaklah goyang walau diterpa badai yang menerjang, serta mendapat keselamatan di hadapan Allah SWT. Amiin ya Rabbal Alamiin
Apa Tujuan Hidup Kita?
Mayoritas orang menjawab salah ketika ditanya apa tujuan hidupnya. Banyak juga yang nampak berpikir ketika ditanya. Menunjukkan bahwa sebelum ditanya ia tidak pernah memikirkannya. Padahal, jawaban salah berarti hidupnya akan sesat selamanya. Misalnya, seseorang menjawab bahwa tujuan hidupnya adalah mencari kebahagiaan. Maka, ia akan berbuat apa saja yang membuatnya bahagia. Jika dengan mempunyai banyak harta membuatnya bahagia, maka ia akan mengejar harta seumur hidupnya. Jika dengan bercinta dengan perempuan membuatnya bahagia, maka ia akan mengejar-ngejar perempuan seumur hidupnya. Sebagian orang menjawab dengan jawaban yang ia duga benar, yaitu “beribadah”. Dalilnya adalah QS Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya : "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Banyak yang meyakini bahwa ini adalah jawaban yang benar. Tapi sayangnya, ternyata masih salah? Lho, kok bisa? Sebenarnya manusia memang tidak punya tujuan hidup. Yang benar adalah ALLAH ﷻ yang punya tujuan menciptakan manusia. Agar lebih mudah memahami, kita bayangkan ada tukang kayu membuat meja. Siapa yang punya tujuan? Tukang kayu atau meja? Jadi, “untuk beribadah” sebenarnya adalah tujuan ALLAH ﷻ menciptakan manusia. Manusia wajib taat kepada ALLAH ﷻ seperti tujuan diciptakannya. "Taat Tanpa Syarat" Contoh manusia yang taat total kepada ALLAH ﷻ adalah Nabi Ibrahim. Beliau pernah diperintahkan ALLAH ﷻ untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya. Beliau tidak menggubris apakah perintah tersebut melanggar HAM atau tidak, melanggar perikemanusiaan atau tidak. Ada perintah, ya laksanakan. Begitulah seharusnya kita. "taat tanpa syarat". atau taat tanpa banyak penawaran. Diperintahkan berjilbab, ya berjilbab saja. Tidak usah beralasan kepanasan, tidak modis, dll. Lantas, bagaimana cara untuk bisa taat total kepada ALLAH ﷻ ? Tetap di #YukNgaji ISLAM [LA TAKHAF]
MENEBUSI DIRI DENGAN INFAQ EMAS SEPENUH BUMI Sebuah ayat Al Qur’an telah mengisyaratan dengan tegas betapa tingginya NILAI iman, karena orang yang tidak beriman akan mengalami nasib yang sangat malang di akhirat. Bayangkan! Emas sepenuh bumi tidak bisa untuk menebus dosa kekafiran. Maka alangkah besarnya nikmat iman yang telah dianugerahkan oleh ALLAH ﷻ kepada kita. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong”. (QS. Ali Imran : 91 ) ALLAH ﷻ berfirman memperingatkan orang yang kafir sesudah imannya, kemudian kekafirannya makin bertambah, yakni terus-menerus dalam kekafiran sampai mati. tidak mau taubat atau tidak sempat bertaubat. “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An-Nissa’ : 18) Barangsiapa mati masih dalam kekafiran, maka tidak akan diterima darinya suatu kebaikanpun untuk selama-lamanya, sekalipun menginfakkan emas sepenuh bumi (alias mustahil). BERAPAKAH NILAI EMAS SEPENUH BUMI? Sebuah kekayaan yang sangat besar dan di dunia ini, sekaligus tidak ada seorang pun yang memiliki kekayaan sebesar itu. tetapi bagi ALLAH ﷻ , kekayaan sebesar itu belumlah cukup untuk menebus dirinya dari azab Allah. Iman yang dimiliki oleh seorang hamba tak bisa dinilai dengan nilai dunia sebanyak apa pun. Maka beruntunglah yang telah dirintis beriman semenjak lahir, dan sangat beruntung juga bagi yang beriman setelah kafir. Akan tetapi pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri kita masing-masing adalah “Benarkah kita ini telah sungguh-sungguh beriman? jangan-jangan kita ini termasuk golongan yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Hujurat : 14 “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Atau jangan-jangan lebih parah lagi seperti difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Haj : 11 “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” Rasulullah ﷺ mengingatkan kita semua bahwa Iman itu yazidu wa yanqushu, bertambah dan berkurang setiap saat. Maka beliau juga perintahkan kepada kita untuk senantiasa memperbaharui Iman kita. Oleh karena itu sangat perlu bagi kita, dari waktu ke waktu, menengok Iman kita, mengukur dan mengevaluasi Iman kita, menjaganya dari proses degradasi, proses penurunan dan pelemahan Iman, dan berupaya terus melakukan peningkatan dan penguatan. Beberapa penanda sebagai patokan untuk mengukur dan mengevaluasi Iman kita, bisa kita rujuk kepada ayat-ayat Al-Qur’an, satu di antaranya adalah firman ALLAH ﷻ dalam surat Al-Anfal : 02-04. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia.” jaga dan pelihara Iman yang sudah ALLAH ﷻ semayamkan dalam dada kita masing-masing. jangan hanya karena nilai dunia yang tidak seberapa (jika dibandingkan kebahagiaan syurga) Iman kita tergadaikan. Sebaliknya, tantangan sebesar apapun hendaknya tidak membuat kita jadi menyerah. Ingat, bahkan nilai Iman ini lebih berharga dibanding nyawa kita sendiri. Mengorbankan nyawa untuk Iman adalah suatu yang realistis, logis dan akuntabel. Dan itulah resiko sebagai orang yang mengaku beriman. wallahu a'lam bishowab YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA WA ‘ALAA THOO'ATHIK.
SESUATU YANG PALING MULIA
﷽ diriwayatkan dari ibnu Abbas Ra, Rasulullah ﷺ telah bersabda : - Keimanan yang paling mulia ialah memberi keamanan kepada manusia dari perangaimu. - Keislaman yang paling mulia ialah menyelamatkan manusia dari lidah dan tindakanmu. - Hijrah yang paling mulia ialah hijrah dari berbagai keburukan. - Jihad yang paling mulia ialah menewaskan kudamu di medan jihad. - Juhud yang paling mulia adalah jika kalbumu bisa ditenangkan oleh rezeki yang diberikan kepadamu. - Permohonan yang paling mulia yang kamu panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla ialah memohon afiyat dalam agama dan dunia.
Kisah Ibnu Hajar dan Batu Ia adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat ia masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, ia tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan iffa ( menjaga diri dari dosa ) dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Ibnu hajar Al-Asqalani itulah namanya. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir. Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Itu berawal dari kisah beliau dengan batu yang ia jadikan sebagai awal motivasinya dan keinginannya yang kuat untuk belajar. Kisah itu bermula ketika beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin namun ia selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi. Beliaupun meminta izin kepada gurunya untuk meninggalkan sekolahnya. Dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar. Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu. Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal dijaman kita skrang ini.
Cerdasnya Imam Syafi’i Rahimahullah
Dikisahkan bahwa ada sebagian ulama terkemuka di Iraq yang merasa dengki dan iri hati terhadap Imam asy-Syafi’i dan berupaya untuk menjatuhkannya. Hal ini dikarenakan keunggulan Imam asy-Syafi’i atas mereka di dalam ilmu dan hikmah, di samping karena beliau mendapatkan tempat yang khusus di hati para penuntut ilmu sehingga mereka begitu antusias menghadiri majlisnya saja dan merasa begitu puas dengan pendapat dan kapasitas keilmuannya. Karena itu, para pendengki tersebut bersepakat untuk menjatuhkan Imam asy-Syafi’i. Caranya, mereka akan mengajukan beberapa pertanyaan yang rumit dalam bentuk teka-teki untuk menguji kecerdasannya dan seberapa dalam ilmunya di hadapan sang khalifah yang baik, Harun ar-Rasyid. Khalifah memang sangat menyukai Imam asy-Syafi’i dan banyak memujinya. Setelah menyiapkan beberapa pertanyaan tersebut, para pendengki tersebut memberitahu sang khalifah perihal keinginan mereka untuk menguji Imam asy-Syafi’i. Sang khalifah pun hadir dan mendengar langsung lontaran beberapa pertanyaan tersebut yang dijawab oleh Imam asy-Syafi’i dengan begitu cerdas dan amat fasih. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti berikut: PERTANYAAN PERTAMA Apa pendapatmu mengenai seorang laki-laki yang menyembelih seekor kambing di rumahnya, kemudian dia keluar sebentar untuk suatu keperluan lalu kembali lagi seraya berkata kepada keluarganya, “Makanlah oleh kalian kambing ini karena ia sudah haram bagiku.’ Lalu dijawab oleh keluarganya pula, “Ia juga haram bagi kami.” (bagaimana hal ini bisa terjadi.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhnya orang ini dulunya seorang yang musyrik, menyembelih kambing atas nama berhala, lalu keluar dari rumahnya untuk sebagian keperluan lalu diberi hidayah oleh Allah sehingga masuk Islam, maka kambing itu pun jadi haram baginya. Dan ketika mengetahui ia masuk Islam, keluarganya pun masuk Islam sehingga kambing itu juga haram bagi mereka. PERTANYAAN KEDUA Ada dua orang Muslim yang berakal minum khamar, lalu salah satunya diganjar hukum Hadd (dicambuk 80 kali-red.,) tetapi yang satunya tidak diapa-apakan. (kenapa bisa demikian.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhnya salah seorang di antara mereka berdua ini sudah baligh dan yang satunya lagi masih bocah (belum baligh). PERTANYAAN KETIGA Ada lima orang menzinahi seorang wanita, lalu orang pertama divonis bunuh, orang kedua dirajam (dilempar dengan batu hingga mati-red.,), orang ketiga dikenai hukum hadd (cambuk seratus kali-red.,), orang keempat hanya dikenai setengah hukum hadd sedangkan orang kelima dibebaskan (tidak dikenai apa-apa). (Kenapa bisa demikian.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Karena orang pertama tersebut telah menghalalkan zina sehingga divonis murtad dan wajib dibunuh, orang kedua adalah seorang yang Muhshan (sudah menikah), orang ketiga adalah seorang yang Ghairu Muhshan (belum menikah), orang keempat adalah seorang budak sedangkan orang kelima adalah seorang yang gila. PERTANYAAN KEEMPAT Seorang laki-laki mengerjakan shalat, lalu tatkala memberi salam ke kanan isterinya menjadi ditalak, tatkala memberi salam ke kiri batallah shalatnya serta tatkala melihat ke langit, dia malah wajib membayar 1000 dirham. (kenapa bisa begitu.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Tatkala memberi salam ke kanan, ia melihat seseorang yang telah ia nikahi isterinya saat dia menghilang (dalam pencarian), maka ketika ia melihatnya (suami lama isterinya tersebut) sudah hadir, ditalaklah isterinya tersebut dan tatkala menoleh ke arah kirinya, dia melihat ada najis sehingga batallah shalatnya, lalu ketika menengadah ke langit, dia melihat bulan sabit telah nampak di sana sementara ia punya hutang sebesar 1000 dirham yang harus dibayarnya pada awal bulan begitu nampak bulan sabit tersebut (karena dia harus membayar hutang tersebut pada awal bulan hijriah-red.,). PERTANYAAN KELIMA Ada seorang imam melakukan shalat bersama empat orang jama’ah di masjid, lalu masuklah seorang laki-laki dan ikut melakukan shalat di samping kanan sang imam. Tatkala imam memberi salam ke kanan dan melihat orang tersebut, maka ia wajib dieksekusi mati sedangkan empat orang yang bersamanya harus dihukum cambuk sedangkan masjid tersebut wajib dihancurkan, (bagaimana bisa demikian.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhnya lelaki yang datang itu dulunya memiliki seorang isteri, lalu dia bepergian dan meninggalkannya (mantan isterinya tersebut) di rumah saudaranya lantas si imam ini membunuh saudaranya tersebut dan mengklaim bahwa perempuan itu adalah isteri korban yang dikawininya (padahal ia adalah saudara perempuan si korban-red.,) lantas ke-empat orang yang melakukan shalat bersamanya itu bersaksi atas hal itu (bersaksi dusta-red.,), sedangkan masjid tersebut dulunya adalah rumah si korban (saudara laki-laki si wanita yang jadi isterinya-red.,) lalu dijadikan oleh si imam sebagai masjid (sehingga wajib dihancurkan-red.,). PERTANYAAN KEENAM Apa pendapatmu mengenai seorang laki-laki yang memiliki budak namun melarikan diri, lalu orang ini berkata, “Dia bebas (merdeka) jika aku makan, hingga aku menemukannya (alias: aku tidak akan makan hingga bisa menemukannya dan bila aku ternyata makan sebelum menemukannya, maka status budak tersebut adalah bebas/merdeka-red.,), bagaimana jalan keluar baginya dari ucapannya tersebut? Jawab Imam asy-Syafi’i: Ia hibahkan saja budak tersebut kepada sebagian anak-anaknya kemudian dia makan, kemudian setelah itu ia menarik kembali hibahnya tersebut. PERTANYAAN KETUJUH Ada dua orang wanita bertemu dengan dua orang anak laki-laki, lalu kedua wanita tersebut berkata, “Selamat datang wahai kedua anak kami, kedua suami kami dan kedua anak dari kedua suami kami.” (bagaimana gambarannya?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhnya kedua anak laki-laki itu adalah dua anak dari masing-masing wanita tersebut, lalu masing-masing wanita itu menikah dengan anak laki-laki temannya (kawin silang-red.,), maka jadilah kedua anak laki-laki itu sebagai kedua anak mereka berdua, kedua suami mereka berdua dan kedua anak dari kedua suami mereka. PERTANYAAN KEDELAPAN Seorang laki-laki mengambil sebuah wadah air untuk minum, lalu dia hanya bisa meminum separuhnya yang halal baginya sedangkan sisanya menjadi haram baginya, (bagaimana bisa terjadi.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhnya laki-laki itu telah meminum separuh air di wadah, lalu ketika meminum separuhnya lagi ia mengalami ‘mimisan’ sehingga darah menetes ke wadah itu sehingga membuat darah bercampur dengan air. Maka, jadilah ia (sisanya tersebut) haram baginya. PERTANYAAN KESEMBILAN Ada seorang laki-laki memberi kantong yang terisi penuh dan telah disegel kepada isterinya, lalu ia meminta kepada isterinya tersebut untuk mengosongkan isinya dengan syarat tidak membuka, merobek, menghancurkan segel atau membakarnya sebab bila ia melakukan salah satu dari hal tersebut, maka ia ditalak. (apa yang harus dilakukan sang isteri.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhya kantong itu terisi penuh oleh gula atau garam sehingga apa yang harus dilakukan wanita hanyalah mencelupkannya ke dalam air hingga ia mencair sendiri. PERTANYAAN KESEPULUH Seorang laki-laki dan wanita melihat dua orang anak laki-laki di jalan, lalu keduanya mencium kedua anak laki-laki tersebut. Dan tatkala keduanya ditanyai mengenai tindakan mereka itu, si laki-laki itu menjawab, “Ayahku adalah kakek dari kedua anak laki-laki itu dan saudaraku adalah paman keduanya sedangkan isteriku adalah isteri ayahnya.” Sedangkan si wanita menjawab, “Ibuku adalah nenek keduanya dan saudara perempuanku adalah bibinya (dari pihak ibu).” (siapa sebenarnya kedua anak itu bagi kedua orang tersebut.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhnya laki-laki itu tak lain adalah ayah kedua anak laki-laki itu sedangkan wanita itu adalah ibu mereka berdua. PERTANYAAN KESEBELAS Ada dua orang laki-laki berada di atas loteng rumah, lalu salah seorang dari mereka jatuh dan tewas. Sebagai konsekuensinya, isteri orang yang tewas tersebut menjadi haram bagi temannya yang satu lagi. (bagaimana ini bisa terjadi.?-red.,) Jawab Imam asy-Syafi’i: Sesungguhnya laki-laki yang jatuh lalu tewas itu adalah orang (majikan/tuan) yang telah menikahkan putrinya dengan budaknya yang bersamanya di atas loteng tersebut (yang selamat), maka tatkala ia tewas, putrinya tersebut mewarisinya sehingga menjadi pemilik budak yang tidak lain suaminya tersebut, maka jadilah ia (putri majikannya tersebut) haram baginya. Sampai di sini, sang khalifah Harun ar-Rasyid yang menghadiri perdebatan tersebut tidak mampu menyembunyikan rasa kagumnya terhadap kecerdasan Imam asy-Syafi’i, spontanitasnya, kebagusan pemahamannya dan keindahan ilmunya seraya berkata, “Maha suci Allah atas karunianya kepada Bani ‘Abdi Manaf; engkau telah menjelaskan dengan baik dan menafsirkan dengan begitu menawan serta mengungkapkan dengan begitu fasih.” Maka berkatalah Imam asy-Syafi’i, “Semoga Allah memanjangkan umur Amirul Mukminin. Aku mau mengajukan kepada para ulama tersebut satu pertanyaan saja yang bila mereka dapat menjawabnya, maka alhamdulillah sedang bila tidak bisa, aku berharap Amirul Mukminin dapat mengekang keusilan mereka terhadapku.” “Ya, itu hakmu, silahkan ajukan pertanyaanmu kepada mereka, wahai asy-Syafi’i,?” kata sang khalifah “Ada seorang laki-laki yang meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak 600 dirham namun saudara wanitanya hanya mendapatkan bagian 1 dirham saja dari warisan tersebut, bagaimana cara membagikan warisan tersebut,?” tanya asy-Syafi’i. Maka, masing-masing dari para ulama tersebut saling memandang satu sama lain begitu lama namun tidak seorang pun dari mereka yang mampu menjawab satu pertanyaan tersebut sehingga tampak keringat membanjiri jidat mereka. Dan setelah begitu lama mereka hanya terdiam, berkatalah sang khalifah, “Ayo, katakan kepada mereka apa jawabannya.!” “Orang tersebut meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris; dua anak perempuan, seorang ibu, seorang isteri, dua belas orang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan. Jadi, dua anak perempuannya itu mendapatkan dua pertiganya, yaitu 400 dirham; si ibu mendapatkan seperenam, yaitu 100 dirham; isteri mendapatkan seperdelapan, yaitu 75 dirham; dua belas saudara laki-lakinya mendapatkan 24 dirham (masing-masing 2 dirham) sehingga sisanya yang satu dirham lagi itu menjadi jatah saudara perempuannya tersebut,” jawab Imam asy-Syafi’i setelah orang-orang yang ingin menjatuhkannya di hadapan khalifah yang amat mencintainya itu berbuat nekad terhadapnya. Dan jawaban Imam asy-Syafi’i tersebut membuat sang khalifah tersenyum seraya berkata, “Semoga Allah memperbanyak pada keluarga besarku orang sepertimu.” Lalu beliau memberi hadiah kepada Imam asy-Syafi’i sebanyak 2000 dirham. Hadiah itu diterimanya, lalu dibagi-bagikannya kepada para pelayan istana dan para pengawal. Sumber: [Mi`ah Qishshah Wa Qishshah Fi Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin karya Muhammad Amin al-Jundy, Juz.II, h.3-10]
Imam Syafi’i: Ibuku Tak Punya Uang Untuk Membeli Kertas
Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata, “Aku hafal Al-Qur’an ketika usiaku tujuh tahun, dan hafal Al-Muwaththa’ di usia sepuluh tahun. Ketika khatam Al-Qur’an aku masuk ke dalam masjid. Di situ aku duduk bersama para ulama, ikut menyimak perbincangan dan tanya-jawab sehingga aku menghafalnya. Ibuku tak punya uang untuk membeli kertas. Maka, jika menemukan tulang, kuambil dan aku pun menulis di situ. Setelah dipenuhi tulisan, kumasukkan ke dalam guci yang sudah lama kumiliki.” Ia juga berkata; “Aku tidak punya harta. Tetapi, aku sudah menuntut ilmu sejak masih belia—usianya di bawah tiga belas tahun. Aku pergi ke kantor-kantor mencari kertas yang bisa ditulisi. Di situlah aku menuliskannya.” (Uluw al-Himmah hal.147)
Ibnul Jauzi (W.597H) Membaca 200.000 lebih Jilid Buku
Saat membahasa tentang membaca buku, di dalam Shaid al-Khatir Ibnu Jauzi berkata menceritakan dirinya, “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di madrasah an-Nidhamiyyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, al-Humaidi, Abdul Wahhab bin Nashir dan yang terakhir Abu Muhammad bin Khasysyab. Aku pernah membaca semua buku tersebut serta buku lainnya. Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.” Kemudian Ibnul Jauzi memaparkan hasil pengkajian ilmunya. [Shaid al-Khatir hal.557] Ibnul Jauzi rahimahullah juga menasihati orang alim dan pencari ilmu; “Sebaiknya kamu mempunyai tempat khusus di rumahmu untuk menyendiri. Di sana kamu bisa membaca lembaran-lembaran bukumu dan menikmati indahnya petualangan pikiranmu.” [Shaid al-Khatir hal.318]
Kisah Anak Kecil Yang Menasehati Abu Hanifah Rahimahullah
Di nukil dari kitab “Muqodimah Hasyiah Ibnu Abidin” pada jilid yang ke 1/67, kisahnya Imam Abu Hanifah bersama seorang anak kecil, berikut nukilannya: Suatu ketika Imam Abu Hanifah melihat seorang anak kecil yang sedang bermain-main dengan lumpur, maka beliau menghampirinya lalu berkata kepadanya: “Wahai anak kecil, hati-hati nanti kamu jatuh terpeleset ke tanah”. Anak kecil tersebut menjawab perkataan sang Imam: “Hati-hati juga dirimu dari jatuh (ke dalam kesalahan), karena jatuhnya seorang alim akan bisa menjadikan jatuhnya dunia”. Maka semenjak mendengar ucapan tersebut Imam Abu Hanifah enggan untuk memberi fatwa kepada manusia, melainkan setelah terlebih dahulu mempelajari isi pertanyaanya dan mendiskusikan bersama murid-muridnya selama sebulan penuh.
Kelelawar Alkisah seekor burung cendrawasih bertemu dengan kelelawar. Cendrawasih bertanya pada kelelawar : Hai kelelawar, mengapakah engkau tak menggunakan sayapmu dipagi dan siang hari untuk terbang menikmati indahnya alam ini?? Kelelawar menjawab : Sesungguhnya Allah menjadikan siangku untuk rehatku dan malamku untuk mencari makan. Cendrawasih bertanya : Apakah kau tidak jemu begitu terus menerus?? Kelelawar menjawab : Sesungguhnya aku lebih terhibur dengan dzikirku pada Rabb semesta alam, jawab kelelawar. Lalu kelelawar melanjutkan perkataannya : Wahai cendrawasih ketahuilah olehmu bahwa aku dulu adalah seekor tikus yang terkenal suka bermain-main dan merusak apa yang nampak olehku. Lalu aku tersadarkan oleh seekor ulat yang begitu arifnya sampai ia menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu. Dari situlah aku merubah akhlakku. Aku lebih banyak mengurung diri di gua dan bergelantung seperti kepompong meski lelah dan tersiksa. Aku tetap berteguh dalam niatku. Maka Allah menjadikan Kuasa-Nya atas diriku, diberi-Nya aku sepasang sayap yang seimbang dengan keadaan tubuhku, dihilangkan-Nya ekor panjangku, dipendekkan-Nya mulut dan hidungku maka jadilah aku seperti yang kau lihat kini. Aku lebih senang diingatkan oleh bentuk tubuhku hai cendrawasih dan aku lebih terhibur oleh dzikirku kepada-Nya karena bentuk tubuhku pula. Yang pertama, Dengan diberikan-Nya sayap kepadaku selain menjadi alat untukku terbang dan mencari makan, sayapku juga dijadikanNya selimut untukku. Bagaimana aku bisa berhenti untuk bersyukur kepadaNya bila tidurku dijadikan nikmat oleh-Nya. Yang kedua, Dengan dihilangkan ekorku maka aku selalu mengingat bahwa aku harus hilangkan perbuatan burukku yang lalu-lalu. Bagaimana bisa aku berpaling dari-Nya, Tuhan yang mengajariku arti kebaikan. Yang ketiga, Dengan dipendekkan-Nya mulut dan hidungku bahwa itu mengingatkanku selalu agar aku bukanlah makhluk yang serakah karena aku adalah makhluk yang bisa memilah mana makanan yang baik dan mana makanan yang buruk. Bagaimana aku tak tergugah oleh-Nya kawan sedang nyata benar-benar aku telah dibimbing-Nya. Ketahuilah wahai burung cendrawasih yang cantik rupa. Bahwasannya sesuatu akan lebih indah bila sesuatu itu mengalami proses. Walaupun sakit, walaupun sedih bercampur duka berkepanjangan maka akan lebih indah nantinya bila derita itu ditelapak-Nya. Dan cendrawasihpun menjadi faham akan sebuah pelajaran dari sang kelelawar. Dan akhirnya cendrawasihpun lebih banyak bertengger dan bersyair tentang Tuhan dengan kicau merdu-Nya ... #renungandiri..
semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat-Nya untuk saudara-saudara kita di Palestine. Aamiin
#PrayForGaza
Allahumma shalli wa salim ala Nabiyyina Muhammad
وفي السجود ، وجدت ما كنتُ أبحث عنه