📠Resume Materi Kuliah WhatsApp Grup Rumah Main Anak 5,6,7 🎞🎞🎞🎞🎞🎞 Judul materi: Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 2-4 Tahun Hari/tanggal: Rabu/ 6 April 2016 Pemateri: Chairunnisa Rizkiah, S.Psi Peresume: pena ganda MATERI KULIAH 🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨 👋 Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, berdasarkan jenis otot yang digunakan keterampilan motorik dibagi menjadi motorik kasar dan motorik halus. Keterampilan motorik halus (fine motor skills) berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot-otot ujung jari serta koordinasi mata dan tangan (hand-eye coordination). Bagian tubuh lain yang terlibat dalam kegiatan motorik halus adalah pergelangan tangan, lengan, sampai pangkal lengan atas dan bagian sendi di bahu. 👋 Mengapa keterampilan motorik halus penting untuk dipelajari anak, terutama di usia prasekolah dan usia 2 tahun yang merupakan masa transisi menuju usia prasekolah? Ada sejumlah pertimbangan tentang urgensi keterampilan motorik halus yang saya rangkum dari berbagai sumber: 1. Keterampilan motorik halus dibutuhkan anak untuk melakukan self-care (rawat diri). Contohnya, memakai dan melepas pakaian, makan dan minum, membersihkan diri (mencuci tangan, menyikat gigi, mandi). 2. Penguasaan keterampilan dalam menggunakan tangan akan menjadi bekal bagi anak untuk mempelajari hal-hal baru lainnya yang ia butuhkan dalam perkembangannya. Kalau saya perlu menyebutnya dengan istilah yang agak lebih keren, keterampilan tersebut menjadi “stepping stone” bagi perkembangan anak di tahapan usia berikutnya. Contohnya adalah kemampuan anak untuk menggunakan stationery (pensil, gunting, penghapus, dll), akan menjadi modal untuk ikut serta dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas. Tidak kalah penting, kreativitas dan imajinasi anak juga semakin berkembang dengan beragamnya kegiatan yang dapat ia lakukan. 3 Berkaitan dengan perkembangan kognitif anak. Kegiatan motorik halus juga melibatkan kemampuan persepsi visual dan kemampuan analisa, misalnya mengamati ciri-ciri fisik benda (warna, ukuran, bentuk), menemukan benda yang tepat, mencari benda yang sama dan berbeda, dan lain-lain. Kemampuan problem solving anak juga dilatih melalui kegiatan-kegiatan yang semakin lama semakin bertambah tingkat kesulitannya. Contohnya, awalnya anak diminta mengambil kancing yang ukurannya cukup besar. Lama-kelamaan, kancing yang diberikan semakin kecil. Dari tantangan yang ia hadapi, anak belajar bahwa untuk mengambil benda yang lebih kecil, ia perlu menjepit benda itu lebih kuat dengan ujung-ujung jarinya, dan ia mungkin hanya perlu menggunakan jari jempol dan telunjuk. 4 Berkaitan dengan perkembangan psikososial anak. Seperti yang pernah saya tulis tentang perkembangan anak usia 2-4 tahun secara umum, di usia tersebut anak mulai membangun kemandirian. Dengan lebih banyak keterampilan rawat diri, eksplorasi, dan problem solving, anak juga akan lebih percaya diri terhadap kemampuan dirinya. 👋 Ada banyak sekali jenis kegiatan yang membutuhkan keterampilan motorik halus. Berikut adalah sebagian di antaranya: 👍 Anak usia 2 tahun 🔹Bertepuk tangan 🔹Mengenggam benda dengan erat, dengan dua tangan atau satu tangan. Contohnya, memegang gelas minuman 🔹Mulai belajar memegang benda dengan ujung jari (menjumput) 🔹Menggambar dengan jari (finger painting) dengan cat 🔹Melakukan aktivitas manipulasi dengan alat tulis: membuat coretan (scribble) 🔹Membalik halaman buku dari ujung lembar kertas 🔹Menutup dan membuka wadah, seperti kotak, lemari, dan laci 🔹Menyusun balok ke arah atas (membentuk menara) 🔹Membentuk adonan, paling mudah playdough 🔹Memasukkan benda ke dalam lubang sesuai dengan bentuknya 🔹Memutar gagang, misalnya anak memutar pedal sepeda dengan tangan dan menarik gagang pintu 👍Anak usia 3-4, selain dapat melakukan kegiatan-kegiatan di atas, juga sudah mulai menguasai kemampuan berikut: 🔹Memasukkan tali atau benang ke dalam lubang, misalnya meronce manik-manik/sedotan dan lacing. Lacing ini dilakukan dengan cara membolongi permukaan benda (misalnya piring plastik, karton, atau papan) dengan lubang-lubang yang cukup banyak, lalu anak ‘menjahit’ benang melewati lubang-lubang tersebut. 🔹Melakukan aktivitas manipulasi dengan alat tulis: menelusuri garis dengan alat tulis (tracing), meniru gambar bentuk dasar (misalnya kotak, segitiga, lingkaran). Sebagian anak juga mulai menulis beberapa huruf capital yang mudah (misalnya I, A, O, T, L) 🔹Mengambil dan menyusun potongan-potongan puzzle sederhana, mulai dari puzzle 4 pieces 🔹Menggunakan peralatan makan (sendok dan garpu, di budaya tertentu belajar menggunakan sumpit) 🔹Menggunakan gunting, menggunting dengan mengikuti garis tanpa terputus 🔹Menempelkan benda ke permukaan material seperti kertas dan papan 🔹Memasang dan melepas kancing, membuka dan menutup resleting, memasang dan membuka velcro. 👋 Hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan motorik halus anak: 1. Anak belajar untuk menguasai keterampilan secara bertahap. Semakin lama, kualitasnya meningkat dan kegiatannya menjadi lebih kompleks. Saya ambil contoh yang paling sering ditanyakan oleh orangtua: menggunting dan menulis. Sebelum anak dapat menggunakan gunting, anak perlu belajar merobek kertas. Merobek kertasnya bukan dengan menariknya ke arah samping, tapi menggunakan ujung-ujung jari jempol dan telunjuk (kadang jari tengah juga) untuk merobek kertas ke arah depan dan belakang. Anak juga perlu belajar menggerakkan pergelangan tangannya saat memegang benda. Menggunting membutuhkan keterampilan di kedua belah tangan, yang satu menggerakkan gunting dan yang lain memutar kertas. Selanjutnya anak mulai belajar menggunting garis-garis lurus yang pendek, misalnya di ujung-ujung kertas (membuat ‘renda’ di ujung kertas). Barulah anak mulai menggunting garis yang lebih panjang dan beragam, dan terakhir menggunting bentuk. Menulis tidak hanya membutuhkan keterampilan jari, melainkan juga otot-otot lengan, bahkan sampai ke persendian bahu. Oleh karena itu, akan lebih baik bila anak mulai menulis/menggambar di permukaan yang luas daripada langsung menggambar di kertas ukuran kecil (A4 atau lebih kecil). Anak akan belajar mengontrol gerakan di persendian bahu dan lengannya. Kalau selalu menggambar di kertas kecil, gerakan otot-otot tersebut justru terbatas dan anak bisa cepat lelah. Makanya bagi anak-anak, lebih seru mencoret-coret papan tulis besar atau dinding karena lebih luas. Jreng jreng, jangan panik ya…Selain itu, anak juga tidak akan tiba-tiba langsung menulis huruf. Ia akan mulai dari membuat coretan acak (scribble), yang makin lama makin jelas bentuknya. Selanjutnya anak bisa mulai mengikuti titik-titik (tracing) garis atau bentuk sederhana (kotak, lingkaran, segitiga). Lama-kelamaan, orangtua bisa mencontohkan cara menggambar bentuk sederhana lalu anak menirunya tanpa tracing. Bila anak sudah menguasai kemampuan meniru gambar bentuk ini, ia akan siap untuk belajar menulis huruf dan angka. Huruf dan angka itu juga adalah bentuk, kan. 2. Pada usia 2-4 tahun, biasanya anak mulai terlihat lebih sering menggunakan tangan tertentu untuk memegang benda. Di sini, mulai muncul handedness, yaitu pilihan tangan yang dominan dan lebih nyaman bagi anak. Sebagian besar anak memilih tangan kanan, namun ada juga yang lebih baik kualitas kerjanya bila menggunakan tangan kiri. Bila orangtua memiliki nilai tertentu, seperti misalnya dalam Islam hal-hal baik seharusnya dilakukan dengan tangan kanan, di usia ini anak masih bisa dilatih untuk lebih banyak menggunakan tangan kanan untuk menggambar, makan, dan lainnya. Tentunya dengan tetap memperhatikan kenyamanan anak. Ada begitu banyak jenis material yang dapat digunakan untuk membantu anak bereksplorasi dan mengembangkan keterampilan motorik halusnya. Bahan-bahan yang bisa digunakan tidak hanya produk perusahaan mainan, namun juga yang sering ditemui sehari-hari seperti tepung, garam, pewarna makanan, kerikil, daun-daunan, dan lain-lain. Ibu-ibu di sini sudah super keren lah kalau urusan pemanfaatan bahan. Namun demikian, keamanan bahan-bahan tersebut juga perl diperhatikan. Misalnya, untuk krayon, cat, pensil warna, lem, clay playdough pastikan bahannya nontoxic dan kalau bisa diusahakan beli yang mudah dicuci (washable). Hindari memberikan krayon yang sudah sangat pendek atau bagian mainan yang terlalu kecil pada anak yang masih kecil, terutama yang masih suka memakan apa saja. Di label mainan biasanya ada peringatan “choking hazard”, benda mudah tertelan. Untuk ibu yang suka mengajak anak memasak bersama, tempatkan anak di jarak yang aman dari kompor, tabung gas, benda tajam, atau benda-benda yang bisa jatuh. Bahan makanan yang masih mentah juga tidak semuanya aman dimakan, misalnya adonan yang mengandung telur mentah. Untuk anak usia 2-3 tahun, penggunaan gunting juga masih perlu sangat diawasi. Murid saya dulu ada yang pernah menggunting rambut temannya, padahal gurunya cuma lengah beberapa detik 🙈 👍 Terakhir, saya ingin share dua link website yang sangat saya sukai. Di website ini ada banyak ragam kegiatan untuk anak, dan bahan-bahannya secara umum mudah didapatkan. Untuk keterampilan motorik halus, linknya langsung ke sini: http://www.prekinders.com/fine-motor-skills/ http://theimaginationtree.com/2013/09/40-fine-motor-skills-activities-for-kids.html Selain beberapa contoh di atas, contoh lainnya seperti berikut: » Menghias gambar dengan kertas krep. Remas-remas kertas krep jadi gulungan-gulungan kecil lalu tempel. Dorong anak untuk mengambil kertas pakai jempol, jari telunjuk, dan jari tengahnya. » Memasang dan melepas kancing. » Membuka dan menutup resleting. » Masukkan water beads ke dalam botol. » Masukkan koin ke celengan. » Menjepit dengan jepit jemuran. » Memindahkan pom-pom dengan pinset atau pencapit. » Main puzzle dan lego. » Main tempel-tempel stiker. » Meronce manik-manik. » Meremas-remas spons. » Menggunting, secara asal maupun mengikuti pola. Semoga bermanfaat 👋😀 🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨 〰〰〰〰〰〰〰〰〰 Tim Divisi Materi Rumah Main Anak 〰〰〰〰〰〰〰〰〰 ❔✅TANYA JAWAB 1⃣ Bagaimana caranya mengasah motorik halus anak 2,7 thn apabila anak sensitif dgn bau playdough, slime, tepung ataupun pasir kinestatis dr usia 2 thn. Adakah media pengganti selain menggunakan media diatas? (Maria / 2,7 thn / RMA 7) Jawab: Halo Mba Maria. Menstimulasi motorik halus, tidak hanya bermain playdough, slime, tepung, maupun pasir. Masih banyaaaak sekali yg bisa kita lakukan utk menstimulasi motorik halus anak2, Mba. Seperti misalnya, meremas2 kertas, menyemprot menggunakan spray, menuang air, memindahkan manik2 dari satu wadah ke wadah lain, meronce, memeras air dengan menggunakan spons, transfer air dengan pipet/suntikan, juga bermain puzzle. Jika memang sensitif dgn bau2an tersebut, silakan memilih kegiatan yg tidak menimbulkan sensitif tersebut. Untuk media penggantinya kalau playdough bisa dgn 'lilin mainan yg warna-warni', slime sepertinya belakangan ini banyak yg buat sendiri ya Mba yg tanpa borax, pasir bisa dgn pasir betulan. Apakah bermain pasir pantai juga sensitif, Mba? ✅ 2⃣ Saya mau nanya anak saya, Faiz, lbh senang cenderung menggunakan tangan kiri dan kaki kiri (misal kalau menendang bola), yg ingin saya tau, apa kelebihan (terutama ini yg saya ingin tau) dan kekurangan menggunakan tangan dan kaki kiri untuk aktivitas. Sebagai muslim kami selalu mengajarkan untuk makan dan salam dan hal2 yg baik dg tangan kanan tp tetap faiz suka pakai tangan kiri kalau tidak diingatkan. Untuk menulis dan menggambar tidak kami larang tp kakek neneknya suruh semuanya tangan kanan. Apa tindakan kami sbg orang tua tepat? Terima kasih para narasumber😊 (Ulfah / Bangkinang Riau / Faiz 3y2m, Afiqah 9 m / RMA7) Jawab: Sore Mba Ulfah.. Bagi anak2 yg dominan tangan kiri memang bukan hal yang nyaman jika dipinta utk melakukan sesuatu dgn tangan kanannya. Ini sama saja halnya dengan kita yg biasa melakukan aktivitas menggunakan tangan kanan, lalu dipinta menulis misalnya, dgn tangan kiri, tentulah bukan sesuatu yg mudah. Kidal bisa jd menurun dari keluarga. Coba mba Ulfah cek, adakah keluarga mba Ulfah yg kidal? Anak saya sendiri yg kecil dominan left hand, ia lebih terampil menggunakan tangan kirinya utk melakukan sesuatu. Kidal ini memang karena menurun dr Kakeknya. Bagi kami, jika melakukan sesuatu yg substantif berkaitan dgn agama, nilai dan norma, seperti: makan dgn tangan kanan, bersalaman dgn tangan kanan, bersuci dgn tangan kiri, maka harus benar demikian adanya. Namun, unt uk hal-hal lain seperti mencoret-coret, bermain bola, dll kami membiarkannya melakukan dgn tangan kiri. Semoga membantu ya, Bun ✅ 3⃣ Anak saya, Arka 3,5 th, sangat "mudah jijik". Ogah main kotor2an. Jadi dia enggan kalau saya ajak main dgn pasir warna, cat air, dll. Bgmn solusinya? (Nine / Magelang / Arka 3,5 th / RMA7) Jawab: Halo Mba Nine dan Arka di Magelang. Bisa dimulai pelan-pelan Mba, dr tingkat kekotoran yg paling "lembut". Misalnya, mengelem sesuatu dengan tangannya. Apakah juga jijik? Apakah Arka merasa tidak nyaman jika mandi bola? Merasa sangat kesakitan dgn merk baju di lehernya? Sulit fokus untuk melempar bola ke suatu tempat? Sulit untuk menggunting? Bereaksi sensitif jika disentuh? Atau sangat tidak nyaman dengan cahaya? Kita diskusi dulu ya Bun. Terkait "jijikan", sebenarnya tiap anak berbeda-beda prosesnya. Anak saya yg pertama dulu finger painting saat 13m, dan langsung minta cuci tangan. Tp, saya coba terus kasih, terus kasih. Meski hanya sebentar. Di usia 2 tahunan ia sudah mulai menikmati bermain apapun yg berkaitan dengan 'jijik'an. Sedangkan anak saya yg kedua, under 1y sudah oke2 saja finger painting, pegang yg lengket2, dan betah, ga minta cuci tangan 😁 Jadi, memang anak2 berproses InsyaAllah Bun. Dikenalkan aja tetap pelan2 sedikit demi sedikit, sebentar2. Tiap anak berbeda proses dan karakternya. Fokus saja pd perkembangan anak sendiri, jadi kita ga usah banding-bandingkan ya, bun 😂 4⃣Anak sy yg pertama, laki2 (3y7m) ketika diberi stimulasi ato tgs utk melatih motorik hlsny, krg telaten dan fokus dlm menyelesaikannya. Alasannya udh capek, aku g bs bunda ato ga mau ah. Tp kl utk motorik kasarnya dia lebih semangat. Apakah hal itu terkait dg metode belajar yg diterapkan? (visual,audio dan kinestetik) (Indri,kuningan,3y7m&7m,RMA6) 5⃣Anak saya susah kalau diajak mencoba permainan motorik halus seperti tracing, menggunting, menghitung pom2, dsb. jawabannya bosan, kecuali bertema kereta/ mobil kesukaannya. Ia jg saya lihat tipe kinestetik jd tdk bisa anteng duduk lama. Apa stimulasi yg pas utk motorik halusnya? terimakasih (Seninda, Bandung,3th9bln,RMA6) 6⃣Bagaimana caranya menstimulasi anak untuk menulis. Anak saya, biasanya saya ajak menulis atau sekedar corat-coret tapi belum ada 2 menit sudah bosan dan lebih memilih bermain yang lain. Begitu dg kegiatan meronce, dia cepat sekali bosan. (Yuli-Tangsel-26m-RMA 6) Jawab: 4⃣5⃣6⃣ Halo Mba Indri, mba Seninda, dan Mba Yuli. Karena pertanyaannya saling berhubungan dan berkaitan, saya jawab sekalian ya. Sebelumnya, perlu sama-sama kita ketahui bahwasanya rentang konsentrasi anak usia dini memang masih pendek. Ada ahli yg mengatakan bahwa berbanding lurus dengan usianya. Misal, usia 4 tahun berarti tingkat konsentrasinya sekitar 4 menitan. Nahhh...Dengan mengetahui info ini maka kita akan tahu bahwa anak-anak bukan bosan, tp memang segitu kadar konsentrasinya 😊 Sebelumnya saya ingin bertanya juga, apakah anak-anak di rumah menonton tv/video? Jika ya, berapa durasinya setiap hari? Saat anak-anak kita terbiasa terpapar screen terlebih jika waktunya lama, maka memang butuh effort lebih untuk mengajaknya bermain hal-hal seperti di atas. Sebab, apa yg ada di screen biasanya akan menjadi jauuh lebih menarik drpd meronce, memindahkan pompom, bermain puzzle, dll. Menonton pun dpt mengurangi fokus dan konsentrasi anak. Dengan demikian, sudahkah kita mendesain permainan kita agar menarik di mata anak? Jauh lebih memarik drpd screen? Sehingga mereka akan tidak bosan? Bisakah fokus dan konsentrasi anak ini dikembangkan? Bisa! Hal ini bisa dilakukan dengan stimulasi yg meningkatkan fokus dan konsentrasinya, seperti meniti jembatan, berjalan di garis lurus, menuang air ke dalam botol/gelas, menyendok manik-manik dr satu wadah ke wadah lainnya, juga bermain puzzle, dll. Lha, gimana..orang anaknya aja bosan main itu 😂😂 Gini Buibu yg bersemangat. Setelah td kita tahu bahwa rentang konsentrasi anak itu pendek, maka yg perlu kita lakukan ialah: 1. Mendesain permainan td semenarik mungkin. 2. Membuat permainan tsb tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah. Sebab, kedua hal ini akan membuat anak menjadi 'bosan'. 3. Memulainya dari jumlah yg sedikit. Misalnya, saat transfer pompom bisa dimulai dengan hanya 10 pompom (kadang kita nyiapinnya kan sampai semangkuk penuh ya. Inilah mengapa anaknya kabur di tengah jalan, sebab memang kemampuannya blm bisa dikasih banyak2 😅) 4. Memulainya dr yg paling mudah. Misalnya, bermain puzzle. Mulailah dr jumlah kepingan yg sedikit. Puzzle knob-puzzle 4 keping-6 keping-9 keping, dst. Mulailah dr ada gambar contohnya dahulu. Jangan tiba-tiba kita berikan puzzle yg jumlah kepingannya 20an. Ya jelas anaknya kabur (dalam pandangan kita ia bosan). Begitu pula dengan menggunting, mulai dengan menggunting pola lurus sekali "krek", pola zigzag, pola melingkar. Lalu dinaikkan menjadi 2x guntingan "krek-krek" dgn pola yg sama, lalu setelah mahir bisa diajak menggunting pola lingkaran dan bentuk lainnya. 5. Lakukan hal-hal yg meningkatkan fokus dan konsentrasinya ini setiap hari, di saat kondisi anak sdg senang, 1-5menit saja sudah sangat cukup. 6. Berempati pd anak. Bunda-Bunda yg baik, terkadang ekspektasi kita terlalu besar pd anak, hingga akhirnya kita lupa bahwa mereka hanyalah anak-anak 😊 Dengan demikian, perlu sekali kita semua menghargai tiap proses yg dilakukan anak, bukan hasil akhirnya. Lalu, mengapa ada permainan yg membuat anak sangat tertarik dan bermain lamaaa sekali dengan hal tersebut? Yup, sebab anak-anak mengikuti hukum upaya maksimal. Ingatkah pd masa kecil kita dulu kita senaaaang sekali bermain karet hingga batas waktu tertentu? Lalu 'bosan' dan berganti menjadi musim main bola bekel, main congklak, main galasin (gobak sodor), kasti, dsb. Kita akan berhenti bermain itu dlm batas waktu tertentu jika benar-benar sudah 'kurang menarik' untuk kita.. Terkait metode belajar. Metode belajar pada anak sedikit-banyak memang berpengaruh dengan stimulasi yg diberikan. Anak-anak yang cenderung kinestetik akan lebih menyenangkan jika diberi kesempatan untuk banyak bergerak sehingga bisa kita modif permainan motorik halus ini dengan memasukkan unsur motorik kasar. Misalnya, bermain matching kaos kaki yg dijepit pakai jepitan pakaian di teralis jendela. Selain motorik halus anak terasah dengan kegiatan menjepit, motorik kasarnya juga terstimulasi dengan memanjat teralis. Bermain puzzle bisa dengan meletakkan kepingan puzzlenya di meja yg berjauhan sehingga anak lari bolak-balik, dll sesuai kreativitas Bunda 😊 Untuk stimulasi menulis, saat 2 pekan lalu sudah dibahas ya Mba Yuli. Bisa cek lagi resume materi pekan materi lalu dengan keyword. "Resume". Ada pertanyaan ttg menulis dan saya sdh jelaskan terkait prewriting dan stimulasi diberikan 😊 Terakhir, saya ingin memberi link video kegiatan anak2 di suatu sekolah. Dari video ini kita bisa melihat bahwa anak2 'anteng', tertib, fokus, konsentrasi, sibuk dengan pekerjaannya sendiri, menikmati hal yg ia lakukan, dan tidak menganggu teman-temannya (tidak berisik, tidak teriak, dll). Hal yg bisa dipelajari dr video ini adalah: bahwasanya anak-anak bisa fokus dan berkonsentrasi jika lingkungan mendukungnya. Dan kita, sebagai pendidik utamanya ada baiknya mempersiapkan lingkungan tersebut. Fokus dan konsentrasi anak bukanlah sesuatu yg datang tiba-tiba, tp merupakan proses. Selamat menikmati 😘 https://youtu.be/NlnHVxJKEiM ✅ 7⃣Keterampilan motorik halus ini kan lbh sulit drpd motorik kasar, apa yg harus org tua lakukan jika anak belum bisa melakukan salah satu kegiatan motorik halus dan anak menjadi kesal lalu mencari mainan lain, misal blm bisa menyusun puzzle, membantunya atau membiarkan anak sampai bisa sendiri? (Nina, Jakarta, Faith Ahsan Kautsar 19 m, RMA5) Jawab: Halo Bunda Nina yg penyabar. Keterampilan motorik halus memang membutuhkan fokus dan konsentrasi yang kuat ya, Mba. Dengan demikian, ada baiknya jika kita memegang prinsip: kenalkan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, dr yg mudah ke yg paling sulit. Untuk puzzle, bisa dimulai dari puzzle yang keningnya sedikit, Bunda. Terlebih usia anak masih 19 bulan. Bisa dimulai dgn puzzle knob, lalu 'naik tingkat' seiring dengan perkembangannya: puzzle 4 pcs, 9 pcs, 12 pcs, dst. Bisa dimulai dengan memasang puzzle yg ada gambar contohnya dahulu hingga kemudian tanpa gambar contoh. Bunda bisa membantu secara tidak langsung, jika anak kesulitan memasang keping puzzle. Misalnya, mendekatkan keping puzzle dan menyusunnya dengan tidak terbalik di dekat kotak puzzlenya. Dengan demikian, anak lebih mudah menyusunnya. Jangan lupa untuk diberi semangat jugabya, Bun. Semoga membantu Bunda ✅ 8⃣Dari sekian permainan yang dihadirkan, anak saya tidak mau mencolek mainan yang berbau2 mewarnai. Mengapa ya? Dan bagaimana mensiasatinya. Kegiatan mengelem masih mau dilakukan tp dengan cotton bud. Apakah prewriting skill perlu diajarkan sejak dini? Bagaimana dengan pengenalan huruf dan hijaiyah? (Dwi, Depok, 3 y, RMA5) Jawab: Halo Mba Dwi. Kita tentunya sekarang sering mendengar adanya 'say no' untuk calistung pada anak usia dini sebab hal ini berdampak pada semangat anak belajar saat besar. Namun, sebenarnya pengenalan calistung jika dilakukan dengan fun (bukan dengan penggunaan worksheet), dengan bermain, dengan kemauan anak, InsyaAllah tidak mengapa. Yg perlu sama2 kita perhatikan juga ialah pada masa ini anak2 masih dalam fase konkrit. Sedangkan angka, hijaiyah, huruf merupakan sesuatu yg abstrak untuk mereka. Maka, peran kita adalah pelan-pelan mengajarkan sesuatu dr hal yg konkrit ke hal yang abstrak. Misalnya, saat memulai anak untuk menulis bisa dengan membuat 'huruf timbul' agar anak dapat merabanya, menulis di pasir, baru kemudian menulis di kertas. Begitu pula dengan berhitung, usahakan anak menghitung benda secara konkrit dahulu, misal menghitung jumlah permen, kancing baju, dan dengan benda lainnya drpd langsung melakukan penjumlahan dan pengurangan di atas kertas. Pengenalan hijaiyah bisa disesuaikan dengan visi-misinya keluarga masing-masing, Mba. Kalau saya sendiri lebih ingin anak saya mengenal huruf Hijaiyah dahulu drpd huruf Latin. Namun, hal ini bukanlah sesuatu yg 'wajib', silakan disesuaikan dgn visi keluarga masing-masing. Semoga di lain kesempatan kita bisa bahas calitung lebih dalam lagi y, Mba😊 Bagi anak usia dini, ada baiknya jika kita kembangkan motorik dan sensorinya dahulu drpd kognitifnya, Bun. Pengenalan nilai-nilai, norma, penanaman agama, adab, akhlak, lebih baik dikuatkan pd anak di usia ini drpd kognitifnya (termasuk calistung). Semoga bermanfaat ya, Mba ✅ 9⃣Saya ingin bertanya, bagaimana ya cara menghadapi anak yang "stress" saat berkegiatan? Misalnya saat mewarnai keluar dari garis si anak "marah-marah" dan merasa tidak bisa. (Luthfita/ Toulouse/ Thariq 3.5 tahun/RMA5) Jawab: Halo, Mba Luthfita. Apakah sebelumnya anak dipinta mewarnai tanpa keluar garis, Bun? Terkadang, ekspektasi kita yg terlalu besar pada anak membuat anak menjadi kurang percaya diri ya, Bun. Jika sebelumnya Ananda senantiasa diminta utk tidak 'keluar garis' saat mewarnai, maka ia akan tidak nyaman jika hal yg ia lakukan pd akhirnya tak sesuai dengan harapan orang-orang di sekitarnya. Coba dengan memberinya support, Bun. Memberinya semangat, memberinya keleluasaan untuk berkreasi, juga memberi penghargaan atas usaha yg telah ia lakukan. Dalam hal mewarnai ini, misalnya "Wahh..luar biasa Kakak Thariq sudah bisa mewarnai dengan selesai, dengan sabar." Jadi, yg kita nilai adalah prosesnya, bukan hasilnya. Sehingga, anak pun pelan-pelan akan memahami bahwa yg dilihat dan dihargai orang-orang di sekitarnya adalah proses, bukan hasil akhir. Tetap semangat, Bunda ✅ 〰〰〰〰〰〰〰〰 Follow us : Instagram : @rumahmainanak Fanpage Facebook : Rumah Main Anak Web : www.rumahmainananak.com