Dari rahim ke rahim, aku memilih untuk membebaskannya.
Mengapa banyak lelah yang tidak ingin disadari? Alih-alih menyadarinya ke dalam diri kita sibuk merecharge di luar diri, mencari segala hal sebagai wadah untuk melepaskan penat. Walaupun begitu itu sah-sah saja, tapi ada kalanya lelah itu tidak pergi-pergi. Lalu dari mana sumbernya?
“Terkadang perasaan lelah itu ada jauh sebelum aku lahir, dan tubuhku mewarisinya.”
Setelah hidup meniti ke dalam diri aku mulai menyadari bahwa ada beberapa perasaan yang sepenuhnya bukan milikku saja, tapi perasaan-perasaan itu tetap hidup di dalamku. Sebagaimana DNA dalam tubuh kita yang mewarisi bukan hanya sifat biologis saja, tapi juga trauma leluhur bisa diwariskan. Aku ambil satu contoh : “rasa lelah”. Ternyata setelah diselami lebih dalam lagi, rasa ini bukan hanya tentang kurang tidur atau burn out, tapi juga punya akar. Dan dari akar itu muncul pertanyaan :
“Kalau bukan aku lalu siapa?”
Di sanalah ada energi perempuan yang menanggung segalanya sendiri, perempuan yang tidak sempat memeluk rasa lelahnya, perempuan yang menanggung beban tak kasat mata, perempuan yang memiliki cerita tapi tak sempat disuarakan, perempuan yang merasa harus kuat terus untuk menghidupi dan mengayomi tanpa mengeluh, perempuan yang mengerahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk melindungi mereka yang terkasih, perempuan yang tidak memberikan celah untuk menghadapi perasaannya sendiri. Pada masa itu mungkin diam adalah cara mereka bertahan, sebagai suara yang tertahan, tangis yang turun diam-diam, tapi tubuh akan selalu mengingat.
Hari itu aku izinkan tubuh ini beristirahat, bukan karena lemah, tapi karena ia telah berjalan jauh membawa suara yang bukan miliknya. Kini aku memilih cara yang berbeda, aku memilih untuk menyadari pola itu. Sadar penuh, hadir utuh. Tubuhku bukan medan perang, ia adalah rumah bagi kesadaran.
Hari itu aku belajar untuk tidak marah pada rasa lelahku, aku hanya duduk bersamanya, menyambutnya dengan kesadaran penuh. Seperti kelelahan yang sangat ekstrim, hingga tubuh hanya ingin meringkuk seperti bayi yang menunggu untuk dibawa ke pelukan seorang ibu. Rasa lelah yang tidak biasa, hingga aku hanya ingin memanggil jiwa sejatiku untuk menemaniku dalam hening dan nafas.
Malam itu aku mengundang segala lelah kembali melalui tubuhku, aku membuka diri untuk menyambut rasa lelah dari garis perempuan di belakangku, perempuan-perempuan sebelum kelahiranku. Satu per satu aku izinkan mereka tinggal, semakin menumpuk dan membiarkan rasa itu menyatu dengan diriku. Tapi anehnya ada perasaan lega, seolah-olah jiwa tertinggiku berkata,
“Beristirahatlah. Sisanya biar menjadi urusanku”.
Dan dalam kesadaran itu aku tau: aku sedang memeluk rasa lelah kolektif ini, dari rahim ke rahim, dari diam ke diam. Setiap suara yang mewakili rasa lelah itu kupeluk. Bukan untuk membalas, tapi untuk menyembuhkan. Sebab aku bukan lah luka mereka, tapi aku adalah yang memilih untuk tidak mewariskannya.
Aku memilih menyadari setiap luka generasi leluhur yang tertanam di tubuh ini, menjadi jembatan untuk melepasnya dengan damai. Di awal aku sempat menyangkal tapi semakin ke sini aku semakin sadar bahwa suara lirih yang meminta tolong itu hanya ingin dibebaskan.
Dari pertanyaan sederhana akibat rasa lelah, “darimana asal perasaan ‘kalau bukan aku lalu siapa’?”. Hingga ditarik mundur untuk menyadari luka kolektif yang dimiliki oleh perempuan-perempuan dari leluhur ibuku. Dan sekarang aku tau, aku menjadi suara itu untuk membebaskannya. Dari rahim ke rahim, aku memilih menjadi yang melepaskan.
"Kalau bukan aku, lalu siapa yang akan berkata bahwa kita layak hidup tanpa beban yang bukan milik kita?"
Rasanya saat ini sudah tugasku untuk merajut benang merah kesembuhan dengan jarum kasih dan penuh kesadaran. Pelan-pelan kutautkan kembali. Tak harus rapi- tapi cukup nyata.
"Menjadi yang terbangun bukan berarti lebih kuat, tapi berarti sanggup untuk terus berjalan ke dalam diri: tidak menyalahkan, tidak mengutuk, tidak meratapi- tapi untuk membebaskan, membersihkan, dan menyembuhkan."
Dan aku tau, setiap tugasku akan selalu dibimbing oleh semesta dan cahaya tertinggi. Aku pun tau, aku tidak pernah sendirian dalam menjalankan tugasku. Thank you and I love you.