berlarut dalam angan ilusi
tenggelam dalam panas mentari
kita sebutir pasir yang terbang hilang tak ada
berbaring bertimpuk jerami
terbalut kata sendiri
terhimpit rumit harga diri
tapi tenggelam racun duniawi
Sade Olutola

Janaina Medeiros
🩵 avery cochrane 🩵
Today's Document

Discoholic 🪩
🪼
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

tannertan36
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Kiana Khansmith
sheepfilms
todays bird
d e v o n
almost home
TVSTRANGERTHINGS
Cosmic Funnies
Mike Driver

PR's Tumblrdome
he wasn't even looking at me and he found me

⁂
seen from Singapore
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China

seen from Poland

seen from Singapore
seen from United States

seen from Spain

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@liebent
berlarut dalam angan ilusi
tenggelam dalam panas mentari
kita sebutir pasir yang terbang hilang tak ada
berbaring bertimpuk jerami
terbalut kata sendiri
terhimpit rumit harga diri
tapi tenggelam racun duniawi
“Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah saja belukan, tapi belukan terbaik yang tumbuh di tepi danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukan, jadilah saja rumput, tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.”
— Soe Hok Gie.
““Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua,….. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.””
—
Soe Hok Gie.
source : Catatan Seorang Demonstran
Tahu apa yang menyedihkan? kenyataan bahwa tulisan Gie ini sudah dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, dan bagaimana tulisan ini hingga sekarang masih sangat relevan dengan keadaan bangsa kita. Sudah lebih dari 5 dekade dan negara kita belum ada perbaikan signifikan, bagaimana generasi kita (kaum muda) masih bertugas untuk membenah generasi tua yang mengacau. Padahal generasi tua yang sedang mengacau ini adalah anak pinak dari generasi dimana Gie masih menjadi bagian dari kaum muda.
“Apakah yang lebih tidak adil selain daripada mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh?”
—
Soe Hok Gie.
source : Catatan Seorang Demonstran.
Bukan, bukan dengan menerima nasib buruk dan berpasrah dengan titel malang, tapi kita harus terima bahwa ada hal-hal yang sekeras apapun, akan sulit untuk didapatkan. Tentu saja itu tidak berarti martabat kita selalu di bawah, mungkin dapat terlihat begitu, tapi kualitas diri tetap kita penentunya, mereka yang sudah terberkahi mungkin banyak belum menyentuh jurang dalam yang kita lalui, ya barangkali mereka merasakan hambatan lain, tapi itu bukan soal sekarang. Bagaimanapun walaupun sejak start kita kalah saing, tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti berjuang, barangkali hanya peringatan kalau tidak perlu banyak berharap
Jika mencari adil, dunia bukan tempatnya. Kita yang lahir dari kubikel-kubikel kecil mana bisa melawan yang lahir dari ruangan besar. Sejak awal jelas, bagaimana kita lahir itu menentukan, previllage itu bukan omong kosong, berkah itu nyata, lalu bagaimana nasib kita si orang malang? berkeringat mencari menang tapi berujung tetap terbuang, beberapa sukses mencapai tujuan, namun yang lahir dengan berkah sudah jauh melampaui harapan. Pada akhirnya sama saja, dunia tanpa hari penghakiman bukan tempat layak untuk ditempati, setidaknya untuk orang-orang kurang beruntung
no need to be a robber, killer, con, or anything else to harming other people, just talking a bad things about people is enough to make them dying.
berani bertaruh manusia itu makhluk paling jahat, jika buah kelapa setiap bagiannya bisa dimanfaatkan, manusia setiap anggota tubuhnya bisa digunakan untuk membunuh. tangannya, kakinya, ucapannya. jahat memang, tapi pilihan penggunaan selalu disediakan untuk orang-orang yang mau menentukannya.
Manusia itu nyata, tapi kemanusiaan rasanya semu. Barangkali keadilan di negara ini hanya tertulis di sebelah padi dan kapas. Ketika yang mengenakan jas berkuasa sama saja membuat orang kita berpuasa, sia-sia
Kotoran sedang ramai sekali berkeliaran, tidak, bukan di septic tank, tapi di gedung-gedung bertingkat yang dibangun dengan uang rakyat, kadang juga berlalu lalang dengan kendaraan mahal dengan bahan bakar keringat dan air mata orang-orang kecil.
“ and no one can take away your right to fight and to never surrender”
“Untuk apalah itu, kelana pada negri orang, potret dengan saksi sejarah, jika bertujuan akhir hanya untuk kejumawaan. Pikiran bungkam, pengetahuan sebatas kota sebrang. Angka pada lembar kertas boleh tinggi, namun soal adab biadab pula. Tak ubahnya hewan, bertindak sesuai kemauan, tak ada rasa kemanusiaan. Bertutur yang baik pun payah, bersikap menghargai serta menghormati barangkali tak diajar. Begitulah bentukan penghuni bumi manusia kebanyakan, termakan buaian tawaran kesenangan fana, serakah.”
“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar dan murid bukan kerbau.”
source : Catatan Seorang Demonstran.
audio : Gie The Movie.
“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”
—
Soe Hok Gie.
source : Catatan Seorang Demonstran.
“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?”
—
Soe Hok Gie.
source : Catatan Seorang Demonstran.
Calves are easily bounded and slaughter
never knowing the reason why
but whoever treasure freedom
like the swallow has learned to fly
- Donna-Donna by Joan Baez