Alhamdulillah, Sudah '4' ..
Hai malam yang beranjak pelan menuju pagi. Malam ini kupaksakan mataku untuk tetap terjaga setidaknya beberapa menit sebelum angka usiaku bertambah. Sekian hari berlalu sejak aku memutuskan ingin menulis sesuatu untuk umurku yang semakin berkurang. Semoga saja berjalan dengan lancar ya serta Tuhan mengizinkanku tetap bisa menghirup udara lepas setelahnya.
Kilas balik kehidupan hingga aku bisa menyentuh angka 4 di usiaku saat ini. Ada yang jelas ku ingat, namun ada juga yang semakin pudar. Pudar dari ingatan. Ku beritahukan saja tanpa memperpanjang frasa.
Sepuluh Tahun Pertama
Di sepuluh tahun pertama berarti sepuluh tahun pertama juga aku hidup. Hidup sebagai bayi lalu balita lalu anak kecil. Hanya sedikit ingatan tentang hidupku di sepuluh tahun pertamaku. Tapi mungkin masih teringat jelas bagi ibu, bapak serta saudara-saudaraku. Hanya teringat sedikit bagiku masa-masa sekolah kala itu. Sekolah dasar yang sebagian besar teman di dalamnya masih saling mengenal sampai saat ini. Terasa erat bukan?
Sepuluh Tahun Kedua
Di sepuluh tahun kedua, di dalam ingatanku masih seputar dunia sekolah. Sekolah menengah juga atas. Kebetulan bukan termasuk siswa terkenal ataupun berprestasi. Hanya menikmati diri menjadi seorang siswa. Namun, diangka menuju sepuluh tahun ketiga, aku sempat tak menjadi siapa-siapa, sampai pada titik aku mengenal dunia salah satu beladiri lalu kemudian dunia perkuliahan.
Sepuluh Tahun Ketiga
Bisa kupastikan di sepuluh tahun ketiga lah duniaku benar-benar sibuk. Menjejaki kelas kuliah, latihan beladiri, melatih, latihan, kerja tambahan, latihan lagi, kuliah lagi, mencoba bekerja di sana-sini, mulai dari menjadi guru les, penulis artikel, fast food operator, guru sekolah, tutor, serta pelatih beladiri tentunya. Sepuluh tahun ketiga itulah yang banyak mengajarkanku menjadi pribadi mandiri.
Sepuluh Tahun Keempat
Menjelang sepuluh tahun keempat, Tuhan memberiku jodoh. Lalu Tuhan seakan memberikanku pilihan untuk terus berkarya atau menjadi ibu rumah tangga. Aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Ingin merasakan menjaga dan merawat bayi dengan tanganku sendiri. Tuhan tidak lagi memberiku pekerjaan sesuai dengan ilmu disiplin ku, melainkan Ia memberiku titel baru yaitu 'ibu'.
Dipertengahan sepuluh tahun keempat, hati mulai kembali bergejolak antara kembali berkarya ataupun menambah adik untuk anak pertama. Hanya sekitar dua tahun aku mampu kembali berkarya pada hal yang sangat ku suka, yaitu beladiri, namun setelahnya aku memutuskan untuk berhenti berjalan pada jalan setapak itu. Satu dua alasan pun meyakinkan kakiku untuk berhenti melangkah.
Di penghujung sepuluh tahun ke empat, dua kali Tuhan menitipkan rezekinya, namun dua kali juga rezeki itu ditarik kembali oleh-Nya. Hanya bisa berusaha yang terbaik dengan mengikuti segala petunjuk dari-Nya. Ia kembali mengizinkanku untuk berkarya. Kali ini aku kembali ke dunia pendidikan yang sudah sangat lama kutinggalkan (sekitar delapan tahun). Aku sangat bersyukur.
Kepada teman-temanku, aku lebih dulu mengemban predikat usia kepala empat ya. Usia semasa sekolah dulu yang selalu ku rahasiakan, seakan aku berbanding lurus dengan kalian dalam hal usia padahal tidak. Manusia yang mencibir yang membuatku menyimpan rapat angka lahirku.
Sekarang 00.00 WIB, kuucapkan selamat bertambah usia pada diriku sendiri. Sudah panjang perjalananmu. Sudah sampai pada angka 40. Semoga terkabul segala yang dirimu cita-citakan. Diberkahi sisa umurmu. Dikelilingi orang-orang yang menyayangimu dari hari ke hari. Dipenuhi hidupmu dengan keberuntungan. Disehatkan ragamu, pikiranmu serta hatimu. Dimantapkan imanmu juga ihsanmu.
Sekali lagi kuucapkan 'barakallah fii umrik 😊🤲'
-NM-
(260508)










