Hai Jess!
Jessica Sintia Claudia, seorang anak perempuan kecil yang saya foto ini punya cerita tersendiri, spesial dan sangat menginspirasi, paling tidak untuk saya sendiri.
Petualangan jess, nama panggilan yg saya buat sendiri untuk jessica ini dimulai saat saya melakukan perjalanan ke danau gunung tujuh, sumatera - indonesia. Dari penginapan menuju ke lokasi pendakian danau gunung tujuh saya menggunakan transportasi angkot charter, kebetulan saya bersama abi, mbid dan mas agung semobil dengan 2 orang ibu dan 3 anak perempuan kecil. Salah satu dari anak perempuan kecil itu si jess.
Di titik awal pendakian kedua ibu ini berdebat tentang lokasi danau yang jauh, ketika itu saya dan rekan juga bingung karena belum pernah ke danau gunung tujuh, kami buta segalanya disana. Akhirnya kami tetap berangkat bersama 2 ibu dan 3 anak perempuan kecil ini. Dari awal mulai trekking kami sudah merasa ‘ketitipan’ dan harus menjaga ibu dan anak2nya ini. Baru beberapa puluh menit trekking, ibu nasya & anggi sudah kelahan dan bilang ga yakin mau ke atas, tapi jess dan nasya kebalikanya, semangat banget jalan nanjak keatas karena ingin lihat danau. Singkat cerita, ibu ani dan anggi menyerah dan beristirahat di shelter pertengahan, sedangkan jess, nasya, mama’ jess bersama mbid, abi, saya dan mas agung melanjutkan perjalanan sampai danau gunung 7.
Selama perjalanan menanjak, jess selalu ngoceh, ngomel, nggrutu, dan berbagai macam keluhan keluar nyaring dari mulutnya, dan selama itu jg saya selalu coba buat jess semangat, bikin suasana hati dia seneng dan sebisa mungkin buat segala sesuatu menarik biar jess lupa rasa cape nya, tapi ya semua usaha gagal total, karena saya juga lelah coy, jatuhnya kami berdua ngeluh dan ngerengek sepanjang jalan duet berdua dan ketawa2 karena saling ngerengek, anehnya duet ngerengek ini malah bikin kami jadi hepi dan semangat terus naik keatas.
Ditengah perjalanan jess melihat saya membuat tongkat buat bantu berjalan dari batang pohon, ga lama jess nyari kayu sendiri dan dia matahin kayu itu dan manggil saya untuk bantu di rapihin kayunya, dan voila! Kayu trekking poll buatan jess sendiri tercipta! 👊
Dengan susah payah saya dan jess akhirnya sampai di puncak menyusul mas agung dan nasya yg sudah sampai terlebih dahulu dan danau sudah terlihat dari puncak!
Sesampainya di danau, saya langsung ngerendem kaki di air danau sambil nontonin jess & nasya lari kesana-kesini kegirangan di danau, dan juga melihat pemandangan mbid mas agung dan abi yg lagi foto2 dengan senyum tawa mereka. It was heaven!
Tapi sayang, hujan dari kejauhan sudah keliatan bakalan sampe ke tempat kita, karena memang sudha mendung dr pas kami sampe puncak tadi, abi langsung menyuruh mama’ jess nasya dan jess untuk segera pulang kembali menuruni gunung, dan mereka pun bergegas pergi, Jess sontak manggil saya, “koko wira ayo temenin jess lagi pulang!” saya abi dan mbid masih nunggu kopi yang akan kami seduh jadi, mangkanya saya jawab, “Jess duluan aja sama mama’ & nasya tar kk nyusul ya!”
Mereka akhirnya jalan duluan, dan kami menikmati kopi tapi hujan sudah keburu turun, kopi itu akhirnya kami masukin ke botol aqua kosong dan bergegas packing dan langsung jalan menuruni gunung. Ditengah hujan lebat saya melihat ada tongkat, saya tau persis tongkat kayu ini yang jess bikin, saya copot sendal karena licin jadi saya nyeker, dan saya bawa tongkat jess ini bersama saya. Ga berapa lama kami jalan, mama’ jess, jess dan nasya sudah keliatan di depan kami, saya langsung nyusul dan nyamperin jess, “Jess! Tongkat siapa ini!? 😂”. Jess yang sendalnya sudah di tangan dengan sekujur badan udh basah kuyup dan kaki nyeker bilang, “PUNYA AKU! Kok dibawain sih? Kk baik banget makasih ya! 🙌.”
Saat itu kami seperti sudah punya tugas masing2 siapa yg harus kami dampingi, saya bareng jess, mas agung gendong nasya, abi dan mbid jagain mama’ jess dan di depan nanti mereka jg harus jagain ibu ani dan anggi yg sebelumnya nunggu di bawah. Kami pun akhirnya jalan, saya dan jess paling depan, namun mas agung dan nasya nyusul, ngebut dan nasya ketawa2 di diatas pundak mas agung, enak bener tuh anak di gendong kata jess, saya bilang, iya enak bener, kan gua jg mau di gendong woy mas agung! 😂
Sepanjang jalan jess menceritakan bagaimana iya lebih sayang ayahnya dibanding ibunya, mama’ sering marain aku, mama’ ga pernah ngertiin aku, waktu aku sakit bubur buatan mama’ ga suka, ga enak rasanya. Jess jg cerita kalo ibunya suka motong uang jajanya, dan ibunya dapet uang buat belanja dari ayahnya tapi malah disimpen uangnya buat nanti jalan2 bareng jess dan kaka2nya dilain waktu.
Sepanjang perjalanan menuruni gunung jess sangat tangguh, dia jago memilah jalan setapak demi setapak, merangkak, terbukti kita berdua menghitung berapa kali jatuh, dan aku yg notaben nya pendaki sudah 7-9 kali jatuh, jes cuma jatuh 4 kali saja! Ga jarang jess ketawa ngakak pas liat aku jatuh gugulitikan, dan inget botol kopi yang kami buat? Yap, jess doyan banget minum kopi itu karena ga ada air lagi yg saya pegang kecuali botol isi kopi itu, abis diminum jess sepanjang perjalanan dong, hahahaha! 😂
Sesampainya di bawah jess cuma ngeluh, kawira aku dingin, dan dia sangat2 ceria. Namun 15menit berlalu dia teringat ibunya, dan jess mulai diam. Sampai akhirnya dia nangis tanpa suara, aku pribadi ngerasa ga bisa bantu apa2 kecuali buat jess nyaman dan nenangin khawatirnya dia saat itu. Mama’ jess dan ibu ani serta anggi masih diatas gunung, dengan keadaan cuaca hujan dan langit mulai gelap, saat itu sudah pukul 18.00 lebih, mbid, abi, mama jess, ibu ani dan anggi tertinggal jauh dengan kami, jauh sekali. Jess keliatan khawatir sekali dan terus menanyakan mana mama, kok ga sampe-sampe. 2 jam berlalu dengan keadaan badan dingin lelah dan tangisan sendu jess, akhirnya ada lampu headlamp yang terlihat dr kejauhan, saya teriak, “Abi!!!” dan ada sautan, “woooy! tolong bantuuuu!!!” ternyata abi mbid mama jess anggi dan ibu ani sudah dekat, kondisi mereka kacau dan mengkhawatirkan, mama jess terutama yang sudah muntah 3x kata abi, mama jess sakit, sesampainya di mobil jess langsung mengusapkan minyak telon dari saya ke badan mamanya dan memeluk mamanya di mobil. Akhirnya kita bergegas pulang ke penginapan kembali.
Perjalanan saya di danau gunung 7 ini mengajarkan bahwa rasa sayang ga bisa diukur, perkara kamu lebih sayang siapa, ayah atau ibu, itu ga bisa diukur. Jess merasakan bahwa dia sayang sekali pada ibunya setelah dia merasakan beratnya naik turun gunung bersama saya, dia kepikiran nasib ibunya dijalan, jess khawatir kehilangan ibunya, jess sayang pada ibunya.
Jess, semoga kelak kamu ngerti bahwa gunung bisa jadi guru yang baik buat diri kamu sendiri dan anak2mu kelak. Gunung ngajarin kamu mandiri jess, gunung ngajarin kamu untuk mengaplikasikan semua teori pengetahuan yang kamu kuasai, gunung mengajarkan kamu lebih kreatif, gunung ngajarin kamu kasih sayang seorang ibu yang ga kamu sadarin. Gunung ngajarin bahwa kasih sayang itu ga selalu berbentuk uang dan keceriaan. Gunung ngingetin semua hal baik yang orang lain pernah lakukan untuk kamu, hal baik yg kamu ga sadari sama sekali kalo itu sangat berarti buat kamu. Gunung ngajarin kamu tentang betapa berartinya seseorang yang kamu ga sadar bahwa dialah yang paling sayang sama kamu di dunia ini, ibu kamu jess, ibu sayang banget sama kamu jess.
Dan gunung jg terus ngajarin saya, tentang melihat segala sesuatu lebih dalam dan membuka mata hati saya disetiap moment yang terjadi, gunung buat saya tetap jadi guru yang terbaik.
- Wira, 2017












